
"Tenanglah, aku bukan maksud apa-apa Chika." Adrian terkekeh.
"Aku selalu takut denganmu, Om."
"Kenapa bisa? Aku bukan hewan buas Chika!"
"Kau lebih dari hewan buas, Om." Gadis itu bergidik ngeri. "Sangat mengerikan," lanjutnya sambil tertawa membuat Adrian cemberut memasang wajah masamnya.
"Tapi kau terlihat imut sekarang, Om."
Gadis itu tertawa lagi sambil memegang perutnya yang tampak sakit, akibat tertawa.
***
Di luar ruangan Viona bergegas pulang sama halnya dengan Diyah.
"Tante, Diyah juga pulang yah," pamit Diyah pada Evelyn yang masih duduk di bangku rumah sakit itu, mata wanita itu melirik keponakannya.
"Oh, ya udah gak papa," balasnya sambil tersenyum.
"Ayo Jack, antar aku pulang," titah Diyah.
"Maaf Nona, saya tidak bisa. Saya akan menunggu Tuan di sini," tolak Jack sopan.
"Ngapain lo nungguin Om!" seru gadis itu tampak marah.
"Cepat antar gue sekarang, tanpa bantahan," lanjutnya lagi.
Wajah Jack tampak bingung.
"Udah kau pulang aja Jack, biar Adrian. Aku dan Chika yang menemaninya." Evelyn bersuara.
"Lo denger itu," sahut Diyah cepat.
"Dengar Nona," balas Jack masih tarlihat sabar.
"Kalau denger, cepatlah!" jeritnya.
Gadis itu berjalan lebih dulu dengan senyum kecil terukur di wajah manis Diyah, dengan Jack di belakangnya.
'gue menang 'kan!' serunya dalam hati.
Sampainya di parkiran mobil, Jack membuka pintu mobil untuk nonanya.
"Silakan Nona," ucap Jack sopan.
"Hmm," balas gadis itu singkat.
"Jangan pulang dulu, aku mau membeli sesuatu," ucap Diyah tiba-tiba saat Jack baru saja melajukan mobilnya.
Laki-laki itu tidak menjawab, ia hanya melirih nonanya sebentar membuat yang di lirih jadi salah tingkah.
"Kenapa tidak kau jawab? Apa kau tuli?" Suara Diyah terdengar geram.
"Tidak, Nona," balas Jack cepat.
"Jadi kenapa cuma melihatku saja tanpa menjawab? Atau aku terlihat cantik, hem?"
"Nona memang selalu terlihat cantik,"
"Apa?" Diyah tersentak sendiri dengan suaranya itu dan tampak rona merah di pipinya,gadis itu memalingkan wajahnya ke luar jendela mobil.
"Nona memang selalu terlihat cantik," ulang Jack lagi.
"Cukup, aku sudah mendengarnya," ucap Diyah nyaris terdengar berteriak dan dia jadi salah tingkah sendiri.
'Apa dia bilang, aku selalu cantik? Benarkah itu. Tapi kenapa dia selalu bersikap dingin padaku,' Diyah bergelut dengan pikirannya.
Namun matanya liar melihat arah luar jendela.
"Ya ampun, aku mau itu!" seru Diyah tiba-tiba dengan jari yang sudah menunjuk Ice cream di pinggir jalan.
__ADS_1
"Ayo berhenti, aku mau itu."
Tanpa gadis itu sadari nada suaranya terdengar manja juga tingkah dia yang kegirangan saat Jack membelok ke arah ice cream yang ia maksud membuat Jack mengukir senyum tipis.
'Terlihat sangat menggemaskan,' batin Jack.
***
"Apa aku sedang bermimpi? Pukul tanganku Chika."
Adrian mengerahkan tangannya pada Chika.
"Apa-apaan kau ini, aku tidak mau," tolak Chika dengan menepis pelan tangan lelaki itu.
"Aku masih belum percaya Chika."
"Jadi aku harus bagaimana Mas, agar kau percaya?"
Jantung gadis itu berdetak dua kali lipat, sebab panggilan yang Mas yang ia ucapkan membuatnya resah.
"Cium aku kalau gitu, sayang."
Mata gadis itu membesar lantas matanya mental ke arah sekeliling.
"Apa kau sudah gila ...."
"Aku bercanda, sayang," potong Adrian cepat.
Saat ini mereka tengah berada di taman yang di penuhi padat pengunjung dan juga anak-anak yang bermain kesana-kemari.
"Ini sudah semangkin siang, aku mau pulang. Ayo," ajak Chika dengan memegang lengan kekar kekasihnya.
Ya, setatus mereka sekarang adalah sepasang kekasih. Sebab tadi malam di rumah sakit mereka sudah menjadi pasangan.
***
Kejadian tadi malam di rumah sakit.
Gadis itu terdiam dari tertawanya, matanya menatap Adrian serius.
"Apa kau bercanda, Om?"
"Aku lagi tidak bercanda, Chika."
"Bagiku ini terlihat bercanda, Om!" seru gadis itu marah dan ia berdiri ingin pergi.
Baginya cara Adrian mengajaknya pacaran terlihat seperti main-main juga ia kecewa dengan cara laki-laki itu mengutarakan maksudnya.
"Kau mau ke mana?"
Tangan Adrian sudah mencegah tangan Chika yang ingin pergi.
"Aku mau pulang," ucapnya terdengar nada dingin di situ.
"Tidak bisa, kau harus jawab dulu. Kau mau ...."
"Aku tidak mau, puas."
"Kenapa?" tanya laki-laki itu.
"Kau kolot atau apa? Lihatlah kondisi Om, ini sangat ...."
"Sangat apa?" Potong Adrian tiba-tiba sambil menarik tangan Chika mengakibatkan gadis itu jatuh ke atas tubuh laki-laki yang masih berbaring itu.
"Apa-apaan kau ini?"
Teriak Chika dan jantungnya kini berdebar saat Adrian menangkup pipinya dengan semangkin mendekatkan wajahnya ke wajah laki-laki itu.
"Dengarkan aku. Aku meminta kau menjadi kekasihku bukan sekedar hanya untuk mainan, perasaanku padamu itu tulus dan aku tidak bisa menunggu lagi. Aku tahu, kau suka hal yang romantis bukan?"
"Siapa bilang?"
__ADS_1
"Tampak dari wajahmu yang terlihat kecewa." Adrian melepaskan tangannya dari pipi gadis itu.
"Kau salah, Om."
Gadis itu kembali berdiri tegak dengan memasang wajah serius membuat Adrian jadi bingung.
"Aku memang menyukai hal romantis tapi yang kau lakukan barusan adalah hal yang romantis." Menarik napas dalam. "Dan aku menyukai itu," lanjutnya lagi dengan di iringi senyum manis di wajah cantiknya.
"Benarkah?" tanya Adrian tidak percaya.
"Hmmz," balasnya singkat.
Badan laki-laki itu bergerak, berusaha ingin duduk dengan cepat Chika membantunya.
"Kau belum terlalu sembuh, setidaknya jangan bergerak dulu."
"Apa sekarang kita pacaran?"
Adrian tidak menanggapi ucapan gadis itu, saat ini yang ia inginkan jawaban iya dari gadis pujaannya. Dengan mempersiapkan jantung Adrian menatap Chika tanpa berkedip.
"Emm, bagaimana yah ...."
'Jawablah iya Chika, plis,' ucapnya dalam hati.
"Iya, Om. Kita pacaran,"
Blass.....
Seperti ada rasa sejuk yang masuk ke dalam hati laki-laki itu. Tangannya meraih tubuh chika, memeluknya erat dengan senyum yang mengembang.
"Terima kasih dan tolong jangan pernah tinggalkan aku," pintanya setulus hati.
"Sama-sama aku juga ingin mengucapkan itu, jangan pernah tinggalkan aku dan jangan pernah menyerah jika kau tidak menyukai sikap manjaku, Om." Chika membalas pelukan Adrian.
"Aku tidak masalah dengan manjamu, sayang. Tapi setidaknya ganti panggilan itu."
"Hehehe, baiklah Mas Adrian."
***
"Kita mau ke mana? Bukannya Mas mau ngantarkan aku pulang?"
Chika bingung dengan arah jalan yang berlawanan dengan arah rumahnya.
"Iya sayang, Mas akan membawamu ke rumah Mas. Kau akan tinggal di sana mulai sekarang," ucap Adrian.
"Ha, tinggal di rumah Mas. Yang betul aja, aku gak mau," tolak Chika cepat.
"Kenapa? Apa kau tidak suka?"
"Bukannya aku tidak suka, kita ini belum menikah dan nanti apa kata orang. Seorang gadis dan pria lajang barada di satu rumah, tidak-tidak aku tidak mau di gebrak tetangga," ucap Chika panjang lebar menjelaskan.
"Ya gak papa kita tinggal nikah kalau nanti di gebrak tetangga."
"Aku tidak mau Mas!"
"Kenapa kau tidak mau, apa kau tidak mau menikah denganku?"
Laki-laki itu melaju kencang, tampak ia kini menahan emosi dengan wajah yang memerah, serta tegang.
"Bukan begitu, Mas?"
Gadis itu ketakutan tangannya kini berpegang di kursi mobil dengan menggenggamnya erat. Matanya menahan air mata, sebab takut akan kemarahan Adrian yang kini menjadi pacarnya.
"Jadi apa?" Suaranya menggema membuat air mata Chika jatuh begitu saja.
Bersambung....
Maaf yah guys, baru bisa UP. Soalnya aku sibuk banget.
Maaf yah. 🙏🙏🙏
__ADS_1