
"Apa kau siap mendengarkan cerita di masa laluku?" tanya laki-laki itu dengan mimik wajah terlihat serius.
Kepala gadis itu mengangguk, Adrian tersenyum tipis lalu tangannya mengambil tangan kiri Chika lalu menautkannya ke tangannya selanjutnya ia tarik menuju ke arah taman yang terdapat air mancur mini itu.
Chika hanya diam mengikuti langkah Adrian dengan tangan yang masih bertautan.
Di depan sana ada sebuah taman mini dan air pancuran yang mini pula dengan di hiasi beberapa bunga cantik yang mengelilingi air mancur mini itu.
Dan di samping air mancur itu terdapat bangku terbuat dari bambu, bulat seperti sarang burung yang menggantung, berwarna putih. Terlihat sangat cantik dan sejuk.
"Ini tamannya," Adrian bersuara saat sebelumnya laki-laki itu hanya diam memandangi taman indah itu.
"Ha!" Chika terkaget, tangan mereka masih belum terlepas justru terasa Adrian lebih erat menggenggam jemari Chika.
"Hai Tiara, apa kabar. Maaf selama ini aku tidak pernah melihat taman buatanmu. Apa kau bahagia di sana, aku merindukanmu." Suara laki-laki itu melemah terdengar seperti ada rasa kerinduan teramat sangat di suara yang dia utarakan itu.
Chika yang mendengar ungkapan itu merasa jantungnya seperti di tusuk berpuluh-puluh jarum tumpul. Sakit? Sangat sakit, terbukti saat sebelah tangannya yang tidak bertautan dengan Adrian meramas kuat dadanya.
'Kenapa sakit sekali rasanya! Tenang Chika, kau harus kuat. Lihat tanganmu, masih di pegangnya' kan?' Chika menguatkan dirinya sendiri.
Menahan air mata yang siap kapan pun akan jatuh.
Adrian memutar badan menghadap pacarnya, matanya yang sendu menatap Chika yang tertunduk. Tangan laki-laki itu menaikkan dagu Chika dengan lembut. Mata mereka bertemu.
"Apa kau tidak mau bertanya siapa Tiara? Dan kenapa taman ini buatannya?"
Chika menggeleng.
"Kenapa?" tanya Adrian menautkan kedua alisnya.
"Aku gak mau tanya karna aku yakin, Mas sendiri yang akan langsung ngasih tau Chika 'kan," ucap gadis itu sambil memaksakan tersenyum semanis mungkin.
Adrian ikut tersenyum. Menyapu lembut kepala Chika.
"Kau sangat cantik, aku sangat beruntung memilikimu," ungkapnya jujur.
Mata Chika berbinar.
"Apa kau berbicara jujur?"
"Apa aku pernah berbohong?"
Chika menggeleng.
Adrian memegang bahu wanitanya dan membawa gadis itu duduk di bangku bambu itu.
"Duduklah di sini."
Setelah mengucapkan itu Adrian berjongkok di depan Chika duduk, kapalanya ia letakkan di paha Chika. Awalnya gadis itu kaget namun ia biarkan saat lelakinya tidak berbuat macam-macam. Adrian memiringkan kepalanya di paha Chika dan mata sontak menghadap air mancur itu.
"Dia sudah pergi jauh." Adrian mulai bersuara saat sebelumnya ia lama diam.
Chika diam mendengarkan dan tanpa ia sadari tangannya membeli rambut rapi Adrian.
"Sangat jauh dan tidak akan pernah Mas jumpai kecuali Mas mati .... mungkin Tuhan tidak mengizinkan kami berjodoh."
__ADS_1
Menghela napas berat.
"Tiara itu wanita baik, cantik dan dia sangatlah lembut. Kami pacaran sudah 5 tahun dari Mas sekolah SMA. Hungan kami baik-baik saja, bahkan kami berkomitmen ingin serius. Dan saat di hari pertunangan kami, dia gak datang sebab ...."
Tes...!!
Chika tersentak saat pahanya di jatuhkan satu tetes air mata dan itu dari mata lelakinya. Yah! Itu air mata Adrian.
'Sesakit itukah dia?' batinnya bertanya.
"Dia di tabrak truk dari belakang dek ... hiks ...."
Adrian menyembunyikan wajahnya di paha Chika sambil menangis dan tangannya meremas dadanya yang terasa sakit.
Rasanya tidak kuat saat dirinya mengingat kembali mantan tunangannya yang mati tertabrak.
Chika mengangkat kepala Adrian, menghapus air matanya yang masih mengalir deras.
"Mas jangan sedih, Chika di sini." Gadis itu tersenyum.
Untuk sekarang dia gak mau egois, ia yakin Tiara itu hanya masa lalu Adrian dan Chika percaya Adrian adalah masa depannya.
'Berpikir dewasalah Chika,' ucapnya dalam hati.
"Jangan tinggalkan Mas," pinta laki-laki itu di sela tangisnya.
"Chika gak akan tinggalkan Mas," balas gadis itu mantap.
" Janji?"
"Chika gak bisa janji mas," ungkap dia akhirnya.
"Berarti kau akan meninggalkan mas 'kan?"
Laki-laki itu bangkit dan segera meninggalkan Chika sendirian, mata gadis itu terus melihat punggung lebar pacarnya.
'Chika gak akan pernah meninggalkan mas, tapi apa mas bisa mencintai Chika sama seperti mas mencintai Tiara? Kau terlihat sangat mencintainya mas dan itu rasanya sakit,' ungkap Chika dalam hati sambil terus memegang dadanya yang terasa sakit dan tanpa dia sadari air matanya sudah membasahi pipinya yang mulus.
'Seberapa besar cintamu padaku, Mas?' tanyanya dalam hati lagi.
***
"Kau kenapa Adrian?" tanya Evelyn yang tengah menaruh nasi di piring Reyhan.
Mata Chika melihat ke arah Adrian yang terlihat murung sejak tadi.
"Iya Daddy ini, apa sih yang di pikirkan. Bukannya sekarang ada Kak Chika di sini, trus kenapa masih bengong," celoteh Reyhan di sela-sela makannya.
Saat ini mereka tengah makan malam bersama. Reyhan terlihat antusias sedangkan Adrian malah dari tadi terlihat murung, pikirannya masih ke Chika yang tidak ingin berjanji padanya itu membuat laki-laki itu murung. Dia takut akan kehilangan orang yang ia sayang lagi.
"Gak papa sayang," balas Adrian memaksa untuk tersenyum, matanya menatap Reyhan lalu kembali menatap piringnya yang sudah Chika isi tadi.
'Apa yang dia pikirkan, apa tentang Tiara? Kenapa segitunya. Ah, sakitnya.' Chika mengenalkan tangannya.
Rasa sesak di dadanya menimbulkan sedikit nyeri dan itu dia tahan, bibirnya sedikit bergetar.
__ADS_1
"Kau kenapa Dek?"
Evelyn mengelus tangan Chika yang di sampingnya, pertanyaan yang Evelyn utarakan membuat kedua pria itu menoleh.
"Apa kakak sakit?" tanya Reyhan.
Anak itu bangkit dari duduknya dan kini memegang tangan Chika.
"Kakak gak papa Reyhan, Chika gak papa Kak," ucap gadis itu memaksakan untuk tersenyum.
"Tapi kau terlihat pucat, Chika."
"Iya, Mommy benar Kak." Reyhan menimpali.
"Daddy, kau apa 'kan. Calon pacarku?" Suara Reyhan meninggi dan kini anak itu menatap tajam ke arah Daddy-nya.
Chika dan Adrian terkejut tapi tidak dengan Evelyn, justru ia tersenyum saat anak semata wayangnya memarahi Adrian.
"Apa yang Daddy lakukan, Nak?" Adrian bingung sendiri.
"Daddy jujur sama Reyhan, Kenapa Kak Chika jadi pucat kayak gini." Lepel suara anak itu masih meninggi, terlihat pipinya yang memanas. Seperti benar-benar sedang marah.
"Kau masih kecil jadi gak perlu tau urusan orang dewasa," ucap Adrian santai sambil memasukkan nasi satu suapan ke dalam mulutnya.
"Reyhan sudah besar, Daddy jangan menganggap Reyhan kecil lagi," bantah Reyhan.
"Apa kau sudah sunat?"
"Belum."
"Berarti kau masih anak kecil," ucap Adrian sedikit tertawa.
"Apa hubungannya!" jerit Reyhan geram.
"Ada dong, Daddy tadi memakan Kak Chika. Apa kau tau apa maksudnya?" Adrian menaikkan kedua alis matanya beberapa kali dengan senyuman yang penuh kemenangan.
"Mas kau ini, ngomong apa sih?" tanya Chika tampak panik, sebab ia lihat Reyhan seperti berpikir keras.
"Adrian jangan gila kau." Evelyn menimpali.
"Mommy emangnya Kak Chika kue, makanya Daddy bisa memakan kak Chika?" tanya anak kecil itu, matanya yang suci menatap Mommy-nya penuh tanya tanya.
"Bahkan lebih dari kue," ucap Adrian tertawa.
"Dan sangat nikmat," lanjut laki-laki itu.
Bersambung...
Guys, apa kalian masih setia dengan cerita ini?
Maaf, karna Author-nya lama melanjutkannya.
Tolong maklumi Author, tanggungan Author sangat banyak apa lagi setelah menikah ini.
Hahahaha, maaf malah curhat. 🤣🤣
__ADS_1
Jangan lupa Vote-nya Baby