
Sudah hampir jam enam sore, Fabian yang sudah bersih-bersih sore lantas keluar dari kamar. Dia berniat pergi ke pantai untuk menikmati langit senja. Dia berencana mengajak Maura bersama dengan dirinya mumpung Maura ada di sini juga pikirnya.
Tok Tok Tok
Fabian mengetuk pintu kamar Maura pelan, namun tidak ada sahutan dari dalam kamar. "Apa Maura tidak ada di kamar?" Gumam Fabian lirih. "Tapi pintu balkonnya tadi kebuka." Ingat Fabian sesaat sebelum keluar tadi dia menyempatkan diri untuk melihat balkon kamar Maura yang pintunya terbuka.
Tok Tok Tok
Fabian kembali mengetuk pintu, kali ini sedikit lebih kencang dari sebelumnya. "Ra!! Kamu ada didalam kan?" Panggil Fabian dengan seruan.
Didalam kamar, Maura terlihat meringkuk diatas kasur. Dia berusaha bangun untuk membuka pintu kamarnya. "Achh sakit banget." Keluh Maura saat perutnya begitu terasa sakit saat dibuat berdiri. Sakitnya hampir sama seperti saat dirinya pendarahan dan berakhir keguguran.
Dengan melangkah pelan dan sambil berpegangan pada dinding, Maura berjalan menuju pintu untuk membuka pintu kamarnya. Meski harus menahan rasa sakit pada perut bagian bawah, Maura terus melangkah menuju pintu. "Tunggu sebentar, Mas!" Seru Maura dengan suara lemah meminta petugas resort menunggunya. Dia tadi memesan air panas dalam botol kaca. Dia berniat untuk mengompres perutnya.
Maura membuka pintu dengan membungkukkan tubuhnya karena sambil menahan sakit pada perutnya. Fabian yang melihat pintu kamar Maura terbuka terlihat kaget saat melihat Maura yang tengah membungkuk seperti menahan rasa sakit.
"Kamu kenapa, Ra?" Tanya Fabian yang kaget. Dia lantas memegangi tubuh Maura yang terlihat lemas, wajahnya juga terlihat pucat, sama persis seperti beberapa hari yang lalu saat dia membawa Maura ke rumah sakit karena keguguran.
Tanpa menunggu jawaban dari Maura, Fabian lantas mengangkat tubuh Maura dalam gendongannya dan dia bawa masuk kedalam kamar dan dia rebahkan diatas kasur. Fabian mengecek denyut nadi pada pergelangan tangan Maura yang begitu lemah.
"Kamu kenapa?" Tanya Fabian sambil tangannya mengambil sebuah botol minum diatas nakas dan membukanya. "Ini minum dulu." Fabian membantu Maura bangun dan minum.
"Ishh!!" Rintih Maura sambil memegang perutnya.
Fabian yang mendengar rintihan Maura lantas melihat kearah perut Maura yang tengah dipegang itu. Dia ikut memegang perut Maura. "Perut kamu kenapa?" Tanya Fabian yang hanya dapat gelengan kepala dari Maura. Sepertinya Maura tidak mau jujur pada Fabian.
"Permisi!!"
__ADS_1
Fabian melihat kearah pintu yang belum tertutup saat mendengar ada yang datang. Dia meninggalkan Maura dan menemui orang yang datang dan ternyata pelayan resort tengah membawa sebuah botol juga handuk kecil.
"Pak Bian." Pelayan itu terlihat kaget saat melihat Fabian ada didalam kamar seorang tamu wanita.
"Apa itu yang dia pesan?" Tanya Fabian yang langsung diangguki ragu sama pelayan.
"Terima kasih." Ucap Fabian setelah mengambil botol kaca yang berisi air panas juga handuk kecil. Tidak lupa dia juga menutup pintu kamar dan kembali menemui Maura.
"Buka baju kamu!" Perintah Fabian yang langsung ditolak mentah-mentah sama Maura. Maura menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
Fabian memejamkan matanya sejenak sambil membuang nafas. "Maksud aku baju bagian perut aja yang dibuka. Kamu pesan ini buat kompres perut kamu, kan?" Fabian menunjukkan botol yang berisi air panas yang ada ditangannya.
Maura mengangguk, dengan ragu dia menyingkirkan selimut yang tadi dia pakai untuk melindungi tubuhnya dan membuka baju yang dia kenakan dengan ragu. "Biar aku sendiri saja." Maura tidak jadi membuka bajunya dan merebut botol kaca yang begitu panas saat di pegang. Dia langsung menjatuhkan botol itu karena tangannya terasa panas. Untung saja terjatuh diatas kasur, jadi botolnya aman dan tidak pecah.
"Pegang botol saja tidak bisa, sok-sokan mau melakukannya sendiri." Fabian mengambil botol itu tanpa merasakan panas sama sekali. Entah dia menahannya atau memang kulit tangannya yang terlalu tebal. "Diam lah! Biar aku bantu."
"Apa terlalu panas?" Tanya Fabian saat melihat Maura merintih. Maura menganggukkan kepalanya pelan dan Fabian akhirnya berdiri dan masuk ke dalam kamar mandi untuk membuang sedikit air yang ada dalam botol dan diberi sedikit air dingin.
Setelah memastikan tidak terlalu panas, Fabian kembali ke kamar dan mengompres kembali perut Maura dengan seksama. Dia melakukannya dengan begitu telaten, bahkan tangan satunya lagi dia gunakan untuk mengusap lembut perut Maura.
"Apa sebelumnya kamu seperti ini?" Tanya Fabian tanpa menatap Maura, pandangannya fokus pada perut Maura.
Maura menggeleng kepala pelan. "Nggak juga." Jawab Maura pelan. "Ini baru saja terasa siang tadi. Aku sudah tanya Anggie, katanya aku memaksakan diri untuk berpergian padahal baru saja keguguran. Dia yang meminta aku untuk mengompres perut pakai air panas, sama diminta untuk istirahat dulu beberapa waktu." Jelas Maura menceritakan kondisinya saat ini. "Kalau masih berlanjut, langsung dibawa ke rumah sakit saja katanya."
Fabian mengalihkan pandangannya dari perut Maura ke wajah Maura. Dia menatap mata Maura dengan tatapan tidak biasa. Seperti orang khawatir, sedih dan kesal bercampur jadi satu. "Kalau begitu, kita ke rumah sakit sekarang!" Ucap Fabian dengan tegas.
"Nggak!!" Tolak Maura cepat dengan gelengan kepala. Tangannya juga refleks memegang tangan Fabian. "Dikompres saja dulu. Siapa tahu nanti sakitnya hilang." Maura menggigit bibir bawahnya dan memohon pada Fabian dengan mengangguk pelan, berharap Fabian menyetujuinya.
__ADS_1
Fabian memalingkan wajahnya saat melihat Maura yang dengan beraninya memainkan bibirnya sendiri dihadapan lelaki. Apa wanita itu tidak pernah berpikir perbuatannya itu akan mengundang para buaya datang menerkamnya, pikir Fabian.
Fabian kembali mengompres perut Maura dalam diam sambil mengatur nafasnya juga detak jantungnya. "Kata Bik Tum kemarin kamu ke rumah. Apa kamu datang kesini karena aku?" Tanya Fabian kembali menatap Maura setelah berhasil menguasai diri.
Maura menyengir kuda sambil menggaruk pelipisnya. Mau berbohong pun tidak ada gunanya. Karena memang dirinya datang ke Bali untuk mencari dan bertemu Fabian.
Fabian menggeleng kepala pelan saat Maura membenarkannya meski tidak menjawab secara langsung. Hanya dengan menyengir sambil garuk-garuk saja sudah menjelaskan semuanya kalau Maura datang ke Bali karena dirinya. "Belum ada seminggu kamu menjalani kuretase abortus, tapi kenapa kamu memaksakan diri pergi kesini." Omel Fabian pada Maura, tapi tangannya tetap fokus mengompres perut Maura.
"Ya siapa suruh nomornya tidak aktif." Jawab Maura dengan bergumam. Dia mencebikkan bibirnya kesal mengingat kemarin dia begitu sulit menghubungi Fabian. "Habis bilang cinta, langsung menghilang begitu saja."sambung Maura dengan suara lirih.
Fabian tersenyum hampir tertawa mendengar perkataan Maura. "Kenapa? Kamu merasa kehilangan?" Tanya Fabian menatap lekat pada Maura. Dia sudah menghentikan aktivitas mengompres perut Maura.
"Cih!!! Gak usah ke GeEr an. Siapa juga yang merasa kehilangan? Aku nggak tuh!!" Cibir Maura dan menarik tubuhnya untuk duduk bersandar. Perutnya sudah terasa enak, tidak sesakit tadi meski masih ada sedikit sisa-sisa sakitnya.
"Yakin!! Terus siapa yang sengaja datang ke Bali dan mengatakan cinta karena takut ditinggal mati." Sindir Fabian dengan tersenyum juga menaikkan sebelah alisnya.
"Aku tidak mengatakan cinta." Sanggah Maura dengan wajah yang memerah menahan malu. "Itu hanya sebuah dialog saja." Kilah Maura yang tidak berani menatap Fabian.
"Tapi aku suka dialog itu." Bisik Fabian tepat di telinga Maura sehingga membuat Maura menoleh kearah Fabian karena kaget.
Fabian tersenyum melihat wajah kaget Maura yang bercampur dengan semburat merah di kedua pipi karena malu.
CUP
Tanpa aba-aba Fabian mencium bibir Maura, membuat Maura melotot dengan aksi Fabian. Maura ingin melepaskan ciuman itu, tapi dengan cepat Fabian menahan dagu Maura dengan kedua jari tangannya dan memperdalam ciuman keduanya.
Dalam keadaan kedua mata terpejam, Maura terus saja mempertanyakan dalam hati apa yang sudah dilakukannya bersama Fabian saat ini. "Kenapa aku membalasnya? Kenapa juga aku menikmatinya? Dan kenapa ini sungguh membuat ku melayang?"
__ADS_1