OM Jangan Gila

OM Jangan Gila
Sebuah keputusan


__ADS_3

Juni 2107.


"Apa kau benar-benar akan ikut dalam pemilihan Grand Master sayang??" tanya Nisa menghampiri kekasihnya


"Tentu saja, apa kamu keberatan??"


"Bagaimana mungkin aku keberatan, tentu saja aku akan mendukung mu 1000 persen," sahut Nisa memeluknya erat


"Terimakasih sayang, aku bahagia bisa memiliki kekasih seperti dirimu yang selalu mendukung ku," jawab lelaki itu mengusap rambut Nisa


*Dreet, dreet, dreeet!!


Nisa segera melepaskan pelukannya ketika mendengar suara ponsel Rico berdering.


Rico segera merogoh saku celananya dan mengangkat ponselnya.


"Bentar ya sayang," ucap pemuda itu meninggalkan Nisa


Lisa yang penasaran diam-diam mengikuti kekasihnya itu dan mendengarkan pembicaraannya dari kejauhan.


"Ok sampai jumpa di taman anggrek jam 5," ucap Rico kemudian mematikan ponselnya


Nisa segera kembali ke tempat duduknya saat melihat Rico berjalan kearahnya.


Gadis itu segera duduk manis dan tersenyum menyambutnya.


"Maaf sayang hari ini aku ada janji dengan para kandidat master, jadi kencan kita lanjutkan besok lagi ya," ucap Rico memeluk gadis itu dari belakang


"Ok,"


"Kalau begitu ayo aku antar pulang,"


"Gak usah Co, aku masih mau nunggu temen disini, boleh kan?" tanya Nisa


"Boleh dong, asal bukan cowok temennya," jawab Rico


"Iya sayang, mana berani aku ngeduain kamu,"


"Nice, kalau gitu aku pamit dulu ya sayang, tace care!" ucap Rico berpamitan


Ia kemudian bergegas meninggalkan Nisa.


Diam-diam Nisa mengikuti pemuda itu menuju mall taman anggrek.


Setibanya di sana, Rico segera menyambangi duo orang lelaki yang sudah menunggunya di sebuah restoran cepat saji.


Mereka bertiga kemudian berbincang sembari makan dan kemudian pergi meninggalkan restoran.


Nisa masih terus membuntuti mereka dari kejauhan.


Mereka menghentikan mobilnya di sebuah rukan dikawasan kelapa gading.


Nisa segera turun begitu melihat mobil kekasihnya terparkir di sana. Perlahan gadis itu segera turun dan berjalan mengendap-endap memasuki rukan.

__ADS_1


Ia segera menggantikan langkahnya saat mendengar suara pertengkaran. Nisa mengintip dari celah pintu apa yang mereka perdebatkan.


Matanya membelalak saat melihat dua orang lelaki menganiaya kekasihnya.


Ia segera menutup mulutnya saat melihat salah seorang dari mereka menikamnya.


Gadis itu begitu shock saat melihat Rico jatuh tersungkur bersimbah darah.


"Ternyata kau lebih memilih mati daripada memberitahukan kami rahasia mu menjadi seorang master trader,"


"Sekarang apa yang harus kita lakukan Yud, gue gak mau masuk penjara!" seru salah seorang dari mereka


"Kenapa lo cengeng amat Ndra, lagipula tidak ada yang tahu jika kita yang sudah membunuhnya, so jangan panik. Tetap cool dan persiapkan dirimu sebaik mungkin agar terpilih menjadi seorang Grand Master. Ingat, kita sudah menyingkirkan kandidat terkuat jadi tidak ada lagi yang bisa menyaingi mu. Aku harap kau bisa terpilih menjadi Grand Master agar aku bisa menikmati kesuksesan mu," ucap Yuda membersihkan pisaunya di tangannya.


Keduanya kemudian keluar dari ruangan itu.


Saat melihat keduanya pergi, Nisa segera masuk ke dalam ruangan itu dan menghampiri Rico.


"Sayang bangun sayang, Rico bangun sayang, Rico banguun!" seru Nisa mengguncang tubuh pemuda itu


Ia menangis sejadi-jadinya dan memeluk erat pemuda itu. Saat Nisa benar merasa lunglai dan hancur tertegun melihat ponsel Rico yang hancur.


Ia mengambil ponsel itu dan memeriksanya.


Kembali tangisnya pecah saat melihat pin couple yg dipasang di ponsel itu retak. Nisa segera melepas pin itu dan menatapnya lekat.


Ia begitu kaget saat melihat sebuah micro SD yang menempel di pin itu. Buru-buru Nisa mengambilnya.


"Apa isi memori card ini, sehingga ia menyembunyikannya???. Aku yakin ada sesuatu yang penting di sini hingga ia menyembunyikannya.


************


Dreet, dreet, dreet!!


Nisa segera mengangkat ponselnya saat seseorang menghubunginya.


"Halo??"


"Halo Nisa, long time no see gimana kabarmu cantik??"


Nisa segera menjauhkan ponselnya saat mendengar suara yang begitu familiar itu.


"Indra???"


"Wah ternyata kau masih mengingatku dengan baik, aku benar-benar tersanjung sayang,"


"Sudah lima tahun lebih kau tidak menghubungi ku, aku yakin ada sesuatu yang penting hingga membuat mu menghubungi ku?"


"Benar, sekali. Kali ini aku hanya ingin mengirimkan sesuatu padamu," jawab Indra


Nisa kemudian segera melihat pesan masuk dari ponselnya.


Ia begitu terkejut saat melihat foto Zahra yang di sekap di sebuah gudang dengan tangan dan kaki terikat.

__ADS_1


"Apa kau sudah melihatnya??"


"Dasar brengsek, apa yang kau inginkan dariku!" seru Nisa begitu geram


"Kalau lo tidak mau kejadian lima tahun silam terulang, maka jangan pernah bermimpi untuk menjadi seorang Grand Master. Sebaiknya lo mundur jika ingin sepupumu selamat,"


"Tentu saja aku akan melakukan semua yang kau katakan asal kau bebaskan sepupuku, so cepat lepaskan Zahra dan jangan pernah menyentuhnya atau aku akan membuat perhitungan denganmu."


"Hahahaha!!!" terdengar suara lelaki itu tertawa Setelah mendengar ancaman Nisa.


Nisa segera menutup ponselnya begitu panggilan itu sudah berakhir


Bagaimanapun juga Nisa merasa begitu khawatir dengan Zahra, hingga Gadis itu merasa lemas setelah mendengar melihat kondisi terakhir sepupunya itu.


Ia berusaha menguatkan dirinya sendiri dan kemudian menghubungi Herman untuk memberitahukan tentang keadaan Zahra.


Tidak lama Herman sudah tiba di tempat itu dan menghampiri Nisa yang duduk terdiam di bale.


"Dimana Za??" tanya Herman menghampirinya


Nisa kemudian memberikan ponselnya kepada lelaki itu.


"Dimana ini??"


Nisa hanya menggelengkan kepalanya.


"Kalau kamu sudah menerima telpon dari para penculik itu kau pasti tahu dimana mereka menyekapnya bukan??"


"Aku tidak tahu, mereka hanya menginginkan aku mundur sebagai kandidat Grand Master,"


"Lalu apa yang akan kau lakukan??"


"Hari ini aku akan menemui mereka dan menyerahkan surat pengunduran diri," jawab Nisa kemudian beranjak dari duduknya


"Bagaimana jika mere tidak melepaskan Za, setelah kau melakukan apa yang mereka minta??"


"Aku akan melaporkan mereka kepada polisi apapun resikonya, aku sudah jengah membiarkan mereka selama ini. Sudah cukup kesabaran ku. Sudah saatnya mereka menjalani karma yang sudah mereka perbuat,"


"Kalau begitu aku akan menemanimu," jawab Herman kemudian mengantarkan gadis itu ke kantor Grand Master


Keduanya kemudian melesat menuju Sudirman.


Setibanya di sana Keduanya segera menuju kantor Grand Master yang ada di lantai lima gedung.


Herman terkejut saat melihat Qinara ada di sana.


"Apa kamu sudah baikan Qin?" sapanya menghampiri gadis itu


"Alhamdulillah sudah, aku gak betah lama-lama di rumah sakit makanya aku buru-buru balik setelah dokter mengijinkan aku pulang," jawab Qinara


"Kenapa lo tgauwtv.k istàirahat saja, malah keluyuran sini


"Aku BT jika terus menerus di rumah, mending gue disini ada hiburan," jawab Qinara enteng

__ADS_1


Nisa terkejut saat melihat wajah Qinara.


Bukankah dia gadis yang waktu itu menghubungi polisi???


__ADS_2