
Sekumpulan dokter terlihat turun dari lantai dua setelah selesai dengan acara makan siang di restoran. Beberapa dari mereka sudah ada yang pergi terlebih dahulu dan hanya tersisa empat dokter dari spesialis bedah.
"Itu bukannya Dokter Bian ya." Danu menunjuk ke salah satu sudut ruangan yang dimana disana ada Fabian tengah makan dengan Maura.
"Betul." Sahut Irene. "Tapi siapa wanita itu? Apa Dokter Bian sudah punya pacar baru lagi setelah kemarin baru saja cerai?" Dengan ceplas-ceplos Irene berpendapat seperti itu di hadapan Raka yang sejatinya mantan ipar dari Fabian.
"Kau!! Diam lah!" Gerry menutup mulut Irene supaya tidak mengatakan apapun lagi, karena Irene belum tahu kalau mantan istri Fabian adalah adiknya Raka.
Apalagi sampai detik ini hubungan Fabian dengan Raka masih dibilang tidak baik-baik saja. Raka masih menunjukkan rasa tidak sukanya pada Fabian karena sudah menyakiti Aurel. Ditambah apa yang mereka lihat saat ini, Gerry yakin kalau Raka semakin tidak menyukai Fabian bahkan tidak mau memaafkan Fabian dan berpikir Fabian memang lelaki jahat yang suka main wanita.
"Ayo kita pergi." Ajak Gerry yang masih menutup mulut Irene dengan sebelah tangannya. Danu menyusul, dia tidak mau ikut campur.
Raka sendiri terlihat menatap tajam pada Fabian yang tengah asik makan bersama Maura. Kedua tangannya menggenggam erat bahkan urat pada lengannya terlihat menonjol. "Kenapa harus Maura." Gumam Raka menatap tidak suka dengan kedekatan antara Fabian dengan Maura. Dengan menahan amarah, Raka pergi dari restoran tersebut dan kembali ke rumah sakit.
"Cepatlah!! Aku ingin pulang dan istirahat." Ucap Maura yang susah lelah menunggu Fabian yang tidak kunjung mengatakan sesuatu padahal makanan mereka sudah hampir habis.
Fabian melihat jam yang melingkar dipergelangan tangannya. Sudah hampir setengah jam mereka disana dan sudah juga hampir jam satu siang. Ini memang waktunya istirahat, pasti Maura sudah lelah, pikir Fabian mengingat Maura tengah hamil muda.
__ADS_1
Fabian mengambil nafas sejenak dan dihembuskan perlahan. "Masih sama seperti yang kemarin. Aku mau minta maaf sama kamu." Ucap Fabian dengan sungguh-sungguh.
"Aku tidak akan memanfaatkan kamu." Balas Maura cepat.
Fabian mengembuskan napas kasar mendengar balasan yang Maura berikan kepada dirinya. "Baiklah, aku terima kalau kamu tidak memaafkan aku. Semua memang karena salah aku yang mabuk malam itu." Ujar Fabian yang terima dengan Maura tidak mau memaafkan dirinya.
Tanpa melihat Fabian, Maura menggigit bibir bawahnya. Bukan hanya Fabian saja yang mabuk, bahkan dirinya juga mabuk malam itu. Apa Fabian tidak ingat, pikir Maura. Apalagi malam itu dirinya sempat menyebut nama Rafa karena Maura pikir dirinya tengah bercinta dengan Rafa.
"Tapi untuk tanggung jawab, aku akan tetap tanggung jawab atas perbuatan ku. Aku bersedia menikah dengan kamu." Ucap Fabian dengan menatap Maura yang sama sekali tidak mau membalas tatapannya.
"Aku tidak bersedia." Jawab Maura cepat. "Tanggung jawab tidak harus selalu menikahi korban." Ucap Maura yang kali ini dia membalas tatapan Fabian. Siapa yang mau jadi istri kedua, batin Maura yang memang tidak menginginkan pertanggung jawaban dari Fabian.
"Kamu nggak usah terlalu berpikir jauh. Kamu tenang saja, aku akan memberi tahu pada dia nantinya kalau kamu Ayahnya. Untuk selebihnya aku bisa urus sendiri tanpa bantuan kamu. Dan perlu kamu ingat. Ini anak aku, bukan anak kamu." Maura menegaskan kembali pada Fabian. Dia juga tidak mungkin selamanya akan menyembunyikan dari anaknya siapa ayah biologisnya. "Permisi!" Maura berdiri dari duduknya.
"Tunggu sebentar!" Fabian memegang pergelangan tangan Maura dan meminta Maura untuk duduk kembali. "Sebentar saja." Pinta Fabian.
Dengan kesal akhirnya Maura kembali mendaratkan pantatnya diatas kursi. Dia sudah muak dengan permintaan Fabian. Tidak perlu bantuan Fabian dia sendiri bisa mengurus anaknya nantinya. Dia punya segalanya, pastinya anaknya nanti akan hidup tercukupi dan penuh kasih sayang. Tidak hanya dari dirinya, tapi dari Oma Opanya juga Aunty Uncle nya juga.
__ADS_1
"Baiklah. Aku terima kamu tidak memaafkan aku. Aku juga terima kalau kamu tidak mau menikah dengan aku. Tapi untuk satu ini, mohon diterima. Aku ingin bertanggung jawab atas anak kita. Dan aku mohon jangan kamu tolak untuk permintaan ku satu ini. Dia juga anak aku, darah daging ku. Biarkan aku ikut tanggung jawab mulai sekarang. Aku akan berusaha mewujudkan apapun keinginan dia mulai dari dia masih didalam perut sampai dia keluar nantinya. Aku mohon!! Untuk satu ini jangan halangi aku." Fabian mengatakan keinginannya dengan sangat tulus dari lubuk hati terdalam. Dia juga ingin ikut andil dalam merawat anak mereka meski dirinya sama Maura tidak memiliki hubungan apapun.
Maura diam saja, pikirannya justru mengingat kenangannya dulu saat masih kecil dan belum mengetahui siapa Ayahnya. Dirinya yang sering di-bully, dirinya yang selalu iri melihat temannya diantar jemput Ayah mereka waktu sekolah, dibelikan mainan sama Ayah mereka dan masih banyak lagi. Dirinya juga yang selalu melihat Bundanya menangis tiap malam. Apa nanti anaknya juga akan bernasib sama seperti dirinya kalau dipisahkan sama Ayahnya, pikir Maura. Tapi dia tidak ingin nasib anaknya nanti seperti dirinya.
"Ra!!" Fabian menyentuh tangan Maura yang ada di atas meja. "Kamu mau kan menuruti permintaan ku yang satu ini." Fabian sangat berharap Maura menyetujui permintaan darinya.
Maura yang sudah tersadar dari lamunannya, dia menatap Fabian dengan bingung. Dia bingung harus menjawab apa. Pikirannya menolak permintaan Fabian karena dia tidak ingin berurusan lagi dengan Fabian. Tapi hati kecilnya menyetujui permintaan Fabian mengingat nasib anak yang masih dikandungnya.
"Bagaimana?" Fabian masih menunggu jawaban yang Maura berikan. Dia tahu, pasti saat ini Maura masih bingung dilihat dari pergerakan mata Maura.
Belum juga Maura membuka mulutnya, ponsel Fabian berdering dan ada panggilan masuk dari Vira. "Ada apa, Vir?" Tanya Fabian setelah mengangkat sambungan telepon. Fabian mendengarkan apa yang Vira sampaikan sambil terus menatap Maura yang juga menatapnya.
"Baiklah, aku kesana sekarang. Kamu tangani dulu pasiennya." Ucap Fabian dan segera mengakhiri sambungan telepon dari Vira.
"Aku harus kembali ke rumah sakit. Ada pasien darurat." Fabian memberi tahu pada Maura sambil mengeluarkan sebuah kartu dari dalam dompetnya. "Aku tunggu jawaban dari kamu." Ucap Fabian sebelum pergi dan meninggalkan lima lembar uang seratus ribuan diatas meja.
Maura mengambil kartu yang Fabian berikan tadi. Dia melihat kartu nama itu. "Fabian Arbie Nugraha, Sp. BS." Gumam Maura menyebut nama yang tertera pada kartu. "Jadi dia dokter spesialis bedah saraf." Gumam Maura lagi setelah mengetahui gelar Fabian.
__ADS_1
Maura melihat lagi nomor telepon yang ada di kartu nama itu. "Nomornya masih sama." Ucap Maura lirih. Dia masih ingat betul sama nomor telepon milik Fabian.
"Apa kamu menginginkan Papa kamu itu, nak?" Maura mengusap perutnya yang masih rata. "Mama tidak yakin. Papa kamu sudah nikah dan punya seorang istri. Dia juga sudah memiliki seorang anak. Apa kamu mau kita jadi yang kedua? Kalau Mama tidak mau. Lebih baik kita hidup berdua saja. Kamu sama Mama."