
Pagi itu Qinara begitu terkejut saat polisi kembali menyatroni kediamannya.
"Ada apa lagi ini pak?" tanya gadis itu bertanya-tanya
"Hari ini kami membawa surat penyitaan rumah ini beserta isinya, atas perintah dari pihak pengadilan," jawab seorang polisi memberikan surat perintah penyegelan
"Memangnya kenapa rumahku harus di segel?" tanya lagi begitu cemas
"Sesuai perintah Pengadilan, rumah ini disita sebagai jaminan untuk melunasi hutang-hutang Saudara Bambang Hariman." sahut Sang Polisi
Seketika tubuh Qinara mendadak lemas mendengarnya. Dadanya terasa sesak seakan jantungnya berhenti berdetak.
Ingin rasanya berteriak dan meluapkan kemarahan di dadanya, namun percuma saja nasi sudah menjadi bubur. Meskipun ia menangis darah sekalipun tak akan merubah segalanya.
Gadis itu hanya bisa pasrah dan membereskan semua barang-barang pribadinya sesuai arahan polisi.
Ia berjalan gontai meninggalkan rumah itu.
Selamat tinggal my home sweet home, selamat tinggal hasil kerja kerasku. Semoga aku bisa menebus mu kembali.
Gadis itu berhenti sejenak dan menatap kearah rumahnya yang sudah dipasangi papan segel dari pihak Pengadilan.
Tiba-tiba seorang lelaki menarik lengannya.
"Mau kemana sayang?" tanyanya parau
"Aku akan mencari tempat tinggal sementara," jawab Qin
"Tidak ada yang lebih nyaman selain tinggal bersama keluarga, jadi tinggalah di rumahku. Toh itu akan menjadi rumah kamu juga setelah kita menikah nanti." ucap Indra
"Apa ayah ada di sana?" tanya gadis itu
"Iya ada," jawab Indra singkat
Qinara segera mengambil kembali tasnya dari tangan Indra.
"Maaf aku gak bisa kalau ada dia," jawab gadis itu kemudian bertolak meninggalkannya
"Kalau begitu biar ayah saja yang pergi!" seru Bambang tiba-tiba menghampiri keduanya
Mendengar suara ayahnya, seketika membuat Qinara langsung menghentikan langkahnya.
"Apa lagi yang akan ayah lakukan sekarang, apa semua ini belum cukup??. Kau sudah membuat ku bekerja keras bagai kuda, kau jual aku demi membayar hutangmu kepada Indra, sekarang kau juga merampas satu-satunya hasil kerja kerasku yang tersisa. Apa kau baru akan tobat setelah melihat aku menjadi mayat, sama seperti ibu yang bunuh diri karena tak kuat melihat kelakuan mu," ucap gadis itu berkaca-kaca
"Maaf Ndra, gue gak bisa tinggal di rumah lo, sorry," ucap Qinara kemudian berjalan meninggalkannya.
Ia kemudian menghentikan sebuah angkot dan pergi meninggalkannya.
Gadis itu mulai gamang saat berada di dalam angkot, ia bingung apa akan menginap di rumah Yuda atau mencari kos-kosan yang sudah di kenalnya.
Ia kemudian mengambil gawai pipihnya.
"Halo Yud, lo ada dimana?" tanya gadis itu hati-hati
__ADS_1
"Gue lagi di Bali, emang kenapa?" sahut Yuda
"Gak papa kok, tadinya mau main tapi Karena lo gak ada ya gak jadi," sahut Qinara
"Kalau mau mainmah main aja Qin, cuma ya gitu gue gak ada di rumah sekarang. Paling Minggu depan gue baru balik,"
"Ok Yud, yaudah met aktivitas ya,"
"Lo juga," sahut Yuda kemudian mematikan ponselnya
Qinara menghela nafas panjang, gadis itu kemudian turun di sebuah gang dan mencoba mencari kos-kosan. Namun ternyata mencari tempat tinggal tak semudah yang ia bayangkan, ia gagal mendapatkan kos-kosan sesuai yang diharapkan.
"Kalau gue nginep di hotel pasti boros banget, sedangkan gue harus menghemat untuk melunasi hutang ayah pada Indra yang tinggal lima puluh persen," gadis itu kemudian mengecek saldo rekeningnya.
"Hadeeh, gara-gara seminggu amsyong rekening juga terkuras habis," ucapnya lirih
Ia kemudian tersenyum tipis saat terbersit keramahan Mak Siti.
"Sepertinya ada tempat yg nyaman untuk gue tinggal sementara sambil nyari kosan," ucapnya sumringah
Ia kemudian turun dari angkot dan berjalan sebentar menuju rumah Herman.
"Bismillahirrahmanirrahim," ucap gadis itu memantapkan hatinya saat memasuki pintu gerbang Griya Si Pitung
"Ikan hiu makan burung belibis, eh ngomong-ngomong waktunya udah habis, jadi gimana tong?. Inget pria sejati gak boleh ingkar janji?" ujar Sabeni
"Iya Cang, aku terima nasib dengan terpaksa. Ikan Kerapu makan gulali, ok mari kita mulai saja acaranya," jawab Herman gusar
"Ikan bawal dimasak gulai, kuylah kita mulai!" sahut Sabeni
Berbeda dengan Haryati, Herman justru hanya bisa menunduk pasrah tanpa berani menatap wajah calon istrinya.
"Assalamualaikum," ucap seorang gadis cantik tersenyum di depan pintu
"Waalaikum salam," jawab semua orang serentak
Seketika Herman mengangkat wajahnya dan tersenyum lebar saat menatap wanita itu.
Alhamdulillah, akhirnya jodoh gue datang juga.
"Beli Roti ke pasar Pagi, beli durian ke Cikini. Maaf nih Cang Sabeni, sepertinya Herman gak jadi menikahi Neng Haryati, karena dedemenan aye udah datang dimari," ucap pemuda itu kemudian menghampiri Qinara
Lelaki itu segera mengulurkan tangannya dan mengajaknya duduk disampingnya.
"Ngomong-ngomong lagi ada acara apa nih, maaf ya kalau kedatangan saya menganggu," ucap Qinara saat semua orang yang ada disana menatapnya dengan tatapan tak suka
"Gak kok Neng, justru kamu datang disaat yang tepat," jawab Herman sumringah
"Maksudnya?" tanya Qinara masih belum paham
Herman kemudian membisikkan sesuatu kepada gadis itu membuatnya seketika mengangguk pelan.
"Iya sayang aku sengaja datang kemari sesuai permintaan kamu," ucap Qinara menggenggam erat jemari Herman
__ADS_1
"Makasih ya sayang sudah mau ngertiin aku," jawab Herman tersenyum lega.
Melihat kedekatan Herman dan Qinara akhirnya membuat Sabeni percaya jika keduanya memang sepasang kekasih. Ia kemudian pamit pulang bersama rombongan dan anak gadisnya.
"Alhamdulillah akhirnya kelar juga, thanks ya Qin," ucap Herman kemudian memeluk erat gadis itu
"Sama-sama Om, btw aku juga mau minta tolong sama lo boleh kan?" sahut gadis itu melepaskan pelukannya
"Tentu saja, apa sih yang gak buat Qinara," jawab Herman bangga
"Gue boleh gak nginep disini untuk sementara waktu sampai gue dapat kosan," ucap gadis itu hati-hati
"Tentu saja Neng, mau sehari, seminggu, sebulan, atau selamanya lo boleh kok nginep di mari. Apalagi kalau lo mau jadi calon istri Om, pasti gue bahagia sekali," sahut Om tersipu-sipu
"Ikan hiu pakai salep, dih ngarep!" cibir Mak Siti
"Ikan buntal keselek panci, mak jangan ngiri," sahut Herman
"Ikan Piranha makannya kerang, ngapain gue ngiri kalau calon bapak lo bentar lagi datang," jawab Siti kemudian merapikan penampilannya
"Dih, siapa Mak yang mau datang?" tanya Herman penasaran
"Calon Baba lo," sahut Siti
"Buseet, beneran nih Mak?" tanya Herman kembali memastikan
"Ikan Hiu beli baju di Thamrin city, ya kali gue boongan lihat saja tuh bang Sobri sudah menuju kemari?" jawab Emak segera berlari menyambut kedatangan seorang lelaki hitam manis yang berdiri didepan pintu.
"Ikan buntal main ke rawa-rawa, Neng Siti yang bohay gimana kabarnya?" tanya lelaki itu sumringah
"Ikan Nila makan Kue moci. Alhamdulillah Neng baik bang Bri," jawab Siti tersipu-sipu
"Beli baju ke pasar tanah Abang, beli parsel ke pasar Cikini, Hei Cang yang ngakunya tampan, mau apa datang kemari," ujar Herman menatapnya geram
"Ikan Pari, main di kali. Kedatangan aye kemari ingin bersilaturahmi dengan calon bini eaaa," jawabnya bangga
"Dih kepedean, emangnya situ yakin bakal di terima Emak!" cibir Herman
"Alhamdulillah kalau Neng siti mah sudah menerima Abang apa adanya. Tinggal kamu aja tong yang belum kasih lampu hijau," sahut Bridav
"Ada yang bilang tak kenal maka tak gampar, so biar gak di gampar sama si Herman, buruan abang kenalin diri gih," ucap Siti
"Ok Neng,"
"Kenalin gue Muhammad Sobri Davka, atau lebih akrab disapa Bridav," ucap lelaki itu mengulurkan tangannya
"Lelaki paling tampan di Jagakarsa Herman," jawabnya singkat
"Btw status om apa nih, perjaka, duda, atau Jaka Tarub (Perjaka tua karena gagal ta'aruf)?" tanya Herman lagi
"Duku Manis ( Duda, keren, unyu-unyu, mapan dan romantis)," sahut Lelaki itu penuh percaya diri
"Dih abang bisa aja," ucap Siti bergelayut manja di lengannya
__ADS_1
"Dih alay!" cibir Herman