
Sore itu, sebuah mobil melewati gerbang dan masuk ke pelataran rumah mewah milik keluarga Abrisam. Terlihat sepasang pengantin baru turun dari mobil dan segera masuk kedalam rumah. Keduanya mengucapkan salam, namun tak ada satupun salam dari mereka ada yang jawab.
"Kemana mereka?" Tanya Maura yang entah ditujukan kepada siapa. "Biasanya jam segini sudah ramai." Sambungnya dengan suara pelan.
"Mungkin mereka ada dikamar atau mungkin lagi olahraga." Tebak Fabian asal karena dirinya belum tahu kebiasaan di keluarga Abrisam seperti apa kesehariannya.
"Maybe." Balas Maura sambil mengangkat kedua bahunya. Dia juga tidak tahu pasti sedang apa yang dilakukan orang rumah saat ini.
"Aku mau ambil minum dulu, kamu duluan aja ke kamar." Kata Maura meminta Fabian untuk lebih dahulu masuk kedalam kamar.
"Aku nunggu kamu aja, takut nyasar." Balas Fabian yang membuat Maura tertawa ngakak. Suaminya itu ada-ada saja, padahal pagi tadi mereka sebelum ke tempat kerja sudah mampir dulu kesini dan sudah melihat kamarnya. Dan lagi dulunya Fabian juga pernah masuk ke kamarnya saat dirinya sakit hingga pendarahan. Tapi kenapa juga sekarang bilang takut nyasar. Aneh, pikir Maura.
"Ya sudah kamu tunggu disini, jangan kemana-mana sebelum aku kembali." Maura mendudukkan Fabian di kursi meja makan, setelahnya dia berlalu masuk ke dapur bersih untuk mengambil minuman dingin didalam kulkas.
"Ayo!!" Fabian yang tengah memainkan ponselnya mengalihkan pandangannya ke Maura yang sudah membawa minuman isotonik dua botol. Dia berdiri dan mengikuti langkah Maura yang sudah berjalan terlebih dahulu didepannya.
"Ini minum!!" Maura memberikan minuman isotonik itu pada Fabian setelah kedua sampai di kamar mereka. Keduanya duduk di sofa.
"Makasih, Amor." Ucap Fabian yang dibalas senyuman sama Maura juga gerakan kedua alis terangkat keatas.
"Kamu mandi dulu sana, nanti aku ajak home tour biar tidak nyasar." Ujar Maura setelah menyegarkan tenggorokannya dengan minuman isotonik.
"Kenapa kita tidak mandi barengan biar selesainya cepat?" Fabian memberikan saran dengan menatap mesum sang istri yang duduk disebelahnya.
"Yang ada nanti akan tambah lama." Sahut Maura yang tidak setuju dengan saran sang suami. "Sudah sana kamu mandi duluan." Maura mendorong tubuh Fabian untuk segera pergi mandi.
"Nggak mau kalau nggak sama kamu." Tolak Fabian yang tidak mau beranjak pergi mandi. Dia masih bergeming ditempatnya meski Maura mencoba mendorong tubuhnya untuk segera pergi mandi.
Maura menghembuskan nafas kasar, wajahnya terlihat kesal karena Fabian tidak mau menurut dengan dirinya. Dia bukannya tidak mau mandi bersama Fabian, dia yakin kalau mereka nanti mandi bersama yang ada bukannya hanya mandi, tapi melakukan hal yang lain juga. Seperti pagi tadi saat mereka mandi bersama, Fabian meminta jatah dan mereka melakukan dikamar mandi sebelum akhirnya benar-benar mandi.
"Ya sudah, ayo!!" Maura dengan terpaksa berdiri dari duduknya dan berjalan terlebih dahulu masuk kedalam kamar mandi. Dia pasrah kalau Fabian nantinya akan kembali menikmati tubuhnya, mereka juga sudah halal jadi tidak masalah kalau saling menikmati tubuh satu sama lain. Lagian dia juga menikmati sentuhan yang Fabian berikan untuk dirinya.
Fabian tersenyum tipis melihat Maura yang sudah masuk ke kamar mandi. Dia lantas berdiri dan menyusul sang istri yang akan menjalani rutinitas mandi sore.
"Kenapa tadi hanya mandi saja, tidak melakukan aktivitas panas?" Tanya Maura setelah keluar dari dalam kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya yang basah.
"Kan aku tadi bilang mau mandi sama kamu." Jawab Fabian yang melakukan hal yang sama seperti Maura, mengeringkan rambut dengan handuk kecil. "Kenapa?" Tanya Fabian mendekat pada Maura. "Apa kamu berharap aku menyentuh mu lebih dalam lagi seperti sebelumnya?" Bisik Fabian tepat ditelinga sang istri.
"Apaan sih." Maura memalingkan wajahnya yang terasa panas dan juga malu bercampur jadi satu. Bisa-bisanya dia tadi bertanya seperti itu hingga membuat Fabian menggodanya. Maura merutuki mulutnya yang seenaknya berkata seperti tadi.
Fabian tertawa senang melihat sang istri yang wajahnya memerah juga malu-malu. Apalagi melihatnya saat salah tingkah. Ingin rasanya dia mengurung Maura dalam dekapannya sepanjang hari tanpa dilepasnya.
Keduanya kini sudah keluar kamar dan Maura mulai mengenalkan setiap sudut rumah keluarga Abrisam pada Fabian. Mulai dari lantai tiga, lantai dua sampai lantai satu. Tidak ada satu tempat pun yang Maura lewatkan supaya suaminya itu tidak menyasar saat mencari sesuatu.
Fabian hanya menatap kagum saat Maura mengenalkan setiap sudut rumah keluarga Abrisam. Semuanya terlihat mewah juga mahal dan tertata rapi dan bersih, satu lagi tidak ada tempat yang bau, semuanya harum dan terasa dingin, sudah seperti masuk kedalam mall. Sungguh semua ada di rumah itu, tidak seperti di rumahnya yang hanya itu-itu saja.
"Sepertinya aku akan betah tinggal di rumah ini." Kata Fabian saat keduanya kini ada di dekat kolam renang yang luas dan ada beberapa tingkat kedalam. Matanya menatap sekeliling luar rumah yang masih luas juga masih ada beberapa bangunan yang tidak jauh dari rumah utama.
"Kamu mau kita tinggal disini?" Tanya Maura menatap Fabian yang masih mengagumi setiap sudut rumahnya.
"Ya maulah, siapa yang gak mau tinggal di rumah yang fasilitasnya lengkap seperti ini." Jawab Fabian cepat secara realistis. Siapa juga yang tidak mau tinggal dan hidup di rumah mewah yang serba ada.
"Iya sih. Tidak ada yang menolak kalau ditawari tinggal disini." Sahut Maura yang mengalihkan pandangannya pada air tenang di kolam renang. Tatapannya terlihat sendu. "Tapi aku justru ingin hidup sederhana setelah menikah. Tinggal berdua bersama suami juga anak-anak nantinya. Tidak ikut orang tua maupun mertua. Aku ingin menjadi istri, ibu rumah tangga pada umumnya yang mengerjakan tugas rumah, mengurus suami juga anak sendiri." Ucap Maura lirih. Dia sepertinya bosan hidup dengan serba ada juga serba berkecukupan. Dia ingin hidup sederhana, tapi bukan seperti dulu saat dia masih kecil. Sederhana yang Maura inginkan adalah tidak memikirkan soal kerja maupun gaji, tapi kalau dia ingin apapun bisa membelinya saat itu juga.
__ADS_1
Fabian yang berdiri di samping Maura mengalihkan pandangannya pada Maura. Dia menatap sang istri yang baru saja mengatakan keinginannya yang hanya ingin menjadi istri dan juga ibu rumah tangga. Sungguh keinginan yang sangat mulia. Fabian sangat tersentuh akan keinginan Maura. "Sungguh mulia sekali keinginan istri aku."
Maura menoleh dan tersenyum tipis pada Fabian, ternyata suaminya itu mendengar apa yang dia ucapkan meski dengan suara lirih.
"Aku juga setuju setelah menikah memiliki rumah sendiri, tinggal berdua bersama istri dan anak, tanpa campur tangan orang tua." Fabian meraih tangan Maura dan dia genggam kedua tangan sang istri dengan erat. "Tapi aku tidak akan membiarkan kamu terjun langsung mengurus rumah tangga. Aku akan tetap mencarikan ART untuk membantu kamu. Aku tidak ingin kamu lelah. Aku hanya ingin kamu fokus pada suami kamu juga anak kita nanti dan fokus pada diri sendiri juga jangan dilupakan." Sambung Fabian sambil menatap lembut mata Maura.
Maura tersenyum terharu dengan apa yang dikatakan Fabian. Suaminya itu setuju dengan keinginannya meski tetap ada yang akan membantu dirinya nantinya. Maura melepaskan tangannya yang digenggam sama Fabian dan memeluk tubuh sang suami dengan erat. "Terima kasih." Ucap Maura lirih.
Fabian tersenyum tipis, dia membalas pelukan Maura san mengelus lembut punggung sang istri juga sesekali mencium puncak kepala sang istri dengan sayang. "Maaf ya rumah kita masih dalam tahap renovasi. Nanti kalau sudah selesai kita akan segera pindah. Kita nikmati dulu kemewahan yang ada di rumah mewah milik Ayah."
Maura tertawa mendengar ucapan frontal yang keluar dari mulut Fabian. Maura menjauhkan kepalanya supaya bisa melihat wajah sang suami tanpa melepaskan pelukannya. "Kalau begitu kita tinggal disini seminggu, kita nikmati sepuasnya kemewahan dirumah Ayah sebelum kita kembali ke istana kita." Timpal Maura menyetujui Fabian untuk menikmati kemewahan yang ada di rumah keluarga Abrisam.
"Kenapa hanya seminggu? Selamanya yang kalian mau juga akan Ayah ijinkan."
Maura sama Fabian langsung melepas pelukan mereka saat mendengar suara Bryan juga langkah kaki beberapa orang. Keduanya melihat Bryan yang datang bersama Freya juga ketiga anaknya yang masih sekolah. Terlihat mereka sepertinya baru saja selesai olahraga bulu tangkis.
"Kalau itu yang Ayah mau sih kita tidak keberatan." Sahut Maura dengan tersenyum manis pada Bryan.
"Bilang saja nggak bisa ninggalin kemewahan." Ejek Attar yang langsung berlalu pergi disusul Nadia juga Shaqila yang selalu mengikut kemanapun Attar pergi.
Maura menunjuk Attar dengan menahan geram dan amarah. Ingin sekali rasanya dia mengejar adiknya itu, tapi tidak dia lakukan.
"Maura!! Maura!!!"
Terdengar teriakan dari dakam rumah membuat mereka semua yang masih ada di halam belakang menoleh ke arah pintu rumah. Terlihat Amelia berlari dengan nafas ngos-ngosan.
"Maura!!" Amelia mengatur nafasnya setelah berada dihadapan Maura.
"Anggie, Ra." Ucap Amelia terbata.
"Anggie kenapa?" Tanya Maura lagi.
"Anggie hilang. Nggak ada di apartemennya. Apartemennya juga berantakan. Aku nemu ini." Amelia mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.
Maura menutup mulutnya tak percaya dengan apa yang ditemukan Amelia dalam apartemennya Anggie. Sebuah test pack bergaris dua juga ponsel milik Anggie dan sebuah catatan dalam mini note book. Dengan tangan bergetar Maura mengambil mini note book itu dan membaca isinya. Air matanya menetes saat membaca pesan yang dicatat dalam mini note book itu.
"Mike!! Siapa Mike?" Tanya Fabian karena tidak mengenal siapa Mike yang ada di tulisan pesan Anggie.
"Apa Mike sudah keluar dari penjara?" Tanya Freya menatap Bryan.
"Aku nggak tahu. Kalau dari pesan itu sudah membuktikan kalau Mike sudah bebas. Kejadian itu juga sudah berlangsung lama. Kemungkinan dia juga sudah bebas." Jawab Bryan.
"Ayah!! Ayah bantuin Anggie. Cari Anggie, Ayah. Aku nggak mau Anggie trauma lagi. Aku nggak mau terjadi sesuatu pada Anggie. Bantu cari Anggie, Ayah." Maura menangis sambil memegang tangan Bryan. Dia tidak ingin terjadi sesuatu hal yang buruk terjadi pada Anggie. Anggie adalah teman pertamanya saat sekolah di Sydney. Meski usia keduanya berbeda empat tahun lebih tua Anggie, tapi pertemanan mereka sudah terjalin sangat lama.
Saat Anggie mengalami tragedi dua belas tahun lalu, Maura lah yang membantu lewat bantuan Bryan tentunya. Maura juga yang membawa Anggie ke Indonesia untuk melupakan kejadian mengerikan itu dan meninggalkan kedua orang tuanya yang masih memilih tetap tinggal di Sydney.
"Kamu tenang, Ayah akan mencari tahu dulu." Kata Bryan dengan mengusap lembut lengan Maura. Setelahnya dia berlalu pergi menuju ruang kerjanya. Dia juga meminati Fabian ikut dengan dirinya.
"Kalian berdua tenang dulu. Bunda yakin Anggie akan ketemu dengan selamat." Freya memeluk tubuh Maura juga Amelia yang menangisi nasib Anggie.
🌷🌷🌷
Sampai malam Maura terlihat gelisah menunggu kabar dari Bryan yang belum juga keluar dari ruang kerja padahal Rendy, Bara juga Alex, tak ketinggalan Evan juga sudah datang setelah mendapat panggilan dari Bryan. Tapi ini sudah jam sembilan malam dan belum dapat kabar apapun tentang keberadaan Anggie.
__ADS_1
Maura berjalan mondar mandir sambil sesekali melihat kearah pintu ruang kerja sang Ayah. Disana juga ada Amelia yang duduk, dia juga masih terlihat sedih menunggu kabar dari Bryan tentang keadaan Anggie.
"Kalian makan dulu. Dari tadi kalian belum ada yang makan satupun." Freya datang membawa makanan untuk Maura juga Amelia yang masih sedih dan sesekali menangis.
"Bagaimana Maura bisa makan, Bun? Maura saja belum tahu bagaimana nasib Anggie di luar sana." Maura kembali menangis. Dia terduduk di sofa dengan kedua tangan menangkup wajahnya yang basah karena air mata.
Freya menghembuskan nafas perlahan, dia duduk disamping Maura dan dipeluknya dari samping putrinya itu. "Bunda tahu apa yang kamu rasakan. Lebih baik kita berdoa, semoga Anggie baik-baik diluar sana dan segera ditemukan. Semoga Mike tidak berbuat lebih hingga menyakiti Anggie." Dengan lembut Freya memberi pengertian pada Maura. Menangis terus tidak akan menyelesaikan masalah, lebih baik berdoa dan yang tengah berusaha mencari keberadaan Anggie segera berhasil menemukannya.
"Paman!! Bagaimana? Apa Anggie sudah ketemu?" Tanya Amelia saat melihat Bryan keluar dari ruang kerja bersama Fabian juga.
Maura langsung berdiri dari duduknya saat mendengar suara Amelia yang bertanya pada Ayahnya, diikuti Freya juga.
"Bagaimana, Ayah?" Tanya Maura menatap penuh harap Ayahnya datang membawa kabar baik.
"Anggie dibawa pergi Mike ke arah Bandung. Ayah juga sudah meminta polisi untuk mengejar keberadaan Mike. Saat ini Mike dalam status buronan. Untuk titik lokasi keberadaan Anggie dimana masih belum diketahui. CCTV terakhir terlihat mereka ada di sebuah swalayan." Ungkap Bryan setelah beberapa jam mencari informasi keberadaan Anggie.
"Ya Allah, semoga Anggie cepat ketemu sebelum Mike berbuat lebih pada Anggie." Harap Maura dalam doa dan keinginannya tentang Anggie.
"Kamu tenang saja. Mike belum tahu betul jalanan ibukota, pasti dengan cepat polisi bisa menangkapnya dan menemukan Anggie." Ujar Bryan mengingat ini pertama kalinya Mike menginjakkan kaki di tanah air.
"Kenapa Mike tega banget? Padahal Anggie itu adik kandungnya sendiri." Amelia terlihat geram dengan kelakuan bengis Mike. Meski dia tidak begitu mengenal Mike, tapi dia tahu cerita tentang Mike dari Anggie juga Maura.
"Mike bukan kakak kandung Anggie. Mereka tidak ada hubungan darah."
Semua mengarahkan pandangannya pada Bryan, mereka begitu kaget dengan sebuah fakta yang baru saja mereka dengar.
"Sejak kapan Ayah tahu?" Tanya Maura penasaran karena sebelumnya Ayahnya itu tidak pernah mengatakan apapun tentang keluarga Anggie.
"Sejak kamu memutuskan membawa Anggie ke Indonesia, lima tahun lalu. Ayah menyelidiki keluarganya." Jawab Bryan dengan tenang. Dia tidak mungkin membiarkan putrinya berteman dengan sembarang orang, maka dari itu dia menyelidiki Anggie diam-diam tanpa sepengetahuan Maura.
"Jadi Mike yang selama ini Anggie anggap kakak kandungnya sendiri itu adalah orang lain." Gumam Amelia yang tidak menyangka kalau ternyata Mike bukan kakak kandung Anggie. Ada baiknya juga karena tidak ada hubungan darah, tapi tetap saja apa yang dilakukan Mike itu salah. Ingin rasanya Amelia mencakar, menendang dan menginjak kepala Mike hingga pecah.
"Benar. Dan sepertinya kedua orang tua Anggie belum mengetahui fakta tentang itu. Apalagi ibu kandungnya Mike sudah meninggal sejak lama sebelum kejadian waktu itu." Tebak Bryan mengingat saat kejadian waktu itu kedua orang tua Anggie juga sangat terpukul bahkan keduanya sampai masuk rumah sakit.
"Bry, kita pergi dulu. Mereka terlihat di pinggiran kota." Ucap Bara yang langsung bergegas pergi dengan menyeret Evan.
"Pinjam mobilnya." Rendy mengangkat kunci mobil yang ada ditangannya, dia tunjukkan pada Bryan. Tanpa menunggu jawaban dari Bryan, Rendy juga langsung bergegas pergi menyusul Bara juga Evan.
"Paman nggak ikut mereka?" Tanya Maura saat melihat Alex yang baru saja keluar dari ruang kerja dengan berjalan santai.
"Kolesterol Paman lagi naik, nggak bisa ikut kejar-kejaran." Jawab Alex yang beralasan. Padahal dia sehat saja, karena pagi tadi habis check up. Dia hanya malas, sebenarnya tadi juga diminta ikut, tapi alasan kolesterolnya naik.
"Kamu ikut mereka!" Perintah Bryan pada Fabian. "Kalau terjadi sesuatu, ada seorang dokter yang bisa langsung mengobati." Sambung Bryan.
"Baik Ayah." Ucap Fabian menyanggupi perintah yang diberikan untuk dirinya.
"Amor, aku pergi dulu. Doain suami kamu selamat sampai rumah." Maura mengangguk saat Fabian berpamitan pada dirinya.
"Jaga diri baik-baik, jangan sampai terluka, pulang dengan selamat dan jangan lama-lama." Pesan Maura yang membantu yang lainnya hanya bisa geleng kepala melihat pengantin baru itu.
"Perasaan kita dulu nggak seperti itu." Bisik Bryan pada Freya. Melihat cara berpamitan Fabian dengan Maura yang terlalu berlebihan menurutnya. Pakai acara Fabian mencium wajah Maura juga bibir Maura, berpelukan juga salim tangan.
"Nggak usah pura-pura lupa. Ini bukan judul lagu."
__ADS_1