OM Jangan Gila

OM Jangan Gila
Hilang


__ADS_3

"Bagaimana ini, dia sudah kembali. Bagaimana jika dia mengingat semuanya dan melaporkan ke polisi," Yuda terlihat begitu gelisah di ruang kerjanya.


Qinara langsung menutup mulutnya saat mendengar semua ucapan Yuda. Gadis itu benar-benar tak menyangka jika Yuda akan melakukan apapun untuk mendapatkan apa yang ia inginkan.


Saat gadis itu akan meninggalkan tempat itu, tiba-tiba kakinya menyenggol tempat sampah.


Mendengar ada seseorang yang menguping pembicaraannya, membuat Yuda segera keluar untuk melihat siapa orangnya.


"Qinara!!" Yuda begitu terkejut saat melihat Qinara jatuh bersimbah darah setelah seseorang menikamnya.


Gadis itu melambaikan tangannya kearah Yuda berharap lelaki itu menolongnya.


"Tolong aku,"


Namun Yuda hanya diam ternganga melihatnya.


"Sebaiknya cepat pergi sebelum ada yang melihat kita," ucap seseorang kemudian menarik Yuda pergi bersamanya.


Qinara merasa begitu sedih saat mengetahui Yuda meninggalkannya di saat ia sedang sekarat. Gadis itu menutupi luka di perutnya dan berusaha bangkit.


Ia berjalan tertatih menuju ke parkiran. Tak ada seorangpun di sana hingga membuat Qinara harus berjuang sendirian dan melesat pergi mencari bantuan sebelum ia benar-benar jatuh pingsan.


Dalam keadaan setengah sadar ia melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi menuju kediaman Herman. Entah kenapa hanya Herman yang ada dalam benaknya. Ia merasa hanya lelaki itu yang peduli padanya dan pasti menolongnya.


Seperti dugaannya, Herman langsung membawanya ke rumah sakit saat ia melihatnya terluka. Lelaki itu bahkan lebih memilih menemaninya di rumah sakit daripada menghadiri acara lamarannya.


Wajah Qinara semakin berbinar-binar saat menyadari jika Herman masih peduli dengannya.


Tiba-tiba raut wajahnya langsung berubah saat melihat Yuda memasuki bangsal perawatannya.


"Bagaimana keadaan mu sayang?" tanya Yuda mengusap lembut wajahnya


Herman kemudian pamit keluar untuk memberikan kesempatan bagi keduanya untuk bicara.


Namun saat ia hendak melangkah pergi Qinara langsung menarik lengannya untuk menahannya.


"Jangan pergi, jangan biarkan aku bersama pembunuh seperti dia!" seru Qinara menatap nyalang kearah Yuda


"Apa maksudmu Qinara!" hardik lelaki itu dengan suara lantang


"Sebenarnya aku juga males menjenguk cewek manja dan phsico seperti dirimu. Kau hanya pura-pura lugu untuk menipu pasanganmu. Sekarang kita lihat Qin, siapa yang akan berhasil menjadi korban mu berikutnya," sahut Yuda


"Sebenarnya aku tidak tahu apa yang terjadi dengan kalian hingga bermusuhan seperti ini, yang jelas aku cuma mau menegaskan jika aku dan Qin tidak ada hubungan apapun. Apa yang aku lakukan hari ini adalah murni karena gue menganggap Qin sebagai sahabat ku, so sebaiknya lo jaga Qinara sebelum gue berniat merebutnya lagi dari lo ," jawab Herman


"Silakan saja, aku tidak peduli," sahut Yuda


Lelaki itu kemudian meninggalkan ruangan itu dengan kesal.

__ADS_1


Herman kemudian mendekati Qinara dan meminta maaf padanya.


"Maafkan gue Qin, gara-gara aku yuda jadi pergi," ucap Herman


"Tak apa, lagian kami memang sudah tidak cocok," jawab Qinara


"Karena lo udah siuman, gue pamit pulang dulu. Ada urusan yang harus gue selesaikan,"


"Silakan, semoga semuanya lancar," jawab Qin


"Aamiin, btw thanks ya sudah bantuin gue," imbuhnya


"Sama-sama,"


Herman kemudian segera beranjak pergi.


"Awww!!" Qinara memekik keras saat ia terjatuh dari brangkarnya.


Melihat Qinara terjatuh, Herman buru-buru menggendongnya dan membaringkan tubuhnya keatas brangkarnya.


"Kamu kenapa??" tanya Herman khawatir


"Aku cuma mau minum," jawab Qinara


"Kenapa tidak bilang padaku, aku kan bisa mengambilkannya untuk mu,"


Herman segera mengambangkan segelas air dan memberikan padanya.


"Terimakasih Om,"


"Hmm,"


Herman kemudian mengambil ponselnya dan segera menghubungi Raja. Lelaki itu sengaja meminta Raja untuk menemani Qinara selama ia tidak ada di sana.


Tidak lama setelah Raja tiba di tempat itu, Herman segera pamit pergi.


Ia kemudian melesatkan mobilnya menuju kediaman Zahra.


Setibanya di rumah kekasihnya, Herman segera masuk dan menemui kedua orang tua Zahra.


"Maaf Om, Tante, saya baru bisa kesini karena mengantarkan teman ke rumah sakit dulu," ucap Herman


"Iya gak papa nak Herman, lagipula Ibumu sudah memberitahu kami sebelumnya,"


Herman merasa lega saat keluarga Zahra mau memahaminya.


"Alhamdulillah, akhirnya kali ini gue berhasil melamar Zahra. Semoga kedepannya diberikan kelancaran sampai hari pernikahan,"

__ADS_1


"Aamiin," jawab Zahra


"Ikan hiu beli bunga Kamboja, meskipun Om jarang mandi tapi Zahra selalu cinta eaaa,"


"Beli buku ke pasar jaya, beli sepeda ke Margonda, Biar pun neng Zahra bau badannya, tapi abang akan setia sampai maut memisahkan kita eaaa,"


"Ikan hiu jalan-jalan ke kota Cina, uunch jadi makin cinta," ucap Zahra langsung memeluk erat Herman


"Ikan sepat makan mutiara, Oi jangan lama-lama pelukannya awas nanti pengin yang lainnya!" celetuk Siti


"Ikan tengiri makan nangka, kalau iri bilang aja mak, wkwkwkw." goda Herman


"Ish jahara!" cibir Siti kemudian pergi meninggalkan Herman


Herman kemudian berpamitan pulang meskipun sebenarnya ia masih ingin bercengkrama dengan Zahra.


Pagi-pagi sekali, Zahra segera bergegas keluar dari kamarnya. Gadis itu begitu gusar setelah menerima telepon dari rumah sakit.


Ia segera melajukan sepeda motornya tanpa berpamitan dengan orang tuanya.


Karena curiga dengan gelagat Zahra, Nisa kemudian menghubungi Herman untuk memberitahukan kejadian itu kepadanya.


Herman yang khawatir segera menghubungi Zahra berkali-kali, namun gadis itu tak mengangkatnya.


Siang itu Nisa diminta untuk menghadiri meeting para master. Gadis itu sengaja di undang untuk menjadi salah satu kandidat Grand Master.


Yuda menatap sinis kedatangan gadis itu


Seperti biasanya pemuda itu terang-terangan menyatakan kebenciannya kepada Nisa.


Nisa tak bergeming sedikitpun menanggapi cibiran Yuda. Gadis itu terus fokus dalam mengikuti meeting hingga akhir.


Para kandidat Grand Master kemudian segera maju ke depan untuk memperkenalkan visi misinya.


Nisa segera keluar dari ruangan saat seseorang menghubunginya.


Gadis itu begitu tercengang saat mendengar ucapan si penelpon. Ia begitu terkejut saat melihat foto Zahra yang di sekap di sebuah gudang dengan tangan dan kaki terikat.


"Kalau lo tidak mau kejadian lima tahun silam terulang, maka jangan pernah bermimpi untuk menjadi seorang Grand Master. Sebaiknya kau mundur jika ingin sepupumu selamat,"


"Tentu saja aku akan melakukan semua yang kau katakan asal kau bebaskan sepupuku,"


"Tentu saja, so cepat lepaskan Zahra dan jangan pernah menyentuhnya atau aku akan membuat perhitungan denganmu."


Nisa segera menutup ponselnya begitu panggilan itu sudah berakhir


Bagaimanapun juga Nisa merasa begitu khawatir dengan Zahra, hingga Gadis itu merasa lemas setelah mendengar melihat kondisi terakhir sepupunya itu.

__ADS_1


Ia berusaha menguatkan dirinya sendiri dan kemudian menghubungi Herman untuk memberitahukan tentang keadaan Zahra.


__ADS_2