
Jelita Ayu Saraswati atau lebih dikenal dengan nama beken Qinara The Digger Gold Queen.
Adalah seorang perempuan Jawa yang merantau ke Jakarta untuk merubah nasib. Pekerjaan utamanya adalah seorang tim marketing di sebuah perusahan makanan ringan.
"Wah, ternyata lo lagi kepoin si Qinara ya?" kata Raja menepuk bahu Om yang sedang membaca biodata Qinara di media sosial.
"Penasaran gue," jawab Herman
"Lo penasaran sama dia apa sama lakinya?" sahut Deddy balik bertanya
"Iya itu dia Ded," sahut Herman
"Lo emang gak kenal dia Bro?" tanya Raja menghampirinya
"Kagaklah, liat aja baru kemarin. Cuma gue sebel aja kalau lihat cowok brengsek kaya dia. Modal tampang doang berlagak sok-sokan." sahut Herman
"Lo sebenarnya kenal kok sama dia, cuma lo baru liat aja tuh tampang berandalnya kek mana," sahut Raja
"Emang siapa sih dia?" tanya Herman penasaran
"Indra Genta Buana," jawab Raja
"Hahahaha!" Herman tertawa terbahak-bahak mendengar nama Indra Genta Buana
Melihat Herman tertawa terpingkal-pingkal, Raja segera menempelkan tangannya ke kening pria itu.
"Normal kok gak panas," ucap Raja
"Sue lo!" sahut Herman menyingkirkan tangan Raja
"Gue gak nyangka aja Bro, kalau Si Indra itu cowoknya Qin," terang Herman
"Iye, best couple banget tuh sama-sama Master , sama-sama sultan." sahut Deddy
"Btw gue salut banget sama Qin, dia berani banget menghajar cowoknya. Makin cinta gue sama dia, bener-bener cewek idaman. Makin semangat juga buat menaklukkan hatinya Qin," ucap Raja bersemangat
"Jangan gila lo Ja!" seru Deddy
"Tapi kayaknya mereka bukan best couple deh, soalnya kelihatan banget mereka itu gak sejalan," ucap Herman
"Maka dari itu Man, gue semangat buat nikung si Qinara dari Indra," sahut Raja
"Hati-hati lo Ja, baru kenalan aja lo udah dibikin babak belur apalagi kalau nikung si Qinara bisa-bisa lo di kirim ke Neraka sama si Indra, wkwkwkk!" seru Deddy
"That's right baby," imbuh Herman
"Ikan hiu main ke Tegalega, biarlah sang Raja terluka demi Qinara aku rela eaaa," jawab Raja begitu bangga
"Ikan hiu pakai sepatu, terserah lo aja Ja, tapi kalau ada apa-apa gue gak mau tahu," sahut Herman
"Yoi," sambung Deddy
"Dih jangan gitu dong Man, sebagai soulmate gue lo harus bantuin gue. Ingat janji kita di BKT," ucap Raja mengusap lembut wajah Herman
"Dih najis!" seru Herman segera menepis lengan Raja
"Bener tuh kata si kumis, lo mending jauhin si Qinara. Toh masih banyak janda-janda di luar sana yang menantikan cintamu Ja," sahut Deddy
"Ikan hiu makan sate kuda, sementara gue lagi gak suka janda," jawab Raja
"Dasar plin-plan!" sahut Deddy
__ADS_1
*************
Kediaman Qinara di Pondok Indah.
*Plaaakkk!!
Sebuah tamparan keras mendarat di wajah gadis itu hingga pipinya memerah.
Jelita hanya diam sembari mengeratkan giginya saat sang ayah menampar wajahnya dengan keras.
"Dasar anak tak tahu diri, sudah untung Mas Indra mau jadi calon suamimu dan tidak melaporkan bapak ke Polisi, tapi apa yang kamu lakukan padanya hah!" bentak lelaki itu membuat Jelita hanya menunduk dan mengepalkan tangannya.
Seandainya saja ia bukan ayah kandungnya, mungkin gadis itu sudah merontokkan Gigi lelaki paruh baya itu dengan sekali pukul. Namun ia sebisa mungkin menahan amarahnya demi baktinya kepada sang ayah.
Sang ayah terus saja mengoceh dan menceramahinya, namun tak ada satupun dari ucapannya yang di dengar gadis itu. Baginya semua ocehan ayahnya adalah angin lalu yang tak ada artinya sama sekali.
"Sekarang cepat minta maaf sama Mas Indra!" hardik lelaki itu
Melihat Qin tak bergeming, membuat lelaki itu langsung menepuk pundak anak gadisnya itu.
"Kamu denger gak ayu!" serunya tepat di telinga gadis itu
"Iya aku denger kok," jawab Qinara segera bergegas menghampiri Indra yang duduk di hadapannya sembari ongkang-ongkang kaki dihadapannya.
Gadis itu segera mencium punggung tangan lelaki itu, dan meminta maaf.
"Sorry," ucapnya datar
"Bisa lebih ikhlas lagi gak minta maafnya?" jawab Indra menyunggingkan senyumnya
"Sorry sayang," ucap Qinara lagi
"Bisa lebih lembut lagi gak," ucap Indra lagi
Qinara hanya bisa mendengus kesal di dalam hati sembari menatap wajah Indra yang super menyebalkan.
"Sayang aku minta maaf ya, aku janji gak bakal ngulangi lagi swear," ucap Qinara menyingkirkan senyum terpaksa untuk menutupi kemarahannya.
"Ok sayang, kali ini gue maafin tapi dengan satu syarat," jawab Indra membuat Qinara hanya menghela nafas
"Apa syaratnya sayang," sahut gadis itu manja
"Kamu harus mau dinner bareng gue malan ini," ucap Indra
"Oh cuma dinner doang mah gak masalah, jam berapa?" jawab Qinara balik bertanya
"Jam delapan malam sayang," jawab Indra kemudian memberikan paper bag padanya
"Jangan lupa kamu harus memakai semua outfit yang ada di dalam paper bag itu,"
"Oklah," jawab Qinara singkat,
Ia kemudian mengambil paper bag itu dan meninggalkan Indra bersama ayahnya.
***********
Malam itu Herman harus mengantarkan Cang Mamat untuk menemui Clientnya di sebuah Hotel Bintang lima di kawasan Jakarta Pusat.
"Lo ikut masuk aja ya Man, sekalian belajar gimana caranya menghandle pelanggan," ucap Mamat
"Tapi Herman jadi pendengar setia aja ya Cang,"
__ADS_1
"Iyeh," sahut Mamat segera masuk kedalam Hotel.
Sementara itu, Qinara berjalan tertatih menuju ke lobby hotel untuk dinner bersama Indra.
Wanita tomboy itu terus menggerutu sepanjang jalan karena harus menggenakan dress mini dengan sepatu High heels yang paling di bencinya.
"Sial, sampai kapan gue harus diperbudak seperti ini, awas aja kalau uangku sudah terkumpul semua aku pasti bisa mendepak mu dari kehidupan ku," gerutunya kemudian melepaskan sepatunya dan berlari memasuki lift yang hampir tertutup.
"Permisi," ucapnya kemudian berdiri di belakang pintu lift sembari memegangi sepatunya.
Begitu pintu lift terbuka, ia segera keluar dan memakai kembali sepatunya.
Ia kemudian segera mencari keberadaan Indra calon tunangannya.
Dari kejauhan Indra melambaikan tangannya, dab Qinara segera menyambanginya.
Lelaki itu tersenyum dan memandanginya dari ujung rambut sampai ujung kaki.
"Lo emang bener-bener cantik seperti namamu Jelita." ucapnya berdecak kagum
"Hilih, gak ngaruh gue ama pujian lo!" sahut gadis itu segera menarik kursinya
"Wait... jangan duduk dulu sebelum aku suruh," ucap Indra menahannya
"Bodo amat, inget ye kalau gak ada bokap gue lo gak bisa ngatur-ngatur gue!" jawab gadis itu kemudian duduk dan meneguk minumannya
Indra tersenyum sinis saat melihat menghabiskan minumannya.
Kita lihat saja Qin, sampai sejauh mana lo bersikap kasar sama gue.
"Mau makan jam berapa, dah laper ini!" seru gadis itu lagi
"Wait...." Indra segera memanggil pelayan dan tak lama beberapa orang pelayan segera membawakan berbagai menu makanan di mejanya.
Tanpa basa-basi Qinara segera menyantap makanan itu tanpa memperdulikan Indra dihadapannya.
"Dasar rakus, kamu tetap saja tak berubah meskipun sudah menjadi seorang konglomerat," ucapnya lirih
"Masalah nafsu makan tak akan berbuah meskipun aku sudah menjadi presiden sekalipun, jadi jangan berpikir aku akan berubah menjadi seorang princess yang akan menjaga pola makan demi body goal ataupun sekedar gengsi," sahut gadis itu membuat Indra semakin terpesona oleh keteguhan prinsipnya.
"Btw kalau udah selesai makan gue boleh pulang kan?" tanyanya to the point
"Tidak bisa sayang, malam ini kamu milikku, dan kamu belum boleh pulang tanpa seijin ku," jawab Indra menarik lengan gadis itu saat akan beranjak dari duduknya.
"Sorry, perjanjian kita hanya dinner, jadi jangan ngarep lebih dari gue," sahut Qinara segera menepis lengan Indra
"Terserah apa katamu sayang, yang jelas aku tidak bisa membiarkanmu menindas ku lagu kali ini," sahut Indra tersenyum sinis
"Bodo amat!" hardik Qinara kemudian melangkah pergi
Baru saja beberapa langkah ia pergi tiba-tiba gadis itu merasakan kepalanya berat dan pandangannya mulai kabur.
Ia mengucek-ucek matanya agar bisa melihat dengan jelas lagi.
"Percuma saja sayang, kamu gak akan bisa pergi kemana-mana malam ini, tanpa aku,_" ujar Indra kemudian segera menggandengnya.
Qinara mencoba melepaskan diri dari genggaman tangan Indra, namun tubuhnya terasa begitu lemah untuk melawan pemuda itu.
Melihat Qinara sudah mulai lemas, Indra segera merangkul gadis itu agar tidak terjatuh.
Qinara yang masih setengah sadar sengaja menjambak rambut seorang pengunjung kafe berharap ia bisa menolongnya.
__ADS_1
"Aaarrrggghhhh!!" seru Herman saat gadis itu menarik rambutnya
"Help me,_" Qinara berusaha menggerakkan bibirnya untuk mengucapkan kata itu agar Herman mengerti ucapannya.