OM Jangan Gila

OM Jangan Gila
Kebahagiaan Ku


__ADS_3

Herman segera mengejar Nisa saat gadis itu akan meninggalkan Hotel.


"Aku akan mengantarmu pulang,"


"Tidak usah, terimakasih," sahut Nisa menolaknya


Gadis itu segera bergegas keluar menuju halte busway.


"Emangnya lo kenal dia dimana bro?" tanya Deddy


"Dirumahnya??"


"Weh, kamu di jodohin sama dia?" telisik Raja


"Bukan, tapi sepupunya,"


"Oh lonjong," sahut Deddy


"Emang lo ngerti Ded?" tanya Raja


"Kagak??"


"Dih, Sue!" sahut Raja sambil tertawa


"Jadi lo kenal sama Nisa pas lo di jodohin sama sepupunya??" tanya Raja


"That's right baby,"


"Senengnya punya sepupu master, moga gue kecipratan signal gratisnya ya Man," ucap Deddy


"Wani piro?" jawab Herman sambil terkekeh


Ketiga lelaki itu kemudian segera menuju parkiran mobil.


Qinara terdiam sejenak menatap Herman bersama teman-temannya.


"Ayo cepat masuk," ucap Yuda segera menyuruhnya untuk masuk kedalam mobilnya


Raja langsung menepuk bahu Herman saat pemuda itu terus menatap Qinara.


"Dahlah Bro, move on!" seru Raja


"Betul tuh kata si Raja, masih banyak janda-janda cantik di luar sana, so jangan mengharapkan seseorang yang sudah mencampakkan kita, move on lah bro!" imbuh Deddy


"Kadang teori itu mudah guys, tapi jalaninnya sulit," sahut Herman segera masuk kedalam mobilnya


Ia kemudian melesatkan mobilnya meninggalkan area parkir hotel.


Sementara itu, Nisa yang sudah lama tak keluar dari rumahnya terlihat begitu bahagia saat memasuki mall terbesar di pusat kota. Setelah puas berbelanja Nisa kemudian mampir kesebuah restoran cepat saji untuk makan siang.


"Wah pasti menyenangkan jika bisa makan berdua bareng pasangan?" ucap Yuda menghampiri Nisa


Nisa seketika meletakkan sendoknya, dan membersihkan sisa makanan di bibirnya. Ia kemudian menatap lekat Yuda dan tersenyum padanya.


"Apa kau tertarik untuk menjadi pasanganku?" tanya gadis itu sontak membuat Yuda membelalak.


"Aku yakin kau datang kesini untuk mendekati ku bukan??. Tapi sayang sekali aku tidak tertarik dengan lelaki culas seperti dirimu," imbuhnya kemudian meninggalkan Yuda


Yuda yang geram dengan sikap Nisa langsung menarik lengan gadis itu. Nisa tidak tinggal diam, ia segera melepaskan tangan Yuda dan berlalu pergi.


Nisa segera naik angkutan umum setelah keluar dari mall.


Sementara itu Zahra dan orang tua Nisa begitu kebingungan saat menyadari Nisa tidak ada di kamarnya.

__ADS_1


Karena ponsel Nisa tidak aktif, maka Zahra kemudian menghubungi teman-temannya untuk menanyakan keberadaannya. Namun tak seorangpun mengetahui keberadaannya, hingga makin membuat gadis itu putus asa.


"Ayo angkat dong Nis telponnya," ucap Zahra berusaha menghubunginya


Lagi-lagi Nisa gak menjawab ponselnya. Ia kemudian menghubungi Herman untuk menanyakan keberadaan Nisa.


"Apa Nisa hilang!!" seru Herman


Zahra kemudian menceritakan semuanya kepada Herman.


"Sebenarnya tadi dia ada bersamaku mengikuti pertemuan para trader. Tapi dia sudah pulang lebih dulu satu jam yang lalu," jawab Herman


"Apa yang dia lakukan disana?" tanya Zahra


"Dia melakukan sesuatu yang membuat semua orang terkejut,"


"Astaghfirullah, pasti dia mengacau di sana ya??" tanya Zahra


"Tidak, dia sama sekali tidak mengacau justru ia memberikan pelajaran berharga kepada kami para trader pemula," sahut Herman


"Syukurlah, kalau begitu apa Om mau membantu ku mencari keberadaannya?"


"Dengan senang hati Za," jawab Herman


Lelaki itu kemudian melesatkan mobilnya menuju ke rumah Zahra.


Namun di tengah jalan Herman menghentikan mobilnya saat melihat Nisa turun dari angkot. Ia buru-buru turun dari mobilnya dan menyusul gadis itu.


"Nisa!" teriakannya mencoba memanggil gadis itu.


Namun Nisa tak mendengarnya. Saat melihat Gadis itu hendak menyebrang jalan, tiba-tiba Herman terperanjat melihat sebuah mobil sedan melaju kencang kearahnya.


Ia segera berlari dan menarik Nisa kedalam pelukannya.


Herman merasa lega saat bisa menyelamatkan gadis itu.


"Terimakasih," ucap Nisa menatapnya lekat


"Miyabi," jawab Herman sambil mengatur nafasnya


"Miyabi??" ucap Nisa mengerutkan keningnya


"Sami-sami Baby," jawab Herman membuat Nisa tertawa mendengarnya


Herman terpukau sejenak saat melihat gadis itu tertawa lepas.


"Tidak ku sangka kamu ini benar-benar konyol," ucapnya menepuk dada Herman


Lelaki itu hanya tersenyum menatapnya.


"Btw darimana lo tahu aku ada disini?" tanya Nisa


"Oh itu, kebetulan tadi Za memintaku untuk menemaninya mencari kamu yang dikira hilang," jawab Herman


"Ah benar, aku lupa tidak mengabari mereka. Pasti mereka sekarang tengah kebingungan mencari ku," ucap Nisa


"Kalau begitu beritahu mereka sekarang jika kamu baik-baik saja," ucap Herman


Nisa langsung mengangguk dan mengambil ponselnya untuk memberitahukan keberadaannya kepadanya keluarganya.


"Astaghfirullah hp ku mati, pantas saja aku tidak mendengar telepon dari mereka,"


Herman seger memeberikan ponselnya kepada Nisa, "Pakai saja sepuasnya," ucap Herman

__ADS_1


"Tapi aku tidak hapal nomornya," sahut Nisa


"Disitu ada nomor Za, kamu bisa menghubunginya,"


"Ah benar, aku lupa kalau kamu calon suami Zahra," sahut Nisa kemudian mengambil ponsel Herman


Selesai mengabari keluarganya, Herrman


kemudian menawarkan diri untuk mengantar gadis itu pulang.


Dalam perjalanan pulang keduanya hanya diam. Setibanya di rumah Zahra sudah berdiri di halaman rumah menyambut kedatangan keduanya. Gadis itu segera memeluk erat Nisa begitu ia keluar dari mobil.


"Syukurlah kamu baik-baik saja Nis," ucapnya mengusap lembut rambutnya


"Hmm," Nisa hanya menyunggingkan senyumnya menatap wajah sepupunya itu.


"Kalau begitu aku pamit pulang ya," ucap Herman berpamitan


"Tidak boleh, lo harus makan dulu bersama kami sebagai ucapan terimakasih kami karena telah menemukan Nisa," ucap Zahra kemudian menarik lengan lelaki itu dan mengajaknya masuk kedalam rumah.


Setibanya di ruang makan Herman terkejut melihat banyaknya hidangan yang tersaji di atas meja itu.


"Wah kayaknya ada yang ulang tahun nih!" celetuk Herman


"Bukan ulang tahun Om, tapi syukuran," sahut Zahra


"Syukuran apa ini??" tanya Nisa begitu penasaran


"Syukuran karena lo udah kembali sehat Nis," ucap Zahra


"Thanks Za, sebenarnya gak usah repot-repot juga," sahut Nisa


"Ikan Hiu main boneka, kuylah kita cicipin masakannya," ucap Herman segera menarik kursi di depannya.


Saat Herman mengangkat piringnya tiba-tiba kedua gadis itu bersamaan menyendokkan nasi ke piringnya.


Lelaki itu menyunggingkan senyumnya untuk menghilangkan rasa groginya.


"Maaf," ucap Nisa mengurungkan niatnya


"Gak papa tuangin aja dua-duanya. Sans aja kuli kek gue makannya banyak," ucap Herman mencoba mencairkan suasana


Nisa kemudian menuangkan nasi ke piring Herman.


"Ikan hiu makan kurma ajwa, ternyata gini ya rasanya punya bini dua," ucap Herman membuat Nisa tertawa


"Makan Kurma enaknya pas puasa, emang Om pengen banget ya punya bini dua," sahut Zahra menarik ujung bibirnya


"Ikan hiu naik mobil Ferarri, penginnya sih gitu kalau neng zahra gak sakit hati eaaaa,"


"Ikan ****** nyemplung di Empang, coba aja kalau mau kakinya gue bikin pincang," sahut Zahra


"Ikan cakalang enaknya di sambelin, kalau kaki yang pincang gak masalah asal jangan anu nya di pendekin," jawab Herman membuat kedua gadis itu tertawa


"Kalian bener-bener cocok, klop sama-sama koplak," ucap Nisa tertawa terbahak-bahak


"Ikan nemo liburan ke pulau Dewata, sorry aja gue gak suka cowok yang suka mendua," sahut Zahra


"Beli bunga ke pasar pagi


beli kerang ke Kramatjati


Biarpun Neng Zahra gak pernah mandi

__ADS_1


cinta Abang tak pernah berkurang apalagi berpaling ke lain hati eaaa," jawab Herman membuat Zahra tersipu-sipu


__ADS_2