
"Bian!! Kamu kesini sama siapa?"
Maura segera melepas pelukannya pada tubuh Fabian saat ada yang datang menegur Fabian. Dia dan juga Fabian menoleh ke arah luar teras, terlihat seorang lelaki muda datang menghampiri mereka.
"Kau ada disini juga?" Bukannya menjawab, Fabian justru balik bertanya.
"Iya, aku sudah dari semalam disini." Jawab Putra, adik sepupu Fabian. "Siapa dia?" Tanya Putra menunjuk Maura dengan gerakan kedua alisnya.
Fabian melihat ke arah Maura dan menarik pelan pergelangan tangan Maura. "Dia calon istri ku, Maura." Fabian memperkenalkan Maura dengan berbangga hati dan tersenyum senang.
Maura mengangguk sekilas sambil tersenyum tipis pada Putra. Dia tidak tahu siapa lelaki itu. Sepertinya Fabian kenal dekat dengan lelaki itu, pikir Maura saat melihat obrolan antara kedua terlihat santai, tidak ada kecanggungan sama sekali.
"Cepat sekali dapat penggantinya." Komentar Putra yang sepertinya kaget Fabian sudah mendapatkan pengganti lagi. "Aku satu aja belum dapat-dapat." Keluh Putra dengan bercanda karena belum memiliki pasangan padahal usianya sudah dua puluh tujuh tahun.
Fabian menanggapinya dengan tertawa kecil. "Kau sendirian saja disini?" Tanya Fabian yang penasaran.
"Iya, Mama minta aku untuk membersihkan rumah ini. Soalnya nanti Oma mau menginap disini." Jawab Putra. "Kau tidak langsung pulang kan?" Tanya Putra pada Fabian. "Kenalkan dulu itu sama Oma." Sambung Putra dengan menyenggol lengan Fabian.
"Rencananya juga begitu. Dari sini besoknya mau main ke rumah. Kebetulan kalau Oma kesini juga, jadi tidak perlu datang ke rumah lagi." Kata Fabian.
Maura menunduk mendengar apa yang Fabian katakan. Jadi Fabian mengajaknya ke Bandung selain berlibur juga mengajaknya untuk berkenalan dengan Omanya. Tapi kenapa harus Fabian tidak memberi tahu apapun pada dirinya. Apa sebenarnya Omanya Fabian tidak merestui hubungan mereka, pikir Maura mengingat Fabian tidak pernah membahas tentang Omanya.
"Ayo masuk!! Ada beberapa makanan di kulkas." Ajak Putra dan berjalan terlebih dahulu masuk kedalam rumah.
"Bi!! Bisa kita bicara sebentar." Maura menahan tangan Fabian saat lelaki itu akan melangkah mengikuti Putra. Maura menatap Fabian dengan memohon.
Fabian menatap mata Maura, seperti ada sesuatu yang serius yang ingin Maura bicarakan dengan dirinya. "Mau bicara dimana?" Tanya Fabian.
"Disana." Maura menunjuk sungai yang tidak jauh dari air terjun. Tidak jauh juga dari tempatnya saat ini. Cukup melangkah kurang lebih tiga puluh meter sudah sampai.
"Ayo!!" Fabian menggandeng tangan Maura dan menuruni anak tangga yang tingginya tidak sampai satu meter. Sebelumnya Fabian sudah berpamitan pada Putra untuk keluar sebentar.
Keduanya menuju sungai dengan bergandengan tangan, namun tidak ada pembicaraan diantara keduanya. Sesampainya di tepi sungai, Maura duduk di bebatuan besar, begitupun dengan Fabian.
"Sejuk banget ya Bi, disini. Udaranya masih bersih, suasananya tenang, sudah seperti di Swiss. Aku jadi rindu ingin main ke Swiss." Ujar Maura dengan memejamkan kedua matanya menikmati udara yang sejuk dan segar meski ini sudah siang hari.
"Iya, ini Swiss nya Java. Aku sering kesini kalau penat dengan pekerjaan." Timpal Fabian yang juga melakukan hal yang sama seperti Maura. Dia juga terlihat memejamkan matanya menikmati udara segar dan sejuk juga sehat tentunya karena minim polusi.
Maura membuka matanya, dia melihat ke arah Fabian dimana lelaki itu masih memejamkan matanya. "Kenapa kamu tidak memberi tahu ku kalau ingin mempertemukan ku dengan Oma kamu?" Tanya Maura yang sepertinya belum siap untuk bertemu keluarga besar dari Fabian. Dia pikir keluarga Fabian hanya tinggal Sandi sama Shanti aja dan yang tinggal di Bali. Ternyata Fabian masih memiliki seorang nenek dan beberapa keluarga lainnya.
Fabian membuka matanya, sudah dia tebak pasti Maura tadi kaget saat dirinya bilang ingin mengenalkan Maura pada Omanya. Dia menoleh ke arah Maura dan menatap Maura yang juga menatapnya. "Apa kamu tidak mau bertemu dengan keluarga ku yang lain?" Fabian justru bertanya balik.
"Bukannya aku nggak mau. Seenggaknya kamu bilang kalau kita ke Bandung tidak hanya liburan, tapi bertemu dengan keluarga kamu juga." Jawab Maura sedikit protes karena tidak diberitahu dari awal.
"Apa kamu belum siap?" Tanya Fabian yang langsung membuat Maura menundukkan kepalanya.
__ADS_1
"Aku hanya takut saja, Bi. Aku takut mereka tidak mau menerima aku karena masa lalu kedua orang tua ku juga statusku. Kamu tahu sendiri kan masa lalu Ayah sama Bunda? Pasti mereka sudah menceritakan sama kamu bagaimana aku hadir di dunia ini." Maura mengatakan itu dengan suara bergetar. "Aku anak dari hasil zina." Sambungnya dengan suara lirih, bersama dengan turunnya air mata yang membasahi kedua pipi Maura.
Fabian terdiam melihat Maura yang menangis. Dia merasakan sakit melihat wanitanya yang insecure dengan masa lalunya sendiri. Fabian menghembuskan nafas perlahan sebelum akhirnya memegang kepala Maura dengan kedua tangannya. Dia mengangkat pelan kepala Maura. Dilihatnya wajah cantik itu kini tengah basah karena air mata. Mata, hidung juga telinga terlihat memerah.
"Aku tidak perduli dengan masa lalu kamu maupun masa lalu kedua orang tua kamu. Yang aku pedulikan adalah masa depan kita, aku dan kamu." Ucap Fabian dengan menatap mata Maura. "Bila mereka semua tidak merestui kita, yang terpenting kamu mau hidup bersama dengan ku sampai kita tua nanti. Kita tidak perlu dengarkan omongan orang lain. Yang menjalani hidup kita, kita sendiri. Bukan orang lain. Lagian kita juga sudah mendapat restu dari kedua orang tua kita. Itu sudah jauh lebih dari cukup."
Dengan air mata yang masih menetes, Maura membalas tatapan Fabian juga mendengar setiap kata yang Fabian sampaikan pada dirinya. Se-cinta itukah Fabian pada dirinya, sampai lelaki itu tidak peduli dengan masa lalu yang dia miliki. Bahkan dia juga kedua orang tuanya menerimanya dengan baik meski keluarga Fabian belum tentu mau menerimanya.
"Sudah jangan sedih lagi. Aku nggak suka lihat kamu menangis seperti ini. Apalagi harus insecure pada orang lain. Jadilah diri sendiri dengan versi terbaik kamu." Ucap Fabian sambil mengusap pipi Maura yang basah dengan telapak tangannya.
"Terima kasih sudah mau menerima aku dan masa lalu ku." Ucap Maura dengan suara lirih.
"Tidak perlu berterima kasih dalam suatu hubungan. Aku mencintai kamu selain dari paras kamu, juga dari hati kamu cantik dan baik. Aku juga menerima semua kekurangan kamu, termasuk masa lalu kamu. Karena aku sendiri juga memiliki kekurangan dan masa lalu." Balas Fabian yang tidak menyudutkan Maura, justru ingin membuat Maura lebih tenang lagi dan tidak insecure karena masa lalu yang dimiliki.
Dengan sisa air mata yang keluar dari kelopak matanya, Maura menghambur memeluk tubuh Fabian dengan erat. Dia memejamkan matanya saat merasakan Fabian juga membalas pelukannya. "Terima kasih engkau sudah mengirimkan Fabian untuk ku ya Allah. Dia hadir disaat yang tepat." Lirih Maura berucap dalam hati.
🌷🌷🌷
Sore harinya Omanya Fabian yang bernama Ratih sudah tiba bersama kedua orang tuanya Putra juga. Maura juga sudah dikenalkan sama Oma Ratih juga orang tua Putra. Mereka langsung welcome sama Maura. Terutama Oma Ratih, dia begitu senang melihat Fabian, cucu kesayangannya yang membawa dan memperkenalkan seorang gadis cantik dan sopan kepada dirinya.
Tapi semua itu berubah saat makan malam, Oma Ratih mempertanyakan siapa orang tua Maura.
"Jadi kamu cucunya Nyonya Alea?" Oma Ratih kembali memastikan kalau Maura itu putri dari Bryan dan merupakan cucu dari Oma Lea.
"Benar Oma. Saya cucu pertama Oma Lea." Jawab Maura jujur tanpa dia tutupi. Meski dia melihat keterkejutan dari Oma Ratih dan anggota keluarga yang lain, Maura tidak peduli kalau nantinya mereka tidak suka sama dia. Yang dia butuhkan sekarang bukannya pengakuan orang lain terhadap dirinya, melainkan mereka mau apa tidak menerima dirinya dengan masa lalu. Kalau tidak diterima tidak masalah. Dia masih memiliki keluarga, saudara juga teman yang mau menerima masa lalunya, termasuk Fabian yang mencintainya tanpa syarat.
"Oma!!" Sentak Fabian yang tidak terima Oma Ratih menjelekkan Maura.
"Bi!!" Tegur Maura sambil memegang tangan Fabian. Dia juga menggelengkan kepalanya meminta Fabian untuk tidak menyentak orang yang lebih tua.
Maura mengarahkan pandangannya pada Oma Ratih. "Benar sekali apa yang Oma katakan. Aku hanya anak haram, tidak memiliki wali selain Bunda aku sendiri. Aku juga tidak masuk kriteria menantu idaman keluarga Nugraha. Tapi sayangnya...." Maura menunduk sambil mengusap perutnya pelan. "Didalam sini sudah ada benih yang dititipkan dari keturunan keluarga Nugraha, benih dari Fabian Arbie Nugraha." Maura mengangkat kepalanya kembali sambil tersenyum menatap Oma Ratih.
Fabian geleng kepala sambil memejamkan matanya melihat Maura yang sepertinya ingin sekali membakas suasana yang awalnya sudah panas semakin panas lagi. Tadi dia meminta Maura untuk menjadi diri sendiri dengan versi terbaik dan justru seperti ini yang Maura tunjukkan di hadapan Oma Ratih. "Bukan seperti ini yang aku maksud, Ra." Batin Fabian menjerit karena Maura semakin membuat suasana semakin memanas.
"Apa kamu bilang? Tidak mungkin cucu ku melakukan itu kalau bukan kamu yang merayu nya terlebih dahulu." Oma Ratih terlihat marah sambil memegang kepalanya. Entah pusing atau memiliki riwayat darah tinggi.
"Sayangnya, cucu anda sendiri yang datang kepadaku dan mengambil kehormatan ku dengan paksa." Ungkap Maura dengan penuh dramatis. "Untung saja dia mau tanggung jawab dan mau menikah dengan ku. Kalau tidak mungkin anak ini akan aku gugurkan sejak awal." Maura kembali mengusap perutnya dengan mengulum senyum.
Fabian membelalakkan matanya mendengar pengakuan Maura. Bisa-bisanya wanitanya itu mendramatisir cerita yang seolah dirinya saja yang salah. Memang sepertinya setelah ini harus diberi hukuman, pikir Fabian yang ingin memberi hukuman pada Maura yang sudah memfitnahnya. Walau sebenarnya ada kebenarannya sedikit. Tapi tetap saja dia merasa difitnah sama Maura.
"Ya Tuhanku!!" Kepala Oma Ratih rasanya sudah mau semakin pecah.
Dengan sigap Retno, Mamanya Putra menahan tubuh Oma Ratih saat mau pingsan. "Ma!! Mama tidak apakan?" Tanya Retno yang terlihat khawatir.
"Katakan sama Mama kalau Mama tadi salah dengar." Oma Ratih sepertinya masih belum percaya dengan apa yang dikatakan sama Maura tadi.
__ADS_1
"Mama tidak salah dengar. Retno juga dengarnya seperti itu. Kalau Bian sudah menghamili seorang gadis dan gadis itu Maura, putri pertama dari Tuan Bryan." Retno justru memperjelas lagi kenyataannya dan semakin membuat kepala Oma Ratih semakin pusing dan hampir pecah.
"Maafkan Bian Oma." Fabian akhirnya mengeluarkan suara setelah sedari tadi hanya diam saja. "Kedatangan Bian kesini tadi memegang ingin menceritakan ini pada Oma dan meminta restu Oma."
"Oma tidak merestui kalian." Sahut Oma Ratih cepat.
"Tidak masalah kalau Oma tidak merestui kami. Tapi kami tetap akan menikah karena restu dari kedua orang tua sudah kami kantongi." Ucap Fabian yang sepertinya sudah bertekad untuk tetap menikah dengan Maura meski ada salah satu keluarga yang tidak merestui mereka.
"Ayo Amor kita masuk. Disini dingin, tidak baik buat ibu hamil diluar malam-malam yang dingin seperti ini." Fabian dengan mesranya mengajak Maura masuk kedalam kamar. Dia sepertinya mengikuti drama permainan yang dibuat Maura.
Maura melirik ke arah Fabian dengan senyum tertahan. Sepertinya lelaki itu tengah mengikuti dramanya. "Kamu benar, udara dingin malam ini tidak baik untuk ibu hamil seperti ku." Maura menimpali perkataan Fabian. Dia berdiri dan menggandeng tangan Fabian.
"Kamu tenang saja. Setelah sampai kamar, aku akan memberimu kehangatan." Balas Fabian dengan tersenyum manis pada Maura. Dia langsung membawa Maura pergi masuk kedalam kamar sebelum ada protes dari Maura maupun pihak keluarga lainnya.
"Retno!!! Mereka tidak masuk ke kamar yang sama kan?" Tanya Oma Ratih yang masih belum percaya kalau Fabian lebih memilih Maura meski tidak dapat restu darinya.
"Mereka masuk ke kamar yang sama Oma." Bukannya Retno yang menjawab, melainkan Putra yang menjawab pertanyaan dari Oma Ratih. "Wahh sepertinya ada yang bulan madu malam ini. Jadi ingin nikah juga biar bisa menikmati surga dunia."
Pletak
Sebuah sentilan keras mengenai pelipis Putra yang baru saja dia dapat dari Retno. "Sakit, Ma!" Keluh Putra yang kesakitan.
"Awas kamu kalau sampai melakukan kesalahan seperti yang sudah Bian lakukan. Oma tidak segan mencabut semua fasilitas yang sudah Oma berikan padamu." Ancam Oma Ratih pada Putra.
Kembali ke Maura juga Fabian yang saat ini ada didalam kamar yang sama. Maura terlihat duduk di tepi ranjang dengan kepala menunduk sambil memegang perutnya.
"Kamu kenapa? Perut kamu sakit?" Tanya Fabian yang kini berjongkok di hadapan Maura.
Maura menggelengkan kepala. "Aku hanya teringat Fatih saja." Jawab Maura lirih. "Coba kalau dia masih ada disini, pasti dia sudah terlihat besar."
Fabian mengambil kedua tangan Maura dan dia pegang erat kedua tangan Maura dengan kedua tangannya. "Apa ini alasan kamu kenapa tadi mengatakan kalau kamu lagi hamil?" Tanya Fabian.
Maura menggeleng. "Bukan. Aku hanya ingin menjatuhkan sekalian harga diri aku dimata Oma kamu. Aku ingin melihat reaksi beliau. Sepertinya Oma kamu beneran tidak suka sama aku dech." Maura sepertinya menyesal telah membuat drama tadi.
"Itu tidak masalah. Yang jadi masalah sekarang adalah kita harus mengulang kesalahan yang sama." Maura mengerutkan keningnya bingung dengan apa yang dimaksud sama Fabian.
"Mengulang kesalahan apa?" Tanya Maura.
"Membuat adik untuk Fatih." Bisik Fabian yang membuat Maura membelalakkan matanya.
"Yang benar aja, Bi. Aku belum siap hamil lagi untuk saat ini." Tolak Maura. "Oke kalau kita sudah nikah tidak apa. Tapi kita belum nikah, Bi." Maura mencoba mengingatkan Fabian tentang status hubungannya saat ini dengan Fabian.
"Aku tahu. Tapi aku sudah tidak bisa menahannya lagi." Ucap Fabian sambil mengusap lembut wajah Maura dengan punggung tangannya. "Aku ingin mengulangi lagi kesalahan itu malam ini." Maura memejamkan matanya saat Fabian mencium telinganya dan salah satu tangan Fabian sudah berada disalah satu gunung kembar yang bisa memproduksi susu.
"Tapihhh..." Maura menahan untuk tidak mengeluarkan suara nikmatnya saat Fabian mencium leher disertai merem mas gunung kembarnya.
__ADS_1
"Kamu tenang saja. Aku sudah membawa balon udara." Kata Fabian sambil menunjuk beberapa kotak balon udara yang sudah dia siapkan sebelum perjalanan ke Bandung. "Kamu mau yang rasa apa?"