One Night Romance

One Night Romance
Bab 47


__ADS_3

"Kemana jadwal kamu hari ini?"


Maura yang tengah memakai skincare rutinnya setiap pagi selepas mandi menoleh ke arah ponsel yang dia letakkan berdiri diatas kotak tisu dan dia sandarkan pada kaca riasnya. Dia tersenyum melihat gambar Fabian yang ada di ponselnya tengah melakukan treadmill. Keduanya sekarang tengah melakukan panggilan video call.


"Pagi ini Halona Hotel, siangnya ke Mora Star, sore ada meeting di kantor Ayah, lanjut malamnya dinner sama kolega." Jawab Maura sambil mengoleskan cream pada wajahnya.


"Sibuk banget calon istri ku." Maura mengulum senyum mendengar Fabian menyebutnya calon istri. Dia tidak berani melihat kearah kamera ponsel karena saat ini kedua pipinya tengah merah merona. Pasti nantinya Fabian akan mengejeknya.


"Beda banget sama calon suami kamu yang statusnya jadi pengangguran saat ini." Sambung Fabian yang memang saat ini dirinya belum kerja kembali ke rumah sakit. Dia sendiri tidak tahu sampai kapan Surat Ijin Praktek kedokteran nya dihentikan sementara. Dia berharap sebentar saja dan segera kembali bekerja di rumah sakit.


"Kamu nggak keberatan kan kalau nantinya suami kamu menjadi beban kamu karena tidak memiliki pekerjaan?" Tanya Fabian, dia saat ini sudah selesai treadmill dan tengah mengusap keringatnya dengan handuk kecil yang dia sampirkan tadi besi pegangan disisi alat treadmill.


Maura yang saat ini tengah mengoleskan bedak tipis-tipis diwajahnya tersenyum. "Kenapa juga harus keberatan. Kekayaan keluarga Abrisam tidak akan habis tujuh turunan. Mau kamu nantinya hanya memanfaatkan aku saja itu tak ada apa-apanya. Paling dengan mudah nanti kamu bakal ditendang sendiri dari keluarga Abrisam dan akan hidup menggembel." Ujung-ujungnya Maura justru mengejek Fabian. Dia melihat ke arah kamera ponsel sambil menjulurkan lidahnya.


"Nggak masalah, yang penting aku sempat menikmati harta keluarga Abrisam yang banyak itu. Kalaupun ditendang keluar, pasti nanti akan ada yang membela. Atau mungkin akan ikut keluar bersama ku." Maura menggelengkan kepalanya melihat sikap Fabian yang penuh percaya diri. Lelaki seperti itu kenapa Aurel susah sekali mendekatinya, sedangkan dirinya dengan mudah masuk ke dalam hati Fabian. Apa Fabian termasuk dalam kategori lelaki matre, pikir Maura yang entah kenapa bisa kepikiran seperti itu. Semoga saja Fabian bukan termasuk lelaki seperti itu, harap Maura dalam hati.


"Itu kenapa lipstik nya tebal banget. Mau pergi ke kondangan, Bu?" Bukannya menjawab Fabian, Maura justru memonyongkan bibirnya ke arah kamera ponsel, memperlihatkan bibirnya yang yang baru saja dia poles dengan lipstik warna merah terang dengan tebal.


"Hapus lipstik nya itu. Pakai yang tipis-tipis aja, sewajarnya. Nggak perlu menor, kamu sudah cantik." Maura tertawa mendengar Fabian yang mengomelinya. Dia senang sekali Fabian posesif pada dirinya.


"Aku dari dulu memang cantik." Sahut Maura dengan penuh percaya diri. Dia mengambil tisu dan menghapus lipstik di bibirnya. "Seperti ini?" Maura memperlihatkan bibirnya yang lipstik nya sudah tidak semenor tadi.


"Iya, itu jauh lebih cantik daripada tadi." Jawab Fabian dengan tersenyum. "Coba aku ada disana, kamu tidak perlu menggunakan tisu untuk menghapus lipstik kamu, tapi pakai bibir ku langsung."


Maura mencebikkan bibirnya pada Fabian. Walau sebenarnya dalam hatinya sudah berteriak kegirangan. "Itu maunya kamu."

__ADS_1


"Memang kamu nggak suka?" Maura mengangkat kedua bahunya sambil mengulum senyum. Tidak mungkin kan dia langsung bilang suka, yang ada Fabian pasti akan suka mencuri ciuman pada dirinya, walau kenyataannya dirinya suka sekali. Mungkin sudah kecanduan ciuman dengan Fabian.


"Sudah dulu ya. Ini sudah jam delapan lebih. Pertemuannya jam sembilan nanti. Takut telat, Bunda juga sudah nunggu dari tadi." Kata Maura mengingat saat ini sudah lewat jam yang sudah ditentukan sama Freya untuk berangkat menuju Halona Hotel.


Fabian terlihat mengangguk mengerti. Dia tahu kesibukan kekasihnya itu. Wajar saja, kekasihnya itu seorang pewaris, pasti kerjaannya banyak. Harus meeting sana-sini dan masih banyak lagi. "Hati-hati ya. Aku akan kangen sama kamu."


Maura tertawa mendengar perkataan Fabian. "Lebay banget sih. Udah dulu ya, muachhh!!" Maura langsung memutuskan sambungan video call bersama Fabian sebelum lelaki itu membalasnya.


Maura melepaskan roll rambut yang ada poninya. Dia menggerakkan ke sisi kanan kiri sebelum akhirnya beranjak pergi keluar dari kamar dengan menenteng tas juga ponsel.


"Apa lihat-lihat?!" Tegur Maura pada Attar yang melihatnya sedari dia turun dari tangga sampai ke ruang keluarga.


"Cih!! Siapa juga yang lihat-lihat. Aku aja lagi olahraga kepala." Sanggah Attar sambil menggerakkan kepalanya seolah-olah dia memang sedang melakukan olahraga.


Maura mencebikkan bibirnya. Dia tahu pasti Attar sebenarnya tadi ingin berkomentar tentang kejadian beberapa hari yang lalu dimana adik lelaki satu-satunya itu memergoki dirinya juga Fabian yang tengah berciuman dan saling bertukar saliva. Seperti kemarin-kemarin Attar yang selalu menyindir nya, lebih baik sebelum Attar mengeluarkan suara dirinya terlebih dahulu menegur remaja lelaki itu.


"Atta!! Bunda mana?" Teriak Maura dari depan pintu rumah karena tidak mendapati sosok wanita yang sudah mengandung dan melahirkannya.


"Sudah berangkat dari tadi sama Ayah." Jawab Attar dengan berteriak juga.


"Bunda gimana sih. Katanya tadi ngajak berangkat bareng. Ini justru berangkat duluan tanpa ngasih tahu dulu." Gerutu Maura sambil masuk kedalam mobil. Tanpa menggunakan sopir pribadi, Maura mengendarai mobilnya menuju Halona Hotel.


🌷🌷🌷


Siang hari di rumah sakit, Raka terlihat baru saja masuk kedalam lift dan menuju lantai dimana kantor direktur berada. Sesampainya di tempat yang dia tuju, Raka langsung mengetuk pintu ruang direktur rumah sakit tempat dirinya bekerja.

__ADS_1


"Masuk!!"


Setelah mendapat instruksi dari dalam, Raka membuka handle pintu dengan perlahan. Dia masuk ke dalam dan menutup kembali pintu itu. Raka sempat tertegun saat melihat didalam sana juga ada Bryan.


"Permisi Dokter Andre. Anda mencari saya." Ucap Raka dengan sopan. Dia juga mengangguk sekilas pada Bryan walau pria paruh baya itu tidak melihat kearahnya.


Raka mencoba tersenyum walau sebenarnya dia tahu alasan Andre memanggilnya siang ini. Apalagi kalau bukan karena tindakannya terhadap Fabian juga Maura. Ditambah Papanya sendiri yang sudah menyelidikinya dan memberikan semua informasi yang didapat tanpa ditutupi sedikit pun kepada Bryan. Pasti sekarang dirinya akan dipecat, dikeluarkan dari pekerjaannya di rumah sakit ini.


"Silahkan duduk dulu." Andre meminta Raka untuk duduk di sofa, dimana disana Bryan juga tengah duduk sambil memainkan ponselnya. Entah hanya sekedar main ponsel atau membaca email yang masuk terkait pekerjaan. Tidak ada yang tahu soal itu karena Bryan diam saja tidak memberi tahu.


Raka dengan ragu duduk di sofa. Dia melirik ke arah Bryan yang sepertinya acuh terhadap dirinya. Biasanya Ayah dari wanita yang dia sukai itu selalu antusias bila ada dirinya, sekarang sudah tidak lagi. Apa perbuatannya sungguh keterlaluan sampai Bryan tidak perduli lagi dengan dirinya dan sekarang justru melihatnya seperti orang asing, pikir Raka.


"Maaf ya sudah mengganggu pekerjaan Dokter Raka." Ucap Andre yang sekarang sudah bergabung duduk di sofa. Dia masih terlihat berbicara formal kepada Raka


"Tidak apa, Dokter Andre." Balas Raka dengan tersenyum.


"Langsung saja, tidak perlu basa-basi lagi." Andre membuka pembicaraan. "Kamu pasti tahu alasan saya memanggil mu kesini?" Tanya Andre yang sepertinya sudah tidak seramah tadi. Terdengar dari suaranya yang mengintimidasi juga tatapannya yang mengisyaratkan kekecewaan juga kemarahan pada Raka.


"Kamu Dokter terbaik di rumah sakit ini. Dokter teladan yang dimiliki rumah sakit ini. Kamu juga memiliki IQ tinggi bahkan di tingkat Very Superior melebihi Fabian. Tapi apa yang sudah kamu lakukan terhadap rekan kamu itu? Apa seperti itu cara yang dilakukan orang jenius untuk menjatuhkan lawannya?" Raka menunduk dalam mendengar Andre memarahinya. Dia diam saja, tidak menjawab maupun membantah apapun yang Andre katakan mengingat apa yang sudah dia lakukan memang sebuah kejahatan meski tidak ada niat pembunuhan didalamnya. Tapi tetap saja tindakan yang dia lakukan itu salah. Dia seorang dokter, berpendidikan tinggi, IQ nya juga tinggi, tapi perbuatannya tidak mencerminkan kepribadian sama sekali.


"Kalau tidak mengingat siapa Papa kamu, perbuatan kamu sudah aku laporkan ke Ikatan Dokter di negara ini. Apalagi kamu juga pernah membantu menyelamatkan nyawa istrinya Rendy." Bryan yang sedari tadi diam saja akhirnya juga ikut mengeluarkan uneg-uneg nya. Dia juga terlihat kesal, marah dan kecewa pada Raka. Dulu dia pernah berharap Raka bisa bersanding dengan Maura saat melihat kebaikan Raka, tapi ternyata pilihannya salah. Untung saja dia belum membicarakan soal itu. Kalau tidak, pasti Raka akan nekat untuk menjatuhkan Fabian dan mendapatkan Maura dengan cara apapun. Meskipun saat ini Raka masih bisa melakukan itu, tapi Bryan tidak akan tinggal diam bila ada yang berani menyentuh putri kesayangannya.


"Aku tidak akan meminta mu untuk mengundurkan diri, juga tidak akan melaporkan mu ke departemen umum." Andre menggeser sebuah surat yang sedari tadi ada di atas meja. "Tapi aku memindah tugaskan kamu ke Makassar." Sambung Andre yang membuat Raka langsung mengangkat kepalanya.


Raka tidak menyangka kalau dirinya hanya dipindah tugaskan saja. Dia pikir dia akan dipecat, dicabut lisensi kedokterannya atau lebih parahnya lagi dirinya akan dijebloskan ke dalam penjara. Ternyata hanya dipindah tugaskan. Dia masih bisa bernafas lega sekarang.

__ADS_1


"Tapi kamu harus ingat." Raka menoleh ke arah Bryan. Jantung nya berdetak cepat, sepertinya Bryan akan memberinya peringatan yang pastinya akan merugikan dirinya. "Kalau sampai kamu melakukan kesalahan yang sama pada Fabian, apalagi terhadap Maura atau mungkin orang lain. Orang tua juga adik kamu bahkan keponakan kamu akan tamat riwayatnya saat itu juga."


__ADS_2