
Malam harinya pesta masih berlanjut di lokasi yang sama namun berbeda tempat. Kali ini di ballroom utama Hallona Hotel. Tamu yang hadir dari berbagai kalangan juga profesi. Mulai dari pengusaha, artis, dokter, juga dosen dan masih banyak lag. Mengingat kedua mempelai juga kedua keluarga besar yang bekerja di berbagai bidang.
Hampir dua jam Maura dan Fabian berdiri menyalami tamu yang hadir dan memberi selamat pada kedua mempelai juga berswafoto dengan mempelai. Keduanya tidak berhenti tersenyum ramah pada tamu yang hadir.
Maura bersyukur, seperti semua orang menerimanya dengan baik setelah mengetahui siapa dirinya sebenarnya. Entah karena takut sama kekuasaan Bryan atau memang tidak mempermasalahkan statusnya yang hanya seorang anak haram dari Bryan, Maura tidak perduli. Toh dirinya tidak menyusahkan hidup mereka, makan juga tidak minta sama mereka.
"Kamu tidak capek, Amor?" Bisik Fabian saat melihat wajah Maura yang masih terlihat cerah dengan senyuman yang merekah di kedua sudut bibirnya. Padahal ini sudah hampir dua jam mereka berdiri menyalami tamu yang hadir.
Maura menoleh ke arah Fabian dengan menggelengkan kepalanya. Dia juga tersenyum pada suaminya itu yang siang menjelang sore tadi mengikrarkan janji suci untuk dirinya. Tidak lupa, Maura juga melingkarkan tangannya pada lengan Fabian. Untung saja belum ada lagi tamu yang naik untuk memberi mereka selamat, jadi Maura bisa bergandengan tangan sebentar dengan suaminya itu. "Aku sudah sering menghadiri pesta tanpa adanya tempat duduk, jadi aku sudah terbiasa berdiri berdiri lama." Ujar Maura dengan menopangkan dagunya pada bahu Fabian.
Cekrek
Maura sama Fabian menoleh saat lampu blitz kamera menyala. Keduanya tersenyum saat sang fotografer ternyata mengambil foto mereka secara candid. Fabian mengangkat jempolnya pada sang fotografer, menandakan kalau apa yang dilakukannya tidak salah, justru hasilnya pasti akan terlihat bagus karena foto itu diambil saat dirinya dan Maura tidak menyadari itu.
"Apa bisa kita mengambil foto lagi, berhubung tamunya belum ada yang antri naik?" Tanya sang fotografer yang biasanya bekerja sama dengan management BRATA TV.
Maura melirik Fabian dan mengangguk pada sang fotografer, mengiyakan mereka untuk mengambil foto dirinya juga Fabian. Banyak gaya yang Fabian juga Maura lakukan, mulai dari duduk, berdiri sampai Fabian yang menggendong Maura.
Malam semakin larut, namun pesta masih berlanjut. Kini Maura juga Fabian sudah berganti pakaian. Fabian simpel saja hanya memakai setelah tuxedo berwarna navy dengan dalaman kemeja putih, sedangkan Maura memakai gaun malam dengan warna senada. Modelnya juga simpel dan sedikit terbuka di bagian punggung, hingga memperlihatkan punggung mulus Maura yang putih bersih tanpa ada cacat sedikitpun.
Tamu yang hadir juga tinggal kalangan tertentu saja, tidak sebanyak tadi. Mengingat saat ini adalah waktunya pesta dansa. Cahaya lampu juga musik sudah berbeda dari yang tadi saat resepsi. Malam ini waktunya untuk kedua mempelai dan anak muda berpesta.
Maura sama Fabian saat ini sudah ada di tengah-tengah ballroom, namun keduanya tidak berdansa berdua. Mereka bertukar pasangan, Fabian dengan Shanti, Mamanya dan Maura dengan Bryan, Ayahnya. Disana juga ada Freya yang berdansa dengan Attar. Sandi sendiri, dia berdansa dengan Nanda keponakannya yang tinggal di Bali dan ada beberapa lagi yang tengah menikmati dansa malam ini di pesta pernikahan Maura juga Fabian.
"Kenapa Ayah lihatin Maura seperti itu?" Kening Maura terlihat mengkerut samar saat bertanya pada Bryan.
Bryan terkekeh pelan, dia juga menggeleng kepala samar. "Malam ini putri Ayah terlihat sangat cantik."
Maura tersenyum mendengar perkataan Ayahnya. "Bukannya cantik ini sudah sedari dulu Maura miliki." Timpal Maura dengan menyombongkan diri.
Bryan mengangguk membenarkan. "Apa kamu bahagia sekarang?" Tanya Bryan yang melihat wajah putrinya memancarkan aura kebahagiaan. Sudah lama dia tidak melihat Maura sebahagia sekarang.
"Sangat!!! Sangat bahagia." Jawab Maura tanpa kebohongan. Dia saat ini memang sangat bahagia.
Bryan tersenyum, dia sangat bersyukur putrinya begitu bahagia saat ini. Dia berharap semoga Fabian selalu membuat Maura bahagia. Menjaga putrinya dan membimbing putrinya dalam kebaikan. "Ayah senang mendengarnya." Balas Bryan.
"Lihat!! Suami kamu dari tadi melihat kearah sini terus." Komentar Bryan saat tidak sengaja melihat ke arah Fabian dan ternyata lelaki itu memperhatikan dirinya yang tengah berdansa dengan Maura.
Maura menoleh, melihat kearah Fabian yang berdansa dengan Shanti. Dia tersenyum manis pada Fabian, dia bahkan memberikan kiss bye untuk suaminya itu. "Sepertinya dia tidak rela aku berdansa sama Ayah." Timpal Maura kembali menatap Bryan dengan tersenyum senang.
"Maaf Tuan!! Bisa saya meminta istri saya kembali."
Maura sama Bryan menoleh saat Fabian datang menghampiri. Lelaki itu tersenyum dengan tangan terulur meminta Maura untuk datang padanya.
"Hufttt!! Ayah paling malas kalau ada yang mengganggu putri kesayangan Ayah. Tapi ya sudahlah, dia sudah menjadi milikmu sekarang." Dengan berat hati Bryan memberikan Maura pada Fabian. Dia pura-pura merajuk dan berlalu menghampiri istrinya yang sudah selesai berdansa.
__ADS_1
"Maaf Ayah, karena sekarang dia sepenuhnya sudah jadi milikku." Ucap Fabian dengan satu tangannya menarik pinggang Maura kedalam pelukannya.
"Maaf mengganggu! Saya pinjam wanitanya sebentar." Dengan gerakan cepat, tubuh Maura sudah lolos dari pelukan Fabian
Fabian sendiri melongo melihat tangannya yang sudah tidak memegang tubuh Maura lagi. Dia justru melihat Maura yang sekarang berdansa dengan Attar. Padahal dirinya dari tadi belum sedetikpun berdansa dengan Maura. "Oke, setelah ini aku pastikan kamu tidak bisa pergi jauh dari ku." Gumam Fabian lirih dengan seringai muncul di di bibirnya.
"Kakak Dokter!! Boleh Qila dansa sama Kakak malam ini?"
Fabian melihat Shaqila yang datang menghampirinya. "Tentu saja boleh, girl."
Maura tersenyum melihat Fabian yang sekarang berdansa dengan adiknya, Shaqila. "Kamu belum mengucapkan selamat loh sama Kakak." Kata Maura pada Attar yang saat ini berdansa dengan dirinya.
"Selamat buat apa? Memangnya Kak Maura baru saja memenangkan pertandingan apa harus diucapkan selamat segala." Ucap Attar tanpa ekspresi apapun, wajahnya terlihat datar layaknya papan triplek.
Maura mendengkus mendengar ucapan adiknya itu. "Terserah." Sungut Maura yang kesal sendiri pada Attar. Dia melepaskan tangannya yang dia letakkan di bahu Attar, berniat mau kembali pada Fabian, tapi justru ditahan sama Attar.
Maura melihat pergelangan tangannya yang dipegang sama Attar, dia lantas menatap adiknya itu sengit. Kenapa adiknya satu ini selalu membuatnya kesal juga marah. Adiknya itu bersikap baik pada dirinya itupun kalau ada maunya saja. Selebihnya hanya saling mengejek hingga membuat kesal dan marah, seperti sekarang ini.
Maura yang awalnya menatap sengit pada Attar berubah setelah melihat raut wajah sedih pada adiknya itu. Keningnya sedikit mengkerut saat melihat tampang sedih Attar.
"Kak Maura nggak akan pergi ninggalin kami kan?" Attar bertanya dengan nada rendah dan juga tatapannya yang memancarkan kesedihan, takut kehilangan.
Maura menahan senyum mendengar apa yang baru saja Attar tanyakan. Hingga akhirnya dia tertawa lirih, menertawakan kekonyolan akan sikap Attar yang pura-pura sok dingin ternyata untuk menutupi kesedihannya. "Kenapa memangnya?" Maura kembali berdansa dengan Attar, namun senyum yang nyaris tawa itu masih keluar dari bibirnya.
"Kak Maura menikah, itu artinya Kak Maura akan pergi dari rumah. Dan aku sendiri sebentar lagi akan tinggal di Amerika. Siapa nanti yang akan menjaga Ayah sama Bunda juga dua bocil itu?"
Maura kembali tersenyum, ternyata adiknya itu masih memiliki rasa peduli terhadap sesama, terutama keluarga yang dia sayangi. "Kamu tenang saja. Kakak memang akan pergi dari rumah dan ikut suami, tapi kami masih tinggal di kota yang sama. Kakak masih bisa bertemu Ayah Bunda setiap hari. Kamu tidak perlu mencemaskan semua itu." Maura mencoba memberi Attar pengertian.
Maura menghentikan gerakan kakinya yang otomatis membuat Attar juga ikut berhenti. Dia memeluk Attar erat. "Terima kasih sudah memikirkan kami." Maura menepuk punggung Attar dengan kedua tangannya. "Kakak senang kamu masih peduli sama keluarga. Kamu tenang saja dan fokuslah untuk belajar. Kamu adalah penerus tahta, kamu harus kuat apapun rintangan yang akan kamu hadapi nantinya. Kakak dan semuanya akan mendukung kamu."
Attar membalas pelukan Maura, dia memejamkan mata dan mengangguk pelan mendengar perkataan kakaknya itu.
"Nggak mau mengucapkan apa gitu buat pernikahan Kakak?" Maura masih mengharapkan ucapan selamat dari Attar.
"Menghamburkan duit." Jawaban Attar membuat Maura langsung melepaskan pelukannya.
"Maksud kamu apa?" Maura mendelik tajam pada Attar.
"Pesta mewah pernikahan kakak yang menghabiskan duit. Duit itu ditabung, di investasikan, bukan untuk dihamburkan buat kesenangan sesaat." Attar langsung pergi setelah mengatakan itu.
Maura melongo dibuatnya. Bukan itu yang ingin dia dengar dari mulut Attar. Tapi kenapa justru kalimat pedas yang keluar dari mulut adiknya yang tidak bisa makan pedas itu. Dia nikah sekarang atas biaya nya berdua dengan Fabian, tidak meminta orang tua. Hanya hotel saja yang gratis karena milik keluarga, keluar uang itupun untuk baju nikah saja, lainnya endorse.
"Bisa saya berdansa dengan Nona!"
Maura melihat sebuah tangan yang terulur didepannya, dia menoleh kesamping dan melihat lelaki yang sudah menjadi suaminya tengah tersenyum lembut pada dirinya. Maura yang awalnya dibuat kesal kembali sama Attar tersenyum dan menyambut uluran tangan Fabian dengan senang hati.
__ADS_1
Eghh
Maura mende sah pelan saat dengan kasar pinggangnya ditarik sama Fabian hingga tubuh keduanya begitu menempel satu sama lain. Bahkan nafas keduanya saling menerpa wajah mereka.
"Sudah lama aku menantikan bisa berdansa dengan mu." Ucap Fabian pelan, nyaris berbisik.
Maura tersenyum, kedua tangannya yang ada di bahu Fabian menjalar turun dengan perlahan. "Kalau begitu, mari kita berdansa, Dokter tampan." Balas Maura dengan suara mendayu.
Fabian menyeringai, dia menjentikkan jarinya dan lampu langsung padam. Ada dua spot light mengarah pada posisi keduanya. Fabian melepas rengkuhannya pada tubuh Maura, dia mundur selangkah dan melepaskan jas miliknya dan melemparnya sembarang arah hingga mengenai wajah Gerry membuat lelaki itu mengumpat.
Fabian tidak peduli karena dia tidak melihatnya, kini yang dia kenakan menyisakan rompi juga kemeja putih yang sekarang sudah dia gulung sampai batas siku. Dasi kupu-kupu yang melingkar di kerah kemejanya juga dia lepas dan lempar begitu saja.
Maura tersenyum menyaksikan apa yang dilakukan suaminya, apalagi saat melihat Fabian yang membuka tiga kancing atas kemejanya, Maura dibuat begitu susah menelan saliva nya. Suaminya itu sungguh begitu menggoda untuk disentuh. Dia tidak berkedip melihat pemandangan halal itu.
Suara musik kembali terdengar, kali ini suara musik itu terdengar seperti musik salsa. Fabian langsung menarik tangan Maura membuat posisi keduanya kembali seperti semula. Fabian melepas tusuk konde yang ada di kepala Maura hingga membuat rambut panjang wanita itu tergerai indah.
Keduanya menari salsa mengikuti irama musik. Maura tidak menyangka kalau Fabian ternyata bisa menari salsa juga, justru terlihat begitu lihai. Untung saja gaun malam yang dia kenakan malam ini hanya sebatas lima centi diatas lutut, kalau tidak mungkin Maura susah untuk bergerak mengikuti tarian Fabian.
WOW
Seruan juga tepuk tangan terdengar saat dua sejoli halal itu melakukan tarian salsa. Hanya mereka berdua, tidak ada yang ikut bergabung. Semuanya menikmati pertunjukan yang dilakukan pasangan pengantin baru.
Maura sama Fabian menari dengan indahnya, mereka saling menggoda satu sama lain. Mulai dari tatapan, senyuman, gerak tangan juga tubuh, kedua saling menggoda. Keringat sudah terlihat membasahi tubuh keduanya padahal suhu AC masih terasa begitu dingin.
"Sudah sangat malam. Ayo kita kembali dulu." Di cahaya yang temaram, terlihat Rafa mengajak Kamila untuk kembali ke kamar hotel.
"Tapi Mila masih ingin lihat mereka." Rengek Kamila yang belum mau diajak kembali.
"Kamu lagi hamil sayang. Tidak bagus ibu hamil diluar malam-malam seperti ini." Rafa mencoba memberikan pengertian pada istrinya.
"Kenapa? Apa kamu cemburu sama Dokter Fabian?" Kamila justru berpikiran yang bukan-bukan.
"Astaghfirullahaladzim, sayang. Kenapa kamu bisa berpikiran seperti itu?" Kamila diam saja, dia juga tidak tahu kenapa dia bisa memiliki pemikiran seperti itu.
"Dengar!! Hati aku, tubuh aku, keringat aku semuanya milik kamu. Tidak ada yang lain selain kamu. Aku mengajak kamu kembali karena sekarang ini bukan tontonan kita. Abah kyai sudah kembali dari tadi, Umma sama Papa juga sudah kembali. Disini tinggal teman-teman Maura juga Fabian. Lebih baik kita kembali dan jaga pandangan mata kita dari mereka." Kamila mengangguk, akhirnya dirinya juga Rafa kembali ke kamar hotel setelah berpamitan pada Bryan juga Freya yang masih ada disana.
WOW
Seruan juga tepuk tangan kembali terdengar setelah Maura juga Fabian selesai dengan tarian salsa nya. Keduanya masih dalam posisi berdiri saling berhadapan satu sama lain. Tubuh mereka juga terlihat saling bersentuhan dengan salah satu tangan Maura di bahu Fabian dan satu tangannya lagi berpegangan dengan tangan Fabian dan jangan lupakan kaki Maura saat ini. Salah satu kakinya dipegang sama Fabian tepat di bagian paha mulus kinclong milik Maura. Diangkat sejajar dengan pinggang Fabian membuat underwear bagian dalam Maura terlihat.
Hufttt
Nafas keduanya terdengar memburu, keduanya juga saling berebut udara untuk menetralkan nafas mereka. Mereka saling pandang dengan bibir terbuka karena nafas mereka yang masih ngos-ngosan.
"Cium!! Cium!!" teriak Amelia membuat yang lainnya ikut menyuarakan ciuman untuk kedua mempelai.
__ADS_1
Fabian tanpa rasa malu mencium bibir ranum Maura dengan lembut, ditahannya tengkuk istrinya itu tanpa merubah posisi. Maura sendiri menyambutnya dengan mengalungkan kedua tangannya pada leher Fabian.