OM Jangan Gila

OM Jangan Gila
Zahra


__ADS_3

"Sudahlah Man, no women no cry. Mati satu tumbuh seribu," ujar Deddy mencoba menghibur Herman


Lelaki itu kemudian membawa Herman pergi meninggalkan BKT. Ia sengaja membawa Herman ke sebuah pusat permainan di sebuah Mall.


Setibanya di sebuah Mall Deddy langsung menuju ke pusat bermain.


"Gila lo Ded, yang bener aja masa gue di suruh main bareng bocil!" seru Herman


"Ish, jangan suudzon dulu Man, apa lo gak lihat banyak cecan (cewek cantik ) dimari?" sahut Deddy


"Oi, lihat siapa dia!" seru Raja menunjuk kearah seorang wanita


"Qinara??"


Herman tercengang saat melihat Qin bersama dengan seorang lelaki.


"Wah mereka sekarang sudah go publik rupanya," ucap Deddy


"Yoi, sepertinya mereka mau anu," sahut Raja


"Anu apa?" tanya Deddy


"Anulah, sudahlah jan kepo!" jawab Raja


Herman segera meninggalkan tempat itu, ia sengaja menghindari Qinara. Terlalu sakit jika harus menyaksikan gadis yang dicintainya bersama pria lain.


Karena terburu-buru tak sengaja ia menabrak seorang wanita hingga ia hampir terjatuh karenanya. Beruntung Herman segera menangkap tubuh gadis itu hingga ia tidak terjatuh ke lantai.


*Grep!!


Semua mata menatap lekat kearah keduanya.


"Wah, ternyata hidupmu seperti drama Korea Man, penuh liku-liku cinta, kadang sedih, kadang bahagia kaya judul film India," ujar Deddy ternganga melihatnya


"Maaf," ujar Herman melepaskan wanita itu


"Nevermind," jawab wanita itu kemudian merapikan penampilannya


"Btw thanks ya atas bantuannya, kenalin gue Zahra," ucap gadis itu mengulurkan tangannya


Herman hanya diam membisu saat melihat gadis itu memperkenalkan dirinya.


"Raja," lelaki itu segera menyambar tangan Zahra dan memperkenalkan dirinya, ia sengaja mendahului Herman yang masih terpukau dengan kecantikannya.


"Kalau Om namanya siapa?" tanya Zahra menunjuk kearah Herman


"Gue?" tanya Herman sedikit ragu


Zahra langsung mengangguk pelan.


"Gue Herman," jawabnya singkat


"Ikan hiu minum es kelapa, btw kenapa gue gak di tanya?" ucap Deddy menghampiri mereka dengan mimik wajah sedihnya


"Ikan hiu makan roti buaya, ngapain tanya kalau nama om sudah ada di hati Zahra eaaaa," jawab gadis itu membuat ketiganya langsung tertawa


"Sa ae lo neng," jawab Deddy tersipu-sipu


"Bisa dong Om Ded,"


"Lah beneran lo tahu nama gue Neng?" Deddy melongo mendengar Zahra memanggil namanya


"Ya pasti tahu lah dodol, kan lo masih pakai baju kerja dan nama lo jelas-jelas nempel di dada lo kaya burung Garuda!" celetuk Raja membuat Zahra terkekeh


"Eh iya lupa, maklum lah udah tua" jawab Deddy terkekeh


"Baru nyadar lo kalau udah tua Ded?" ejek Raja


"Hush, jan begitu sama orang tua, kualat baru tahu rasa," cibir Deddy


"Ikan hiu makan roti buaya, neng Zahra boleh dong minta nomor Wa nya," ucap Raja malu-malu


Gadis itu hanya tersenyum tipis tanpa menjawab pertanyaan Raja. Ia kemudian mengeluarkan sebuah pulpen dari tasnya dan menarik tangan Raja. Ia kemudian menuliskan nomor ponselnya di telapak tangan pemuda.

__ADS_1


"Ikan hiu makan nasi megono, makasih neng zahra sarangheo," ucap Raja langsung membentuk tanda hati dengan kedua tangannya.


"Miyabi Bang," jawab Zahra membuat ketiga lelaki itu seketika terdiam menganga.


"Hahahaha!!!"


Tidak lama terdengar suara tawa keras ketiganya membuat semua orang langsung menatapnya.


"Kocak Lo Za, tahu aja kita semua penggemar miyabi!" celetuk Herman


"Dah kelihatan sih," sahut Zahra


"Wkwkwkw, emang keliatan dari mananya Neng?" tanya Deddy


"Dari matamu, matamu ku tahu kalian omes," jawab Zahra menirukan nada lagu dari matamu Jazz.


Ketiganya kembali terkekeh mendengar jawaban Zahra.


Gadis itu kemudian berpamitan meninggalkan mereka.


Herman dan yang lainnya juga memutuskan untuk kembali pulang ke rumah masing-masing setelah selesai makan di restoran cepat saji.


Setibanya di rumah Herman merasa kaget saat rumahnya yang biasa sepi mendadak ramai.


Karena penasaran buru-buru ia segera masuk kedalam untuk memastikan apa yang terjadi.


Siti langsung menghambur kearahnya ketika melihatnya memasuki ruangan tamu.


"Akhirnya kamu pulang juga,"


Wanita itu kemudian menggandengnya dan mengajaknya duduk di sampingnya.


"Baiklah karena putra semata wayang ku sudah datang, semuanya aku serahkan sama dia," ucap Siti berbinar-binar


"Wait, bentar deh mak, emangnya ini ada apaan sih kok rame benget, beneran deh Herman bingung?" ucap Herman menoleh kearah Siti


"Masa lo belum sadar juga sih neng, apa kamu tidak tahu apa makna roti buaya?" tanya Siti menunjukkan roti buaya padanya


Sebenarnya pria itu tidak setuju jika ibunya menikah lebih dulu darinya. Namun melihat rona bahagia di wajah Siti membuatnya menyetujui permintaan Bridav saat meminta izin padanya untuk menikahi Siti.


Baginya kebahagiaan ibunya adalah lebih utama dibanding dirinya sendiri.


Setelah acara selesai Siti menghampiri Herman di kamarnya.


"Makasih ya sayang, udah izinin mak nikah lagi," ucap Siti memeluknya erat


"Iya mak, asal emak bahagia Herman rela meski harus jadi bujang tua," jawab Herman dengan mimik gusar


"Eit, siapa bilang lo udah tua, kamu itu masih muda Man,"


"Emang 30 tahun belum cukup mak?" tanya Herman lagi


"Belum sayang, 30 tahun itu belum tua tapi dewasa,"


"Jiaah sama aja mak, dahlah mak jangan phpin Herman, gue udah bosen dengan semua php yang membuat ku semakin galau," jawab Herman


"Emang kamu di phpin siapa?" tanya Siti


"Maklah, gak nyadar lagi," jawab Herman menarik ujung bibirnya


" Dih, siapa yang PHP, emang usia 30 tahun itu belum tua kamu hanya sudah dewasa. Walaupun waja mu lebih tu tua dari usiamu tapi percayalah bagi emak kamu tetaplah masih anak-anak," jawab Siti


"Emak, aku terharu,"


"Sekarang cepat mandi karena gue mau kenalin lo sama seseorang," jawab Siti


"Gue mau di jodohin lagi mak?" tanya Herman


"Anggap aja begitu,"


"Gak mau mak, herman masih bisa nyari sendiri. Lagipula emak selalu jodohin Herman sama cewek-cewek yang gak jelas," sahut Herman


"Dih suudzon, awas aja lo nyesel!" celetuk Siti

__ADS_1


"Gaklah mak, cukup Haryati saja yang sudah membuat ku ill feel, so jangan ada lagi Haryati kedua apalagi ke tiga,"


"Dih lebay, yaudah kalau lo gak mau tar emak kenalin sama Raja aja," jawab Siti


"Kok Raja sih mak, emang sejak kapan emak dekat sama dia,"


"Bukan deket Man, tapi emak udah anggap Raja jadi anak emak juga,"


"Yaudah terserah emak aja deh,"


"Tapi beneran lo gak mau lihat dulu anaknya?" tanya siti lagi


"Gak," jawab Herman kekeh


"Lihat aja gak masalah man, lagian emak juga gak mau maksain Lo lagi. Emak udah nyerah, sekarang emak pasrahkan saja semuanya kepada Tuhan,"


"Jangan nyerah gitu dong Mak, yaudah gue ikut. Btw jam berapa acaranya?" tanya Herman


"Habis magrib Neng,"


"Yaudah gue siap-siap,"


"Iya, emak tunggu pengkolan ya,"


"Kenapa gak bareng aja si mak?"


"Emak mau dianterin sama aya Bri dong,"


"Ish ganjennya,"


"Ikan hiu makan mie samyang, gak papa sekali-kali ganjen biar makin di sayang," jawab Siti berlalu pergi


Herman kemudian segera masuk kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Setengah jam kemudian ia segera berganti pakaian dan bergegas menyusul Siti. Herman sengaja tampil casual malam itu, dengan sepeda motor kesayangannya ia pergi meluncur ke lokasi yang sudah di share oleh ibunya.


Hanya butuh waktu dua puluh lima menit Herman sudah tiba di sebuah rumah khas betawi di bilangan Ciganjur Jakarta Selatan.


Ia segera turun dari motornya dan berjalan memasuki beranda rumah itu.


Seorang wanita paruh baya langsung menyambutnya dan mengajaknya masuk.


Ia kemudian melihat dua orang gadis cantik duduk di depannya.


Tidak mungkin gadis cantik itu yang dijodohkan denganku, aku yakin pasti gadis sebelahnya yang dijodohkan denganku,


Herman kemudian duduk di sebelah gadis yang terlihat sederhana.


"Halo," sapanya lirih


Gadis itu hanya mengangguk dan tersenyum padanya.


"Saya Herman," imbuhnya mengulurkan tangannya


Gadis itu kemudian menyambut tangannya, "Nisa,"


"Wah, kau berhasil mengajak nisa bicara," ucap seorang wanita mendekatinya


"Eh, emangnya kenapa?" tanya Herman


"Selama ini dia tidak mau bicara dengan siapapun, dia depresi setelah di tinggal kekasihnya,"


Oh begitu, pantas saja orang tuanya menjodohkan denganku.


"Ternyata kamu di sini toh, ayo emak kenalin sama anaknya teman emak," ujar Siti menarik lengan Herman.


"Jadi bukan Nisa yang mau di jodohkan denganku mak?" tanya Herman


"Bukan," jawab Siti buru-buru membawa Herman menuju beranda rumah


"Itu dia anaknya!" seru Siti menunjuk seorang gadis manis yang sedang menikmati secangkir teh di depannya


"Zahra???"

__ADS_1


__ADS_2