
Rumah Sakit Umum Daerah Pasar Minggu Jakarta Selatan.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Mamat kepada Herman
"Belum siuman Cang," jawab Herman
Tiba-tiba Siti membuka matanya membuat kedua lelaki itu langsung mendekatinya.
"Alhamdulillah akhirnya setelah tujuh purnama mak sadar juga," ucap Herman sumringah
"Emangnya Berapa lama emak pingsan Tong?" tanya Siti memegangi kepalanya yang sedikit pusing
"Kurang lebih tiga jam tiga puluh menit tiga detik mak," sahut Herman
"Wah angka cantik tuh Ti, " ucap Mamat
"Iya Bang, tapi gak lebih cantik dari aku kan," jawab Siti mengedikkan alisnya
"Iye Neng, gimana keadaan lo sekarang?" tanya Mamat
"Dasar narsis," umpat Herman
"Masih sama seperti kemarin Bang," jawab Siti mencoba beranjak dari ranjangnya
Tiba-tiba wanita itu terjatuh dan kembali tak sadarkan diri.
"Mak, bangun mak, mak!" seru Herman menepuk-nepuk pipinya
"Gimana nih Cang, Emak pingsan lagi. Udah gitu wajahnya pucet banget dan kakinya juga dingin," imbuhnya
"Sebaiknya kamu cepat panggil dokter, biar Encang yang jagain Emak lo di sini," ujar Mamat
"Ok Cang," Herman segera berlari meninggalkan ruangan itu untuk memanggil dokter.
Tak lama kemudian seorang dokter dan dua perawat berlarian menuju Paviliun Anggrek tempat Siti dirawat.
Dokter segera memeriksa kondisi wanita itu, dan tak lama Siti pun perlahan membuka matanya.
"Apa yang anda rasakan bu?" tanya dokter
"Deg-degan dok," jawab Siti memegangi dadanya saat menatap sang dokter
"Hanya deg-degan??" tanya dokter kembali memastikan
"Iya dok, semakin lama debarannya semakin kencang dok, seperti genderang mau perang," jawab Siti kembali memegangi dadanya
"Kaya lirik lagu Mak," sahut Herman menoleh kearahnya
"Iya Tong,"
"Baiklah, Sebentar saya periksa tensinya lagi," sahut sang dokter
Ia kemudian mengambil stetoskopnya dan memeriksa denyut nadi Siti.
"Sedikit tinggi sih tensinya. Bisa jadi ini faktor lapar, atau stress. Baiklah kita tes lagi nanti setelah makan malam dan minum obat ya bu," ucap sang dokter
"Iya dok, sering-sering aja kemari untuk mengurangi debaran jantung ku dok," jawab Siti pasrah
"Astagfirullah, sepertinya emak ketempelan. Masa Emak jadi ganjen gitu Cang," bisik Herman
__ADS_1
"Bukan ketempelan itu Tong, tapi emang faktor keturunan," jawan Mamat membuat Herman membulatkan matanya
"Astoge, pantas aja gue juga selalu celamitan kalau lihat cewek bening dikit, ternyata ini faktor keturunan," ucap Herman
"Wkwkwk, dasar emak sama anak sama aja," celetuk Mamat tertawa melihat kepolosan Herman
"Selain deg-degan apalagi yang ibu rasakan?" tanya dokter lagi
"Rasanya deg-degan aja dok, apalagi kalau melihat dokter tersenyum, rasanya bikin aku langsung meleleh," jawabnya tersenyum menatap sang dokter
"Es kali meleleh, Astoge emak ingat umur mak," ucap Herman menepuk keningnya
"Sekali-kali oleng gak papa kan tong, namanya juga usaha eaaa," jawab Siti tertawa
"Astagfirullah nyebut Mak,"
"Btw nyebut siapa nih, jangan sampai salah sebut bisa bahaya,"
"Serah Emak ajalah, yang penting bahagia," jawab Herman
"Alhamdulillah," jawab Siti membuat Herman seketika melotot kearahnya
"Astagfirullah mak, kayaknya emak perlu di rukiyah ini," ujar Herman mengusap kening Siti
"Coba lihat baik-baik, ini berapa?" tanya Herman mengacung tiga jarinya.
"Tiga," jawab Siti
"Good,"
"Kalau yang ini," imbuh Herman
"Sue, Tahu aja kalau gue kasih jempol tandanya minta duit," gerutu Herman membuat Siti terkekeh
"Maaf ya Dok, emak saya kalau lagi laper emang suka rese, tapi dia baik kok Dok. Sampai saking baiknya semua kucing liar yang datang ke rumah kami selalu diberi makan dan dipelihara," ujar Herman
"Wah mulai sekali hatimu Tante," ucap sang dokter
"Gak juga kok, lagipula kucing-kucing itu dirawat untuk di jual lagi," jawab Herman membuat Isti melotot kearahnya
"Peace!!" seru Herman bergegas menjauh dari Siti
"Oh gitu, Yaudah kalau gitu saya pamit karena masih banyak pasien lain menunggu. Kalau ada apa-apa tekan aja tombol merahnya, pasti aku akan segera datang," ucap sang dokter
"Siap dok, btw kalau aku kangen boleh dong pencet tombol merah juga," goda Siti
"Dih mulai," jawab Herman melirik kearah Siti
"Iya terserah tante aja, asal tante bahagia aku rela," jawab Sang dokter membuat Siti tersipu-sipu.
"Tante-tante minta iPhone donk," ledek Herman
"Anj*r, TAnte gak tuh!" seru Siti tertawa kecil
"Hahahaha, ikan hiu naik Kuda, Pak dokter bikin aku makin cinta," ucap Siti menatapnya tajam
"Eaaaa," sahut Herman
"Ikan Hiu main bola di Pasaraya, Emak yang bahagia tapi kasian dokternya harus menderita," sahut Herman
__ADS_1
"Ikan Hiu makan pilus garuda, dih lo sirik aja," cibir Siti
"Ikan Hiu makan nasi ketan, bukan sirik mak Herman cuma gak mau Mak salah jalan,"
"Uunnchh so sweat, banget sih anak emak, sini peluk anak emak," ucap Siti
************
Warkop Mang Dadang.
"Halo bro, gue turut berdukacita atas musibah yang menimpa lo ya," ucap Deddy menghampiri Herman yang sedang menikmati secangkir kopi di tangannya
"Thanks bro,"
"Ya ampun kasian banget lo Man, udah kali keberapa lo di tipu sama kaum hawa," sambung Raja yang kemudian duduk di sampingnya
"Ratusan," jawab Herman enteng
"Saingan dong sama Wafer Tonggo," jawab Raja terkekeh
"Bukan saingan lagi, tapi sebelas dua belas, puas lo," cibir Herman membuat Raja semakin terkekeh dibuatnya
"Selow bro, gimana kalau sore ini kita jalan-jalan ke jembatan Cinta Buaran,"
"Ngapain Ja?" tanya Herman
"Lihat sunset lah sekalian cari cewek juga kali aja ada yang nyangkut. Katanya kalau malming banyak cewek-cewek kece di sana." sahut Raja
"Dih ngapain jauh-jauh ke Buaran, mending ke Kemang, udah ketahuan tuh cewek-cewek sultan berkeliaran di sana," sahut Deddy
"Emang di Kemang bisa nonton live motor GP," sahut Raja
"Bisalah pakai layar lebar lagi,"
"Dih mana ada,"
"Terus di Jembatan Cinta memang nonton live nya via teleportasi gitu?" tanya Deddy
"Lah ngapain teleportasi tinggal lihat aja ke flyover motor pada kebut-kebutan, apalagi jam pulang kerja wkwkwkwk,"
"Sue lo gue kirain beneran," cibir Deddy membuat Raja tertawa
"Dah jangan ikutin usul si Raja, paling lo disana tar di kenalin sama Janda. Kan kita tahu seleranya tuh berondong," ucap Deddy
"Jangan salah Ded, janda semakin di depan," jawab Raja
"Iya, tapi perawan bikin deg-degan," sahut Deddy menjulurkan lidahnya
"Dah gini aja mending kita ke kemang tar gue kenalin keponakan bini gue. Kebetulan dia baru lulus Kuliah dan lagi cari kerja di Jakarta," tambahnya
"Dia cakep gak Ded?" tanya Herman
"Soal wajah jangan di tanya Man, selain cantik dia juga anak soleha dan masih keturunan darah biru gitu,"
"Coba lo ada fotonya gak?" tanya Herman penasaran
"Ada donk," jawab Herman kemudian menunjukkan foto seorang wanita dari ponselnya.
Herman seketika menganga melihat wajah cantik keponakan sahabatnya itu.
__ADS_1
"Jangan tergoda dengan kecantikan wanita, ingat lo udah beberapa kali kena tipu wajah Jelita. Mending sama Janda sudah jelas dan bisa di coba eaaaaa,"