Om, Nikahi Aku?

Om, Nikahi Aku?
Kamu siapa, Dek?


__ADS_3

"Aku tidak apa-apa, sebaiknya Om pulang sekarang," usir Chika secara halus. Adrian mengerutkan kedua alisnya, bingung akan perubahan wajah Chika yang secara drastis.


"Ok, aku akan pulang. Tapi sebelum aku pulang bisa kamu kasih tau ada apa denganmu, jangan buat aku jadi khawatir."


"Cih, kau mengkhawatirkan wanita yang salah, Tuan," balas Chika dingin. Mencoba kuat, menahan air mata yang sudah membendung di pelupuk kantung matanya, agar tidak jatuh ke orang yang salah.


Ini salah, Chik. Kau harus melupakan cinta gila ini, jangan jadi plakor yang menyakiti wanita yang tidak bersalah. Hah, dasar kau wanita murahan, Chika. Hardik Chika pada dirinya sendiri dalam hati.


Adrian semangkin bingung dengan apa yang Chika ucapkan, Adrian menagkup wajah cantik Chika menariknya lebih dekat ke wajahnya. Chika memberontak tapi kalah dengan kuatnya Adrian menangkup wajahnya.


"Aku tidak tau apa yang membuatmu jadi begini ...." Menggantungkan kalimat saat tiba-tiba Chika meneteskan air mata dengan begitu derasnya. "Tapi aku mau mengatakan, kalau ak ...."


Drrttt ... drtt ... drttt ...


Handphone Adrian berdering membuatnya tidak melanjutkan kalimatnya yang belum selesai.


Agghh Adrian mengerang, kesal saat ada yamg menelpon di waktu yang tidak tepat, melepaskan tangannya dari wajah Chika dan tanpa melihat siapa yang menelpon Adrian langsung menerimanya.


"Daddy!" seru seorang anak laki-laki dan itu bisa didengar Chika dengan jelas, sebab suara itu terdengar seperti menjerit.


"Iya Reyhan, daddy tidak tuli. Ada apa, Nak?"


Deg....


Chika memalingkan wajahnya ke arah lain, dadanya benar-benar sesak. Kata 'Nak' sukses membuat Chika bergetar. Ia merasa bersalah pada istri Adrian, yang malah mencintai suaminya.


Tuhan, maafin Chika. Perasaan ini tumbuh begitu saja.


"Iya sayang, ini daddy akan pulang, pizza 'kan? Pasti dong daddy selalu ingat, Nak. Bay," Adrian memasukkan benda pipihnya ke dalam kantong celananya.


"Chik, aku harus pulang sekarang." Chika hanya mengangguk. "Urusan kita masih belum selesai," lanjut Adrian dan langsung pergi tanpa menunggu jawaban gadis itu.


Setelah kepergian Adrian, Chika memukul dadanya.


Ini benar-benar sakit, ma. Kenapa Chika harus cinta sama suami orang. Ini bukan ke mauan Chika, pa. Hati Chika yang mulai, Chika harus bagaimana? Hiks...

__ADS_1


***


"Daddy, bangun." Anak laki-laki yang berusia hampir mencapai 7 tahun, berwajah tampan kini tengah mengguncangkan tubuh Adrian.


"Bentar, sayang. Daddy masih ngantuk." Adrian menutupi seluruh tubuhnya, tidak ada niat sedikit pun beranjak.


"Bagaimana sayang, apa daddy mau dibanguni?" tanya seorang wanita cantik sekaligus seksi walaupun kini ia hanya menggunakan daster saja tapi itu bukan daster longgar yang panjang dan sombro melainkan daster dengan 2 tali di samping kiri kanan bahunya dengan panjang daster yang hanya setengah paha, memperlihatkan pahanya yang putih mulus itu.


Menghampiri anaknya, meninggalkan masakannya yang belum kelar. Yang kini di ganti tangan oleh Bik Atun, pembantu rumah tangga. Menangkup pipi Reyhan dangan gemas yang kini tengah cemberut.


"Kenapa wajah anak Mommy jadi jelek seperti ini?" Ingin tertawa tapi Evelyn tahan, takut anaknya akan mengamuk jika ia melakukan itu.


"Pagi ini Daddy janji sama Rayhan mau jalan-jalan Mom, kenapa daddy bohong," racau Rayhan yang kini sudah menangis.


Evelyn memeluk sayang putranya, mengusap lembut punggung Rayhan. "Daddy tidak akan bohong, sayang. Daddy hanya capek kerja aja, nanti saat daddy sudah bangun pasti kita akan jalan-jalan," ucap Evelyn menenangkan putranya.


"Siapa yang bilang daddy bohong sayang, apa Mommy?" tanya Adrian yang kini sudah berjalan mendekati Rayhan dan Evelyn dengan bertelanjang dada. Raylan yang mendengar suara Adrian langsung berlari menghampiri Daddy-nya dan sontak memeluk Adrian dengan tangisnya yang belum berhenti.


"Enggak Daddy, bukan Mommy yang bilang Daddy bohong tapi Rayhan," ucap Reyhan jujur sambil tertunduk dengan tangis yang mulai reda.


"Benarkah? Kalau gitu daddy maafkan tapi jika Mommy yang bilang daddy bohong, tidak akan daddy maafkan," ucap Adrian pura-pura marah dengan menatap ke arah Evelyn.


"Gak lucu," kata Evelyn menatap tajam Adrian lalu ia bangkit membantu bi Atun yang mengangkati beberapa macam makanan ke atas meja makan.


"Ayo sayang, sekarang kita makan," bujuk Evelyn pada putranya yang kini tengah asik bermain robot-robotan dengan Adrian.


"Daddy-nya gak di ajak, nih," sindir Adrian yang kini menatap Evelyn.


"Enggak," jawab Evelyn cepat membuat Adrian terkekeh lucu akan wajah Evelyn yang tambah cantik jika tengah marah.


***


Sudah satu minggu yang lalu insiden Chika yang mendengar Adrian di panggil Daddy saat di telpon, dan dari kejadian itu Chika terus bekerja keras agar bisa membayar hutang makanan yang laki-laki itu belikan. Kini ia tengah berjalan santai di pinggir jalan berniat ingin pergi ke perputakan, karna waktu UN (Ujian Nasional) yang akan dilaksakan besok.


Chika sudah berhenti bekerja di Kafe yang hampir 3 tahun lamanya ia gulati, kini ia ingin pokus belajar agar dia dapat Biasiswa jika hasil UN-nya di peringkat teratas. Hampir setiap malam Chika sempatkan belajar sepulang kerja walaupun lelah itu tidak membuatnya putus asa. Ingin merubah nasip, itu tujuannya yang pertama serta ingin menyekolahkan adik-adiknya ke Luar Kota.

__ADS_1


Chika teringat kata-kata sahabatnya Diyah beberapa jam yang lalu, mengatakan akan membantunya kuliah di bidang dissainer jika dia tidak dapat Beasiswa nantinya. Namun Chika menolaknya mentah-mentah, ia tahu saingannya tidaklah mudah sebab ada raja super pintar seangkatan dengannya. Walaupun Chika tidak pernah turun peringkat namun IQ Juan pria super pintar itu jauh diatasnya, Chika pernah secara tidak sengaja membuka rapot Juan dan itu membuatnya terkejut, hampir rata-rata nilai Juan tidak pernah turun dari 98. Kelas mereka berbeda, jika ia satu kelas dengan Juan, bisa di pastikan dia akan di bawah jauh dari Juan.


Huh, sulitnya hidupku. Gerutu Chika dengan menendang batu kecil ke depan tanpa ia sadar batu itu mengenai seorang anak kecil yang kini sudah menangis, dengan panik Chika menghampiri dan memeluk anak itu sayang. Ia berasa bersalah, tidak seharusnya dia menendang batu dan sebelum menendang seharusnya ia lihat-lihat terlebih duhulu.


"Cup... cup... cup... Kakak minta maaf ya sayang, kakak gak lihat-lihat tadi," ucap Chika menenangkan anak laki-laki itu dengan mengelus lembut punggungnya. Perlahan anak itu tenang dan kini sudah tersenyum.


"Tidak apa-apa Kakak cantik, ini tidak sakit kok. Kata mommy jangan jadi pria yang cengeng." Chika tersenyum, dan kini anak itu menghapus air matanya sendiri lalu menangkup wajah Chika.


"Apa Kakak bidadari?" Chika mengerutkan sebelah alisnya, apa yang harusku jawab? Pikir Chika, masih diam di tangan anak yang masih menangkup wajahnya.


"Aku Reyhan, Kak. Nama Kakak cantik siapa?"


"Nama Kakak, Chika sayang," balas Chika lembut, saat anak yang bernama Rayhan itu melepas pipinya dengan senyuman kini ia menatap kakinya yang terkena batu atas lemparan Chika tadi.


"Ya ampun, ini berdarah Rayhan." Chika panik, mengambil tisu basah menghapus darah di kaki Rayhan dengan lembut, tidak terlalu dalam hanya tergores tapi bagi anak sekecil ini pasti sangat sakit rasanya, pikir Chika dalam hati.


"Kakak cantik ini tidak sakit, sungguh," ucap Rayhan tersenyum dan senyuman manis itu menginggatkan Chika pada seseorang.


"Maafkan kakak, yah." Benar-benar merasa bersalah.


"Rayhan!" panggil seseorang di belakang Chika dan Chika sangat kenal suara siapa itu.


"Daddy," sahut Rayhan dengan girang.


Deg... Jantung Chika berdetak cepat mendengar suara pria itu yang mulai mendekat.


"Rayhan, dari tadi Daddy dan Mommy nyariin kamu. Ke mana aja sih sa ...." Adrian tidak melanjutkan kalimatnya saat matanya bersitatap dengan Chika.


"Kenapa Adrian?" tanya Evelyn bingung, ia mengikuti tatapan Adrian. Melihat gadis yang masih menggunakan seragam anak SMA, sangat cantik wajahnya menurut Evelyn.


"Hay, kamu siapa, Dek?" tanya Evelyn ramah.


"Sa ... saya Chika, Kak," ucap Chika terbata dengan mengukir senyum yang di paksakan. Kuatkan dirimu, Chik. Bukankah kau sudah mulai melupakannya.


Bersambung....

__ADS_1


Jangan lupa Vote, Like, Coment dan Favorit🤗 agar author-nya lebih semangat lagi.


Dan terima kasih atas segala dukungannya🙏💝😁


__ADS_2