OM Jangan Gila

OM Jangan Gila
Rasa Penasaran


__ADS_3

"Herman," ucapnya sembari mengulurkan tangannya


Gadis itu kemudian menyambut tangannya, "Nisa," jawabnya singkat


Dingin banget tangannya,


Herman terus memperhatikan gadis itu yang langsung mengabaikannya.


"Wah, kau berhasil mengajak Nisa bicara," ucap seorang wanita mendekatinya


Wanita itu begitu bahagia hingga tak henti-hentinya berterimakasih kepada Herman.


"Eh, emangnya kenapa?" tanya Herman penasaran


"Selama ini dia tidak mau bicara dengan siapapun, dia depresi setelah di tinggal kekasihnya," jawab wanita itu lirih


Oh begitu, pantas saja orang tuanya menjodohkan denganku.


Tidak lama Siti datang menghampiri Herman.


"Ternyata kamu di sini toh, ayo emak kenalin sama anaknya teman emak," ujar Siti menarik lengan Herman.


"Jadi bukan Nisa yang mau di jodohkan denganku mak?" tanya Herman kebingungan


"Bukan," jawab Siti buru-buru membawa Herman menuju beranda rumah


Herman hanya menundukkan kepalanya saat meninggalkan Nisa dan Ibunya karena tidak sempat berpamitan.


"Itu dia anaknya!" seru Siti menunjuk seorang gadis manis yang sedang menikmati secangkir teh di depannya


"Zahra???"


"Eh, apa kamu sudah mengenalnya?" tanya Siti penasaran


"Hanya sebatas kenal," jawab Herman menghampiri Zahra


"Hai!" sapanya lembut


"Hola Om," jawab Zahra sumringah


"Gak nyangka dunia sempit, kita bisa ketemu lagi di sini," ucap Herman memulai obrolan


"Bener Om, gak nyangka juga kalau nyokap gue temenan sama nyokap lo,"


"Hooh, bener-bener gak nyangka kalau kita bakal...." ucap Herman tak melanjutkan ucapannya


"Di jodohin," jawab Zahra


"Hooh, ternyata kamu dah tahu juga,"


"Ya begitulah namanya orang tua kalau lihat anak perempuannya lom menikah pasti ketakutan apalagi jika usianya sudah matang," ucap Zahra menarik nafas panjang


"Kalau lo gak suka perjodohan ini gak papa, aku juga gak begitu maksa,"


"Jadi lo nolak gue nih?" tanya Zahra menaikan alisnya


"Bukan gitu, hanya saja aku takut lo keberatan kalau di jodohin sama gue," ucap Herman ragu-ragu


"Keberatan kalau lo minta gendong, sans aja gue bukan tipe pemilih. Jalani, nikmati syukuri itu prinsip gue," ucap Zahra menepuk pundak Herman


Herman tak menyangka jika gadis cantik seperti Zahra sama sekali tak keberatan di jodohkan dengannya.


Zahra kemudian mengajaknya untuk melihat-lihat rumahnya. Herman tampak antusias mengikuti gadis itu yang menjelaskan setiap detail sudut rumahnya seperti seorang pemandu wisata.

__ADS_1


Selesai mengajak berkeliling Zahra mengajak Herman duduk di belakang sambil melihat kolam ikan.


"Enak ya rumah kamu, asri," ucap Herman


"Bukan rumah gue ini, tapi rumah encing gue."


"Oh bulat,"


"Lonjong,"


"Panjang kali Za,"


"Punya lo itu mah wkwkwkwk,"


"Dih koplak wkwkwk,"


Keduanya seketika tertawa terbahak-bahak.


"Aduh sampai lupa nawarin lo minum, mau minum apa?" tanya Zahra


"Apa aja yang penting manis dan dingin," sahut Herman


"Ok, bentar ya," Zahra segera meninggalkan Herman menuju ke dapur.


Saat Herman sedang melihat-lihat ikan, tidak sengaja ia melihat Nisa sedang memetik sayuran tak jauh dari tempatnya berdiri.


Saat gadis itu berteriak, Herman segera berlari kearahnya.


"Ada apa?"


"Tanganku di gigit semut," ucap gadis itu dengan raut wajah sedih


Herman tersenyum dan melihat jari Nisa yang di gigit semut.


Gadis itu tersenyum menatapnya.


"Terimakasih," ucapnya kemudian berlalu pergi


"Sepertinya Kak Nisa suka sama kamu, gak biasanya loh dia mau bicara apalagi sama orang yang belum ia kenal," ujar Zahra menghampiri Herman


"Apa dia kakakmu?" tanya Herman


"Kakak sepupu,"


"Oh sepupu,"


Keduanya kemudian kembali bercengkrama sembari menikmati sepiring camilan khas Betawi.


**********


Pagi itu Herman dan kedua sahabatnya mendapatkan undangan untuk menghadiri meeting para master trader.


Ia segera memasuki sebuah ballroom hotel bintang lima dan mencari tempat duduk yang nyaman.


"Wah hari ini gue mau lihat siapa sih sebenarnya master forex di Jakarta ini, makin penasaran gue. Apa dia Qinara, Yuda atau Indra," ucap Raja penasaran


"Kalau menurut gue sih Yuda, secara kita bisa lihat permainan dia akhir-akhir ini, ngeri-ngeri sedap bukan?" sahut Deddy


"Setubuh Ded, tapi bukan tidak mungkin Indra masih mengincar posisinya yang kini di ambil oleh Yuda," jawab Raja


"Semoga Trading bareng kali ini hoki gue, masa bodo siapa yang menjadi masternya nanti," ucap Herman seger duduk di pojokan.


Setelah satu persatu peserta hadir acarapun segera dimulai. Di meja VIP Qinara termangu menatap Herman yang sama sekali tak meliriknya. Gadis itu tak menyangka jika Herman begitu mudah melupakannya.

__ADS_1


Ada rasa kecewa dalam benaknya, namun ia tak bisa berbuat apa-apa selain pasrah. Baginya yang terpenting sekarang adalah bagaimana caranya membalas dendam kepada Yuda. Toh nantinya ia bisa menjelaskan kepada Herman setelah semuanya selesai.


Sementara Herman masih termangu menatap laptopnya, Raja harus bolak-balik ke toilet karena diare.


"Sue, gara-gara susu basi gue jadi menderita begini," ucap Raja terduduk lemas dan menyadarkan kepalanya di bahu Herman


"Emang susu siapa yang lom embat?" tanya Deddy


"Susu janda liar,"


"Astoge, move on Ja, jangan main sama janda mulu lo tar keracunan baru tahu," celetuk Deddy


"Maunya gitu Ded, tapi gimana Janda selalu di depan," jawab Raja semakin terkekeh


"Dasar Sue,"


"Man, gue minta tolong boleh ga?" tanya Raja


"Apa?" jawab Herman


"Beliin gue obat diare dong, udah gak kuat nih lemes banget,"


"Yaudah wait satu jam ya," jawab Herman


"Lama amat satu jam Bro, emang lo beli dimana?" tanya Raja


"Nyari yang jauhlah,"


"Lo pasti seneng kalau gue mati ya," cibir Raja


"Banget,"


"Jahara, gue sumpahin lo jadi jomblo karatan!" tutur Raja


"Sorry, gue udah gak jomblo lagi!" ledek Herman kemudian berlari pergi


Ia segera keluar mencari minimarket terdekat. Tidak jauh dari hotel Herman menemukan sebuah apotek dan segera membeli obat untuk Raja disana


Setelah membeli obat ia buru-buru kembali ke hotel. Herman terkejut saat melihat Nisa berjalan memasuki lift. Karena penasaran Herman buru-buru menyusulnya.


"Kamu Nisa bukan?" tanyanya memastikan


Gadis itu hanya mengangguk pelan dengan ekspresi datar.


"Kamu sendirian?" tanya Herman lagi


Lagi-lagi Nisa hanya mengangguk tanpa menjawab.


"Memangnya ada perlu apa kamu ke sini sendirian, kalau butuh bantuan katakan saja, aku pasti bantu kamu," ucap Herman


Bagaimanapun ia khawatir dengan Nisa yang masih depresi. Ia khawatir gadis itu kabur dari rumahnya hingga terus mengikutinya. Entah kenapa ia begitu peduli padanya apalagi setelah mendengar cerita dari Zahra.


Nisa menoleh kebelakang saat Herman terus membuntutinya.


"Kamu gak usah khawatir, aku tidak akan melakukan hal-hal konyol di sini, aku hanya ingin menemui seseorang saja," jawab Nisa membuat Herman tercengang


Siapa, apa dia kekasihnya yang meninggalkannya?


Herman semakin khawatir setelah mendengar ucapan Nisa, ia takut gadis itu akan membalas dendam kepada mantan kekasihnya.


Herman semakin tercengang saat melihat Nisa masuk ke ballroom hotel tempat dimana para trader berkumpul.


Apa mantannya seorang trader???

__ADS_1


__ADS_2