
Diyah mendorong kuat Jack, mentap tajam mata elang lelaki itu.
“Lupakan kau bilang?” tanyanya emosi.
'Kau kenapa Diyah, tahan emosimu,' batin Diyah memasang wajah biasa.
“Maaf Nona ini salah saya, seharusnya saya...."
"Gak perlu minta maaf, lagian aku gak akan ingat kejadian itu lagi," potong Diyah. "Semua yang aku bilang tadi malam itu hanya sebagai orang yang tidak sadar, jadi anggap saja itu tidak pernah terjadi. Lagian kau hanya sekretaris om-ku," lanjutnya.
Tangannya meraih tas dan berbalik ingin pergi.
"Nona jangan pergi dulu," tahan Jack.
"Mau apa lagi?" tanya Diyah dingin. Entah kenapa ia merasa kalimat yang keluar dari mulutnya tadi terasa nyeri di hatinya yang terdalam. Hatinya tidak menyetujui itu, namun gengsi lebih menguasai.
Jack bukanya menjawab malah membuka lemari dan tampak mengambil jaket kulitnya berwarna hitam, kemudian memakaikannya pada Diyah. Diyah yang masih begong kembali tersadar.
"Apaan ini," sergah Diyah marah sambil melempar jaket Jack ke sembarang arah.
"Apa Nona mau pulang dengan pakaian seperti itu," ucap Jack lembut. Tingkah Nona-nya emang seperti ini selalu sesuka hati namun Jack tahu Nona-nya sebenarnya berhati baik.
Diyah memperhatikan penampilannya, emang apa salahnya pikirnya. "Gak ada yang salah sama penampilanku lagian aku gak butuh jaketmu itu," ucap Diyah dingin.
"Oh, baiklah. Ya udah Nona pergi tanpa jaket saya, tapi jangan salahkan saya jika nanti di jalan ada lelaki hidung belang yang berbuat jahat ada Nona." Diyah tampak berpikir bersamaan setelah itu Jack mengambil jaketnya dan menaruhnya kembali ke dalam lemarinya.
"Kenapa kau simpan, cepat pakaikan lagi," titah Diyah berbalik, membelakangi Jack tidak mau melihat wajah lelaki itu sebab ia menahan malu.
Bibir atas Jack terangkat ke atas, mengukir senyum tipis di sana. 'Hah, takut juga dia,' batin Jack sembari mengambil kembali jaketnya dan memakaikan ke Diyah.
Setelah di rasa sudah terpasang rapi Jack melepas tangannya bersamaan dengan Diyah beranjak ingin pergi.
"Nona saya antar pulang, yah," cegah Jack lagi membuat Diyah menghentikan langkahnya.
"Tidak perlu," balas Diyah berlalu pergi.
***
Setengah jam sudah Chika melamun di kamarnya. Ia sendirian di rumah, kedua adiknya pergi jalan-jalan sama mami Viona setengah jam yang lalu.
Pikirannya kini melayang, terbayang percakapannya dengan Evelyn yang selama ini dia anggap sebagai istrinya Adrian.
Satu jam yang lalu di rumah Adrian.
__ADS_1
"Kak aku boleh tanya sesuatu?" tanya Chika cemas.
"Boleh dong sayang, tanya aja. Banyak juga gak papa," balas Evelyn senyum sembari mengelus surai coklat Chika.
Chika tersenyum kaku.
"Apa beneran kakak bukan istrinya Om...."
Belum selesai kalimat yang Chika ucapkan, Evelyn sudah tertawa terbahak.
"Maaf-maaf, apa selama ini kau menganggap Adrian sudah menikah?" tanya Evelyn menahan tawanya lagi dan di jawab anggukan cepat oleh Chika dengan tampang polosnya.
"Astaga kau polos sekali," ucap Evelyn kembali tertawa. Chika menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Dia belum pernah pacaran setelah kejadian itu," ujar Evelyn pelan.
"Kejadian apa Kak?" tanya Chika penasaran.
"Chika tanya langsung pada Adrian yah, kakak gak ada hal untuk memberitahu semua tentangnya,"
Chika memukul kepalanya pelan, semua tentang Adrian membuatnya pusing. Ternyata mencintai Adrian tidaklah hal mudah apalagi lelaki itu sangat misterius baginya.
"Kejadian apa lagi ini? Apa dia seorang pembunuh atau apa? Kenapa dia misterius sekali." Chika membanting ponselnya di kasur, kemudian dia juga membaringkan badannya yang terasa lelah.
"Apa dia juga mencintaiku, aku merasa tidak pantas bersama dengannya. Aku bukan wanita modren seperti yang di luaran sana, bagaimana ini. Aku cuma wanita miskin. Apa dia bisa terima itu," gumam Chika prustasi.
My husband calling....
Chika melebarkan matanya melihat nama pemanggil tersebut sebab dia rasa dirinya belum mempunyai suami dan sekarang....
"Maaf ini siapa?" tanya Chika cepat setelah menerima panggilan itu.
"Kenapa kau pulang, sebelum nunggu aku dulu, hah?" Suara laki-laki dari sebrang itu membuat Chika terlonjak. Ia segera duduk dan mempertajam pendengarannya.
'Ini bukannya Om Adrian, dari mana dia dapat nomorku?'
"Woy, apa orangnya masih hidup?"
"Ya hiduplah, enak aja om bilangnya aku udah mati," balas Chika kesal dan senang karna bisa mendengar suara Adrian lagi, walaupun baru beberapa jam lalu dirinya tidak mendengar suara Adrian tapi tidak menutup kemungkinan dirinya sudah rindu.
"Siapa om-mu? Bukannya sudah aku bilang jangan panggil aku Om."
"Aku belum terbiasa, lagian setatus kita belum jelas jadi aku akan manggil Om aja."
__ADS_1
"Kalau gitu kita pacaran aja, biar kau bisa mengganti panggilan itu," ucap Adrian enteng membuat Chika yang mendengarnya berdebar.
"Kau pasti lagi minum ya Om, apa jangan-jangan kau sudah mabuk. Aku akan menjawab panggilanmu kalau kau sudah sadar." Chika langsung memutuskan panggilan secara sepihak. Ia memegang dadanya.
'Enteng kali dia bilang begitu, gak tau apa kalau perasaanku ini bukan mainan yang seenaknya dia bercandain.' dia berdiri lalu menganti pakaiannya dengan kaos oblong marun dan celana jins panjang warna hitam kemudian gadis itu keluar rumah.
Menelusi setiap jalan dan termenung di sepanjang jalan sampai akhirnya ia memasuki sebuah pemakaman desa. Melangkahkan kakinya melalui jajaran nisan-nisan yang tertata dengan apik.
Pandangannya berubah sendu ketika melihat dua nama yang terukir diatas dua gundukan tanah.
Rislan sang papa dan Riska sang mama.
Gadis itu berjongkok di antara kuburan papa dan mamanya yang berdekatan. Tantas dia melamun sebentar.
"Ma, Pa. Chika datang." Chika tersenyum. "Chika jatuh cinta ma, pa." Suaranya pelan.
Lalu jari gadis itu bergerak, menelusuri gundukan tanah sang papa dengan perlahan.
"Ternyata sakit pa, jatuh cinta. Benar kata papa jangan jatuh cinta sama seorang pria. Apa Chika jatuh cinta sama wanita saja pa, sepertinya menarik." Chika tertawa kemudian air matanya jatuh tanpa di perintah sambil tangannya mencabut rumput liar nakal yang tumbuh dengan seenaknya dia atas kuburan sang papa.
"Chika rindu kalian." gadis itu terisak pelan. Tangannya berpindah tempat ke gundukan tanah sang mama lalu mencabut rumput liar itu juga.
Kehidupan yang Chika jalani sangatlah sulit apa lagi dia harus bekerja keras mencari uang untuk membiayai kedua adiknya sekolah dan makan sehari-hari mereka. Sangat sulit bagi gadis muda seusia dia yang seharusnya fokus sekolah saja.
"Chika kuat kok pa, ma." Dia masih terisak. Membayangkan moment di mana kedua orang tuanya masih ada. Kehangat masih ada. Tawa keluarga kecil mereka masih ada.
"Chika rindu," Dia terus terisak, menyembunyikan wajahnya di antara kedua kakinya yang ia peluk.
Chika bisa tersenyum dan tertawa di depan banyak orang namun saat dirinya sudah berada di antara kuburan kedua orang tuanya dia tidak dapat tersenyum lagi.
Dia kesepian, kehilangan kedua orang tuanya sangat lah sakit. Moment di seusianya seharusnya masih memiliki kedua orang tua namun takdir berkata lain.
Dia iri. Dia iri melihat teman-temannya yang masih memiliki kedua orang tua yang lengkap.
Saat dirinya sibuk menangis sepasang tangan mengentuh bahunya membuat tubuh Chika membeku bersamaan dengan isaknya berhenti seketika. Dia mendengak, kedua matanya melihat sesosok laki-laki yang sudah ikut berjongkok di sampingnya.
"Aku temani," ucapnya lembut.
Chika masih melamun menatap laki-laki itu dan tanpa ia sadari laki-laki itu menghapus air matanya yang masih basah.
"Jangan menangis sendirian," ujarnya lagi.
Bersambung....
__ADS_1
Maaf jika tidak menarik.
Dan jangan lupa dukung Author. Aku yakin kalian tau bagaimana caranya. 😊