
Bila cinta tak bisa di rengkuh maka lepaskan dia, karena cinta tak bisa dipaksa. Jadikan ia sebagai kenangan bukan untuk dilupakan tapi sebagai pelajaran.
Deddy dan Raja terlihat keren malam itu keduanya terlihat begitu stylish dan modis.
Malam itu ketiganya sengaja menghadiri acara kopi darat para Trader di sebuah Kafe di Kawasan Kemang Jakarta Selatan.
Deddy dan Raja yang sudah tiba lebih dulu di kafe tak segera masuk kedalam. Keduanya memang sengaja menunggu Herman yang tak kunjung datang agar bisa masuk bersamaan.
Tak lama kemudian sebuah Motor sport berhenti di hadapan mereka. Deddy begitu terpukau saat sang pengendara motor melepaskan helmnya.
"Weh, tumben nih Sultan Jagakarsa gak bawa Porsche, emang di sewain kemana tuh mobil," celetuk Deddy menghampiri Herman diparkiran.
"Sekali-kali gue mau membumi Ded," jawab Herman sok bijak
"Ck, ck, ck, bukan main emang lagak lo Man," ucap Deddy menggelengkan kepalanya
"Kenapa lo, lagi patah hati bro?" sambung Raja
"Gak juga sih, mana ada Om patah hati. Mati satu tumbuh seribu, satu pergi nanti juga datang lagi, iya gak Ded?" sahut Herman
"Yoi,"
"Kuylah kita masuk ke dalam, gak sabar gue pen ketemu Qinara The Gold digger queen," ucap Raja segera merapikan penampilannya
"Emang mau apa lo kalau ketemu sama Qin?" tanya Herman
"Mau gue pacarin lah, kan keren bisa punya doi tajir melintir kaya dia." jawabnya bangga
"Emang mau Qin sama lo?" tanya Om
"So pasti, mana ada cewek yang menolak pesona Sang Baginda Raja," sahut Raja menyombongkan diri
"Ikan hiu makan Kacang Garuda, pesona mu hanya untuk para janda, perawan mana ada yang tergoda eaaaa," jawab Herman tertawa
"Sue lo!"
"Sudah-sudah, mending kita kita segera masuk kedalam, gak enak kalau tim hore datang belakangan," Deddy segera menggandeng kedua sahabatnya
"Kuy!" sahut Raja
"Ded...." Herman tiba-tiba menghentikan langkahnya
"Hmmm," Deddy segera menoleh kearah Herman
"Sebaiknya lo pakai topi aja deh, jangan sampai orang-orang silau lihat kepala plontos lo," ucap Herman segera memberikan topinya kepada Deddy
"Bener tuh kata Herman, jangan sampai lo jadi pusat perhatian gara-gara lampu taman mu itu bro, wkwkwkwk!" seru Raja terpingkal-pingkal mendengar ucapan Herman
"Dasar teman gak ada akhlak, bully terus sampai puas!" cibir Deddy segera memakai topi dari Herman untuk menutupi kepala plontosnya
"Ikan hiu makan lemper, Ded jangan baper," hibur Herman
"Ikan hiu makan es kelapa, dih gak juga,"
"Aseekk,"
Setibanya di dalam mereka segera berbaur dengan para trader lain yang sudah berdatangan.
Raja terlihat sibuk mencari Qinara, sedangkan Herman lebih asyik menyendiri sembari bermain game andalannya.
"Gak di rumah, gak dimana-mana main game terus, Herman gue!" seru Deddy kemudian duduk di sampingnya
"Abis mau apalagi Ded, daripada bengong kan mending nyerang. Lagian acara juga belum mulai kan karena suhu belum datang," jawab Herman acuh
"Iya sih, yaudah kita mabar dulu aja nyok,"
"Kuy!"
__ADS_1
Saat keduanya lagi asyik bermain tiba-tiba Raja menghampiri mereka.
"Acara mau di mulai gengs," ucap pemuda itu menepuk pundak sahabatnya
Herman dan Deddy kemudian segera berhenti, untuk menantikan pidato dari sang empunya acara.
Tidak lama seorang gadis belia naik keatas panggung dan memperkenalkan dirinya.
Semua orang yang hadir di sana tampak tercengang saat tahu identitas wanita itu, tidak terkecuali Herman yang sudah dua kali bertemu dengannya.
"Ikan hiu makan papeda, cantiknya Qin tiada duanya," ucap Raja berdecak kagum
"Astoge, ternyata dia!" pekik Herman segera menutup mulutnya
"Kenapa dia Man?" tanya Raja
"Dia,_" ucapnya lagi
Herman masih terlihat shock mengingat dua pertemuan tak mengenakkan dengan wanita itu.
"Katakan ada hubungan apa antara kamu dengan Qinara?" desak Raja
"Jangan bilang kamu jatuh cinta padanya dan ingin menikungnya dari gue" imbuhnya
"No, bukan itu masalahnya Ja," jawab Herman
"Terus??" tanya Raja semakin penasaran
"Gue deg-degan ini,"
"Deg-degan kenapa si Om, jangan bilang kamu naksir sama dia, awas aja lo!" sahut Raja
"Bukan itu dodol, gue udah dua kali ketemu sama dia dan keduanya gak pernah ada yang bener. Pertama gue ngatain dia pembokat di rumahnya, kedua gue peluk dia karena ku kira Neng Bulan," jawab Herman
"Dih menang banyak lo. Kenapa lo diem aja kalau udah kenal sama Qinara. Harusnya lo kasih tahu gue dimana rumahnya biar gue samperin tuh cewek," sahut Raja
"Btw lo ketemu dia dimana?" tanya Deddy
"Pertama di rumahnya di Pondok Indah, kedua di Bandara saat mau ketemu Bulan," tutur Herman
"Sudahlah lo gak usah minder kali, sans aja namanya juga gak tak kenal maka tak sayang," ucap Deddy membesarkan hatinya
"Thanks Ded, emang cuma Lo yang ngertiin gue,"
"Emang gue kagak?" ujar Raja sedikit kecewa
"Iya lo juga Baginda Raja," sahut Herman kemudian memeluk dua sahabatnya
Acara pidato dan sambutan pu selesai, semua orang segera menuju ke buffet makanan yang sudah disediakan.
Herman terus menutupi wajahnya saat berpapasan dengan Qinara. Lelaki itu begitu tak punya nyali untuk menyapa idolanya.
Namun siapa sangka takdir mempertemukan mereka meskipun Herman sudah berusaha menghindarinya.
Kedua tangan mereka saling bersentuhan saat hendak mengambil centong nasi.
"Ehekkk, Ikan Hiu minum jamu, emang kalau jodoh pasti bertemu!" celetuk Deddy membuat semua mata seketika menatap kearah Herman dan Qinara.
Keduanya segera mengangkat tangannya, untuk menghindari prasangka para trader terhadap mereka.
"Sorry," ucapnya bersamaan
"Cie, cie, yang barengan?" goda Deddy lagi
"Ikan hiu makan Mi Samyang, ada apa sih Sayang?" tanya Raja sengaja mendekati Qinara
"Sorry gue gak sengaja," ucap Om kemudian berlalu pergi
__ADS_1
Ia segera menuju toilet dan membasuh wajahnya untuk menghilangkan ketegangan dalam dirinya.
Saat ia sedang mengeringkan wajahnya dengan tissue, tiba-tiba seseorang lelaki mendekatinya.
"Jangan coba-coba ganggu cewek gue kalau lo masih pengin hidup," ucap seorang lelaki menghampiri Herman
Herman tersenyum kecut menatap seorang lelaki di sampingnya, "Sorry Bro, gak ada sedikitpun maksud gue untuk mendekati cewek lo, so jangan khawatir gue bukan tipe orang yang suka nikung cewek orang kok," jawabnya enteng.
Herman kemudian meninggalkan lelaki itu dan kembali menghampiri Deddy.
"Kita pulang aja yuk Ded, gak mood nih gue," ajak Herman
"Kuylah, gue juga dah bosen, acaranya gak asik," jawab Deddy segera menyusulnya
"Raja mana Ded?" tanya Herman
"Dia masih deketin Qinara tuh," jawab Deddy
"Gawat," Herman segera berlari masuk kembali kedalam kafe.
Lelaki itu mengedarkan pandangannya ke setiap penjuru Kafe untuk mencari sahabatnya. Namun sayangnya sejauh mata memandang Raja tak juga ia temukan.
"Kemana dia??" Herman segera mengambil ponselnya dan menghubungi sahabatnya itu
Berkali-kali ia mencoba menghubungi Raja namun Pemuda itu tak kunjung mengangkat ponselnya.
"Sial, dimana sih dia," Ia kemudian bergegaslah menuju toilet untuk mengeceknya di sana.
Benar dugaan Herman, lelaki itu mendapati Raja sedang di risak oleh lima orang pria.
"Oi, kalau berani jangan main keroyokan!" seru Herman menghampiri mereka
"Kenapa lo ikut campur, mau sok jagoan lo!" seru lelaki itu mengguncang tubuh Herman
"Tentu saja gue harus ikut campur kalau lo sudah menganiaya temen gue," sahut Herman membuat Lelaki itu seketika tertawa
"Wah best friend ternyata, ok gue suka gaya lo!" sahut lelaki itu segera melepaskan Raja dan mendorongnya
Beruntung Herman segera menangkap tubuh Raja hingga Pemuda itu tak jatuh tersungkur ke lantai.
"Sekarang lo maju dan lawan gue!" tantang lelaki itu menunjuk kearah Herman
"Ok siapa takut, ikan hiu makan gulali, lo jual gue beli," sahut Herman segera melepaskan jas yang dipakainya.
Baku hantam antara Herman dan pria itupun berlangsung sengit. Sebagai putra Betawi tentu saja Herman memiliki keahlian beladiri yang selalu diajarkan oleh Kakeknya sejak dia remaja.
Wajar saja jika lelaki itu bisa dengan mudah melumpuhkan lawannya.
Tak terima dengan kekalahannya lelaki itu segera memerintahkan teman-temannya untuk mengeroyok Herman. Melihat Herman di keroyok membuat Deddy yang baru saja tiba di tempat itu seketika meradang. Ia segera turun tangan membantu Herman. Raja yang sudah babak belur pun tak mau ketinggalan. Ia segera merangsek maju membantu dua sahabatnya.
"Berhenti!" seru Seorang wanita membuat mereka segera mengakhiri perkelahian itu.
Wanita itu menatap nyalang seorang pria dan menghampirinya.
"Jangan bikin malu gue kalau lo masih mau jadi cowok gue!" hardik wanita itu sebelum melepaskan tinjunya kearah lelaki itu.
Ia kemudian menoleh kearah Herman dan keduanya saling beradu akting, sebelum meninggalkan tempat itu.
Entah kenapa rasanya dadaku berdesir saat beradu pandang dengannya. Ada tatapan yang tak biasa yang ku lihat dibalik wajah garangnya.
To be continued....
Ikan Hiu makan kelapa muda, apa ini yang namanya cinta.....
Penasaran ya siapa Qinara, yuk simak episode selanjutnya....
Ikan hiu makan Markisa, jangan lupa like dan komen ya...💋💋
__ADS_1