Om, Nikahi Aku?

Om, Nikahi Aku?
Panggil aku mas!


__ADS_3

Adrian mengeratkan tangannya, menahan emosi lalu ia mengatur napas dan tersenyum pada Chika.


"Ayo kita pulang, sayang," pujuk Adrian halus dan perlahan memegang tangan Chika.


"Aku gak mau, kau jahat padaku," kata Chika dengan terus menangis, namun untuk orang lain itu terlihat sangat lucu.


"Aku gak akan jahat lagi, sekarang kita pulang," ucap Adrian yang mengangkat tubuh Chika dengan paksa ala bridal Style. Chika memberontak dengan memukul kuat dada Adrian tapi sia-sia tenaga kecil Chika tidak membuat Adrian melepaskannya.


"Turunkan aku, Om gila," bentak Chika melengking. Bukannya menurunkan Chika justru Adrian membenamkan wajah gadis itu ke dalam dadanya membuat Chika tidak memberontak lagi, gadis itu diam bahkan ia menghirup wangi maskulin Adrian.


"Wah, Om wangi juga ternyata." Chika terus menyelusupkan wajahnya pada dada Adrian membuat Adrian tersenyum tipis. Dapat ia rasakan kini dadanya berdekat dua kali lipat dangan pipi yang merona.


"Kau jangan mengujiku, Bocil," kata Adrian tersenyum.


***


"Hey, ke mana mereka? Bukannya tadi di situ." Tunjuk Diyah di mana tempat Chika dan Adrian tadi.


"Mereka sudah pulang Nona, sebaiknya Nona juga pulang," balas Jack. Ia memberanikan diri merangkul Diyah.


"Cih, Om itu selalu saja buat keributan," racau Diyah. "Aku belum mau pulang, kau saja yang pulang. Hey, beraninya kau memelukku. Cepat lepaskan," teriak Diyah menatap Jack.


"Bukan saya yang memeluk Nona, justru tangan Nona sendiri yang memeluk pinggang saya," balas Jack sopan. Tanpa Diyah sadari dirinya lah yang memeluk pinggang Jack dengan sangat erat.


"Jadi kau menyalahkanku," teriak Diyah lagi. Jack menggeleng.


"Saya tidak punya keberanian menyalahkan, Nona," kata Jack.


"Bagus itu baru benar," ucap Diyah sambil melihat tangan yang memeluk Jack. "Ah, ternyata kau benar. Tanganku yang memelukmu, tapi ini bukan kesalahanku ya. Ini kesalahan tanganku," racau Diyah sambil mempererat pelukannya. Jack hanya mengangguk.


"Diyah kenapa lo semangkin memeluknya, lepaskan tanganmu," teriak Dimas ia berusaha bangkit dan dengan sempoyongan mendekati Diyah.


"Dua ikut sama gue, biar gue yang mengantar dia," ucap Dimas hendak memegang bahu Diyah yang sudah tidak sadarkan diri namun di tepis kasar sama Jack membuat Dimas terjatuh ke lantai.


"Maaf Tuan, urusan Nona biar saya yang ngurus. Anda saja tidak bisa berdiri dengan benar bagaimana Tuan mau mengantar Nona kami dengan selamat," ucap Jack tegas namun bernada sopan.


"Kau meremehkanku yah," teriak Dimas berusaha berdiri. "Dia miliku jangan kau sentuh dia," teriak Dimas lagi. Jack mengepalkan tangannya, ia merasa geram dengan ucapan Dimas.

__ADS_1


"Maaf Tuan, Nona Diyah sudah bertunangan dengan saya. Kalau anda berani mengganggunya lagi, saya pastikan anda tidak akan bernafas lebih lama lagi," ucap Jack begitu dingin.


Boby yang tidak terpengaruh alkohol, bergidik ngeri mendengar ucapan pria yang disebut tunagan Diyah itu. Ia menghampiri Dimas dan membopong bahu Dimas. Jack merutuki kebodohannya kenapa dia meladeni orang yang tengah mabuk.


"Maafkan teman saya Tuan, dia sangat mabuk jadi tidak sadar mengucapkan itu," ucap Boby menunduk sembari membawa Dimas pergi. Jack handa mengangguk, ia kehilanga muka sekarang.


'Bodohnya aku,'batin Jack.


"Hey, jangan bawa gue pergi. Gue mau memukul orang yang merangkul Diyah," teriak Dimas menggema di dalam gedung itu.


"Kenapa berisik sekali," kata Diyah yang kembali sadar.


"Tidak apa-apa Nona, sebaiknya kita pulang sekarang," ucap Jack menunduk melihat wajah Diyah yang juga tengah menatapnya.


"Kau ternyata tampan sekali," ucap Diyah dengan mata sayunya membuat Jack merona.


"Nona sebaiknya kita pulang sekarang," ulang Jack lagi seraya menatap ke arah lain, dia tidak kuat menatap lama-lama wajah cantik Nonanya.


"Gendong aku," pinta Diyah.


"Tidak Nona sebaiknya saya rangkul saja," tolak Jack halus.


"Tenanglah Nona, saya akan menggendong Nona," ucap Jack.


"Kau serius?" tanya Diyah berbinar dan ia memberhentikan nangisnya.


"Iya Nona." Jack hendak membalikkan Diyah dan mengangkat pahanya namun Diyah mencegahnya.


"Jangan gendong begitu aku tidak mau, aku mau gendong belakang," ucap Diyah mulai menangis dan terpaksa Jack menuruti dan dia berbalik. Dengan cepat Diyah melompat ke belakang lebar milik Jack. "Ayo kita jalan," jerit Diyah kegirangan. Jack tersenyum lebar melihat kelakuan Diyah yang jauh berbeda jika tidak mabuk.


Di tengah Jack menuruni anak tangga, Diyah mengendus-endus tengkuk Jack membuat Jack geli.


"Aku suka sama harum tengkukmu," racau Diyah dengan sesekali menj*** tengkuk Jack, membuat Jack tidak karuan.


"Nona jangan seperti itu," ucap Jack berhenti di tengah tangga. Bukannya berhenti justru Diyah menggigit tengkuk Jack membuatnya mengaduh tapi tidak terlalu sakit baginya.


"Kau diam saja kalau tidak mau kugigit lagi," ucap Diyah tampak seperti ancaman.

__ADS_1


***


Cahaya matahari menerpa wajah Chika membuatnya mengerjapkan matanya dan memegang kepalanya yang terasa berat lalu menetralkan penglihatannya. Saat matanya benar-benar bisa dipungsikan Chika sontak terkejut dan langsung duduk dari tidurnya.


"Ah, kepalaku pusing sekali. Eh, aku di mana? Tunggu bukannya ini di rumah Om, Adrian." Menelusuri pandangannya walaupun Chika belum sempat masuk ke kamar Adrian namun ia masih bisa melihat jelas isi kamar ini. "Hah! Apa yang terjadi padaku, tadi malam aku bersama Diyah terus kenapa di kamar dia," Chika mengangkat selimutnya.


"Huh, syukurlah," ucapnya saat melihat bajunya masih utuh. "Tapi ini jaket siapa, apa jaket dia," Chika mencium bau jaket yang menempel di tubuhnya dan menghirupnya dalam.


"Ini benar jaketnya, aku sangat menyukai baunya," ucap Chika tersenyum saat bau tubuh Adrian menempel di jaket yang ia pakai.


Kreet....


Suara pintu dibuka sontak Chika bangkit dan kembali duduk saat kepala terasa pusing kembali.


"Jangan bergerak, biar aku yang ke sana," ucap Adrian mendekati arah ranjang sambil membawa napan berisi makanan.


"Om, kenapa aku bisa di sini. Apa terjadi sesuatu tadi malam?" tanya Chika, ia masih belum mengingat kejadian tadi malam sehingga membuatnya berada di kamar lelaki itu.


"Kau tidak mengingatnya?" tanya Adrian sudah duduk di depan Chika dan meletakkan napan di tengah mereka. Chika menggeleng.


"Aku belum mengingatnya, kepalaku pusing jika memaksa ingatku tentang tadi malam. Emang ada apa tadi malam Om?" tanya Chika penasaran.


Adrian tidak menjawab dia justru mengangkat piring yang berisi nasi goreng dan menyodorkan satu sendok ke mulut Chika.


"Jawab dulu, Om," Chika menahan tangan Adrian. Mata mereka bersitatap, Adrian memasang wajah acuh dan meletakkan kembali sendok ke dalam piring dan bangit lalu melepas tangan Chika yang masih memegangnya.


"Om, kanapa sih aneh banget," ucap Chika ikut berdiri.


"Aku bukan Om-mu jadi jangan panggil aku Om," balas Adrian lembut. Ia tidak mau bertengar pagi begini Adrian memilih pergi. "Habiskan makanmu," lanjutnya. Saat hendak melangkahkan kakinya, Chika menghadang dengan berjalan mendahului Adrian dan berdiri di depan Adrian.


"Aku gak mau makan, jawab dulu apa yang terjadi tadi malam, Om," teriak Chika.


"Panggil aku Mas," teriak Adrian tanpa sadar membuat Chika terkejut. "Bukannya kau tadi malam yang memanggilku dengan sebutan Mas. Dan kau sudah berjanji tidak akan memanggilku Om lagi," lanjut Adrian dengan suara melembut.


'Aku manggil dia Mas, yang benar saja. Ini tidak mungkin, kenapa aku tidak mengingatnya,'


Bersambung....

__ADS_1


Jangan lupa Vote-nya yah!


Maaf jika banyak typo. 🙏


__ADS_2