
Gadis itu bangkit, menghapus jejak air matanya setelah menyendok beberapa kali makanan ke mulutnya. Ia memperbaiki rambutnya yang tampak berantakan di depan cermin.
Kemudian ia keluar kamar sambil membawa nampan ke arah dapur. Gadis itu tercekat, diam saat mendengar gelak-tawa kedua adiknya. Berusaha tidak terpengaruh, Chika melanjutkan langkahnya dan meletakkan nampan di atas meja lalu ia berbalik. Berjalan menuju ruang tamu yang terdengar tawa kedua adiknya bersam dengan laki-laki yang ia cintai.
Yah, cinta itu belum bisa hilang dan dia merasa cinta itu semangkin bertambah dan entah kenapa sangat sulit untuk menguranginya.
"Kenapa masih di sini, aku sudah selesai makan. Pulang sana,"usir Chika dingin, walaupun sebenarnya dia senang dengan keberadaan Adrian di sini nemun ia masih mau menyelidiki siapa laki-laki yang ia cintai ini.
Benarkah pembunuh? Atau apa?
"Kakak, kok gitu sih," Nella beesuara.
"Kenapa?" Chika pura-pura bodoh.
"Kakak kenapa ngusir bang Adrian?" Kini Nina yang bersuara.
"Udah malam sayang, gak baik. Dia orang asing bagi kita,"
"Tapi bagi kami bang Adrian gak orang asing Kak,"
Chika memutar bola matanya, jengah.
"Sudah-sudah, besok abang bakal main lagi yah." Adrian berdiri setelah mengelus kepala kedua adik Chika dengan sayang.
"Tapi bang?" Nella mencegah dengan memegang tangan Adrian.
"Benar kata kakak kalian ini sudah malam, besok kita lanjutkan lagi," ujar Adrian lembut.
Kemudian dia berbalik dan menatap Chika yang menatap ke arah lain.
"Aku pulang," katanya sebelum melewati gadis itu. Chika menjawab dengan mengangguk saja.
***
Seperti janji Adrian tadi malam, hari ini Chika menunggu laki-laki itu yang tak kunjung datang. Ada kegelisahan di hati Chika dan sesekali matanya melirih halamannya dari jendela yang terbuka lebar.
"Nunggu siapa kak?"
Gadis itu terkejut dan mengalihkan pandangannya pada Nella dan mendengus pelan.
"Gak nunggu siapa-siapa," jawabnya pelan.
"Nunggu bang Adrian, yah Kak." Nina nimbung dari arah meja makan.
"Enggak kok," kilah gadis itu.
"Udah jujur aja, lagian suruh siapa tadi malam main usir aja," sindir Nella.
"Sebenarnya yang kakak kalian siapa sih," Dia emosi, berdiri dan memasuki kamar dengan membanting pintu.
"Kalau Kakak cinta, gak usah gengsi kak. Sakit lo," jerit Nella dari luar kamar Chika.
Gadis itu menutup kedua telinganya, agar suara adiknya yang mengejeknya tidak terdengar lagi. Ia berbaring dan tangannya menarik bantal dengan cepat lalu menyembunyikan wajahnya di atas bantal itu.
'Lagian kalau aku cinta juga gak ada gunanya,' jeritnya dalam hati, ia menendang-nendang kasur dengan kesal.
__ADS_1
Entah kenapa ia kesal hari ini, Adrian yang katanya mau berkujung tak tampak juga batang hidungnya, dirinya sebenarnya menunggu laki-laki itu namun gengsinya lebih menguasai.
Gadis itu duduk dari tidurnya, mengehela napas pelan dan mengetik sesuatu di ponselnya. Walaupun dia tidak terlalu pintar menggunakan gawai mahal itu setidaknya dia bisa sekedar SmS, nelpon dan selfi.
Jangan tanya Chika punya akun sosial apa tidak, jelas dia tidak punya. Sebab ini pertama kali seumur hidupnya mempunyai handphone.
"Hallo Chika," Terdengar suara seseorang dari sebrang sana.
"Iya Diyah, lo ngapain nih. Gue bosen, keluar yuk," sahut gadis itu to the point.
"Ngapain keluar? Gue lagi sibuk nih. Lo siap-siap aja untuk besok."
"Besok? Kenapa emangnya besok?"
"Lo harus dandan cantik besok, jam 7 harus udah siap, gue jemput."
"Kenapa besok, Diyah," Gadis itu terlihat kesal sekarang.
"Mau lihat Universitas kita, gue lagi ngurus ini sama om Adrian,"
Gadis itu terkejut lantas ia sontak berdiri dengan jantung yang berdebar.
"Buat apa? Jangan bilang kalau gue di masukkan ...."
"Iya Chika, kau senangkan." Diyah tertawa.
Gadis itu bukan senang justru wajahnya terlihat memerah, menahan amarah.
"Gue gak mau Diyah, kalau pun kalian masukkan gue ke kampus itu. Gue gak akan masuk,"
"Lo lebih tau gue Diyah, sekali gue bilang tidak gue gak akan merubah itu."
Tit...!!
Chika mematikan ponselnya secara sepihak, terlihat tangannya menggenggam erat handphone itu. Bukan dia tidak mau masuk Universitas, justru ia ingin sekali sebab itu cita-citanya namun dia tidak mau berhutang budi pada orang lain. Walaupun itu sahabatnya sendiri, sudah cukup Diyah yang berlanja banyak untuknya tapi tidak lagi. Dia tidak mau lagi.
Dia mau hidup dan membiayai adiknya sekolah dengan hasil keringatnya sendiri dan tanpa bantuan orang lain. Chika gak mau itu.
Setidaknya biarkah dia berjuang, itu yang Chika pikirkan saat ini.
***
Jam sudah menunjukkan pukul 17:23 Chika masih berkutat dengan handphone-nya, sebelumnya dia sudah di ajari mencari lowongan pekerjaan melalui ponsel dari tetangga sebelahnya yang lebih muda darinya.
"Kak!"
Gadis itu mendengak. "Hem," dehemnya menatap Nella yang sudah duduk di depannya.
"Kakak ngapain?" tanyanya ragu.
"Nyari kerjaan dek, 'kan Nella tau sendiri kakak udah gak kerja di kafe itu lagi." Pandangan kembali ke handphone dengan tangan yang tidak mau diam, menari di atas layar benda pipihnya.
"Iya Nella tahu Kak, Nella mau bilang ...."
"Mau bilang apa dek, bilang aja," ucapnya tanpa mengalihkan pandangannya.
__ADS_1
"Nella sama Nina sudah masuk sekolah, Kak."
Chika menegakkan pandangannya, alisnya terpaut, bingung akan apa yang adiknya itu ucapkan.
"Mami Viona yang membiayai masuk sekolah kami, Kak," ucap Nella cepat.
Gadis itu meletakkan ponselnya dan mendekati Nella yang tertunduk lalu tangannya terulur mengelus lembut rambut Nella.
"Kalian yang minta?" tanya Chika pelan. Anak itu menggeleng lalu ia mendengak, menatap sang kakak.
"Nella udah nolak, Kak. Tapi mami yang ngotot, mami juga nangis pas kami masih gak mau nerimanya," aku Nella jujur.
Chika menghela napas pasrah, matanya teralih melihat adik bungsunya yang ketiduran saat menggambar desain baju ala dirinya yang menurutnya itu sudah terlihat rapi dan cantik.
Bisa Chika bayangkan kalau Nina adik bungsunya serius dalam mendesain baju bisa di pastikan anak itu akan jadi terkenal nantinya dengan desain yang luar biasa cantiknya.
Gadis itu tidak menyangka semalam saat maminya Diyah membawa kedua adiknya beralasan untuk jalan-jalan adalah untuk melihat sekolah baru keduanya. Matanya tampak berkaca-kaca.
"Maafin Nella Kak, Nella seharusnya tegas menolak pemberian mami." Anak itu memeluk kakaknya, ia juga ikut menangis.
Walaupun kini mereka sudah menjadi anak angkat maminya Diyah tapi tidak menutup kemungkinan mereka adalah orang asing bagi keluarga Rendra yang super kaya itu.
"Gak papa sayang, kita harusnya bersyukur karna kalian tidak putus sekolah." Chika membalas pelukan adiknya.
Biarlah untuk kali ini, dia akan menerima bantuan maminya Diyah. Namun saat uangnya sudah banyak nanti dia harus kembalikan prmberian maminya Diyah. Itu yang gadis itu pikirkan saat ini.
***
"Nella, Nina." Chika membangunkan kedua adiknya yang masih tidur dengan nyenyaknya. Padahal hari sudah mulai siang dan mata kedua adiknya seolah masih terkunci rapat.
"Bentar lagi, Kak. Masih terlalu pagi," gumam Nella, berbalik arah, menghindari tangan kakaknya yang terus mengguncang tubuhnya.
"Kalian di rumah aja yah, kakak udah siapkan sayur di belakang jangan lupa makan. Kakak mau berangkat kerja dulu."
Merasa tidak tega Chika menutup kembali kamar kedua adinya itu, Nella yang mendengar kakaknya akan pergi kerja lantas terduduk.
"Tunggu, Kak," cegah Nella dengan wajah mengantuknya.
"Apa?"
"Hati-hati yah." Cengirnya tanpa dosa.
Gadis itu mendengus, namun ia tersenyum. "Kakak akan Hati-hati," katanya sebelum benar-benar menutup pintu kamar itu dengan rapat.
Chika keluar rumah sebelumnya ia sudah menarik napas panjang, ia tahu hari ini pasti akan melelahkan baginya. Pekerjaan yang belum jalas masih membuatnya pusing namun ia berusaha ikhlas, sebab sebuah usaha pasti akan membuahkan hasih. Chika percaya itu.
"Semangat," Menguatkan diri sendiri.
Gadis itu menutup pintu rumah dengan rapat, ia berbalik dan matanya seolah ingin keluar saat melihat sesosok laki-laki yang menggunakan baju santai dengan kedua tangan yang di masukkan ke dalam saku celana, menatapnya tajam.
Laki-laki itu menghampirinya, yang membuat gadis itu mangkin melotot laki-laki itu berlutut di depannya. Chika menutup mulutnya yang menganga dengan tangannya.
"Apaan kau ini, berdiri!" Gadis itu melirih kanan kiri, dia gugup.
Bersambung....
__ADS_1
Terus dukung Author dengan cara komen dan Vote-nya yah!