OM Jangan Gila

OM Jangan Gila
Tolong Bantu Aku


__ADS_3

"Apa kamu sudah baikan Qin?" sapanya menghampiri gadis itu


"Alhamdulillah sudah, aku gak betah lama-lama di rumah sakit makanya aku buru-buru balik setelah dokter mengijinkan aku pulang," jawab Qinara


"Kenapa lo gak istirahat saja, malah keluyuran sini," cibir Herman


"Aku BT jika terus menerus di rumah, mending gue disini ada hiburan," jawab Qinara enteng


Nisa terlihat gusar saat menemui Herman di ruang tunggu


"Apa perlu aku menemani mu masuk kedalam?" tanya Herman menghampirinya


"Tidak perlu, lagipula aku tidak mau mengganggumu," jawab Nisa menoleh kearah Qinara


Gadis itu terkejut saat melihat wajah Qinara.


Ingatannya seketika membawanya pada peristiwa lima tahun lalu.


*Flashback


Juni 2017.


Nisa segera keluar dari ruko begitu melihat isi micro-sd milik kekasihnya. Gadis itu buru-buru meninggalkan tempat itu karena khawatir Indra dan Yuda akan kembali ke tempat itu.


Benar saja, saat dia keluar dari tempat itu, seorang gadis cantik berjalan memasuki rumah kantor tersebut.


"Ah sialan, kenapa ada mayat disini, jangan bilang kedua bajing*n itu yang melakukannya!" gerutu Qinara


Karena tidak mau disalahhkan dalam kejadian tersebut maka Qinara segera menghubungi kantor polisi terdekat untuk melaporkan penemuan mayat di rukan miliknya.


Saat Nisa akan mendekati gadis itu seorang pria mendekatinya. Nisa segera meninggalkan tempat itu begitu polisi datang ke TKP.


*Flashback off


Bukankah dia gadis yang waktu itu menghubungi polisi??, aku yakin dia tahu siapa yang membunuh Rico, dia pemilik rukan itu jadi ia pasti memiliki rekaman CCTV saat Rico dibunuh.


Nisa segera mendekati Qinara.


"Hi, bukankah kau trader yang waktu itu?" tanya Qinara menatap lekat kearah Nisa


"Benar, Terimakasih sudah mengingatku," jawab Nisa


"Wah bagaimana aku tidak mengingat mu, kau begitu memukau hari itu. Dan sejak saat itu aku mulai menjadikan mu sebagai idolaku. Ngomong-ngomong bolehkah aku berguru padamu?" tanya Qinara tanpa basa-basi

__ADS_1


"Kenapa kau tidak mencari master lain yang lebih kompeten, aku tidak sehebat yang kau bayangkan. Waktu itu aku sedang beruntung saja, jadi tidak ada yang istimewa," sahut Nisa


"Ah kau begitu rendah hati. Anyway perkenalkan aku Qinara," ucap Qin mengulurkan tangannya


"Nisa," jawabnya singkat sembari menjabat tangan Qinara


"Kalau tidak keberatan bolehkan aku bicara empat mata denganmu?" tanya Nisa


"Oh tentu saja, memangnya ada apa?" tanya Qin penasaran


"Ada sesuatu yang harus aku tanyakan padamu," jawab Nisa


Qinara merasa kebingungan dengan sikap Nisa. Namun ia segera mengabaikannya karena tidak mau terlalu jauh berprasangka terhadap gadis itu.


"Apa kita pernah bertemu sebelumnya, atau kau mengenalku?" tanya Qinara


Nisa menggelengkan kepalanya, gadis itu kemudian menceritakan kejadian lima tahun silam kepada Qinara.


Ia menjelaskan semuanya hingga membuat Qinara begitu terkejut dan tidak menyangka jika wanita di depannya adalah kekasih sahabatnya Rico.


"Jadi kau kekasih Rico??" tanya Qin berkaca-kaca


Nisa mengangguk pelan.


"Aku tidak punya bukti, sekarang setelah melihatmu disini aku yakin bisa mendapatkan bukti dan menjebloskan para pembunuh itu ke penjara. Sebagai pemilik rukan itu aku yakin kau memiliki rekaman CCTV hari dimana Rico dibunuh bukan, jadi kau juga pasti tahu siapa pembunuh Rico. Aku hanya butuh kesaksian mu. Karena meskipun aku tahu siapa pembunuh Rico aku tidak bisa menjadi saksi untuknya," terang Nisa membuat Qinara tercengang


"Kau tahu siapa yang membunuh Rico??" tanya Qinara membelalak


"Tentu saja, aku melihat sendiri mereka membunuhnya hingga membuat aku depresi selama lima tahun karena tidak bisa berbuat apa-apa," jawab Nisa menghela nafas panjang


"Rekaman CCTV hari itu sudah dibawa oleh pihak kepolisian untuk penyelidikan jadi aku tidak punya lagi, dan juga aku datang ketempat itu setelah Rico tewas jadi aku tidak tahu siapa yang membunuh Rico,"


"Jangan bohong, jelas-jelas aku melihat mu bersama salah satu mereka. Apa kay sengaja melindunginya karena dia kekasihmu?" tanya Nisa membuat Qinara seketika lemas mendengarnya.


Tidak lama Nisa keluar dari ruangan itu meninggalkan Qinara yang masih membisu di kursinya.


Nisa begitu kecewa hingga tak bisa menyembunyikan kesedihannya.


"Apa yang terjadi??" tanya Herman menyusul Nisa yang bergegas meninggalkan tempat itu


Gadis itu hanya diam dan mengacuhkan Herman. Ia terus berjalan dan menghentikan sebuah taksi meninggalkan tempat itu.


"Ah sial!!"

__ADS_1


Herman kembali masuk kedalam dan menemui Qinara.


"Katakan apa yang kalian bicarakan!!" tanya Herman


Sama seperti Nisa, Qinara juga terus bungkam saat Herman menginterogasinya. Karena kesal Herman kemudian membanting kursi dan berlalu pergi. Lelaki itu segera melesatkan mobilnya mengejar Nisa.


Herman menghentikan mobilnya di depan sebuah perkantoran elit dikawasan Sudirman. Ia segera memberikan kunci mobilnya kepada juru parkir gedung. Lelaki itu segera berlari menyusul Nisa yang sudah memasuki gedung.


*Braakkkk!!


Yuda terkejut saat melihat kedatangan Nisa yang mendobrak pintu ruangannya.


"Wah, benar-benar kejutan. Seorang Grand master datang kemari adalah sebuah kehormatan, silakan duduk," ujar Yuda menyambut kedatangan gadis itu


"Jangan basa-basi, Aku sudah melakukan yang kau mau, jadi cepat bebaskan Zahra," ucap Nisa


"Zahra???, siapa dia??" tanya Yuda


"Jangan pura-pura, jika kau tidak ingin berkahir di penjara," jawab Nisa memperlihatkan sebuah pesan singkat kepàda Yuda


"Sepertinya kau salah alamat sayang, bukan aku yang mengirimkan pesan itu," jawab Yuda


Pemuda itu kemudian mengambil ponselnya dan memberikannya kepada Nisa. Lelaki itu meminta Nisa menuliskan nomor ponselnya kemudian menghubunginya.


"Sekarang lihat baik-baik, itu adalah nomor ponselku, apakah sama dengan nomor pengirim pesan itu??" tanya Yuda


"Kau bisa saja menggantinya bukan, jadi cepat bebaskan Zahra sebelum aku melaporkan mu karena sudah membunuh Rico lima tahun lalu," ancam Nisa


"Hahahaha, jangan asal bicara Nisa. Kau justru akan dilaporkan balik jika kau tidak punya barang bukti," jawab Yuda


Lelaki itu tertawa terbahak-bahak mendengar ancaman Nisa.


"Tentu saja aku saksinya, aku berada di tkp hari itu dan aku juga melihat sendiri bagaimana kalian menghabisi Rico ku," jawab Nisa


"Jika hari itu kau benar-benar ada di TKP harusnya kau bisa mengenali siapa yang membunuh kekasihmu itu, bukankah ada dua orang yang membunuh Rico, so bukan hanya aku pelakunya bukan??" jawab Yuda menyeringai


Tidak lama dua orang polisi datang menyambangi ruangan itu dan menangkap Yuda.


"Kau akan menyesal karena sudah salah menangkap orang Nisa!" seru Yuda


Nisa terkejut saat melihat polisi datang dan menangkap Yuda.


"Apa dia berubah pikiran??"

__ADS_1


Nisa segera keluar dari ruangan itu, namun seseorang langsung membekapnya.


__ADS_2