
Aurel terus saja memperhatikan Fabian yang berdiri di dekat jendela. Suaminya itu sedari tadi diam dengan tatapan kosong sejak masuk kedalam kamar rawat dirinya. Entah apa yang tengah dipikirkan suaminya itu Aurel tidak tahu. Yang pasti itu mungkin berhubungan dengan apa yang dia dengar secara tidak sengaja dua minggu yang lalu. Sebuah kenyataan yang membuat hatinya terluka meski tidak berdarah.
Dimana pagi itu Aurel tidak sengaja mendengar obrolan Fabian dengan Gerry saat teman kerja suaminya itu datang ke rumah. Bukan maksud menguping, tapi suara Gerry yang terdengar keras mampu membuat Aurel yang tidak sengaja lewat mendengar obrolan mereka.
"Kenapa kau pakai acara mabuk segala malam itu? Begini kan jadinya. Gadis itu masih perawan dan kamu yang menghilangkan keperawanannya. Bagaimana kalau dia hamil? Biasanya perbuatan seperti itu kemungkinan besar peluang hamilnya delapan puluh persen. Apalagi kau membuangnya didalam, bukan diluar."
Aurel mengingat apa yang Gerry katakan pagi itu. Sungguh apa yang dia dengar dari mulut Gerry itu membuat hatinya hancur dan sakit. Suaminya tidur dengan wanita lain dalam keadaan mabuk. Sedangkan dirinya yang sudah menikah dengan Fabian selama tiga tahun, sekali pun belum disentuh oleh Fabian. Jangankan disentuh lebih dalam, dicium pun dia tidak pernah. Sekali dia dicium, itupun saat keduanya melangsungkan pernikahan dan itu hanya di kening saja.
Apa Fabian sungguh tidak bisa membuka hati untuk dirinya, pikir Aurel sehingga harus mabuk-mabukan dan melakukan adegan romantis diatas ranjang dengan wanita lain.
"Mas!!" Panggil Aurel, namun sepertinya Fabian tidak mendengar panggilan yang keluar dari mulut Aurel. suaminya itu masih sibuk dengan pikirannya yang entah memikirkan apa.
"Mas Bian!!" Kali ini Aurel memanggil suaminya dengan suara yang sedikit keras dari sebelumnya berharap suaminya mendengar panggilan darinya.
Fabian berdehem dan menggeleng kepala pelan saat mendengar Aurel memanggilnya. Dia menghembuskan nafas perlahan dan melangkah mendekati ranjang Aurel.
"Kenapa? Mau ke kamar mandi?" Tanya Fabian yang mengira kalau Aurel memanggilnya karena ingin ke kamar mandi. Dia terlihat perhatian pada Aurel.
"Nggak." Jawab Aurel dengan gelengan kepala. Dia menatap suaminya yang juga menatapnya.
__ADS_1
"Mau minum?" Tanya Fabian lagi sambil mengambil botol minum yang ternyata isinya sudah kosong. "Sebentar minumnya habis. Aku ambilkan dulu."
Fabian yang awalnya akan melangkah pergi mengurungkan niatnya saat lengan kirinya dipegang sama Aurel. Dia menatap lengannya itu, bukan lebih tepatnya tangan Aurel yang memegang lengannya.
Aurel yang melihat arah tatapan mata Fabian lantas segera melepas pegangan tangannya pada lengan Fabian. "Maaf!" Ucap Aurel merasa bersalah karena menahan Fabian pergi.
"Ada apa?" Tanya Fabian yang merasa ada sesuatu yang ingin Aurel sampaikan pada dirinya, sehingga dia mengurungkan niatnya untuk mengambil air minum dan menarik kursi untuk dia duduki.
Aurel meremat selimut yang menutupi sebagian tubuhnya dengan kedua tangannya. Dia ragu untuk bertanya, tapi dia juga ingin tahu kebenarannya. Karena ini yang membuatnya terlalu berpikir berat hingga sakitnya kambuh dan masuk rumah sakit.
"Apa benar yang dikatakan Dokter Gerry pagi itu kalau Mas Bian mabuk dan tidur dengan seorang wanita?" Dengan menahan air matanya dan rasa sakit dihatinya, akhirnya Aurel menanyakan apa yang selama ini menjadi penyebab pikirannya kacau hingga mengakibatkan asam lambung nya kambuh.
"Jadi semua itu benar?" Tanya Aurel lagi karena melihat ekspresi Fabian yang terkejut. Sesak, itu yang Aurel rasakan saat ini meski Fabian belum mengatakan kebenarannya. "Mas Bian malam itu mabuk dan ti,-"
"Iya." Jawab Fabian tanpa memikirkan perasaan Aurel. Dia bahkan tidak menunggu Aurel menyelesaikan perkataannya dan langsung membenarkan kalau dirinya mabuk dan juga tidur dengan seorang wanita yang bukan istrinya sendiri.
Tanpa menunggu komando, air mata yang sedari tadi Aurel tahan untuk tidak jatuh akhirnya luruh begitu saja. Dia tidak menyangka suaminya akan langsung menjawab iya tanpa berbasa-basi terlebih dahulu. Bahkan jawaban dari Fabian terkesan tidak memikirkan perasaannya sama sekali. Jadi selama ini dirinya dianggap apa sama Fabian. Seorang istri atau hanya orang lain. Walau sebenarnya dia tahu selama ini Fabian tidak pernah mencintainya. Tapi apa tidak ada rasa suka sedikitpun dari Fabian untuk dirinya.
"Jadi ini penyebab sakit kamu kambuh?" Tebak Fabian. "Baiklah kalau begitu. Aku akan jujur sekalian sama kamu." Fabian kembali meletakkan botol kosong yang dia pegang tadi dan berdiri dari duduknya.
__ADS_1
"Malam itu aku mabuk dan melakukan one night stand dengan seorang gadis yang sama-sama mabuk." ucap Fabian tanpa melihat kearah Aurel.
"Apa malam itu kamu sempat berpikir melakukan itu sama aku, Mas?" Aurel memotong perkataan Fabian.
"Nggak." Jawab Fabian jujur. Malam itu dia memang tidak memikirkan Aurel sama sekali.
Menangis, tentu saja Aurel menangis mendengar jawaban jujur dari suaminya sendiri.
"Gadis itu sekarang tengah hamil anak ku. Darah daging ku." Dada Aurel semakin sesak mendengar pengakuan Fabian.
"Dan aku adalah istri kamu yang sampai saat ini belum kamu sentuh seujung jari pun." Fabian menatap Aurel. Apa yang Aurel katakan memang benar. Aurel istrinya dan sampai detik ini belum dia sentuh sedikitpun. Tidur saja mereka dikamar terpisah sejak awal menikah sampai detik ini.
"Karena aku tidak pernah cinta sama kamu. Kita menikah karena terpaksa. Kita nikah karena aku sudah berjanji sama Kak Febry untuk menjaga kamu dan juga Kasih."
Aurel menangkup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Febry, dia jadi teringat mantan suaminya yang tidak lain adalah kakaknya Fabian yang sudah meninggal tiga tahun lalu. Saat itu sebelum ajal menjemput Febry, Febry meminta Fabian menjaga dirinya juga Kasih yang saat itu masih berusia dua bulan. Tak hanya menjaga, Febry juga ingin Fabian menikahi dirinya saat itu juga. Dan pernikahan itu terjadi didepan mata Febry sesaat sebelum ajal menjemput.
"Maafin aku, Aurel. Aku sudah berusaha keras untuk membuka hatiku untuk kamu, tapi tidak bisa. Aku bukan tipikal orang yang suka dan merebut kekasih ataupun istri saudara sendiri maupun teman dan orang lain. Tiap kali aku mencoba untuk membuka hati padamu, bayangan Kak Febry selalu muncul. Aku tahu bagaimana sayang dan cintanya Kak Febry sama kamu sampai dia rela menitipkan dan menikahkan sendiri istrinya dengan adiknya sendiri." Fabian mengingat betapa dulu Febry sangat sayang dan cinta pada Aurel. Kakaknya itu sering memanjakan Aurel bahkan menjadikan Aurel sebagai ratu dihatinya.
"Terus kenapa kamu tidak menceraikan aku saja? Kenapa kamu justru melakukan semua ini?" Aurel sesenggukan, dia bahkan tidak mau lagi menatap Fabian saat berbicara.
__ADS_1
"Karena aku menunggu kamu sendiri yang menceraikan aku."