
Pagi itu, Siti buru-buru membangunkan Herman yang masih meringkuk di ranjangnya.
"Bangun dong Neng, yok kita jalan-jalan!"
"Jalan-jalan kemana?" tanya Herman membuka matanya
"Ke rumah calon besan dong," jawab Siti
"Mau ngapain mak?"
"Maunya ngapain dong??"
"Dih emak malah tanya," jawab Herman kesal
"Buah mangga dari Indramayu, buah durian dari Thailand, kalau lo penasaran kita mau apa, cepetan bangun biar ketemu calon istri idaman,"
"Kita mau ngelamar Mak?" tanya Herman membelalak
Mak Siti hanya tersenyum dan kemudian bergegas pergi.
"Ikan hiu makan nasi kebuli, kalau udah tahu cepetan mandi!" seru Siti
Herman segera beranjak dari ranjangnya dan berlari menuju ke kamar mandi. Siti hanya tertawa melihat tingkah kocak anak semata wayangnya.
Wanita itu segera kembali ke dapur untuk menyiapkan sarapan pagi.
Selesai mandi Herman beraiul-siul menuju ruang makan.
"Pagi-pagi enaknya sarapan nasi kebuli, alangkah senangnya hati ini saat akan melamar sang pujaan hati," ucap Herman
"Perahu sekoci pergi berlayar ke samudera, cie yang lagi bahagia sampai lupa risleting celana masih kebuka," sahut Siti tertawa
"Astoge mak, kenapa gak bilang dari tadi. Untung si Udin masih baik-baik saja. Coba kalau kelamaan pintu kebuka bisa masuk angin dia," sahut Herman buru-buru menarik risleting celananya.
"Emang kalau masuk angin ciri-cirinya gimana?" tanya Siti
"Perasaan suka gak enak Mak, soalnya si udin resah dan gelisah sampai pengin muntah,"
"Kok bisa gitu?" tanya Siti
"Bisalah Mak, apalagi kalau dia terkena angin surga wah lebih berbahaya," sahut Herman tertawa
"Emang angin surga yang gimana, kok emak belum pernah dengar sebelumnya??"
"Mungkin dulu emak sering merasakannya saat bapak masih ada. Tapi karena kelamaan menjanda emak jadi lupa gimana rasanya," jawab Herman membuat suasana tiba-tiba hening karena Siti seketika langsung diam memikirkan apa yang dimaksud Herman.
"Belum paham juga mak??" tanya Herman
"Masih loading man,"
"Jangan kelamaan mikirnya mak," jawab Herman
__ADS_1
"Kasih kluenya dong Man biar cepet loadingnya maklum mak dah tua jadi suka lama loadingnya," rengek Siti
"Yaudah gak papa santai aja jangan buru-buru Mak, biar bisa menikmati. Soalnya kalau buru-buru itu gak enak mak gak bisa menikmati apalagi meresapi," sahut Herman
"Dih gaje," cibir Siti membuat Herman tertawa
Selesai sarapan sebuah mobil sedan sudah menunggu mereka dihalaman rumah.
Herman terkejut melihat siapa yang datang.
Bukan hanya Herman yang terkejut namun Siti juga di buat kalang kabut saat melihat sosok yang keluar dari mobil tersebut.
Herman langsung menghampiri Qinara yang bersimbah darah dengan luka tusukan di perutnya.
Ia segera menggendong tubuh gadis itu dan membawanya masuk kembali kedalam mobil. Ia segera melesatkan mobilnya menuju rumah sakit terdekat.
"Sabar ya neng Jelita," ucap Siti mencoba menenangkan gadis itu
"Maafkan Jelita Mak," ucap gadis itu terbata-bata
Dua puluh menit kemudian Herman menghentikan mobilnya didepan halaman rumah sakit. Beberapa orang perawat segera berlarian membawa Qinara ke Unit Gawat Darurat.
Herman meminta Emak Siti untuk menghubungi keluarga Zahra, agar memberikan kabar kepada mereka.
Siti setuju, ia kemudian tetap datang ke rumah Zahra untuk melamarnya meskipun tanpa Herman bersamanya.
Dua jam kemudian seorang dokter menemui Herman di ruang tunggu.
"Alhamdulillah operasinya lancar, beruntung anda cepat membawanya kemari hingga dia tidak kehilangan banyak darah. Sekarang pasien masih belum sadarkan diri karena pengaruh obat, tapi jangan khawatir dia baik-baik saja," jawab Dokter membuat Herman lega
"Alhamdulillah, syukurlah," jawab lelaki itu merasa lega
Ia kemudian segera masuk ke bangsal perawatan Qinara untuk melihat keadaannya
Matanya berkaca-kaca saat melihat gadis yang sangat dicintainya itu terbaring tak sadarkan diri.
Siapa yang melakukan ini padamu,
Herman bertanya-tanya siapa yang melakukan hal itu kepada Qinara. Namun ia harus bersabar menunggu jawabannya sampai gadis itu siuman.
Satu jam menunggu akhirnya Qinara sadar juga, gadis itu perlahan membuka matanya dan mencoba meraih jemari Herman.
Lelaki itu segera menggenggam tangannya.
"Maafkan aku," ucap Qin lirih
"Kenapa minta maaf??" tanya Herman penasaran
"Karena aku sudah meninggalkan Om," ucapnya berkaca-kaca
"Sans aja, aku tahu kamu melakukan semua itu pasti ada alasannya bukan. Never mind,"
__ADS_1
"Om beneran gak marah sama Qin, gak dendam?" tanya gadis itu lagi
"Kalau gue marah itu pasti, gue kecewa apalagi, tapi meskipun demikian aku tidak bisa dendam apalagi membencimu. Bagiku putus cinta itu soal biasa, asal jangan diputusin pas akad nikah aja,"
"Terimakasih Om," ucap Qin tersenyum padanya
"Jangan sering-sering tersenyum padaku," ucap Herman sedikit dengan mimik wajah kesal
"Emang kenapa?"
"Karena senyuman mu membuat ku semakin susah melupakan mu,"
"Dih gombal," jawab Qinara tertawa
Karena tertawa terbahak-bahak membuat Qinara kesakitan dan memegangi bekas jahitannya.
"Aww,"
"Kamu kenapa?" tanya Herman
"Sepertinya karena jahitannya belum kering aku masih sakit kalau tertawa, sedih apalagi menderita," jawab Qinara menahan tawanya
"Unncchh kasian banget, makanya kamu jangan banyak ketawa dulu ya, sedih juga gak boleh," sahut Herman
"Terus bolehnya ngapain Om?" tanya Qinara
"Bolehlah sekali-kali mikirin Om, atau telpon juga boleh," jawab Herman
Lagi-lagi Qinara tertawa mendengar kelakar Herman meskipun harus menahan sakit di perutnya. Gadis itu merasa benar-benar bahagia jika Herman ada didekatnya.
"Kalau boleh tahu kenapa kamu bisa tertusuk, siapa yang melakukannya??" tanya Herman
Sesaat Qinara hanya diam membisu tanpa menjawab pertanyaan dari Herman.
"Maaf aku tidak bisa memberitahumu sekarang, aku masih butuh waktu untuk menyendiri agar bisa memberitahukan kepada semua orang siapa pelakunya.
"Baiklah, terserah kamu saja Qin, asal kau bahagia aku juga bahagia," sahut Herman
Tidak lama Yuda datang mengunjungi Qinara. Gadis itu seketika memalingkan wajahnya ketika Yuda menatapnya.
Herman kemudian pamit keluar untuk memberikan kesempatan bagi keduanya untuk bicara
Namun saat ia hendak melangkah pergi Qinara langsung menarik lengannya untuk menahannya.
"Jangan pergi, jangan biarkan aku bersama pembunuh seperti dia!" seru Qinara menatap nyalang kearah Yuda
"Apa maksudmu Qinara!" hardik lelaki itu dengan suara lantang
"Sebenarnya aku juga males menjenguk cewek manja dan phsico seperti dirimu. Kah hanya pura-pura lugu untuk menipu pasanganmu. Sekarang kita lihat Qin, siapa yang akan berhasil menjadi korban mu berikutnya," sahut Yuda
"Sebenarnya aku tidak tahu apa yang terjadi dengan kalian hingga bermusuhan seperti ini, yang jelas aku cuma mau menegaskan jika aku dan Qin tidak ada hubungan apapun. Apa yang aku lakukan hari ini adalah murni karena gue menganggap Win sebagai sahabat ku, so sebaiknya lo jaga Qinara sebelum gue berniat merebutnya lagi dari lo ," jawab Herman
__ADS_1