
Amerika waktu setempat.
"Bagaimana, Mas? Apa sudah dapat tiket pesawatnya?" Tanya Freya saat melihat Bryan sudah kembali ke kamar hotel dimana mereka tempati saat ini. Dia sendiri baru saja keluar dari kamar Nadia juga Shaqila untuk memastikan kedua putrinya itu sudah istirahat apa belum dan ternyata justru kedua putrinya sudah masuk ke dunia mimpi.
"Sudah. Besok pagi jam sembilan kita berangkat dari hotel. Pesawatnya jam sebelas kurang sepuluh menit." Jawab Bryan sambil mengajak istrinya itu kembali ke kamar mereka. Mereka menyewa kamar presiden suite, jadi dalam satu kamar terdapat dua sampai tiga kamar tidur.
"Mas!! Kamu sudah kirim bodyguard lagi kan untuk Maura?" Tanya Freya mengingat kemarin Maura pernah meminta pada Bryan untuk tidak menempatkan bodyguard disisi putrinya itu lagi.
"Iya sudah. Kamu tenang saja." Jawab Bryan sambil merangkul lengan Freya. Keduanya kini duduk di tepi ranjang.
"Bagaimana aku bisa tenang kalau ada yang mengusik putri ku." Sungut Freya yang kesal karena putrinya diusik kehidupannya sama orang lain.
Bryan menipiskan bibirnya sambil mengusap lengan Freya yang dia rangkul dengan lembut. Bukan hanya Freya yang kesal karena sudah ada yang mengusik Maura, dirinya juga kesal. Namun tidak dia tunjukkan.
"Tidak mungkin Raka hanya menyebar gosip itu. Pasti ada sesuatu lagi yang sudah dia lakukan pada putri kita." Entah kenapa Freya bisa memiliki pemikiran seperti itu. Mungkin hanya karena feeling seorang ibu saja.
"Bukan sama Maura, lebih tepatnya sama Fabian." Timpal Bryan yang sepertinya sudah mengetahui sesuatu.
"Maksud Mas Bryan apa?" Freya menoleh kearah Bryan. "Apa Mas Bryan sudah mendapatkan informasi yang lainnya juga?" Tanya Freya penasaran.
Bryan menggeleng kepalanya pelan. "Belum, ini masih diselidiki lagi." Jawab Bryan. "Kamu tenang saja. Maura tidak akan kenapa-kenapa dan Raka tidak mungkin menyakiti Maura. Raka orang berpendidikan, pasti dia akan berpikir seribu kali bila harus melakukan sebuah kejahatan. Kecuali kalau dia memang memiliki obsesi. Tapi percayalah, putri kita akan aman." Ungkap Bryan.
"Aku harap juga begitu." Timpal Freya. "Terus, Bian gimana?" Tanya Freya mengingat Raka yang menggagalkan usaha pembangunan resort milik Fabian.
"Aku nggak tahu. Mungkin sekarang Maura sudah memberi tahu pada Bian." Tebak Bryan karena belum ada kabar lagi dari Maura. "Aku juga sudah meminta Rafa untuk membantu Bian membangun kembali resort nya." Terang Bryan yang langsung membuat Freya menolehkan kepalanya kearah Bryan.
"Yang benar aja kamu, Mas." Sungut Freya yang sepertinya tidak setuju dengan apa yang sudah suaminya perintahkan. Jujur saja dia masih kecewa sama Rafa.
__ADS_1
"Aku tahu apa yang kamu khawatirkan." Bryan menatap mata Freya. "Kita sudah melihat kalau Maura sudah move on sekarang dan dia juga sudah mau menerima Fabian. Dan untuk Rafa, dia selama ini memang hanya menganggap Maura sebagai adiknya, tidak mungkin dia akan menyakiti Maura lagi seperti sebelumnya yang Maura ditinggal nikah. Lagian Rafa tadi sudah menyanggupinya dan mendukung kalau Maura bersama Fabian."
🌷🌷🌷
Siang hari di rumah sakit, terlihat beberapa dokter tengah menikmati hidangan makan siang mereka di cafetaria khusus karyawan rumah sakit yang ada di lantai dua. Terlihat disana juga ada Raka yang tengah menikmati makan siangnya bersama rekan kerja yang lain.
"Terima kasih ya Dok, tadi sudah mau membujuk pasien saya yang tidak awalnya tidak mau dioperasi akhirnya mau dioperasi juga." Ucap Shahril, dokter spesialis jantung.
Raka tersenyum tipis. "Tidak perlu berterima kasih, dia juga pasien saya. Wajar kalau saya harus berhasil membujuk pasien untuk melakukan operasi mengingat kondisi pasien." Balas Raka yang merasa itu memang tanggung jawabnya walau sebenarnya memang itulah tugas dan tanggung jawab seorang dokter selain mengobati pasien juga melakukan pemeriksaan menyeluruh untuk mengetahui penyakit yang diderita pasien, apa perlu rawat jalan atau rawat inap bahkan sampai harus dioperasi sebagai tindakan terakhir.
"Beruntung banget Dokter Raka masih muda sudah menjadi dokter spesialis bedah jantung. Dokter Fabian juga sama. Kalian berdua dokter muda terbaik yang dimiliki rumah sakit ini. IQ kalian memang juara. Aku saja dulu saat mengambil jurusan spesialis ortopedi, kepala rasanya mau pecah. Nggak sanggup lagi menghapal dan memahami materi." Timpal Dokter Tomo dengan tertawa pelan. Dia juga duduk satu meja dengan Raka dan juga Shahril.
Raka tertawa kecil, bukan menghina maupun mengejek Tomo. Dia tertawa karena Shahril juga tertawa mendengar apa yang Tomo katakan.
Disela makannya, Raka mengecek ponselnya yang ada pesan masuk. Dia mengerutkan keningnya saat sebuah pesan masuk dari nomor yang sangat dia kenal. Dia membuka pesan itu dan membacanya.
"Aku tidak tahu apa yang membuat kamu selalu menganggap ku sebagai rival sedari dulu. Kamu orang cerdas, berpendidikan, IQ kamu juga sangat superior. Tapi aku jauh tidak menyangka kalau kamu sampai melakukan perbuatan rendah seperti itu. Padahal sejak dulu aku tidak pernah menyinggung kamu sedikit pun."
Raka menggenggam erat sendok yang ada di tangan kanannya untuk menahan emosi dengan pesan yang baru saja dia baca. Pesan singkat yang Fabian kirim membuat dirinya dikuasai emosi. Dia yakin kalau saat ini pasti Fabian sudah tahu siapa dalang dibalik gagalnya pembangunan Malibu Resort. Entah siapa yang memberi tahu Fabian, dia tidak perduli. Untungnya Fabian belum tahu kalau dirinya yang menjadi dalang dibalik peristiwa satu malam Fabian bersama Maura.
Fabian menyimpan ponselnya kedalam saku. "Saya lupa kalau ada yang belum saya kerjakan. Saya permisi dulu." Dengan tersenyum, Raka berpamitan dengan Shahril juga Tomo.
Raka pergi dari area cafetaria, bukannya menuju ke ruang kerja karena katanya ada kerjaan yang belum selesai dikerjakan, ini Raka justru menuju roof top.
"Shitt!!!" Umpat Raka kesal setelah sampai roof top.
"Siapa yang membantu dia?" Monolog Raka. "Apa itu Gerry?" Tebaknya. "Tidak mungkin. Gerry sudah tidak mau berurusan lagi dengan ku. Tidak mungkin dia yang memberi tahu Fabian." Raka terus saja berpikir siapa gerangan yang sudah memberi tahu Fabian tentang apa yang sudah dia lakukan.
__ADS_1
"Paman Bryan!! Maura!! Apa mereka yang sudah memberi tahu? Apa mereka sudah menyelidikinya?" Raka terlihat sekali gusar saat ini. Dia seperti orang ketakutan saat ini.
"Gawat." Ucap Raka saat ada panggilan masuk dari Ryan, Ayahnya.
Raka tidak langsung mengangkat panggilan itu, dia masih mengatur nafasnya terlebih dahulu dan berulang kali berdehem untuk menetralkan suaranya.
"Hallo, Pa." Ucap Raka setelah mengangkat sambungan telepon dari Ryan. "Ini disana sudah hampir jam satu malam. Kenapa Papa telepon Raka malam-malam begini?" Tanya Raka dengan suara yang tenang, padahal jantungnya sudah berdetak cepat.
"Papa kecewa sama kamu, Raka. Papa malu dengan apa yang sudah kamu perbuat. Mau ditaruh mana muka Papa dihadapan keluarga Abrisam. Kembali kamu kesini atau Papa tidak akan pernah menganggap memiliki seorang anak seperti kamu." Tut... Tut... Tut... Sambungan telepon diputus sepihak sama Ryan yang sepertinya tengah kesal pada Raka.
Raka diam saja setelah mendengar apa yang Ryan katakan padanya barusan. Pasti Ryan tahu kelakuannya karena Bryan meminta tolong untuk menyelidiki kasus gosip yang tersebar di rumah sakit. Meski Raka sudah menghilangkan jejak rekaman CCTV di rumah sakit, tapi dia sepertinya lupa siapa Ayahnya. Ryan pasti dengan mudahnya memulihkan kembali jejak rekaman CCTV yang hilang, mengingat kehebatan Ryan di bidang IT.
"Apa salah bila aku melakukan itu untuk merebut apa yang aku inginkan sedari dulu?" Ucap Raka yang sepertinya merasa tidak bersalah.
"Jelas itu salah." Sahut seorang wanita yang baru saja terbangun dari tidur siangnya.
Raka menoleh ke samping dimana asal suara itu berasal. Dia melihat Anggie yang duduk di sebuah kursi tidak jauh dari dirinya berdiri. Dia begitu kaget, dia pikir tadi tidak ada orang selain dirinya, ternyata ada orang lain juga dan itu Anggie, rekan kerjanya sesama dokter.
"Kalau dokter menyukai seseorang itu harus diungkapkan, jangan diam saja dan justru membuat orang itu terluka. Apalagi karena perbuatan dokter, orang itu hampir melenyapkan nyawanya sendiri." Ungkap Anggie tanpa menatap Raka saat berbicara.
"Apa maksud kamu? Siapa yang mau melenyapkan nyawanya sendiri?" Tanya Raka yang tidak paham dengan apa yang Anggie sampaikan. Apa Maura yang dimaksud Anggie, pikir Raka.
Anggie terkekeh geli. Dia berdiri dari duduknya dan menghadap ke arah Raka. "Nggak usah pura-pura bodoh deh, Dokter Raka yang terhormat. Aku sudah tahu semuanya. Mulai dari obat, penyebar gosip, sama,_" Anggie melangkah maju mendekat kepada Raka, "_kalau Dokter suka sama Maura, tapi sayangnya Fabian yang mendapatkannya." Ucap Anggie pelan dengan senyum mengejek pada Raka.
Raka diam saja, dia tidak menyangka kalau seorang Anggie yang pendiam justru mengetahui rahasianya. Darimana Anggie tahu, batin Raka. Pasalnya selama ini dia tidak begitu dekat dengan Anggie, bahkan untuk saling bertemu dan mengobrol saja jarang.
"Kalau Fabian sama Maura tahu, terus keluarga Abrisam juga tahu, pasti bakal seru cerita." Anggie tertawa mengejek pada Raka. Dia menutup mulutnya saat sedang tertawa. "Hah!! Nggak sabar aku mereka tahu semuanya." Kata Anggie dan berlalu pergi dari hadapan Raka.
__ADS_1
"Arghh!!" Pekik Anggie saat pergelangan tangannya di cekal erat sama Raka.
Raka menarik kasar tangan Anggie hingga membentur dada bidangnya. Dia menyeringai saat kedua matanya beradu pandang dengan mata Anggie yang nampak sekali kalau dokter wanita itu kaget. "Kalau kau berani mengatakan itu pada Maura maupun Fabian, aku tidak akan segan menyetubuhi mu saat itu juga."