
Ya Allah, apa Nina gak bisa hidup tenang? Kenapa Nina harus menerima ini, Nina mau hidup normal. Nina mau belajar seperti anak lainnya, dengan tidak ada yang mengganggu. Mama, Papa, apa kalian melihat penderitaan yang Nina alami. Nina gak mau bilang kak Chika, apa lagi kak Nella. Nina gak mau buat mereka cemas. Bantu Nina, Tuhan. Menangis dalam diam
"Apa kalian bersungguh-sungguh menunggu ini?" tanya Ririn dengan mata berbinar.
"Iya lah, Rin. Penasaran aku, siapa yang anak yatim piatu di sekolah kita," sahut teman pria di depannya.
"Iya nih, bilang aja kali. Lama amat," gerutu teman cewek di pojok paling belang sambil menaikkan kedua kakinya yang menampilkan celana pendek di dalam roknya itu.
"Sabar-sabar bro, serius amat muka kalian," ucap Ririn dengan tertawa terbahak. Nina yang sudah sangat khawatir akan setatusnya yang yatim piatu akan terbongkar, ia menggeratkan tangannya menggenggam tangan Nindi.
"Tenanglah Nin, dia gak akan berani bilang," bisik Nindi menguatkan Nina yang mulai bergetar.
"Ok, itu orangnya," tunjuk Ririn menggunakan bibirnya yang membuat semua murid melihat ke arah yang Ririn bilang.
"Siapa sih, Rin?" tanya Bella sahabat Ririn. Bagaimana mereka bisa tahu siapa yang anak yatim piatu sedangkan yang Ririn tunjuk dengan bibirnya itu ada banyak orang yang entah siapa maksud Ririn.
"Kalian on, on banget sih," ucap Ririn dengan geram. "Gaizka Nina Kayyisah anak yang yatim piatu," lanjut Ririn nyaris berteriak.
"Apa!" ucap Bella dengan tidak percaya. Orang yang mereka bully adalah anak yatim piatu, sebuah keajaiban- pikir Bela dengan senyum mengejek melihat ke arah Nina. Semua mata menatap Nina dengan penuh gunjingan, samar-samar Nina mendengar cacian, hinaan dari mulut teman-temannya sebelum matanya terpejam. Dan akhirnya Nina pingsan, tidak kuat menerima kenyataan bahwa semua orang akan membully-nya nantinya.
"Nina!" teriak Nindi dengan wajah cemas yang melihat sahabatnya pingsan di bahunya.
***
Di waktu bersamaan, bel pulang sudah berbunyi beberapa menit lalu, tapi Chika masih belum beranjak dari duduknya, dia memegang dadanya yang terasa sedikit sakit. Diyah yang ingin berdiri mengurungkan niatnya.
"Ada apa Chik?" tanya Diyah lembut sambil memegang bahu Chika.
"Dada gue sakit Diyah, peraan gue gak enak. Gue merasa kalau ada sesuatu terjadi dengan adek-adek gue," jawab Chika dengan berdiri cepat. Ingin segera pulang dan melihat kedua adiknya, memastikan adiknya sudah sampai apa belum ke rumah.
"Eh, tunggu." Menghalang Chika yang ingin pergi.
"Lo jangan berpikir buruk deh, bukannya lo tadi mau minta anterin ke rumah om gue, ya."
Chika menepuk jidatnya, lupa akan tujuannya tadi pagi.
"Lupa gue, tapi gue kok merasa gak tenang ya Diyah," Diyah menautkan alisnya.
"Gak tenang kenapa, karna adek lo? Adek lo gak papanya itu," ucap Diyah, Chika berpikir sejenak lalu membuang napasnnya.
Ya Allah, jaga adikku. Sekali lagi Chika membuang napas beratnya, seolah dia tau kalau adiknya terjadi sesuatu di sekolah, apa itu seperti nurani seorang kakak? Bisa jadi.
"Tidak papa 'kan kalau kita ke rumah om lo?" tanya Chika yang awalnya merasa terjadi sesuatu pada adiknya kini hilang dan berganti menjadi gugup.
"Ya gak papa kali, gue keponakannya siapa yang melarang!" ucap Diyah dengan sombongnya. Chika tersenyum kecut.
__ADS_1
"Baiklah, keponakannya OM ADRIAN," ucap Chika menekankan kata terakhirnya, Diyah tertawa gemas melihat sahabatnya kalau lagi kesal akan terlihat sangat imut.
"Udah tertawanya? Kapan kita mau pergi dari sini?" lanjutnya sambil menarik tangan Diyah yang masih menertawakannya.
***
"Ini rumahnya, Yah?" tanya Chika kagum dengan rumah yang dia lihat sekarang.
Saat ini mereka telah sampai di rumah Adrian. Diyah mengangguk pelan lalu berjalan membimbing Chika yang masih terkagum melihat rumah om nya itu, bagaimana tidak! Rumah Adrian termasuk unik namun terkesan mewah dan juga perkarangan rumah yang di kelilinggi pepohon yang dibentuk rapi serta bunga mawar bermacam warna yang tumbuh subur.
'Masya Allah,' ucap Chika dalam hati. Rumah yang dulu ia bayangkan yang ingin sekali ia tempati kini sudah ada di depan mata tapi sayangnya itu bukan rumahnya.
Huh! Chika menarik nafas berat. Dia berpikir kejauhan akan mendapatkan rumah yang bagus jika ia saja hanyalah rakyat jelata.
Tok ... tok ... tok
Diyah mengetuk pintu rumah Adrian sambil masih memegang tangan Chika.
"Sebentar," sahut seorang wanita dari dalam. Chika yang mendengar suara itu berpikir bahwa istrinya Adrian yang akan membuka pintu.
Apa itu istrinya, ya?
Chika menarik napas berat dan membuangnya paksa. 'Kau berharap apa Chik?' tanya Chika pada dirinya sendiri.
Pintu terbuka perlahan, membuat jantung Chika berdetak lebih cepat, seakan belom siap melihat istri Adrian om nya Diyah yang tampan itu.
"Iya Bi."
Hahaha, kau sudah gila Chik. Kenapa kau berpikir ibu-ibu ini istinya. Menepuk pelan keningnya sambil tersenyum senang.
Diyah yang melihat Chika menepuk keningnya sendiri di buat binggung.
"Lo kenapa Chika, sakit?" Memegang bahu Chika dan menyentuh keningnya.
"Apaan sih, lebay lo." Menepis pelan tangan Diyah.
"Kirain lo sakit, 'kan gue khawatir."
"Gue gak sakit Diyah," balas Chika dengan menampilkan senyum termanisnya sembari menormalkan pikirannya yang mulai aneh.
"Oh, sakit hati enggak 'kan?" Tertawa mengejek, Chika ikut tertawa kecut mendapat umpatan dari sahabatnya itu, wanita paruh baya yang di panggil Diyah bibi tadi ikut tersenyum.
"Bik, Om ada 'kan?" tanya Diyah mulai serius.
"Ada Non, silahkan masuk Non." membuka pintu lebih lebar, mempersilahkan Chika dan Diyah masuk.
__ADS_1
Tidak habis-habisnya Chika kagum dengan ruangan yang Adrian punya, setiap ruangan mempunyai seni tersendiri. Mata Chika terpaku saat melihat piano berwarna hitam yang terletak di samping jendela kaca besar yang menampilkan taman indah dengan dihiasi kolam ikan serta tempat duduk yang terbuat dari bambu yang menggantung. Sangat indah dan pasti terasa nyaman, pikir Chika.
"Kalau mau ke sana lewat pintu ini aja," ucap Adrian yang mengagetkan Chika. Ia berbalik dengan cepat dan menabrak dada bidang Adrian, Adrian sangat dekatbdi belakang Chika dan nyaris menempel.
"Om, ngagetin aja sih. 'Kan nabrak jadinya," ucap Chika mengerucutkan bibirnya.
"Bilang aja lo sengaja menabrak dada sempurna gue, Kan?" Menatap gemas mata indah Chika, membuat Chika membesarkan matanya kaget dengan ucapan Adrian barusan.
"Ih, mimpi lah. Siapa juga yang mau nabrak dada jelek, Om," umpat Chika sambil tertawa.
'Kau bilang dada gue jelek?" Chika mengangguk. "Mau gue buka sekarang biar lo liat berapa sempurnanya dada gue?" Chika memegang tangan Adrian yang mulai membuka perlahan kancing atasnya.
"Om gila, ya!" teriak Chika sambil terus memegang tangan Adrian.
"Lihat yang gila itu lo, sekarang lo memegang tangan gue. Apa mau membantuku membukanya." Tersenyum senang melihat pipi Chika merona menahan malu. Dengan cepat Chika menarik tangannya dari tangan Adrian.
"Ehemz ... hargai gue kali yang jomblo di sini," sindir Diyah yang dari tadi memperhatikan adegan Adrian dan Chika, serasa menonton sepasang kekasih yang tengah bertengkar gemas.
"Diyah, kita pulang yuk," ajak Chika sambil menghampiri Diyah yang duduk di ruang tamu dengan ikut duduk di samping sahabatnya itu. Adrian tersenyum kilas, ada rasa lega melihat Chika lagi. Tapi ia tidak tahu itu pesaan apa, Adrian duduk di kursi piano.
"Loh, kok pulang? Bukannya lo ada urusan ya sama om gue?" tanya Diyah sambil memasukkan handpone-nya ke dalam tasnya lagi.
'Iya tadi, tapi sekarang gak jadi. Cowok mesum itu mulai gila,' teriak Chika dalam hati, tidak ingin mengeluarkannya karna takut Diyah tersinggung.
"Iya, tapi gue ...." Chika tidak melanjutkan kalimatnya saat mendengar handphone Diyah berdering. Diyah mengambil benda pipih itu dan langsung mengangkatnya tanpa melihat siapa yang menelpon.
"Hallo, hehehe iya. Sekarang? Nanti dong mom, gak keluyuran mom. Ini tempat om, baiklah. Iya-iya, ini mau pulang juga. Assalamualaikum dulu mom. Hehehe, waalikumussalam mommy cantik." Memasukkan kembali handphone-nya.
"Gue harus pulang sekarang, Chik. Maafin gue ya, ini darurat." Mulai berdiri, Chika ikut berdiri. Adrian masih duduk di depan piano dan mendengar semua pembicaraan Chika dan keponakannya itu tanpa mau menggangu mereka. Dia pun tidak bertanya apa tujuan mereka ke sini, tatapannya kosong dan terus menatap taman penuh kenangan itu.
"Gue ikut, ya," pinta Chika.
"Elo di sini aja. Selesaikan urusan kalian, ya udah kalian berdua aja ya, gue tinggal Chik." Diyah melangkah cepat.
"Eh, tunggu Diyah." Menarik tangan Diyah. "Masak kita berdua aja sih?" tanya Chika mulai panik.
"Emng kenapa?" Balik Diyah bertanya. "Om gue gak jahat kali," lanjut Diyah dengan senyuman menggoda. Melepaskan tangan Chika, Diyah berlari saat mau keluar dari pintu utama, ia berbalik badan.
"Cuma agak buas Chik, hati-hati lo," teriak Diyah dengan tertawa terbahak dan lanjut berlari.
'Si*lan lo,' ucap Chika membatin.
Adrian tidak bergeming, ia terus menatap dalam taman yang ter urus sangat indah itu. Chika mendekati Adrian perlahan. Saat sudah di belakang Adrian, ia membungkuk sedikit. Dapat Chika rasakan tatapan yang penuh kerinduan serta kesedihan yang mendalam.
Kenapa dia? Apa istrinya sudah meninggal? Apa taman itu kenangan mereka? Aih, kau ini apa-apaan sih Chik. Berpikirlah normal.
__ADS_1
"Ehemz ... apa sekarang kau ingin menciumku?"