
Siang itu sesuai rencana, Herman, dan Raja menemui anak-anak trader di Sultan Ngopi Kafe di daerah Melawai.
"Beneran ini tempatnya??, kok sapi sih?" tanya Raja celingukan mencari anak-anak trader di dalam kafe
"Mungkin mereka belum sampai kali, biasalah warga 62, ngaret mah sudah hal yang biasa. Ibarat kata pepatah, Gak ngaret gak asik," sahut Herman
Keduanya kemudian segera memesan tempat dan duduk sembari menikmati segelas kopi hangat.
Tidak lama kemudian beberapa anak muda memasuki ruangan itu.
"Tuh mereka baru pada sampai," ucap Herman menyeruput kopinya
"Kayaknya, soalnya samaan seragamnya kaya anak TK," timpal Raja
"Halo bro, gimana kabarnya?" sapa seorang pemuda menghampiri mereka
"So far so good lah," jawab Herman sok akrab
"Nice, kuylah kita langsung merapat ke atas," ajak pemuda itu
"Kuy,"
Herman dan Raja segera mengikuti pemuda itu naik ke lantai dua kafe.
Di sana puluhan anak muda dengan seragam yang sama sudah menunggu mereka.
"Karena sudah datang semua, kuylah kita mulai bor, jangan lupa pakai signal yang diberikan oleh suhu Mas Gandhi ya," ucap pemuda itu kemudian mempersilakan Herman dan Raja duduk di bangkunya masing-masing.
Herman dan Raja sengaja mencari tempat duduk yang berjauhan agar bisa memantau para peserta trading lain.
Acara pun dimulai dengan khidmat, para trader mulai menatap layar ponsel mereka sembari menikmati camilan dan minuman di hadapannya masing-masing.
"Santai aja bor, dijamin kita nyayur hari ini!" seru sang mentor begitu percaya diri.
Herman segera mengikuti arahan dan mulai menganalisis pergerakan candlesticknya. Sesekali ia menoleh kesamping, belakang, dan depannya untuk memastikan mereka mendapatkan signal yang sama. Herman begitu detail membaca candlestick setiap layar ponsel peserta trading lain.
Aman kok, sejauh ini belum ada yang mencurigakan,
Lelaki itu kemudian menuangkan air putih ke gelasnya untuk menghilangkan nervous yang mulai menderanya saat grafik ponselnya mulai terjun bebas.
Anjir, nyayur apanya, terbang gini bisa mc gue!
Herman segera menganalisis ulang pergerakan candlesticknya.
"Jangan panik ya guys, ikuti panduan yang Mas Gandhi kirim ke group Telegram ya," ucap seorang mentor
"Yang mau profit gede jangan lupa DM Mas Gandhi biar langsung di bimbing langsung sama sang Master," imbuhnya
"Mencurigakan,"
Herman kemudian pergi meninggalkan ruangan itu sejenak karena kebelet pipis.
"Kebiasaan nih kalau kebanyakan minum kopi jadi beser deh gue," Herman buru-buru masuk kedalam toliet.
"Ah lega!!" serunya segera menarik risletingnya.
Saat hendak keluar toilet Herman melihat sang mentor trader masuk kedalam bilik toilet.
Buru-buru Herman masuk ke bilik sebelahnya untuk menguping pembicaraan lelaki itu.
"Semuanya berjalan sesuai rencana Bos, target kita Mas Gandhi kan??" ucap sang mentor
__ADS_1
"......."
"Tinggal Boa kirim aja signal seperti biasa ke anak-anak, aku yakin kali ini mereka juga gak bakal bisa bedain kok. Coz gue sengaja hanya undang trader-trader pemula yang masih belajar, dan belum terlalu paham," imbuhnya
Bangsat, ternyata dia biang keroknya,
Herman terus menajamkan pendengarannya di balik bilik toilet. Ia harus mendengus kesal saat sang mentor menyalakan kran air hingga ia tak bisa mendengarkan percakapannya.
"Ok Bos siap, gue kasih kode anak-anak dulu," ucap sang mentor kemudian segera keluar dari toilet.
Herman sengaja menunggu Lelaki itu pergi dan baru keluar menyusulnya.
Ia kemudian segera duduk kembali ke kursinya dan mengamati layar ponsel teman sebelahnya.
Sama,
Herman menoleh kedepannya, dan matanya seketika terbelalak melihat pergerakan candlestick milik pemuda itu.
Satu,
Ia kemudian memutar kebelakang, dan melirik layar ponselnya.
Dua,
Buru-buru ia mengirimkan pesan singkat kepada Raja saat melihat sekelilingnya memiliki signal berbeda-beda.
"Mulai operasi Bor," pesan Herman
"Siap bang kumis," jawab Raja dengan emot kiss
"Dih gaje!"
"Wah kok layarnya beda!" celetuk salah seorang pemuda menunjuk layar ponsel Raja
"Wah bener juga, gue juga beda!" seru yang lain.
Akhirnya terjadi keributan antar trader saat mengetahui grafik candlestick mereka berbeda-beda.
Herman hanya tersenyum sinis kemudian menarik Raja keluar dari ruangan itu.
"Mau kemana kita Bor?" tanya Raja
"Kantor polisi," jawab Herman segera menyalakan motornya sportnya
************
Setibanya di kantor polisi Herman segera melaporkan apa yang ditemukannya. Ia juga kemudian memberikan bukti-bukti tangkapan kameranya kepada polisi.
"Terimakasih Saudara Herman atas kerja samanya," ucap seorang perwira polisi menjabat tangannya
"Sama-sama Pak, kira-kira temen saya bisa dibebaskan gak setelah mendapatkan bukti-bukti in" tanya Herman
"Insya Allah, jika memang ia terbukti tidak bersalah pasti kami akan membebaskannya," jawan Sang Polisi
"Alhamdulillah, makasih Pak," jawab Herman sumringah.
************
Siang itu sengaja Herman berdandan habis-habisan untuk menjemput kebebasan Qinara.
"Buseet deh, wangi amat lo Tong, mau konser dimana?" tanya Siti
__ADS_1
"Biasalah Mak, mau ketemu pujaan hati," jawab Herman begitu bahagia
"Hadeeh, berapa kali lo bilang kek gitu, tapi pujaan hati gak pernah ada yang nyangkut di mari," sahut Siti
"Doakan saja yang ini nyangkut mak," sahut Herman
"Aamiin, insya Allah kalau nyangkut emak langsung syukuran tujuh hari tujuh malam, sekalian ngundang penyanyi idola Mak Bang Noah," jawab Siti
"Widiih, Noah eks Peterpan Mak?" tanya Herman
"Bukanlah, Bang Noah, nama aslinya si Noor Ahmad di singkat jadi NOAH," jawab emak membuat Herman langsung terpingkal-pingkal
"Keren ya Mak namanya,"
"Lebih keren orangnya Tong, Sehun Exo mah lewat, Song Joongki juga lewat," imbuh Emak
"Shahrukh Khan Mak?" tanya Herman lagi
"Melipir, pokonya semua lewat kalau ada Bang Noah," sahut Emak dengan bangganya
"Emangnya pada lewat ada apa sih Mak??"
"Ya jelaslah pada lewat kalau ada dia, orang abang Noah kemana-mana bawa TOA wkwkwkwk," jawab Siti tertawa terbahak-bahak
"Sue, jelas aja pada melipir ada kang sound sistem, awokwok!"
"Ikan Hiu makan kue balok, yaudah mak Herman pamit buat jemput neng Denok," ucap Herman berpamitan
"Ikan hiu makan buah markisa, semangat bawa calon bini ya," sahut Emak
"Ikan kembung makan ketoprak, ish gak nyambung si emak,"
"Ikan hiu keselek lontong, sambungin aja tong,"
"Ikan hiu keselek pepaya, yaudah mak papay!" seru Herman melambaikan tangannya
Setengah jam perjalanan, akhirnya tiba juga di depan pintu gerbang lapas wanita Pondok Bambu.
"Halo bro, kok tumben telat?" sapa Raja menghampirinya
"Emang Qin udah keluar ya?" tanya Herman
"Udah barusan sama bang Yuda," sahut Raja
"Kok lo, gak kasih tahu gue sih?" jawab Herman sedikit kecewa
"Sama gue aja telat Bro, gue sampai si Qin sama bang Yuda dah merapat ke mobilnya,"
"Duh, sia-sia dong kerja keras kita." sahut Herman
"Hooh, masa kita yang berjuang, Bang Yuda yang dapat pujiannya," sambung Raja
"Yaudahlah, ikhlasin aja Ja, kali aja gak dapat neng Qinara masih bisa dapat janda muda cantik jelita," hibur Herman
"Gak mau Man, gue gak mau yang lain, gue maunya sama Qin aja," rajuk Raja
"Terus gimana, orang Qinara juga gak suka sama lo. Lagipula dia kan tunangannya si Indra jadi mustahil kan kita bisa bersaing dengan berandal itu,"
"Iya sih Man, btw ngomong ikhlas itu gampang, tapi ptaktekkinnya yang sulit." sahut Raja
"Ikan hiu makan steak Abuba, Aku doian semoga Raja bisa mendapatkan hati neng Qinara ya," ucap Herman menyemangati sahabatnya meskipun hatinya sedikit tak rela jika Qinara benar-benar suka sama Raja.
__ADS_1