
Di waktu bersamaan. Adrian masih menggendong Chika yang terus memberontak ingin minta dilepaskan dengan sedikit kesal Adrian membantingkan Chika di kursi depan mobilnya.
“Aw, sakit tau,” ringis Chika sambil mengelus bokongnya.
“Lah, tadi minta di lepaskan, ya udah aku lepasin,” ucap Adrian enteng.
“Itu namanya di banting bukan di lepas,” protes Chika.
Adrian tidak menanggapi ucapan Chika lagi ia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Kau mau bawa aku ke mana, aku tidak mau bersamamu. Turunkan aku," teriak Chika melengking membuat Adrian menutup kupingnya.
"Apa suaramu tidak sakit dari tadi berteriak terus, diamlah aku akan membawamu pulang," ucap Adrian menjalankan laju mobilnya dengan cepat.
"Aku tidak mau kau yang mengantarku," kata Chika dengan suara yang mulai pelan.
"Kenapa?" tanya Adrian.
"Kau sudah punya istri, apa kau tidak berpikir membawa wanita lain saat kau sudah punya istri dan anak yang menunggumu di rumah," teriak Chika.
"Diamlah kau tengah mabuk berat sekarang, lebih baik kau tidur saja," balas Adrian tidak mau membahas atau pun menjawab pertanyaan wanita yang di sampingnya itu.
"Aku peringatkan ini terakhir kalinya kau pakai baju dan mabuk seperti ini," perintah Adrian tidak mau di bantah.
"Kau bukan pacar atau pun suamiku jadi jangan mengaturku," balas Chika dingin kesadarannya saat ini seperti kembali lagi. “Jangan lagi perhatian padaku, aku tidak suka itu,” lanjut Chika dengan menangis. Adrian memberhentikan mobilnya di pinggir jalan lalu menarik tubuh bergetar wanita itu dan memeluknya erat.
“Aku akan melakukannya sampai kapan pun,” bisik Adrian di dalam dekapanya.
“Aku bilang jangan beri aku perhatianmu ini, apa kau sudah gila .... emm.” Kalimat Chika terputus saat Adrian secara tiba-tiba mencium bibirnya. Otak Chika berusaha memberontak melepas ciuman Adrian namun raganya mengikuti alur permainan Adrian mungkin efek terlalu mabuk membuat akal sehatnya hilang.
Adrian melepas ciumannya saat hasratnya mulai tidak dapat tertahan. ‘Kendalikan otakmu Adrian,’ ucapnya dalam hati.
“Kenapa?” tanya Chika dengan wajah sendunya.
“Apanya yang kenapa?” tanya Adrian pura-pura bodoh.
“Kenapa berhenti menciumku,” jawab Chika sembari mendekati wajah Adrian.
“Jangan memancingku Chika,”
“Aku memang tengah memancingmu,” kata Chika sayu dengan wajah yang sudah sangat dekat di wajah Adrian membuat Adrian menelan ludahnya.
“Aku ini wanita murahan ‘kan?” lanjut Chika bertanya dengan tatapan sayunya lagi.
“Tidak, kau wanita baik,” Dan kaulah wanita yang kucintai. Lanjut Adrian dalam hati.
“Tidak ada wanita baik mencintai pria yang sudah mempunyai istri,” ujar Chika menunduk.
__ADS_1
Mata Adrian melebar kata cinta yang Chika ucapkan membuatnya kaget. “Kau mencintaiku?” tanya Adrian masih belum percaya sembari tangannya menaikkan dagu Chika agar sejajar dengan wajahnya.
“Iya. Tapi aku merasa ini salah, aku mencintai pria beristri bukannya itu namanya aku wanita mu....”
“Sstt ....” Adrian menekan bibir Chika menggunakan telunjuknya membuat perempuan itu sontak diam dan tidak melanjutkan kalimatnya. “Sudah kubilang kau bukanlah wanita murahan. Bagiku kau yang teristimewa,” lanjut Adrian sambil menangkup pipi Chika dengan kedua tangannya. Perasaannya kini benar-benar bahagia, wanita yang entah sejak kapan sudah mengisi sepenuh hatinya kini juga mempunyai perasaan yang sama.
“Jangan bilang itu, Om. Aku gak mau jadi wanita jahat,” ucap Chika dengan wajah lesu.
“Kau tidak jahat Chika.”
“Aku jahat, Om. Cinta yang aku miliki ini salah, aku harus menghapusnya,” teriak Chika.
“Ya, benar aku harus menghapusnya,” ulang Chika lagi yang meyakinkan dirinya sendiri bahwa ini salah.
Tangan Chika bergerak melepaskan tangan Adrian dari wajahnya dan kembali ke tempat duduknya seperti semula.
“Iya, ini salah Chika kau harus menghapusnya,” ulang Chika berkali-kali diiringi tangisan, Adrian yang melihat wanitanya mengucapkan itu hanya diam ia menghidupkan kembali mobilnya dan segera melajukannya dengan cepat. Pikirannya kini bercabang. Rasa bersalah, kecewa, marah dan tidak terima semua bercampur menjadi satu.
Entah karna kelelahan menggerutu atau efek alkohol membuat Chika sudah tidur begitu nyenyaknya hingga membuatnya tidak menyadari jika saat ini ia sudah sampai di kamar Adrian.
Chika tidak sadar bahwa dirinya di gendong Adrian dan sudah berbaring tenang di atas kasur lelaki itu. Adrian menutupi tubuh Chika dengan selimut tebalnya dengan membuang pandangannya ke arah lain.
“Aku tidak bisa tidur di sini, aku akan tidur di kamar tamu aja. Kalau aku tidur di sini bisa jadi aku kelepasan,” gumam Adrian dengan terus memandang wajah cantik Chika.
Adrian membungkukkan badannya, entah kenapa dia sangat ingin mencium wanita tidur ini.
Adrian mengecup lama kening Chika.
“Chika!” ucap Adrian terkejut, Chika sudah membuka mata lalu mendudukkan dirinya tanpa melepas genggaman tangannya.
“Om, duduklah aku mau berbicara,” ucap Chika dengan mata merah akibat bangun tidur.
Tanpa banyak tanya Adrian menurut duduk di hadapan gadis itu yang sudah duduk bersila.
10 menit sudah berlalu namun tidak ada dari keduanya tampak ingin berbicara.
Mata mereka saling bersitatap dan entah siapa yang memulai kini Adrian sudah mengkurung Chika dengan kedua tangannya diiringi bibir mereka yang beradu.
Chika mendorong Adrian saat napasnya mulai habis.
“Ini untuk terakhir kali, sehabis ini wajah dan bibir ini tidak akan aku sentuh lagi.” Chika menangkup pipi Adrian.
Cup...
Ia mencium kilas bibir Adrian.
“Aku tidak mengijinkanmu pergi dariku Chika, jadi jangan mengucapkan kalimat yang seperti itu lagi,” ucap Adrian tegas, ia melepas jaketnya dan memakainya pada tubuh Chika.
__ADS_1
Adrian tidak mau kalau nantinya tanpa sadar dia kelepasan akibat melihat pakaian Chika saat ini.
“Cih.” Chika berdesis sambil ingin membuka jaket Adrian tapi di cegah Adrian cepat.
“Kenapa? Apa kau tergiur melihat tubuhku yang terbuka ini,” ucap Chika menarik bibir atasnya.
“Hanya lelaki tidak normal yang tidak tergiur melihat tubuhmu,”
“Hahaha, aku tidak menyangka. Om Adrian tergiur juga sama anak sekolahan sepertiku,” ucap Chika sembari mengelus lembut lengan kekar Adrian dengan ekspresi wajah Chika yang sangat menggoda membuat Adrian dengan susah payah menelan ludah.
“Jangan menggodaku Chika kau nanti yang akan menyesal.” Menepis pelan tangan Chika.
“Benarkah? Coba lakukan,” tantang Chika dengan segera melepas jaket yang Adrian pakaikan bersamaan dengan Adrian menahannya dan sontak mengkancing cepat jaket kulit itu.
“Kau ternyata bukan lelaki normal,” ucap Chika meremehkan.
“Apa kau menantang aku?”
“Iya, apa kau berani Tuan?” Mengedipkan sebelah matanya diiringi dengan senyuman menggoda. “Kau wanita murahan Chika,” lanjutnya lagi dengan mengatakan pada dirinya sendiri.
“Kau wanita murahan Chika, kau sadar itu,” ucap Chika mengulang perkataannya lagi sambil memukul dadanya.
Adrian yang melihat Chika menghina dirinya sendiri sontak terkejut ia memeluk Chika yang sudah menangis.
“Sudah aku bilang kau bukanlah wanita murahan,” kata Adrian lembut, mengelus lembut punggung Chika.
“Sudah kubilangkan jangan pedulikan dan perhatian pada kulagi,” teriak Chika diiringi isakan dan melepas paksa pelukan Adrian.
“Kenapa kau sangat membenciku Chika,” ucap Adrian sembari memeluk Chika lagi walaupun gadis itu memberontak ingin dilepas.
“Aku bukan membencimu Om, aku hanya benci pada diriku sendiri. Aku dengan lancangnya mencintai lelaki yang sudah mempunyai istri, aku malu pada diriku se....”
“Cukup, Chika,” potong Adrian cepat. Adrian melepaskan pelukannya dan menangkup pipi Chika.
“Aku sudah bosan mendengarmu mengucapkan itu, apa kau pernah bertanya aku sudah punya istri apa belum?” Chika membesarkan matanya.
“Itu gak perlu di tanya, Om. Dengan adanya Rey ....”
“Aku belum pernah menikah,”
Bersambung....
Kalian pasti tau cara menghargai seorang penulis!
Aku belajar dari kegagalan.
Aku belajar dari kesalahan yang pernah aku perbuat.
__ADS_1
Aku bukan wanita kuat dalam segala hal juga bukan wanita lemah yang gampang ditindas. Aku hanyalah wanita biasa yang berusaha kuat jika itu memungkinkan dan lemah jika sudah tidak sanggup.
Hal_Suisseo