One Night Romance

One Night Romance
Bab 24


__ADS_3

"Dokter Bian!!"


Fabian yang tengah duduk di meja kerjanya sambil mengevaluasi hasil kerjanya tadi menoleh saat ada yang memanggilnya. Tak hanya Fabian saja yang menoleh, Raka juga Gerry yang kebetulan juga meja kerjanya masing-masing juga ikut menoleh.


"Pasien sudah sadar, Dok." Ucap perawat memberikan informasi kepada Fabian. "Tapi ada sedikit masalah. Pasien tidak bisa berbicara sama menggerakkan tangan kirinya."


Fabian yang mendengar penjelasan dari perawat itu tanpa basa-basi lagi langsung bergegas menuju kamar VVIP dimana pasien yang tadi habis dia operasi berada.


Raka tersenyum senang mendengar kabar itu. Artinya operasi yang Fabian lakukan gagal dan dia akan pergi dari rumah sakit ini.


"Kenapa Dokter Raka tersenyum?" Tanya Gerry saat tidak sengaja melihat Raka tersenyum saat Fabian mendapatkan masalah dalam melakukan operasi.


"Nggak apa. Ada yang lucu di sosmed." Raka menunjukkan sebuah video kecelakaan beruntun di luar negeri pada Gerry.


"Kecelakaan seperti itu anda bilang lucu." Gerry menatap tidak percaya dengan pemikiran Raka. "Atau jangan-jangan anda senang karena Fabian mendapat masalah dalam penangan operasinya?" Tebak Gerry yang sudah dari dulu mengetahui Raka yang tidak suka dengan Fabian dan selalu ingin menjatuhkan karier Fabian.


Raka hanya mengangkat bahunya acuh. Dia tidak menjawab iya maupun tidak. Tidak mungkin dia akan membenarkan tebakan Gerry, yang ada Gerry akan ngelunjak dan mengatakan yang tidak-tidak.


"Jujur saja ya Dokter Raka. Aku menyesal sudah membantu mu menjebak Bian." Raka sontak saja menatap tajam pada Gerry. Bahkan kedua tangannya langsung mengepal kuat.


"Gara-gara ide kamu itu, Bian mendapat masalah, Aurel kehilangan cintanya, Kasih kehilangan Papanya, dan seorang gadis yang tidak tahu apa-apa menjadi korban hingga hamil." Raka langsung berdiri dari duduknya dan mengeraskan rahangnya menahan amarah akan pengakuan Gerry. Dia menatap sekeliling yang untungnya tidak ada orang selain mereka berdua.


"Aku tahu kamu dari dulu memang tidak menyukai Bian. Tapi tidak seharusnya kamu melakukan hal seperti itu pada rekan kerja mu sendiri. Bagaimana kalau aku cerita kebenarannya bahwa mantan ipar nya lah yang memintaku menaruh obat perangsang ke minuman Bian atau langsung cerita ke Aurel. Apa yang akan mereka lakukan padamu?" Gerry dengan berani menarik sudut bibirnya dan juga manarik sebelah alisnya keatas membalas tatapan Raka.


"Aku juga tahu kalau kau menyukai Maura, gadis yang menjadi korban karena ulah mu sendiri." Ejek Gerry yang mengetahui selama ini Raka menyukai Maura.


"Jangan karena sudah berjasa pada keluarga Abrisam, kau akan dengan mudah mendapatkan segalanya. Aku juga tahu kau selama ini mengincar posisi wakil direktur, tapi sayangnya justru Bian yang mendapat peluang itu." Gerry masih dengan tersenyum mengejek pada Raka.

__ADS_1


Raka tertawa dan kembali duduk di kursinya. "Semua yang kau katakan benar." Raka kembali menatap tajam pada Gerry. "Tapi sekarang teman kamu dalam masalah dan sebentar lagi akan pergi dari sini." Raka tersenyum senang membayangkan Fabian keluar dari rumah sakit dan mungkin gelar dokter nya akan dicabut selamanya.


"Kita belum tahu kabar selanjutnya. Siapa tahu itu hanya efek sementara karena pengaruh obat bius." Setelah mengatakan itu, Gerry pergi dan meninggalkan Raka yang kembali terlihat menahan amarah.


"Aku harap bukan karena efek obat bius, melainkan karena adanya kesalahan dalam proses operasi." Harap Raka yang tidak menginginkan keberhasilan pada Fabian.


Entah kenapa semenjak Fabian sudah berpisah dengan adiknya, Aurel, rasa tidak suka pada diri Raka terhadap Fabian semakin menjadi-jadi. Apalagi mengingat kedekatan Fabian dengan Maura akhir-akhir ini membuat hatinya memanas. Kenapa harus Maura yang menjadi pelampiasan nabsu Fabian dan bukan seorang ja lang, pikir Raka yang kesal karena orang yang dia suka selama ini justru ikut menjadi korbannya


🌷🌷🌷


"Kalau terjadi apa-apa sama Suami saya, aku akan tuntut kamu dan rumah sakit ini." Ujar Istri pasien marah pada Fabian yang tengah memeriksa keadaan pasien yang beberapa jam lalu dia operasi.


Fabian hanya diam saja, dia fokus memeriksa pasien. Tangan kiri yang katanya tidak bisa digerakkan, dia angkat dan digerakkan nya perlahan. "Anda bisa memegang jari saya?"


Pasien itu menggeleng lemah, jarinya begitu lemas. Jangankan untuk memegang, mengangkat maupun menggerakkan saja tidak bisa. Rasanya seperti mati rasa.


"Saya akan menganalisa lagi, ini hanya efek sampingnya saja." Ucap Fabian yang langsung pergi keluar dari kamar VVIP tersebut.


Keluarga pasien tidak terima, mereka marah-marah mendengar apa yang Fabian sampaikan dengan mudahnya. Andre juga dokter saraf mengejar Fabian sedangkan dua orang perawat menenangkan keluarga pasien.


"Apa kamu melupakan sesuatu saat operasi Dokter Bian?" Tanya Andre saat melihat Fabian ternyata masih ada di luar kamar VVIP.


Fabian menatap Andre sebentar lantas menatap dokter saraf yang tadi juga ikut dirinya di ruang operasi. Dia masih ingat semuanya yang dia lakukan di meja operasi tadi. Dia tidak melakukan kesalahan, dia juga tidak melupakan sesuatu yang dilewatkan selama proses operasi.


Fabian kembali menatap Andre dan menggeleng kepala pelan. Dia yakin tidak melupakan sesuatu karena dia masih ingat betul kejadian di meja operasi. Apa yang dialami pasien hanya karena efek obat bius.


"Tapi tekanan darah pasien tadi sempat turun." Ujar Tomi mengingat pasien sempat mengalami tekanan darah turun.

__ADS_1


"Itu hal wajar terjadi dan tadi hanya berlangsung tidak sampai sepuluh menit." Timpal Fabian cepat.


Andre menepuk pundak Fabian pelan. "Kita akan mengadakan rapat. Mengevaluasi hasil kerja kamu juga menganalisis penyakit pasien." Fabian hanya menunduk. Pasti nantinya semua orang akan menyalakan dirinya disini. Untuk kemungkinan besarnya gelar kedokterannya akan dicabut karena melakukan kesalahan di meja operasi.


"Dokter!!" Seru perawat yang baru saja keluar dari kamar rawat VVIP. "Tangan pasien sudah bisa digerakkan. Pasien juga sudah bisa bicara." Ujar perawat memberi tahu.


Tidak menunggu lama lagi, Fabian dan yang lainnya langsung masuk ke kamar VVIP. Dengan tenang Fabian memegang tangan kiri pasien dan diangkatnya. Dia tersenyum saat tangan pasien merespon dan membalas memegangnya.


"Terima kasih Dokter!" Ucap pasien lirih. Suara jelas dan tidak belibet.


Fabian mengangguk dan tersenyum. Ternyata benar apa yang dia pikirkan. Reaksi tadi karena efek obat bius bukan karena dirinya melakukan kesalahan saat operasi berlangsung.


🌷🌷🌷


"Dokter Bian!! Bisa kita bicara sebentar." Fabian melihat Andre dan mengangguk. Dia mengikuti direktur rumah sakit sekaligus paman dari Maura. Mereka berhenti di lorong rumah sakit yang nampak sepi.


"Terima kasih, kamu tidak membuat saya kecewa kali ini." Tentu saja Fabian bingung dengan ucapan Andre. Apa maksud ucapan kali ini yang Andre katakan. Apa dia pernah mengecewakan Andre, pikir Fabian.


Andre tertawa kecil melihat kebingungan di wajah Fabian. "Kemarin saya sempat kecewa sama kamu atas apa yang sudah kamu lakukan pada keponakan saya." Fabian mengangguk samar, dia akhirnya paham apa yang dimaksud kali ini itu. Ternyata karena Maura.


"Untuk kesepakatan yang sudah saya katakan kemarin. Saya harap kamu segera menyetujuinya." Andre menatap penuh harap pada Fabian.


"Maaf sebelumnya, Dokter Andre. Bukannya saya tidak setuju, tapi ada yang lebih pantas dari saya. Saya baru kerja disini tiga tahun dan masih belajar. Lebih baik kesempatan itu Anda berikan kepada yang lainnya, yang lebih berkompeten." Fabian menolak kesepakatan yang sudah mereka buat sebelumnya. "Saya permisi." Fabian menunduk sopan dan berlalu pergi.


Bisa saja sebenarnya Fabian menerima kesepakatan itu. Tapi tidak dia terima mengingat Raka dari dulu mengincar posisi wakil direktur. Meski dia tahu Raka selalu menganggapnya rival selama ini, Fabian tidak perduli. Dia seperti sekarang atas usahanya sendiri, jerih payahnya sendiri.


"Tujuan ku menjadi dokter karena ingin menolong dan menyelamatkan orang yang sakit, bukan untuk mengejar jabatan juga pangkat."

__ADS_1


__ADS_2