
Fabian yang sore itu baru saja keluar dari ruang operasi setelah selesai menjalankan tugasnya dibuat kesal karena mendengar dari salah seorang suster yang tengah bergosip mengatakan kalau Maura bertemu dengan Raka dan berbicara berdua ditempat sepi. Beberapa kali Fabian terlihat mengambil nafas dan dihembuskannya perlahan untuk mengontrol emosinya akibat cemburu. Dia akui kalau dia cemburu pada Maura, andai saja bukan dengan Raka Maura bertemu, Fabian tidak akan cemburu dan kesal seperti saat ini.
Fabian yang saat ini tengah membuka praktek rawat jalan setelah melakukan tindakan operasi terlihat tidak begitu bersahabat dengan pasiennya. Dia masih ramah, namun senyumnya terlihat terpaksa dia lakukan saat bertemu pasien. Dia juga tidak banyak berbicara dan hanya berbicara seperlunya saja.
Bahkan suster perawat yang mendampingi Fabian tidak berani mengajak bicara suami dari Maura itu saat melihat raut wajah Fabian yang tengah menahan kekesalan.
"Berapa pasien lagi?" Tanya Fabian dengan suara dingin tanpa menatap suster yang mendampinginya, membantunya menjalankan tugas praktek rawat jalan.
Suster itu melihat tumpukan berkas yang ada di sebelahnya. Masih banyak dan baru saja selesai enam pasien yang diperiksa. "Masih banyak Dok. Mungkin dua puluh sampai tiga puluh pasien lagi." Jawab Suster itu dengan pelan. "Baru buka belum ada setengah jam sudah tanya tinggal berapa pasiennya." Ujar Suster itu dalam hati. Dia tidak berani mengatakannya secara langsung, takut terkena amarah dari Fabian. Ini sudah termasuk cepat, karena biasanya setengah jam baru memeriksa tiga empat pasien. Ini belum ada setengah jam sudah enam pasien yang ditangani.
"Panggil selanjutnya!" Perintah Fabian sambil melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. "Belum ada setengah empat." Gumam Fabian dalam hati. Itu artinya dirinya harus bersabar lagi untuk bertemu dengan Maura dan meminta penjelasan kenapa istrinya itu bertemu dan mengobrol dengan Raka. Dan kenapa juga Raka ada disini disaat pekerjaan ada di pulau seberang di zona waktu Indonesia Tengah. Memikirkan apa yang dibicarakan Maura dengan Raka membuat hatinya berkobar panas. Apalagi sedari tadi Maura tidak membalas pesannya padahal jelas nomornya aktif dan centang dua.
Selama memeriksa pasien yang datang berkunjung, Fabian sesekali melihat ponselnya yang tidak ada notifikasi chat masuk dari sang istri. Entah sedang apa istrinya sekarang ini, kenapa tidak kunjung membalas pesannya.
Lebih dari pukul lima sore Fabian baru saja selesai menjalani praktek rawat jalan. Dia melangkah cepat menuju ruang dokter dan mengisi laporan terlebih dahulu sebelum akhirnya pulang untuk bertemu dengan istrinya.
Diperjalanan pulang yang saat ini terlihat sedikit macet juga banyak lampu jalan yang sudah menyala, Fabian terlihat menghubungi seseorang. Namun bukan Maura yang dia hubungi karena panggilannya sedari tadi terus saja diabaikan dan hanya operator yang menjawab.
"Apa Maura masih di kantor?" Seru Fabian bertanya pada Amelia, orang yang dia hubungi mengingat Amelia bekerja di tempat yang sama dengan Maura.
"Aku nggak tahu. Maura tadi datang ke kantor siang terus sekitar jam tiga Maura pergi ke kantor Ayahnya."
Fabian memejamkan mata sejenak mendengar jawaban dari Amelia. Dia lantas menutup sepihak panggilan telepon tanpa mengatakan apapun. Dia berniat melajukan mobilnya menuju perusahaan Ayah mertuanya namun dia urungkan saat melihat jam sudah menunjukkan hampir pukul tujuh malam, Fabian memutuskan untuk pulang ke rumah orang tuanya dan pasti Maura sudah ada disana. Tidak mungkin Maura akan pulang larut malam atau ke rumah Ayah Bryan karena pagi tadi dirinya juga Maura diminta langsung pulang ke rumah Sandi, orang tua Fabian.
Disisi lain, Maura terlihat tengah asik memasak sambil bercerita sama Shanti, Mama mertuanya. Sore tadi Maura memutuskan pulang sendiri ke rumah mertuanya tanpa menunggu Fabian. Awalnya dia ingin menjemput Fabian di rumah sakit dan pulang bersama ke rumah Mama Papa, tapi urung Maura melakukannya dan disinilah sekarang dia berada. Di dapur milik mertuanya dan tengah memasak hidangan untuk makan malam pertama bersama keluarga sang suami.
"Mama tidak menyangka kalau kamu mau turun ke dapur. Bahkan kamu pintar sekali mengolah masakan jadi makanan enak." Puji Shanti pada menantu barunya. Dia tersenyum melihat Maura yang begitu cekatan dalam mengolah masakan. Sedari tadi Shanti hanya membantu Maura saja menyiapkan keperluan apa yang akan dimasak, sedangkan menantunya itu yang akan memasaknya.
Maura mengu lum senyum dan menatap Shanti sekilas. Dia menggeleng kepala sekali. "Tidak juga kok, Ma. Maura justru sering banyak malasnya daripada rajinnya kalau soal urusan dapur." Maura merendahkan diri sendiri, walau sebenarnya dia dulu saat tinggal sendiri di apartemen lebih suka memasak sendiri daripada beli di luar maupun meminta tolong maid untuk memasakkan nya. "Tapi Mama tenang saja. Putra Mama nanti Maura jamin tidak akan kelaparan dan akan selalu makan dari masakan yang Maura bikin. Insyaallah Maura akan selalu menyiapkan makanan untuk keluarga kecil kami nantinya." Maura secepat mungkin klarifikasi sebelum Mama mertuanya itu salah paham dengan dirinya. Dia takut kalau Shanti berpikiran dirinya tidak mau memasak maupun menyiapkan makan untuk Fabian.
Shanti mengangguk sekali. Dia tersenyum sambil mengusap rambut kepala Maura dengan lembut. "Mama percaya sama kamu kalau nantinya kamu nggak akan membiarkan putra Mama kelaparan karena Mama lihat kamu jago sekali dalam memasak."
__ADS_1
Maura hanya tersenyum karena masih fokus dengan masakan yang saat ini tengah dia olah. Sebentar lagi akan matang dan siap untuk disajikan. Maura akui dirinya bisa memasak karena dulu belajar dari Bundanya juga Oma Marissa. Apalagi Oma Marissa memiliki sebuah restoran, jadi dia dulunya belajar langsung sama Oma Marissa yang memang kebetulan jago dalam hal mengolah bahan masakan menjadi makanan enak dan lezat tentunya.
"Terima kasih sudah mau menerima Fabian, baik kekurangan maupun kelebihan yang dia miliki." Ucap Shanti dengan tulus dari dalam lubuk hati terdalam.
Maura mematikan api kompor karena apa yang dia masak sudah matang dan siap disajikan. Maura memutar tubuhnya menghadap pada Shanti dan memandang mata mertuanya itu dengan teduh. "Karena kelebihan dan kekurangan yang Mas Bian miliki adalah kesempurnaan untuk Maura, begitupun sebaliknya. Kita akan selalu mengisi satu sama lain."
Fabian yang baru saja masuk kedalam rumah mematung ditempat saat mendengar perkataan Maura. Dia tidak salah dengarkan tadi? Maura memanggilnya dengan panggilan 'Mas'. Fabian tersenyum tertahan mendengarnya. Hatinya membuncah bahagia mendengar perkataan Maura. Jujur saja dia lebih merasa dihargai bila Maura memanggilnya dengan panggilan 'Mas' walau dia juga senang Maura memanggilnya dengan panggilan kesayangan 'Bee'. Tapi panggilan 'Mas' yang Maura sematkan tadi sungguh membuatnya hatinya menghangat sampai dia melupakan kekesalannya akan Maura yang sejak tadi mengabaikan dan tidak membalas pesan maupun mengangkat panggilan telepon darinya.
"Kamu baru pulang, Bi?" Teguran dari Sandi yang baru saja keluar dari ruang baca dan melihat Fabian yang masih dengan pakaian kerjanya tengah berdiri di dekat ruang makan yang tidak jauh dari dapur bersih dimana Maura dan juga Shanti berada saat ini.
Maura juga Shanti yang mendengar Sandi menegur Fabian lantas melihat kearah ruang makan. Maura tersenyum melihat suaminya yang sudah kembali dari pekerjaan, dia segera melangkahkan kakinya menuju dimana sang suami berdiri menatapnya.
"Bee." Maura mengambil tangan kanan Fabian dan dia ciumnya takzim secara bolak balik. Setelahnya dia menegakkan tubuhnya dan tersenyum pada Fabian.
Fabian membalas senyuman dari Maura, dia menggerakkan tangan kanannya untuk mengusap kepala sang istri namun dia urungkan saat mengingat kembali kekesalannya karena Maura bertemu dengan Raka tanpa sepengetahuan dirinya dan juga tidak membalas chat yang dia kirim.
"Sini aku bawain." Maura meminta tas kerja milik Fabian yang berwarna hitam, namun penolakan yang Maura dapatkan. Fabian tidak memberikan tas kerja miliknya untuk dibawa Maura.
Maura menoleh ke arah Mama mertuanya berada. Dia tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Ayo Bee!! Aku siapkan air hangat untuk kamu mandi." Ajak Maura masuk kedalam kamar sang suami di lantai dua. Maura menggandeng tangan kanan Fabian yang tidak memegang apapun karena tangan kiri Fabian membawa tas yang tadi diminta sama Maura namun ditolak.
Fabian diam saja saat Maura menggeret lengannya, dia mengikuti langkah kecil kaki Maura menuju kamar mereka. Maura sempat tersenyum sekilas saat melewati Sandi yang duduk di sofa.
"Kamu duduk dulu. Aku siapkan air untuk kamu mandi." Maura meminta Fabian untuk duduk di sofa dan setelahnya dia bergegas menuju kamar mandi dan mengisi air di bathtub buat suaminya berendam, merilekskan otot tubuh karena sudah kerja seharian dan pasti sangat melelahkan. Dia menuangkan sabun dan menyalakan beberapa lilin aromaterapi untuk merilekskan pikiran supaya kembali jernih.
Maura segera keluar dari dalam kamar mandi setelah siap semua. Dia berhenti diambang pintu saat melihat Fabian bersandar pada sandaran punggung sofa dengan mata terpejam. Maura tersenyum samar, pasti Fabian sangat lelah hari ini di rumah sakit.
Maura melangkah pelan kearah sofa dimana suaminya tengah duduk. Dia mendaratkan pantatnya perlahan dan duduk disisi kiri Fabian. Maura membelai lembut rahang sang suami yang ditumbuhi bulu halus. Dia tersenyum, menatap teduh wajah lelah sang suami. "Pasti kamu kecapekan banyak kerjaan di rumah sakit." Gumam Maura lirih dengan tangan yang masih membelai lembut wajah Fabian.
Maura tersentak kaget saat tangan kirinya yang tengah memegang wajah Fabian tiba-tiba dipegang sama suaminya itu. Maura melihat mata Fabian yang perlahan terbuka. "Apa aku membangunkan mu?" Tanya Maura lirih. Dia merasa bersalah karena sudah membuat istirahat Fabian terganggu.
Fabian menurunkan tangan kiri Maura dipangkuannya, namun masih dia pegang tanpa dia lepas. Fabian mengangkat kepalanya dan tidak dia sandarkan lagi. Fabian melihat mata biru Maura yang terlihat merasa bersalah, mungkin karena Maura berpikir sudah mengganggu tidurnya dan membuatnya terbangun. "Bertemu siapa saja kamu hari ini?" Tanya Fabian dengan nada dingin.
__ADS_1
Kening Maura mengerut dengan tatapan bingung. "Bukannya aku sudah memberi tahu semalam dan kamu juga sudah tahu jadwal aku hari ini apa saja. Seharusnya kan kamu tahu aku bertemu dengan siapa hari ini." Ujar Maura menjawab pertanyaan yang suaminya berikan. Kemarin malam Fabian sudah melihat jadwal pekerjaannya hari ini dan Maura sendiri sudah menjelaskan kalau hari ini bertemu dengan klien juga Ayahnya dan ada meeting juga dengan direksi. Kenapa juga harus tanya lagi, pikir Maura.
"Bukan jadwal setelah dari rumah sakit menjenguk Anggie, tapi saat di rumah sakit. Kamu bertemu siapa disana?" Fabian masih berbicara dengan nada dingin, namun dia berusaha untuk tidak menaikkan volume suara satu oktaf. Dia masih bisa menahan kekesalannya karena cemburu, bukan berarti dia akan memarahi Maura dan membuat istri barunya itu ketakutan mengingat mereka baru saja menikah.
Maura memejamkan mata sejenak, dia juga terlihat mengambil nafas pendek. Tepat seperti dugaannya, Fabian tahu dia bertemu dengan siapa saat di rumah sakit. Untung saja tadi Maura memilih tempat yang sedikit terbuka dan tidak terlalu sepi, jadi bisa dipantau. Seandainya dia memilih tempat yang sepi sudah pasti Fabian akan memarahinya karena bertemu dengan lelaki lain tanpa meminta izin terlebih dahulu. "Aku bertemu Dokter Raka." Jawab Maura pelan sambil menatap mata Fabian yang memang sedari tadi terus menatapnya. "Kamu jangan cemburu dulu. Aku tidak bermaksud berduaan dengan Dokter Raka. Aku hanya penasaran kenapa dia bisa bersama Anggie dan kenapa dia ada disini lagi. Apalagi tadi aku melihat dia begitu menahan amarah saat aku ceritakan tentang kehidupan Anggie. Kalau memang Dokter Raka peduli pada Anggie aku senang, apalagi kalau dia memendam rasa pada Anggie secara diam-diam. Aku yakin, Dokter Raka bisa menjaga Anggie dan memulihkan mental Anggie." Jelas Maura panjang lebar sebelum suaminya itu berpikiran negatif tentang dirinya juga dokter Raka.
Fabian masih diam dan terus menatap manik mata biru milik Maura. Kekesalan dalam hatinya sudah mereda mendengar apa yang baru saja Maura sampaikan, tapi tetap saja dia masih cemburu pada Raka yang berduaan dengan istrinya. Mana Maura tidak izin terlebih dahulu pada dirinya. Ditambah tidak membalas chat maupun mengangkat panggilan telepon darinya.
"Bee!!! Kamu marah sama aku karena bertemu Dokter Raka?" Maura menggoyangkan tangan kanan Fabian yang masih memegang tangan kirinya. "Aku minta maaf. Janji aku nggak akan bertemu sama dia lagi dibelakang kamu. Aku nggak mau kamu marah seperti ini. Tapi kalau kamu cemburu karena dia aku suka."
Fabian membuka kedua matanya lebar mendengar kalimat terakhir yang baru saja keluar dari mulut Maura. Istrinya itu suka melihat dia cemburu karena Raka. Memang benar istrinya itu harus diberi pelajaran.
"Emmphhttt!!!" Maura begitu kaget saat Fabian tiba-tiba menarik tengkuknya dan melahap habis bibirnya secara brutal.
Fabian yang memang tengah dirasuki rasa cemburu karena Maura bertemu dengan Raka melampiaskannya dengan cara melum mat habis bibir Maura. Dia tidak peduli Maura kelabakan dengan serangan tiba-tiba darinya, yang dia inginkan hanya memberi pelajaran untuk istrinya.
Hah
Maura langsung mengambil nafas setelah Fabian melepaskan ciumannya. Pasokan oksigen dalam paru-parunya hampir saja habis karena ulah Fabian yang tidak memberinya jeda dalam ciuman.
"Itu pelajaran awal karena kamu bertemu dengan Raka tanpa sepengetahuan suami kamu." Ujar Fabian tepat di depan wajah Maura. Nafas hangat yang Maura hembuskan menerpa tepat pada wajah Fabian.
Maura membuka kedua matanya dan menatap mata Fabian yang berada tepat didepannya. "Pelajaran apa selanjutnya yang akan kamu berikan padaku?" Tanya Maura dengan suara lirih, mirip bergumam.
Fabian menyunggingkan senyuman tipis. Dia lantas mengangkat tubuh Maura diatas pangkuannya. "Kamu akan tahu sebentar lagi."
Maura sontak saja melingkarkan kedua tangannya pada leher Fabian saat lelaki itu berdiri dari duduknya. Kedua kaki Maura juga langsung melingkar pada pinggang Fabian. Maura diam saja, pasti Fabian akan memberinya pelajaran tidak jauh dari soal tanam menanam. Maura tidak akan mungkin menolak kalau pelajaran seperti itu. Dia bahkan akan sangat menikmatinya. Maura senyum-senyum sendiri membayangkan semua itu. Apalagi saat ini Fabian membawanya ke dalam kamar mandi. Maura begitu suka berhubungan di dalam kamar mandi. Jiwa liarnya otomatis langsung bekerja dengan sendirinya.
"Nggak usah ngelamun dan memikirkan sesuatu yang panas. Cepat pijat pundak suami kamu."
Maura mengerjap beberapa kali dan melihat dirinya kini sudah duduk di tepi bathtub, sedangkan Fabian sudah bertelanjang dan masuk kedalam bathtub yang sudah berisi air juga sabun. Sepertinya dirinya tadi terlalu lama melamun dan berkhayal.
__ADS_1
"Cepat!!" Seru Fabian membuat Maura mendengkus kesal karena dia pikir Fabian membawanya masuk ke kamar mandi untuk mantap-mantap, ternyata suaminya itu minta dipijat pundaknya. Dengan terpaksa Maura memijat pundak Fabian dengan hati yang dongkol karena khayalannya tidak jadi kenyataan.