
"Bagaimana jika Herman percaya dengan semua berita ini, apa dia juga akan menuduhku sebagai seorang parasit. Yang hanya menempel untuk mendapatkan sesuatu darinya. Kalau sudah begini bagaimana aku bisa kembali ke rumah itu. Aku sudah tidak punya nyali untuk menemuinya," Qinara begitu gusar dan membenamkan wajahnya di kedua lututnya.
Dari kejauhan Herman yang sudah membuntutinya sejak ia keluar dari Mall, perlahan mendekatinya. Ia tahu betul apa yang dirasakan oleh Qinara.
Puluhan komentar pedas membanjiri akun media sosialnya saat sebuah unggahan menyebutkan bahwa gadis itu sengaja mendekati dirinya hanya untuk dimanfaatkan kekayaannya untuk melunasi hutang-hutang Qinara kepada Indra.
Lelaki itu segera duduk disampingnya dan mengusap lembut kepalanya.
"Kenapa kau tidak kembali saja, toh aku tidak akan pernah percaya begitu saja terhadap semua berita hoax tentang dirimu. Apapun kata mereka aku yakin kau bukan wanita seperti itu. Dan misalkan itu benarpun aku tidak akan pernah menyalahkan dirimu, dan perasaan ku tidak akan pernah berubah padamu," ujar Herman mencoba menghiburnya
Qinara segera mengangkat kepalanya dan menatap lelaki itu.
Herman kemudian berdiri dan membuka kedua tangannya.
"Om," ucap Qinara berkaca-kaca
Dan seketika gadis itu menghambur kedalam pelukannya.
"Thanks Om, udah mau ngertiin gue,"
****************
Sore itu seperti biasanya Siti terlihat sedang membersihkan halaman rumahnya sembari menyirami bunga-bunga yang sedang bermekaran.
"Ikan Nila main sepatu roda, selamat sore Neng Siti calon istri soleha," ujar Sobri tersenyum menatapnya
"Ikan buntal makan duren Thailand, mau apalagi abang datang setelah membuat hatiku berantakan," sahut Siti dengan wajah masam
"Burung pipit burung kutilang, percayalah abang menyesal dan sekarang ingin kembali padamu sayang," ucap Bridav
"Ngapain kembali kalau abang sudah main hati, percuma neng gak mau sakit hati lagi." jawab Siti
"Percaya abang Neng, memang dulu abang punya banyak gebetan tapi sekarang aku hanya punya kamu seorang. Semuanya sudah Abang putuskan demi kamu Neng,"
"Hanya Neng yang ada di hati abang dan selamanya tak tergantikan, karena abang ingin kita lanjut ke pelaminan," imbuhnya
"Yang bener Bang?" tanya Siti
"Trust me, Abang rela jomblo seumur hidup jika abang bohong sama Neng," jawab Bridav
Tak bisa dibohongi Siti begitu bahagia mendengar ucapan Bridav, meskipun hatinya masih sedikit terluka. Bagaimanapun juga ia masih menyimpan asa bisa kembali lagi dengannya.
"Ini beneran apa cuma buat nyenengin hati Neng aja?" tanya Siti tersipu-sipu
__ADS_1
"Beli jaket ke Mergonda, Jangan lupa mampir ke Citayam. Neng Siti jangan mudah tergoda, ingat jangan mau di jadikan yang ke enam," sahut Dhiv menghampiri wanita itu
"Beli panci ke Bolivia, beli wajan ke Amsterdam. Eh apa lu kata, kalau gak tahu masalahnya lebih baik diam," sahut Bridav
"Gue gak bisa diem saja kalau lihat Neng Siti di phpin sama buaya rawa kaya lo," ujarnya lagi
"Dih siapa yang php, asal lo tahu ya gue paling anti phpin cewek," sangkal Bridav
"Gimana gak php kalau udah punya lima cewek masih celamitan!" sahut Dhiv dengan rahang yang mulai mengeras
"Kok lo yang nyolot sih, emang siapa lo?" tanya Sobri
"Gue bisa dibilang cowok yang selalu ada saat Siti sedang butuh teman cerita," jawab Dhiv
"Lah baru temen curhat aja lo sampai segininya, jangan bilang lo ada hati sama dia,"
"Kalau iya emang kenapa?" sahut Dhiv balik bertanya
"Ok fix, biar adil kita tanya Neng aja. Biar dia tentukan sendiri siapa yang ia pilih. Sebagai pria penuh kharisma aku pasti menerima siapapun yang Neng pilih," tutur Bridav
"Me too," sahut Dhiv
"Tie tie yang terlibat cinta Three Angle,"
"Ok, biar lebih seru biar aku nyanyikan sebuah lagu dengan judul bahtera cinta," ujar Noah
"Boleh request lagu gak bang?" tanya Siti
"Silakan Mak Cit?"
"Request lagunya babang tampan yang Cinta sampai mati dong,"
"Ngeri amat lagunya Mak, emang kalau boleh tahu cinta mati ama siapa sih?" selidik Noah
"Ada deh,"
"Ikan hiu makan kedondong, kasih tahu dong?"
"Ikan hiu makan Spaghetti, sebenarnya sih cinta mati Bang Bri, tapi dianya main hati,"
"Cie, cie mak Siti sama bang Bri," goda Noah
"Beli ayam ke kampung rambutan, Beli bebek ke Bukit Duri, Terimakasih ayank, Insya Allah abang gak akan celamitan. Hanya Neng Siti seorang yang ada di hati abang Bri," jawab Bridav begitu bahagia mendengar jawaban Siti
__ADS_1
"Wah selamat Bro, akhirnya lo yang kepilih sama Neng Siti," ucap Dhiv menyalami Bridav
"Nah gue demen nih kalau kaya gini, baiklah sebagai hadiah dari gue. Akan gue nyanyian sebuah lagu dengan judul Perdamaian,"
"Dih gak nyambung banget lagunya Bang," cibir Siti
"Jaka sembung bawa golok, gak nyambung gobl*k!" seru Bri dan Dhiv bersamaan
"Ikan hiu makan mie samyang, yaudah gue pulang," ucap Noah kemudian bergegas pergi.
**************
Sementara itu Herman mengajak Qinara ke sebuah pantai dikawasan Jakarta Utara. Ia sengaja mengajak gadis itu ke sana untuk melupakan kesedihannya.
"Gimana perasaan lo sekarang?" tanya Herman
"Melihat hamparan laut biru membuat pikiranku sedikit tenang," sahut Qinara
"Syukurlah kalau gitu, semoga kamu bisa lebih baik lagi jadi bisa fokus lagi saat menganalisis pasar forex nanti malam," sahut Herman
"Dih ternyata Om ada maunya ya bantuin Qin," ucap gadis itu mencubit pinggangnya
"Aww, tentu saja semua yang kita lakukan ada tujuannya dong Neng. Tidak ada asap tanpa ada api. Tentu saja tujuan utama gue lakuin semua ini karena gue sayang sama lo, gue gak bisa lihat orang yang aku sayang terus larut dalam kesedihan, so kalau lo juga emang sayang sama gue give me kiss please," jawab Om memonyongkan bibirnya
"Dasar Om nackal," kembali Qinara mencubit pinggang lelaki itu
"Kamu sukanya nyubit ya, mau gue cubit balik gak?" goda Herman
"Jangan donk Om," sahut Qinara mulai menghindar saat Herman berusaha mencubitnya
Qinara berusaha melarikan diri menghindari Herman yang terus mencoba mencubitnya, Herman pun tak mau kalah, ia berlari mengejar Qinara yang kini mulai meledeknya.
"Awas nih, ketangkep Om Kiss beneran!" seru Herman mempercepat larinya
Tiba-tiba Qinara terjatuh saat menginjak sebuah kulit pisang.
Dengan cepat Herman segera menangkap tubuh gadis itu persis seperti adegan dalam drama Korea.
Qinara menatap lelaki itu dari dekat, sedangkan Herman berusaha mengatur debaran jantungnya yang mulai tak beraturan saat menatap wajah manis Qinara dalam pelukannya.
Qinara seketika memejamkan matanya, membuat Herman segera mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir tipis gadis itu.
Senja sore di pantai Ancol menjadi saksi dua hati yang sejoli yang mulai saling membuka hati.
__ADS_1