Om, Nikahi Aku?

Om, Nikahi Aku?
Kanapa aku jadi penasaran!


__ADS_3

"Diyah, apa bodyguard lo manusia?" tanya Chika penasaran, Diyah mengerutkan kedua alisnya.


"Maksudnya?" tanyanya balik, sebab ia tidak tahu apa maksud Chika.


"Pria yang menyetir itu tadi belikan aku makanan dan lo tau makanan apa yang gue pesan," ucap Chika antusias dan Diyah menggeleng lalu Chika menyebut semua makanan dan minuman yang ia pesan dan juga dia cerita kasih waktu 10 menit. "Dan lo tau menit keberapa dia datang?" Lagi-lagi Diyah menggeleng. "Delapan menit Diyah, gilakan. Apa ada manusia yang beli makanan segitu singkatnya," oceh Chika tidak habisnya, antara salut dan ngeri. Saat matanya tidak sengaja bersitatap dengan pria tanpa kaca mata dari kaca spion.


"Lo jangan heran jika berhadapan dengan Jack, dia memang pria misterius, cuek dan aneh. Karna itu gue gak terlalu suka dengannya, kalau bukan paksaan Om Adrian gak akan mau gue dekat dengannya" cetus Diyah tertawa paksa sambil matanya menatap tajam ke arah Jack, pria tanpa kaca mata itu hanya menatap tenang Nona mudanya dari kaca spion.


"Oh namanya Jack," ucap Chika ikut tertawa. "Kalau yang satunya?" tanya Chika pada Diyah.


"Nama saya Dion, Nona," Tersenyum sebentar lalu menatap kembali ke depan.


"Kenapa, kau tertarik pada Jack?" bisik Diyah sedikit tertawa. "Tidak, aku tidak tertarik dengannya hanya aneh saja ada manusia seperti dia," balas Chika berbisik juga dengan ikut tertawa tertahan.


***


Sampainya di depan rumah Chika, Dion dan Jack membawa semua belanjaan Diyah masuk ke rumah Chika.


"Lo serius ini semua punya gue?" tanya Chika untuk kesekian kalinya.


"Iya Chik, udah berapa kali lo tanya ini." Melangkah meninggalkan Chika menuju rumah tua Chika. Chika masih belum percaya jika semua barang-barang yang Diyah belikan ini untuknya. Dia memutar benda pipih yang kini sudah menjadi miliknya. Handphone yang belum pernah ia bayangkan akan bisa memilikinya dan itu pun handphone mahal dan canggih. Chika masih belum percaya ini.


"Apa aku lagi mimpi yah." Mencubit lengannya kuat. "Aw!" ringisnya. Ini nyata, pikirnya lagi dengan senyum mengembang ia berjalan memasuki halaman rumahnya.


"Ternyata Kak Diyah cantik yah," puji Nina sambil menangkup pipi Diyah dengan gemas. Diyah menanggapi kedua adiknya Chika dengan sabar jika banyak pertanyaan yang mereka lontarkan.


"Kakak orang kaya yah? Makasih ya Kak, bajunya bagus semuanya," ucap Nina antusias. "Seharusnya Kakak gak usah serepot ini," Suara itu dari Nella. Bukan Nella tidak suka di belikan begini hanya saja ia merasa berat hati.


"Nella, kalian tau 'kan. Kalau Kakak sudah menganggap kalian berdua itu seperti adik Kakak sendiri, jadi sebagai seorang Kakak ini bukanlah merepotkan," jelas Diyah dengan mata yang tampak berkaca-kaca.


"Nella," kata Chika tanpa suara. Nella mendekati Diyah dan langsung memeluk Diyah erat."Maafin, Nella Kak. Nella juga udah anggap Kakak seperti Kakak Nella sendiri."

__ADS_1


"Makasih sayang." Diyah membalas pelukan Nella dengan sayang.


"Apa Nina boleh ikutan gabung dipeluk?" tanya Nina pelan. "Boleh dong sayangnya, Kakak." Merentangkan tangan sebelahnya.


"Masih ada tempat gak, Kakak gak di ajak nih?" Chika berbalik ingin pergi, berpura-pura marah. "Masih dong Kak," rempak ketiganya. Dan dengan cepat Chika berhambur kepelukan sahabat dan adiknya itu.


"Gue bukan Kakak lo, jadi jangan panggil gue Kakak," protes Chika di tengah pelukan mereka. Sontak Nina dan Diyah tertawa dan Nella hanya menggeleng saja.


***


"Hello, ada orangkah di sini!" jerit Diyah sudah masuk sekenaknya ke dalam rumah Adrian. Reyhan yang tengah main mobil-mobilan sontak bersorak kegirangan.


"Aunty!" jerit Reyhan berhambur memeluk Diyah yang sudah merentangkan tangan. Setelah Reyhan sudah sampai di dekapannya dengan gemas Diyah cium pipi Reyhan lalu ia gendong.


"Ah, ternyata keponakan Aunty sudah besar." Pura-pura mengeluh keberatan dengan jalan yang tertatih.


"Aunty jahat, Reyhan 'kan gak berat," ucap Reyhan cemberut membuat Diyah tertawa dan menyerang gemas wajah Reyhan lagi.


"Tadi mommy buatin kopi untuk daddy terus masuk ke kamar, mungkin masih di dalam kamar," balas Reyhan berlari ke mobilan yang sempat ia tinggalkan tadi.


"Eh, Diyah. Kenapa kau ribut sekali," kata Evelyn ketus dari atas lantai dua dan dia menuruni anak tangga dengan perlahan. Mendengar suara tantenya membuat Diyah setengah berlari menubruk tubuh Evelyn.


"Aku kangen tau sama Tante," kata Diyah manja dan kini ia sudah bergelayut di lengan Evelyn.


"Tante juga kangen samamu, kangen banget malah," balas Evelyn mengusap lembut rambut Diyah.


"Bohong! Kalau Tante kangen Diyah kenapa gak ke rumah mami dulu," pekiknya melepaskan tangan Evelyn kasar.


"Uh ... uh ... uh ... ternyata anak SMA yang beranjak dewasa ini bisa merajuk juga yah," canda Evelyn sedikit tertawa.


"Tanta! Diyah udah dewasa!" pekik Diyah nyaris seperti menjerit dengan wajah yang cemberut.

__ADS_1


"Mana ada orang dewasa bertingkah seperti anak kecil," cela Adrian tertawa ia baru saja menuruni anak tangga. Diyah memasang wajah tambah cemberut saat melihat Adrian mendekatinya.


"Aku gak ngomong sama, Om!" jerit Diyah geram, ia menghindari Adrian yang ingin mendekatinya dan menghampiri Evelyn lalu menarik tangan Evelyn menuju dapur.


"Tante aku mau ngomong serius dan itu yang mendengarnya hanya Tante aja. Kalau Om-om yang di sana gak usah di ajak," ucap Diyah dengan suara keras, agar Adrian mendengarnya. Adrian tidak ambil pusing ia cuek dan duduk di ruang tamu melihat Reyhan yang tengah asik bermain.


"Mau berbicara apa sih, Diyah?" tanya Evelyn penasaran. Diyah mengatur napasnya perlahan lalu membicarakan masalah dirinya yang ingan membuatkan Chika pesta kecil-kecilan. Evelyn masih mendengarkan dan sesekali menimpali sampai ucapan Diyah selesai barulah Evelyn bertanya.


"Diyah, Chika yang kamu maksud ini. Chika berwajah imut dan berambut kecoklatan yah?" Penasaran yang ia tahan sejak Diyah bercerita tadi dan ia masih mengingat 4 hari lalu wajah imut Chika. Diyah mengangguk.


"Iya Tante, itu Chika sahabat aku. Aku mengadakan pestanya di restoran Mutiara," ucap Diyah agak sedikit mengeraskan suara saat ia lihat Adrian menguping pembicaraan mereka.


"Tante datang yah, acaranya jam 11 malam," ajak Diyah dengan sedikit tersenyum melihat om-nya sudah kembali ke ruang tamu.


"Tante gak bisa sayang, kau 'kan tau sendiri Reyhan gak bisa tidur kalau gak Tante keloni," balas Evelyn pelan.


"Gak papa Tante gak perlu sungkan. Lagian nanti banyak teman-teman kami kok," kata Diyah tersenyum.


Di waktu bersamaan. Adrian menatap tv yang menyala dengan tatapan kosong, pikirannya kini tertuju dengan omongan yang Diyah ucapkan tadi.


'Ngapain mereka malam-malam begitu ngadain pesta? Bocil itu kenapa dia yang punya pestanya dan kenapa Diyah yang menyiapkannya. Ah! Peduli amat, biarlah mereka mau ngapain. Itu bukan urusanku,' gumam Adrian.


'Tapi kenapa aku jadi penasaran sih!' gumamnya lagi.


'Awas aja kalau dia bermain gila di belakangku,' menjambak rambutnya prustasi.


Bersambung....


Jangan lupa Vote, Like, Coment dan Favorit🤗 agar author-nya lebih semangat lagi.


Dan terima kasih atas segala dukungannya🙏💝😁

__ADS_1


__ADS_2