OM Jangan Gila

OM Jangan Gila
Rasa Yang Terpendam


__ADS_3

Herman selalu terlihat murung setelah pertemuannya dengan Bulan. Tidak bisa dipungkiri Om memang dilema setelah mendengar permintaan wanita itu. Meskipun ia sudah meminta waktu untuk berpikir tetap saja Pria itu belum bisa menentukan keputusan.


Meskipun dia mulai nyaman dengan Bulan, namun di sisi lain ia juga tidak bisa menghilangkan kumis yang sudah menjadi ciri khasnya.


"Kenapa sih tong, dari kemarin lo bengong mulu. Emang apa yang terjadi, kuylah curcol sama emak," ucap Siti mendekatinya


"Susah mah di jelasinnya," jawab Herman


"Kalau susah di jelasin, wa aja gak papa, aman kok,"


"Males ngetik mak,"


"Yaudah pakai bahasa isyarat juga boleh." jawab Siti


"Emang mak tahu bahasa isyarat?" tanya Herman memastikan


"Jangankan bahasa Isyarat, bahasa kalbu aja emak tahu," jawab Siti tertawa kecil


"Eaaaa, keren Mak. Kenapa gak buka klinik aja Mak?"


"Klinik apa sih Tong?" tanya Emak


"Klinik bersalin Mak," jawab Herman membuat Emak langsung membulatkan matanya


"Emangnya gue dukun beranak apa, ada-ada aja lo!" cibir Emak membuat Herman seketika tertawa.


Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu membuat keduanya terdiam seketika.


"Tolong bukain pintu Neng, liat siapa yang datang. Kalau yang datang Kang panci bilang emak lagi liburan ke Turki ya," ucap Siti kemudian segera masuk ke kamarnya.


"Ok, siap Mak!"


Herman segera beranjak dari duduknya dan membuka pintu rumahnya.


"Maaf Mas cari siapa ya?" tanyanya ramah


"Mau ketemu sama Ceu Siti," jawab lelaki itu menyunggingkan senyumnya


"Maaf kalau boleh tahu anda siapa dan ada perlu apa dengan Siti Jamilah?" tanya Herman lagi


"Katakan saja Fansnya datang," jawab lelaki itu segera menyisir rambutnya


"Baru tahu emak punya fans Bronkitis ( Berondong kelimis berkumis tipis)?" umpat Herman


"Maaf Bang, aku gak bronkitis, aku sehat luar dalam, jasmani dan rohani. Bahkan udah Vaksin tiga kali," jawab pemuda itu membuat Herman hanya menganga mendengarnya


"Siapa sih Man tamunya, lama amat perasaan bukain pintunya, bikin emak penasaran aja!" seru Siti menghampiri keduanya


"Astoge Bang Dhiv," ucap Siti langsung membalikkan badannya


"Beli panci ke Cisarua, eh akhirnya Neng Siti muncul juga," jawab Dhiv tertawa


Siti segera membalikkan badannya dan tersenyum kecut kearah Dhiv.


"Iye Kang, maaf ya kemarin aye sibuk Liburan ke Amsterdam makannya ampe lupa bayar cicilan," jawab Siti


"Emang siapa dia mak?" tanya Herman

__ADS_1


"Kang Kredit panci," bisik Siti membuat Herman tersentak


"Buset dah, kang panci keren amat ya,"


"Baru tahu ya, hahahaha!" sahut Dhiv tertawa


"Eh btw namanya siapa tadi mak?"


"Dhiva Mahesa panggil aja Dhiv," ucap Dhiv mengulurkan tangannya


"Herman," jawabnya singkat


"Kang Dhiv, maaf ya Siti baru bisa bayar separuh dulu, sisanya nunggu dana BLT cair," Siti memberikan beberapa lembar uang ratusan ribu padanya


"Ya Allah emak malu-maluin Herman aja, bayar hutang nunggu dana BLT. Emangnya hutang Emak berapa?"


"Lima juta lagi Tong," jawab Siti


"Bujug banyak amat, emangnya mak ngambil apaan sih sama Kang Dhiv?"


"Penginnya sih ngambil hatinya, tapi sayang bang Dhiv udah ada yang punya, eaaa." jawab Siti


"Dih mulai deh?" cibir Herman


"Dih Ceu Siti mah suka bercanda," ucap Dhiv


"Jadi ngambil apa nih Mak, jangan Sampai Herman curiga?"


"Ngambil Panci anti galau yang harganya sepuluh juta," jawab Siti menunjukkan nota hutangnya kepada Herman


"Buseet mahal amat Mak, Emang ini panci terbuat dari apa mak?" tanya Herman lagi


"Pantes, yaudah biar Herman lunasi aja hutangnya,"


"Gak usah Man, biarin aja. Tar kalau di lunasi sekarang Emak gak bisa curcol lagi."


"Oh gitu, yaudah terserah emak aja deh, yang penting emak bahagia,"


"Ikan hiu naik komedi putar, Emang Herman anak emak yang pintar."


************


Jam dinding menunjukkan pukul setengah delapan Malam, Herman terus memandangi ponselnya menunggu seseorang menghubunginya.


Senyumannya seketika mengembang saat melihat ponselnya mulai bergetar.


"Hallo Neng Bulan," sapa Herman begitu riang


"Halo Om, gimana keputusannya?" jawab Bukan to the point


"Maaf Neng, Om belum dapat wangsit jadi belum bisa memutuskan," jawab Om gusar


"Yaudah kalau Om lebih berat di kumis, bulan lebih baik mundur alon-alon. Karena percuma saja kalau kita lanjutkan hubungan ini, jika Om lebih berat di kumis daripada bulan yang manis. Kalau begitu sekalian Bulan pamit Om." sahut Bulan mencoba kuat


"Neng mau kemana emang?" tanya Herman penasaran.


"Aku mau ke balik kampung aja Om, Percuma juga di kota kalau aku gak bisa dekat sama Om," sahut Bulan kemudian mengakhiri obrolannya.

__ADS_1


Mendengar Bulan akan kembali ke kampung halaman, membuat Lelaki itu segera menyambar kunci mobilnya dan melesat menuju ke Bandara.


Setibanya di Bandara, Herman segera berlari mencari gadis pujaan hatinya itu.


"Bulan!" serunya saat melihat seorang gadis yang begitu mirip dengan Bulan.


Ia segera marik lengan gadis itu kedalam pelukannya.


"Maafin om Ya Neng," bisiknya sembari memeluk erat wanita oyu


"Apaan sih main peluk-peluk sembarangan!" seru seorang gadis segera melepaskan diri dari pelukan Herman


"Kamu!" seru Herman terkejut saat melihat wajah gadis itu dan melepaskannya.


"Dasar Om gila!" gerutu gadis itu


"Sorry gak sengaja, kirain kamu cewek gue," jawab Om


"Alesan, dasar mesum!" cibir gadis itu kemudian melepaskan dengkulan keras tepat mengenai bagian vital Herman.


"Awwww," Herman mengerang kesakitan sambil memegangi miliknya yang terasa ngilu.


"Sue, sadis banget tuh cewek. Mudah-mudahan telor dinosaurus gue gak papa, gimana masa depan gue coba kalau tuh telor pecah sebelum waktunya, bisa kacau dunia, " keluh Herman dengan wajah memerah.


Bulan yang terus memandangi Herman dari kejauhan perlahan mendekati lelaki itu.


"Halo Bro, ngapain dimari?" sapa Deddy menghampiri Herman


"Mau lihat Bulan untuk terkahir kalinya, Ded." sahut Herman


"Sudahlah, yang lalu biarlah berlalu Man. Jangan sedih, masih banyak wanita di luar sana yang mau menerima kamu apa adanya. No women no cry," hibur Deddy


"Iya, Ded. Btw si Bulan dah terbang?" tanya Herman


"Belumlah," jawab Deddy kemudian memberikan sebotol air mineral kemasan kepada Herman


"Thanks Bro,"


"Sama-sama,"


Herman tersenyum simpul, dan seketika sakitnya hilang saat Bulan menghampirinya.


"Ikan hiu makan rambutan, Eh ketemu lagi sama Neng Bulan," ucapnya sumringah


Bulan hanya tersenyum tipis kemudian mengulurkan tangannya. Saat Herman hendak meraihnya tiba-tiba saja seorang pemuda tampan menyambarnya lebih dulu.


"Maaf ya Tik, Mas telat." ucap pemuda itu dengan senyuman khasnya


"Gak papa Kok Mas, lagian jadwalnya kan masih satu jam lagi," jawab Bulan


"Btw siapa cowok itu Ded," bisik Herman


"Calon Imamnya Bulanlah," jawab Deddy


"Lah gimana sih katanya single, kok udah punya calon?" tanya Herman sedikit bingung


"Lah kan kemarin lo calonnya, tapi lo mundur karena lebih milih kumis daripada si Bulan. Nah kebetulan Dimas berhasil menggeser posisimu dari hati Bulan," terang Deddy

__ADS_1


Ada gurat kekecewaan dalam hati Om setelah mendengar jawaban Deddy.


Kenapa disaat gue lebih memilih prinsip, dan berusaha melepaskan dia, hati ini tetap gak rela melihatnya bersama yang lain. Meskipun aku tahu dia bukan yang terbaik untukku tetap saja rasa ini tak bisa menerima kenyataan itu untuk saat ini. Berat memang ketika melihat seseorang yang dekat dengan kita dan pernah mengisi relung hati ini memilih pergi dengan orang lain. Bukan salah Bulan jika ia harus memilih Dimas, tapi bagaimanapun juga aku belum bisa menerimanya. Biarlah luka ini kan ku simpan dalam dada hingga seseorang datang dan menyembuhkannya.


__ADS_2