OM Jangan Gila

OM Jangan Gila
Lampu Hijau


__ADS_3

Seperti biasanya pagi itu Herman pergi bekerja, begitupun dengan Qinara.


"Kita bareng aja Qin, toh kita searah kan," ucap Herman menawarkan tumpangan kepada gadis itu


"Ok deh," jawab Qinara tanpa penolakan


"Gue demen nih cewek kaya lo, to the point gak banyak basa-basi," sahut Herman


"Hehehe," Qinara segera duduk dibelakangnya


Saat Herman hendak menyalakan motornya, tiba-tiba Emak Siti keluar dari rumah dengan dandanan yang super modis, stylish ala sosialita.


"Emak mau kemana pagi-pagi gini?" selidik Herman


"Mau ke pasar Neng," sahut Siti


"Masa ke pasar kaya mau kondangan gitu Mak, yang bener aja!" seru Herman


"Emmm, sebenarnya Mak mau jalan sama bang Bri," sahut Siti


"Sudah kuduga, yaudah Mak gak papa. Tapi Inget Mak gak boleh kawin duluan, tunggu Herman dulu baru Emak!" ucap Herman


"Iya Tong, kalau kawin sih Alhamdulillah udah tinggal nikahnya yang belum," jawab Siti malu-malu kuda


"Astoge Mak!" seru Herman terkejut mendengar ucapan Siti


Siti dan Qinara terkekeh mendengar ucapan Herman.


Tidak lama sebuah mobil Lamborghini Gallardo berhenti di depan pintu gerbang Griya Si Pitung.


"Bunga Rafflesia adanya di kebun Raya, Alhamdulillah sang pujaan hati akhirnya datang juga," ujar Siti segera bergegas meninggalkan Herman


"Beli kue cincin di pasar Minggu, boleh bucin asal jangan lupakan daku," ucap Herman dengan wajah mengsad


"Ikhlaskan saja Om, lagipula kasian juga kan kalau si emak terus-menerus hidup dalam kesendirian. Biarlah ia menikmati kebahagiaan di sisa hidupnya," ucap Qinara memberikan pengertian


"Super sekali, Terimakasih nasihatnya Maria Teguh," jawab Herman disambut tawa Qinara


"Dih garing tahu!" sahut Qin


"Emang sengaja, karena kalau renyah aku takut kamu gak kebagian karena aku jadi rebutan eaaa," jawab Om tertawa


"Dih jadi rebutan siapa Om?"


"Janda-janda kaya dan juga perawan desa," sahut Herman


"Emang om gak laku sama perawan kota?" tanya Qinara lagi


"Bukan gak laku, tapi aku tak mau kecuali jika dia itu kamu,"


"Dih Om modus," sahut Qin memukul punggungnya manja

__ADS_1


"Bolehlah sekali-kali modusin kamu, kali aja masih ada peluang buat masuk ke hari kamu meskipun hanya sebesar biji zarah," jawab Herman


Seketika Qinara langsung diam tanpa menjawabnya. Ada gurat kesedihan di wajahnya. Meskipun ia berusaha menyembunyikannya dengan senyuman manisnya tetap saja sorot matanya tak bisa berdusta.


"Yaudah kalai gak boleh gak papa, sans aja kalau sama gue Qin," sahut Herman kemudian menyalakan motornya


Ia melajukan motornya dengan kecepatan sedang, karena pagi itu jalanan Ibukota tak begitu ramai seperti biasanya.


Kurang lebih tiga puluh menit akhirnya Om berhasil mengantarkan Qinara ke tempat kerjanya di sebuah Mall di kawasan Blok M.


"Kamu tuh keren ya, udah kaya raya masih saja mau kerja," ucap Herman


"Kan duit itu Kaya Pahala, kalau gak cari lama-lama bisa berkurang," sahut Qinara


"Bukan main super sekali Maria Teguh, yaudah selamat bekerja," ucap Herman


"Iya kamu juga," sahut Qin


"Mood booster banget nih kalau udah dapat support dari Qinara, mudah-mudahan pagi ini bisa TP,_"


"Aamiin," sahut Qinara


"Oh jadi sekarang lo lebih memilih dekat dengan Sultan Jagakarsa, setelah di hempaskan oleh Crazy Rich Marunda!" seru Indra menghampiri mereka


"Siapa tuh Crazy Rich Marunda, baru dengar gue. Ada juga Crazy Rich Tanjung Priok, atau Sultan Andara," celetuk Herman


"Yuda Sebastian," sahut Qinara


"Bukan urusan lo ya mau gue deket sama siapa. Lagipula perlu gue garis bawahi omongan lo itu. Jadi gak ada tuh dalam sejarah kalau seorang Jelita Ayu Saraswati dicampakkan oleh seorang pria. Yang ada juga sebaliknya, jadi siap-siap aja lo gue hempaskan ke rawa-rawa!" ujar Qinara berapi-api


"Wah gue demen banget cewek kaya dia, Berani dan tak mudah di tindas ( Badas)!!"


"Coba saja kalau bisa, paling kau akan mendekam di penjara jika berani menghempaskan gue!" sahut Indra balik mengancamnya


"Ok, siapa takut!" sahut Qinara


"Ikan bawal dalam kuali, lo jual gue beli!" imbuhnya


"Cakep Neng!" seru Herman


"Baik, kita lihat saja Jelita, sampai kapan lo bakal bertahan tanpa gue!" Indra kemudian dengan sengaja mengguncang tubuh Herman


"Awas aja lo berani deketin Jelita, gue bikin miskin hidup lo!" bisik Indra mengancamnya


"Gak masalah gue hidup miskin asal bisa memiliki hati Qinara, lagian percuma saja hidup kaya raya jika tak pernah bisa mendapatkan hati wanita yang kita cinta." jawab Herman


Indra segera menarik kerah bajunya saat mendengar ucapan lelaki itu.


"Kenapa, lo gak terima, lo takut Qinara benar-benar jatuh cinta sama gue dan ninggalin lo," imbuhnya mencoba memprovokasi Indra


"Coba saja kalau bisa. Lagipula mendekati wanita seperti Qinara itu tidak mudah jadi jangan mimpi," sahut Indra

__ADS_1


"Kita lihat saja nanti," sahut Herman melepaskan tangan Indra


Indra mencoba melepaskan pukulannya kearah Herman namun dengan cepat Qinara langsung menahannya.


"Jangan berbuat rusuh di tempat kerja gue, cepat pergi sebelum tinju keras gue merontokkan gigi emasmu!" ancam Qinara


Indra segera melipir pergi meninggalkan tempat itu.


"Sorry Om, gara-gara gue lo jadi begini," ucap Qinara merasa bersalah


"Gak papa Qin, sans aja. Lagian gue seneng kok bisa deket sama lo," jawab Herman membuat Qinara seketika merona


"Om genit ya ternyata, suka banget baperin cewek. Untung gue punya rem cakram jadi bisa tahan godaan,"


"Besok ganti aja ya remnya pakai yang biasa aja,"


"Emang kenapa Om??"


"Biar kamu bisa terkena pesona gue lah," sahut Herman


"Dih ngarep wkwkwkwk,"


"Jalan-jalan ke pulau Dewata, jangan lupa ke pantai Kuta. Namanya juga usaha, awas loh nanti kamu jatuh cinta," sahut Herman


"Burung pipit terbang tinggi, Burung kenari lagi sakit gigi, Gak mungkinlah Qinara jatuh hati, kecuali om main dukun kali wkwkwkwk!" jawab Qinara tertawa


"Dih jahara, meskipun gue suka tebar pesona tapi gue gak pernah main gituan buat mendapatkan wanita yang gue suka,"


"Canda Om, elah jangan sedih ngapa," ujar Qinara menghiburnya


Herman sengaja pura-pura sedih, untuk menarik simpati Qinara.


"Jujurly gue tuh orangnya melankolis, dan suka gak kuat kalau di bully, bawaannya pengin mewek aja gitu, hiks!" jawabnya lirih


"Sorry Om, kan gue cuma canda, cup-cup!" seru Qinara


"Kalau lo mau gue gak sedih lagi kasih Kiss dong," jawab Herman


"Tetep ya Om usaha!" sahut Qinara


"Wkwkwkwk!" Herman terkekeh mendengar jawaban gadis itu.


"Yaudah Qin kerja dulu ya, thanks udah anterin gue," ucap Qinara berpamitan


"Burung Nuri makan semangka, sama-sama Neng Qinara,"


"Burung belibis di patok buaya, nanti pulangnya Om jemput lagi boleh ya," imbuhnya


"Makan Soto mie enaknya pakai gorengan, Boleh aja asal gak merepotkan," jawab Qinara


"Yes lampu hijau nih!" seru Herman kegirangan

__ADS_1


__ADS_2