One Night Romance

One Night Romance
Bab 67


__ADS_3

Pagi menyapa, di kamar sepasang pengantin baru di kediaman Sandi terlihat tidak terdengar suara sama sekali padahal didalamnya ada sepasang suami istri tengah melakukan persiapannya masing-masing sebelum berangkat kerja.


Maura terlihat duduk didepan meja rias dan tengah memakai skincare serta tidak lupa mengaplikasikan alat make up pada wajahnya. Tidak tebal, tipis-tipis saja sesuai kesehariannya yang memang tidak begitu suka ber-make up tebal.


Berbeda dengan Maura, Fabian yang baru saja selesai mandi terlihat bingung karena pakaian yang akan dia gunakan untuk bekerja belum disiapkan. Fabian membuka pintu almari dan mencari kemeja untuk dia gunakan, namun tidak ada satupun kemeja yang bisa dia pakai. Adapun itu sudah kekecilan, mengingat tubuh Fabian sekarang lebih berisi, tapi tidak gemuk. Apalagi dia juga jarang menginap di rumah orang tuanya dan hampir semua barang miliknya sudah dia pindahkan ke rumahnya sendiri.


"Mor!! Apa kemarin kamu memasukkan kemeja aku juga?" Tanya Fabian berjalan kearah Maura yang masih fokus dengan berhias dengan bertelanjang dada dan hanya memakai handuk sebatas pinggang sampai lutut.


Maura yang tengah fokus menata gaya rambutnya hanya melihat pantulan Fabian dari cermin dihadapannya tanpa mengeluarkan suara. Maura menelan saliva susah payah saat melihat tubuh polos sang suami, dimana perut kotak-kotak itu membuatnya gemas. Ingin rasanya Maura memegang perut kotak-kotak itu, tapi tidak akan Maura lakukan mengingat tadi malam Fabian tidak melanjutkan aksinya dan justru meminta dirinya untuk memijat pundak. Padahal malam tadi Maura sudah basah hanya karena ciuaman yang Fabian berikan juga karena khayalan yang ada dalam otaknya. Semuanya sirna dan justru Fabian hanya memintanya untuk memijat pundak. 


"Amor!!" Seru Fabian memanggil Maura kembali karena tidak ada jawaban dari istrinya itu. Fabian menghembuskan nafas perlahan. Pasti Maura masih kesal karena semalam, pikir Fabian mengingat malam tadi Maura saat memijat pundaknya dengan sangat kasar dan sepertinya memang Maura kesal karena dirinya tidak melanjutkan aktivitas panas bercinta mereka. "Baiklah aku cari sendiri." Cup.


Maura melirik Fabian yang kembali melangkah ke arah almari pakaian. Maura mengangkat tangan kirinya dan memegang pipi kirinya yang dikecup Fabian. Senyum samar terlihat terbit di kedua sudut bibirnya. Maura segera menyelesaikan tatanan rambutnya dan bergegas membantu Fabian mencari kemeja yang bisa dipakai untuk bekerja. Bukan karena Maura luluh hanya karena kecupan yang Fabian berikan untuknya tadi, tapi karena dia tidak mau menjadi istri yang durhaka karena mengabaikan suami. Dia harus melayani suaminya sepenuh hati biar suaminya tidak mencari pelayanan di luar sana. Kalau sampai itu terjadi, Maura tidak akan pernah mau memaafkan Fabian.


"Biar aku bantu." Maura merampas kemeja yang baru saja Fabian dapatkan dari dalam koper miliknya yang memang dirinya kemarin sempat membawa beberapa baju milik suaminya itu juga.


Fabian diam saja, dia tersenyum samar dan membiarkan istrinya itu memakaikan kemeja pada tubuhnya. Dia menunduk, menatap Maura yang diam saja saat memasang kancing kemejanya. Senyum tipis nan samar masih terlihat di bibirnya, Fabian terlihat gemas pada istrinya yang masih merajuk karena malam tadi saat dirinya memberi pelajaran.


Grepp


Fabian membawa tubuh Maura dalam dekapannya. "Maaf ya. Semalam aku memintamu untuk memijat pundak ku." Ucap Fabian lirih. Sebenarnya dia tidak perlu meminta maaf untuk hal tadi malam, karena itu bukan termasuk sebuah kesalahan. Tapi tetap saja Fabian meminta maaf karena sudah meminta Maura untuk memijat pundaknya.


Maura diam saja, dia tidak membalas pelukan dari Fabian. Kedua tangannya berada disisi kemeja Fabian bagian bawah, Maura merem mas kuat sisi kemeja yang Fabian kenakan. Maura memejamkan matanya saat mendengar permintaan maaf dari Fabian hanya karena dirinya kesal telah memijat suaminya sendiri. Tidak seharusnya Fabian meminta maaf pada dirinya hanya karena soal tadi malam.


"Aku yang seharusnya meminta maaf karena tidak izin dulu saat bertemu Dokter Raka." Maura mengangkat kepalanya menatap Fabian. Dia merasa bersalah karena sudah bertemu dengan lelaki lain tanpa memberi tahu terlebih dahulu pada Fabian. 


Fabian mengangguk sambil memejamkan mata sejenak, dia juga terlihat tersenyum tipis. "Iya, tapi jangan diulangi lagi. Entah itu sengaja maupun tidak, kamu harus memberi tahu pada suami kamu ini." Ujar Fabian sambil mengusap wajah cantik Maura dengan punggung tangannya. Wajah cantik dengan kulit putih bersih mulus dan sangat lembut. "Maaf juga soal tadi malam." 

__ADS_1


Maura mengangguk kepala sekali, dia juga memperlihatkan senyumannya. "Nggak apa. Nggak seharusnya kamu minta maaf soal itu. Aku aja yang menanggapinya berlebihan. Marah kesal nggak jelas sama kamu." Ucap Maura yang menyesal karena kekesalannya yang tidak beralasan.


Fabian tersenyum kecil, dia mengangkat dagu Maura dengan tangan kanannya yang tadi dia gunakan untuk mengusap wajah Maura. Fabian memiringkan kepalanya dengan mata terpejam, perlahan dia mencium bibir Maura dengan lembut. Hanya menempel, tanpa melum mat, tapi sangat lama dia memberikan ciuman yang terasa kecupan itu.


Maura yang tadi juga ikut memejamkan matanya, kini kedua matanya sudah terbuka lebar saat ciuman yang terasa seperti kecupan yang Fabian berikan itu sudah terlepas. Maura tersenyum pada Fabian dan melanjutkan memasang kancing kemeja Fabian yang tinggal tiga kancing lagi yang belum terpasang.


🌷🌷🌷


Maura juga Fabian berangkat terpisah dengan mobil masing-masing. Maura dengan diantar dua bodyguard menuju perusahaan, sedangkan Fabian sendirian membawa mobil menuju rumah sakit.


Hari ini jadwal Fabian hampir seharian berada di ruang operasi mengingat ada lebih dari tiga pasiennya yang sudah dia jadwalkan operasi pada hari ini. Dan semua itu operasi yang membutuhkan banyak waktu.


Sekitar jam dua siang Fabian baru saja keluar dari ruang operasi. Dia bergegas untuk istirahat makan dan sholat sebelum akhirnya melanjutkan tugasnya di ruang operasi. Untuk sementara tugasnya digantikan sama Danu.


Fabian setelah selesai sholat, makan dengan buru-buru. Masih ada tiga pasien lagi yang belum dia tangani. Dia hanya bekerja berdua bergantian dengan Danu tanpa Gerry karena Gerry saat ini tengah workshop di Singapore.


"Cantik banget istri ku." Balas Fabian mengomentari beberapa foto yang Maura kirim untuk dirinya.


"Amor. Kelihatannya nanti aku pulang malam. Kamu langsung tidur saja nggak usah nunggu aku sampai rumah." Fabian mengirim pesan singkat kembali pada Maura, memberi tahu pada istrinya itu untuk tidak menunggunya.


Tanpa menunggu balasan dari Maura, padahal terlihat di layar ponsel kalau Maura tengah mengetik. Fabian meletakkan kembali ponselnya kedalam loker dan tidak lupa dia tutup kembali. Fabian bergegas kembali ke ruang operasi karena dia tidak bisa lama-lama.


"Raka!!" Seru Fabian saat tidak sengaja berpapasan dengan Raka. Dia menatap curiga pada Raka yang ternyata masih ada di Jakarta dan belum kembali ke tempat kerjanya. Pikirannya justru tidak tenang, takut kalau Raka saat ini ingin merebut kembali Maura dari dirinya. Tapi bukannya waktu itu Raka sudah sadar akan rasa sukanya pada Maura tidak akan mungkin terbalas. Tapi kenapa Raka masih ada disini? Fabian terus saja menerka-nerka apa yang membuat Raka tetap tinggal di Jakarta.


Raka hanya tersenyum tipis menanggapi Fabian, dia berlalu pergi dari hadapan Fabian tanpa mengatakan apapun.


Fabian ingin mencegah Raka pergi karena banyak sekali yang ingin dia tanyakan, tapi dia teringat akan tugasnya saat ini yang tidak bisa ditinggal terlalu lama. Fabian membiarkan Raka pergi dan dia sendiri bergegas menuju ruang operasi.

__ADS_1


Cahaya bulan terlihat bersinar terang saat Fabian baru saja keluar dari rumah sakit dan menuju tempat parkir. Jam sudah menunjukkan pukul hampir sebelas malam kurang delapan menit. Rumah sakit juga terlihat sepi mengingat jam besuk sudah tutup. Fabian melangkah gontai menuju mobilnya yang terparkir ditempat biasanya. Dia ingin segera pulang dan bertemu dengan Maura yang sudah tertidur karena istrinya itu tadi tidak mengangkat panggilan telepon darinya.


"Pengantin baru jam segini baru pulang."


Fabian menghentikan gerakan tangannya yang akan membuka pintu mobil saat mendengar suara yang sangat familiar ditelinga nya. Dia menolehkan kepalanya, melihat Raka yang bersandar didepan bodi mobil yang terparkir disebelah mobil Fabian.


Fabian mengurungkan niatnya untuk membuka pintu mobil dan berjalan kearah depan mobilnya. Dia melakukan hal yang sama seperti yang Raka lakukan, bersandar pada bodi mobil bagian depan.


"Kau sendiri kenapa ada disini? Bukannya seharusnya kau sudah kembali ke Makassar?" Tanya Fabian tanpa melihat kearah Raka.


"Aku sudah mengundurkan diri. Aku tidak cocok dengan lingkungan disana."


Sontak saja Fabian menoleh ke arah Raka saat mendengar jawaban yang Raka berikan. Dia terlihat kaget, tidak menyangka kalau ternyata Raka sudah mengundurkan diri dari pekerjaannya sebagai dokter.


"Kau nggak salah? Mengundurkan diri!" Fabian meyakinkan lagi kalau apa yang Raka katakan tadi hanya sebuah kebohongan. 


Melihat anggukan kepala dari Raka membuat Fabian menggeleng tidak percaya. Hanya karena tidak cocok dengan lingkungan tempat kerja yang baru, Raka justru memilih mengundurkan diri. Itu tidak mungkin Raka lakukan kalau tidak ada sesuatu disana, atau mungkin ada sesuatu disini yang belum selesai dia kerjakan. Tidak mungkin kan Raka akan merebut Maura darinya? Membayangkan saja sudah membuat Fabian naik darah.


"Aku sudah memutuskan untuk tidak menjadi dokter lagi. Aku akan melanjutkan usaha bengkel mobil juga motor yang sudah aku dirikan sejak awal kuliah dulu." Ungkap Raka.


"Kenapa baru sekarang? Bukannya dulu kau selalu bersaing dengan ku saat kuliah dan selalu menginginkan menjadi yang pertama? Kenapa sekarang dengan mudahnya kau melepaskan gelarnu?" Tanya Fabian yang begitu penasaran. Dia berharap Raka mengundurkan diri bukan karena ingin merebut Maura dari dirinya.


"Mungkin karena cinta." Jawab Raka dengan tersenyum samar. Dia lantas berlalu pergi dari hadapan Fabian.


Fabian membuka kedua bola matanya lebar mendengar kalimat yang baru saja keluar dari mulut Raka. "Cinta!" Gumam Fabian lirih. "Apa maksudnya dia masih cinta sama Maura?" Batin Fabian bertanya-tanya. 


Fabian terlihat marah, menahan kekesalan karena jawaban yang Raka berikan. Dia tidak ingin Raka merebut Maura darinya. "Aku tidak akan membiarkan mu merebut Maura dariku. Kalau perlu, langkahi dulu mayat ku."

__ADS_1


__ADS_2