Om, Nikahi Aku?

Om, Nikahi Aku?
Mengejutkan


__ADS_3

"Adrian cukup, kau ini." suara Evelyn terdengar marah.


"Bercanda juga Kak," balas Adrian Matanya menatap ke arah Chika.


Gadis itu tertunduk, ada rasa kesal dengan ucapan Adrian.


'Dasar laki-laki gila, apa sih yang dia pikirkan sampai dia berpikir sampai ke situ.' ucap Chika dalam hati sambil tangannya menggenggam sendok dengan kuat.


"Jadi, Mom. Apa Daddy serius memakan kak Chika?" tanya anak polos itu, mata kecilnya tampak bingung.


"Tidak sayang, Kak Chika' kan bukannya kue. Daddy hanya bercanda aja." jelas Evelyn lembut sambil tangannya mengelus lembut rambut Reyhan.


Anak itu mengangguk, lantas tersenyum senang.


"Syukurlah kalau begitu, berarti kak Chika bisa jadi pacar Reyhan dong ...."


"Enak aja, gak bisa," potong Adrian cepat membuat Reyhan cemberut.


"Bisa dong sayang," balas Chika cepat pula, terlihat anak itu tersenyum girang.


Mata Adrian melotot ke arah pacarnya.


"Reyhan adalah satu-satunya pacar Kakak," lanjut gadis itu lagi, bibirnya mengukir senyum semanis mungkin menatap Reyhan, dia tidak memperdulikan Adrian yang terus melototinya.


"Benarkah?" tanya Reyhan dengan mata berbinar.


"Iya sa ...."


Brak!!!


Chika, Evelyn dan Reyhan terkejut saat Adrian memukul kuat meja makan membuat Chika tidak melanjutkan kalimatnya.


"Kau ini, apa-apaan sih Adrian!" teriak Evelyn merah.


"Apa sih," balas laki-laki itu enteng.


"Daddy kenapa, apa Daddy marah karna kak Chika memilih Reyhan?" tanya anak itu terdengar ada suara ketakutan di sana, badannya sudah berdiri dengan lutut sedikit bergetar memandang Daddy-nya.


Hati Adrian mereda, matanya menatap menyesal ke arah Reyhan. Tidak seharusnya dia secemburu ini pada anak kecil itu, namun entah kenapa emosinya tidak terkontrol tadi.


Laki-laki itu merjalan, mendekati anak berusia 7 tahun itu. Bersamaan dengan itu kaki anak itu memundur dengan kepala yang tertunduk, ada rasa takut di dalam diri anak itu saat ini.


"Sayang!"


Adrian menangkap tubuh kecil Reyhan yang terus melangkah mundur, menjauhinya.


Lantas laki-laki itu berjongkok di depan anak itu sambil memegang bahu bergetarnya.


"Daddy gak marah kok, coba lihat Daddy," pinta Adrian, suaranya sudah terdengar kembali seperti biasa, lembut.


Dengan keberanian cukup, anak itu mengangkat kepalanya. Lantas tersenyum saat matanya melihat Daddy-nya tersenyum.


"Daddy gak marah?"


"Tidak."


"Apa Daddy setuju?"


"Setuju apa, sayang?" tanya Adrian bingung, alisnya terangkat.


"Dengan hubungan kami,"

__ADS_1


Laki-laki tampan itu memutar bola matanya malas.


'Dasar anak kecil tak tahu diri,'


Diam sesaat, lantas menghela napas pelan lalu tersenyum.


"Baiklah, Daddy setuju sayang," ucap laki-laki tampan itu, mengalah.


Terdengar Evelyn tertawa kecil melihat kekalahan Adrian.


'Bisa kalah juga dia akhirnya,' ucap Chika dalam hati, ia ikut tertawa juga.


***


"Ini harus di perbaiki, saya tidak mau ada kesalahan sedikit pun. Mengerti!" perintah laki-laki itu tegas.


"Baik Pak, saya usahakan." Wanita itu tertunduk dan dengan tangan bergetar ia mengambil kembali berkas yang beberapa saat lalu ia serahkan pada laki-laki itu.


"Ada kabar dari Pak Adrian?" tanya laki-laki itu sambil berdiri,


"Belum Pak,"


Laki-laki itu melangkah keluar dari ruanganya yang diikuti wanita tadi di belakangnya.


"Kau ini masih berguna apa tidak!" teriak laki-laki itu sambil tiba-tiba berbalik membuat wanita itu berhenti dan menunduk.


"Maafkan sa ...."


"Diam kamu," potong laki-laki itu cepat.


Matanya mengarah lurus ke depan, terlihat di depan sana sesosok gadis cantik nan anggun dengan balutan dres maron selutut tengah berjalan menghampirinya, dengan wajah angkuhnya menatap tajam laki-laki itu.


Namun gadis itu mengerutkan kedua alisnya saat laki-laki yang ia tanya hanya diam melamun dengan mata yang masih menatap ke arah gadis itu.


'Apa yang dia lihat, apa gaunku kebesaran atau kekecil. Tidak-tidak, bagaimana kalau dandananku menor kayak badut. Ah, bisa gila aku!' jerit gadis itu dalam hati.


"Kau pergi sekarang, saya ada urus denganya," perintah gadis itu tiba-tiba pada wanita yang tadi di samping laki-laki gagah itu.


"Makasih Nona Diyah," ucap wanita itu sambil tersenyum, lantas ia dengan cepat melangkah pergi.


'Syukurlah, aku bisa terlepas dari harimau itu. Makasih Nona Diyah, aku akan membalasmu,' ucap wanita itu bersyukur, sambil mengelus dadanya.


"Woy! Punya kuping gak!" bentak Diyah sambil tangannya berkibas di depan laki-laki itu. Tidak mau berpikir yang tidak-tidak sebab dia yakin penampilannya saat ini sangatlah memuaskan.


Bagaimana tidak memuaskan, lebih dari dua jam ia ke salon kecantikan. Hanya untuk terlihat lebih sempurna di hadapan Jack.


Dan lihat sekarang, dia pasti terpesona. Pikir gadis itu dalam hati.


Laki-laki itu tersentak lantas ia langsung menunduk.


"Eh, maafkan saya Nona," ucapnya sopan.


"Apa yang Nona bicarakan tadi?" tanya Jack tanpa menatap Diyah.


"Lo sibuk gak?" ulang Diyah.


"Iya, emang ada apa ya Non?"


"Oh, ya sudah kalau sibuk. Tidak jadi deh, tadi awalnya mau gue suruh anterin gue ke bar. Tapi karna lo sibuk, gue sendiri aja lah."


Setelah mengucapkan itu, Diyah pura-pura berbalik ingin pergi.

__ADS_1


'Ayo cegah aku,' batinnya.


namun bersamaan dengan dia bergumam dalam hati tiba-tiba tangan kecil Diyah di genggam seseorang.


"Tunggu Nona, untuk apa Nona ke bar? Dan mau ngapain?"


"Suka-suka gue mau ngapain," balas gadis itu angkuh.


Rahang Jack mengeras dan tanpa laki-laki itu sadari tangannya menarik tangan Diyah mengakibatkan gadis itu mundur dan tubuh kecil Diyah menempel di tubuh kekar Jack.


"Bukan urusan lo, lepasin gue dan badan lo jauh-jauh dari gue." bentak Diyah memberontak, saat ini jantung gadis itu berdetak tidak normal.


Awalnya dia kaget namun ia tidak mau terbawa suasana karna kelakuan Jack.


'Tubuh ini hangat,' batinnya memberontak.


Bukannya melepaskan, Jack justru memutar tubuh Diyah menghadapnya. Mata gadis itu ingin keluar, melotot.


Belum sempat dia memprotes kedua tangan Jack sudah berpindah ke bahunya, menggenggam agak erat bahu gadis itu. Lantas memundurkan tubuh gadis itu beberapa langkah sampai akhirnya berhenti di dinding.


Menatap mata hajel Diyah dengan penuh dan perlahan badan kelar itu merapat maju.


Gadis itu tercekat, napasnya seolah ingin berhenti serta matanya yang ingin keluar. Seakan dia tidak percaya dengan perlakuan Jack sekarang ini.


"Apa dengan cara ini, Nona sudah mengerti?"


Kedua alis gadis itu mengerut.


"Maksudnya apa?" tanyanya bingung.


"Apa Nona belum mengerti juga? Kalau begitu, sebelum melakukannya saya ingin meminta maaf terlebih dahulu. Saya tidak perduli jika sehabis ini Nona akan membenci saya atau tidak, saya sudah tidak bisa menahannya," ungkap laki-laki berbadan kekar itu membuat Diyah terbengong.


Dan otak kecilnya berpikir keras, akan apa yang akan sekretaris Om-nya itu lakukan.


Belum sempat menemukan jawaban tiba-tiba dia merasa bibirnya di sentuh dengan benda lembut dan matanya langsung melotot saat ia sadari bibir Jack ******* bibirnya penuh.


Jantungnya terpompa cepat dan entah kenapa dia memejamkan matanya, menikmati sentuhan bibir yang pria itu lakukan dan kedua tangannya melingkar di leher Jack.


***


Mata sang gadis berkedip, memaksa matanya terbuka lebar. Tangannya menurunkan selimutnya ke bawah, lantas ia duduk dan menyadarkan badannya di pinggir ranjang, berusaha mengumpulkan nyawa.


Namun tiba-tiba tangan itu meremas kuat perutnya.


"Aw!!!" rintih gadis itu.


Rasanya ada yang nyeri di bagian perutnya, berusaha berdiri lalu menuruni tangga dengan hati-hati sambil tangannya yang tak lepas dari perut.


"Sakit sekali," keluhnya.


Bersambung....


Hayoo siapa dia? Dan kenapa?


Hahahaha, maaf menggantung guys. Sengaja sih sebenarnya hehhe.


Tetap dukung Author yah, dan jangan lupa Vote-nya.


Karna Vote kalian sangat berharga bagi Author.


Makasi yang masih setia.... 😍😘😘💕💞

__ADS_1


__ADS_2