
Tepat pukul sembilan pagi Maura sudah berada di rumah. Dia segera mencari keberadaan cinta pertamanya berada saat ini. Tadi, saat dirinya berpapasan dengan sang Bunda yang akan mengantar Nadia ke sekolah, Freya memberi tahu Maura kalau Bryan ada di ruang kerja. Freya sendiri pergi tanpa ditemani suami mengingat ini adalah hari pertama pendaftaran peserta didik baru. Jadi Freya sendiri yang turun tangan langsung mendaftarkan putri keduanya itu di sekolah yang sama dengan Attar.
"Kak!!"
Maura menghentikan langkah kakinya saat adik paling tampan satu-satunya memanggil dirinya. "Kenapa, Ta?" Tanya Maura, dia mengurungkan niatnya pergi ke ruang kerja dan duduk di sofa dimana Attar berada saat ini. Tidak biasanya Attar memanggilnya dengan nada suara lemah, pasti ada sesuatu yang ingin disampaikan sama adiknya itu.
"Kak, tolong bilangin sama Ayah kalau aku lolos, berhasil masuk Harvard University."
Maura menganga tidak percaya mendengar pengakuan dari Attar, dia diam sejenak sebelum akhirnya bersuara. "Lolos?? Kapan kamu daftarnya?" Tanya Maura penasaran karena Attar tidak pernah cerita apapun tentang keinginannya yang ingin melanjutkan kuliah ke luar negeri. "Kamu baru naik kelas dua belas, belum juga lulus sekolah. Bagaimana bisa kamu langsung diterima di Harvard University?" Maura merasa aneh dengan pengakuan dari Attar seperti ada sesuatu yang disembunyikan sama adiknya itu.
"Aku sudah lulus. Aku ambil program akselerasi. Maaf, tidak memberi tahu kalian semua." Ungkap Attar yang sepertinya menyesal karena sudah merahasiakan tentang dirinya.
Maura memejamkan matanya dengan mengambil nafas panjang dan dia tahan beberapa detik sebelum akhirnya dia hembuskan perlahan sambil membuka matanya. Dia menatap tajam pada Attar, bukan dia tidak senang adiknya itu masuk ke sebuah universitas ternama di dunia ini, tapi dia kesal kenapa Attar diam-diam merahasiakan semua ini dari keluarga. "Siapa yang membantu kamu?" Tanya Maura. Dia yakin seratus persen ada seseorang yang sudah membantu Attar dibalik semua ini. Apalagi kedua orang tuanya sampai tidak tahu, mengingat semua anak-anak dari keluarga Abrisam memiliki bodyguard masing-masing.
"Papa Rendy." Jawab Attar. "Aku minta tolong sama Papa Rendy untuk mengurus semuanya juga merahasiakan dari kalian semua." Ungkap Attar. "Kak!! Attar mohon sampaikan pada Ayah. Attar takut kalau nanti Ayah marah karena Attar diam-diam merahasiakan semua ini." Attar memohon bantuan pada Maura. Dia bahkan sampai memegang tangan sang Kakak, hal yang sudah sangat jarang Attar lalukan. Apalagi sampai memohon seperti saat ini.
"Apa yang kamu lakukan itu suatu hal yang baik, tidak mungkin Ayah akan marah. Tapi caranya aja yang salah. Kamu sudah membohongi kami semua, terutama Ayah. Kamu tahu Ayah sangat berharap banyak sama kamu. Kamu adalah penerus Ayah, penerus keluarga Abrisam."
Attar menundukkan kepalanya, apa yang Maura katakan benar. Cara yang dia lakukan salah, sudah membohongi orang tua meski apa yang dia lakukan adalah sebuah kebaikan, pencapaian yang bagus, sesuai yang diinginkan Bryan. Tapi tetap saja caranya salah.
"Ayo temui Ayah, Kakak akan temani kamu. Katakan sejujurnya pada Ayah." Maura berdiri dari duduknya sambil menarik tangan Attar pelan.
Dengan berat hati Attar berdiri juga dan mengikuti langkah kaki Maura. Dia tidak seberani Maura bila berhadapan dengan Bryan. Bukannya Attar takut sama Bryan, hanya saja Bryan terlalu tegas dan keras pada dirinya, makanya Attar malas kalau nantinya berselisih paham dengan sang Ayah.
"Ayah!! Apa kami mengganggu?"
Bryan yang tengah fokus pada laptopnya mendongak, melihat Maura yang hanya menyembulkan kepalanya sambil menyengir kuda. Bryan tersenyum tipis melihat putrinya datang menemui dirinya. "Masuklah!" Perintah Bryan.
"Ayo!!" Maura menarik tangan Attar dan diajaknya masuk ke dalam ruang kerja dimana Ayahnya berada.
"Kenapa kalian berdua? Habis bertengkar?" Tebak Bryan karena tidak biasanya Maura sama Attar terlihat akur seperti saat ini.
"Bukan Ayah. Ini Attar katanya mau ngomong sesuatu sama Ayah." Maura mendorong tubuh Attar untuk duduk di kursi yang berhadapan dengan Bryan dan hanya terhalang sebuah meja saja. Maura sendiri ikut duduk di kursi sebelah Attar.
Attar menundukkan kepalanya, dia melirik ke arah Maura sambil tangannya menggapai dan menoel kaki sang Kakak. Dia menggeleng kepala pelan, sangat pelan, nyaris tidak terlihat gerakan itu.
Maura melotot saat melihat Attar yang tak kunjung mengatakan sesuatu pada Bryan dan justru melirik ke arahnya sambil geleng kepala.
"Ada apa?" Tanya Bryan pada Attar. "Ayah masih banyak kerjaan hari ini." Kata Bryan yang memang hari ini dirinya begitu sibuk.
"Kalau Ayah sibuk, lain kali aja." Sahut Attar yang buru-buru berdiri dari duduknya. Dia belum siap kena amukan dari Ayahnya.
"Ayah memang sibuk, tapi kalau kamu mau ngomong sesuatu cepat katakan. Ayah akan mendengarnya sekarang. Duduk!!"
Attar duduk kembali dengan terpaksa. Dia melihat Bryan yang pandangan matanya fokus pada laptopnya. Attar mengambil nafas sejenak sebelum akhirnya berkata, "Attar lolos tahap terakhir masuk Harvard University, bulan depan Attar sudah harus daftar ulang dan pergi ke Amerika." Attar melihat Ayahnya yang sepertinya tidak kaget sama sekali. Apa Ayahnya sudah tahu, pikirnya. "Apa Ayah mengijinkan Attar?" Tanyanya.
__ADS_1
Bryan melepas kacamatanya dan menghentikan aktivitasnya sejenak. Dia menatap putra satu-satunya juga penerus sahnya. "Kenapa Ayah harus tidak mengijinkan kamu pergi kalau itu suatu kebaikan untuk masa depan kamu? Justru itu keinginan Ayah dari dulu sejak kamu masuk menengah pertama." Attar tersenyum tipis, hatinya terasa sedikit lega karena Bryan memberinya ijin, bukan memarahinya karena tidak membicarakan dari awal.
"Kenapa Ayah gampang sekali memberinya ijin? Maura dulu harus nangis-nangis dulu baru diberi ijin." Protes Maura yang sepertinya tidak suka Bryan dengan mudahnya memberi ijin pada Attar.
"Itu beda, karena kamu dulu masih kecil." Maura mencebikkan bibirnya menanggapinya. Benar juga sih, dulu dia memutuskan untuk sekolah di Sydney saat usia sepuluh tahun.
"Tapi adik merahasiakan ini dari kita semua." Maura sepertinya masih tidak terima Attar yang dengan mudahnya mendapatkan ijin.
"Ayah sama Bunda sudah tahu lama. " Jawaban Bryan membuat Maura dan Attar sontak saling pandang. Keduanya lantas tertawa sarkas. Mau merahasiakan apapun pada Bryan, pasti akan tahu juga karena semua bawahan selalu melaporkan apapun pada Bryan.
"Sudah sana kalian keluar. Ayah mau melanjutkan pekerjaan Ayah dulu." Usir Bryan pada kedua anaknya.
"Tapi Ayah mengijinkan Attar kan untuk melanjutkan pendidikan ke Amrik?" Tanya Attar memastikan lagi.
Attar tersenyum senang melihat anggukan kepala dari Bryan. "Terima kasih, Ayah." Ucap Attar senang dan berlalu pergi.
"Kenapa masih disini? Ayah masih banyak kerjaan." Tegur Bryan saat melihat Maura yang tidak beranjak pergi.
"Ayah sibuk banget ya hari ini?" Tanya Maura dengan bertopang dagu menatap Bryan yang sibuk dengan pekerjaannya.
"Iya. Habis ini nanti Ayah akan ke Surabaya, sore baru kembali. Malamnya ada dinner dengan kolega dari Singapura." Jawab Bryan yang masih fokus dengan grafik data perusahaan yang tengah dia perbaiki karena ada sedikit kesalahan.
"Huffttt!!" Maura membuang nafas kasar dan merebahkan kepalanya diatas meja dengan tangan kirinya dia gunakan sebagai tumpuan. "Kalau besok juga masih sibuk?" Tanya Maura lagi.
"Kenapa?" Bryan menoleh ke arah Maura yang terlihat tidak begitu semangat itu. "Ada proyek yang tidak bisa kamu kerjakan?" Tanya Bryan yang langsung dijawab gelengan kepala sama Maura. "Terus apa?" Tanya Bryan lagi.
"Kalau hari ini Ayah nggak bisa, besok pagi sampai sore Ayah kosong, lusa lumayan padat juga sampai jumat." Terang Bryan dengan menahan diri untuk tidak tersenyum walau sebenarnya hatinya begitu senang ternyata putrinya masih mengingat dirinya.
"Ya udah besok pagi sampai sore, Maura booking Ayah. Tidak boleh kemana-mana, harus nurut kemauan Maura pokoknya." Maura sampai berdiri dari duduknya saat mengatakan itu. Dia bahkan sampai menggebrak meja. Untung saja tidak begitu keras gebrakan yang Maura lakukan, kalau tidak pasti Bryan sudah memarahi dirinya karena tidak sopan.
"Kamu mau booking Ayah, memangnya kamu nggak takut sama istri Ayah? Sama calon suami kamu juga?"
"Kenapa Maura harus takut? Mereka juga takut sama Maura."
Bryan tertawa, dia meminta putrinya itu untuk mendekat pada dirinya. Bryan merentangkan kedua tangannya dan langsung disambut sama Maura dengan senang hati. "Ayah senang sekali di booking sama putri Ayah sendiri. Kira-kira dapat uang berapa nanti setelah selesai booking nya?"
"Berapapun yang Ayah mau." Maura melepas pelukannya. "Deal ya Ayah untuk besok." Maura mengulurkan tangan kanannya dan disambut Bryan, keduanya bersalaman. "Maura mau ke pabrik dulu. Sudah ada janji tadi." CUP. Maura mencium salah satu pipi Bryan dan berlalu pergi karena sudah memiliki janji.
Bryan melihat kepergian Maura dengan tersenyum tipis. "Ternyata hanya aku saja yang terlalu berpikir jauh, mungkin karena aku terlalu takut Maura sudah tidak memerlukan aku lagi setelah bertemu Fabian."
🌷🌷🌷
Di rumah sakit, Fabian disambut dengan suka cita sama rekan-rekannya sesama dokter juga perawat yang sering bekerjasama dengan dirinya. Fabian merasa senang dirinya diterima kembali sama rekan kerjanya. Mereka tidak membahas lagi soal penyebab SIP kedokterannya dihentikan sementara waktu. Mereka justru senang Fabian kembali bekerja, mengingat banyak pasien yang tidak mau berobat kecuali yang mengobati adalah Dokter Fabian.
"Aku senang sekali tutor ku, pembimbing ku, dokter idola ku kembali bekerja lagi." Danu dengan beraninya memeluk tubuh Fabian. Dia begitu senang karena dokter pembimbing nya sudah bekerja lagi.
__ADS_1
"Aku juga senang sebentar lagi bisa menyiksamu kembali." Danu langsung melepas pelukannya pada tubuh Fabian saat mendengar apa yang baru saja keluar dari mulut Fabian. Dia mencebikkan bibirnya dengan melirik tidak suka pada Fabian, sungguh seperti anak gadis yang baru saja diambil mainan kesukaannya.
Fabian tertawa diikuti yang lainnya juga. Mereka menertawakan Danu yang sudah seperti anak kecil, padahal usianya sudah dua puluh tujuh.
"Selamat bergabung kembali Dokter Bian." Vira memberikan ucapan selamat pada Fabian dengan perasaan senang.
Fabian tersenyum tipis dan mengangguk pada Vira. "Terima kasih semuanya, sudah menerima saya kembali." Ucap Fabian pada rekan-rekannya.
Semuanya bubar setelah mereka selesai menyambut kembalinya Fabian bekerja di rumah sakit. Meski hanya dua minggu, bagi mereka Fabian sudah seperti dua bulan tidak masuk kerja.
"Kenapa dia?" Tanya Fabian pada Gerry. Dia menunjuk Irene yang tidak seperti biasanya, hari ini terlihat diam dan tidak cerewet.
"Sudah beberapa hari dia seperti itu. Semenjak Raka di pindah ke Makassar." Jawab Gerry.
"Terus siapa yang gantiin Dokter Raka?" Tanya Fabian penasaran mengingat Dokter bedah jantung yang dimiliki rumah sakit hanya Raka seorang. Ada Irene, tapi status masih sebagai dokter residen.
"Ada dokter dari rumah sakit umum, jadwal prakteknya hanya seminggu tiga kali saja disini." Terang Gerry.
Fabian mengangguk paham. "Berikan rekapan rekam medis pasien selama aku tidak masuk." Pintanya pada Gerry.
Setelah Gerry memberikan apa yang dia minta, Fabian langsung membuka dan mempelajari rekam medis pasien yang sudah berkunjung ke klinik bedah saraf.
"Dokter Bian!! Anda diminta menemui direktur." Ucap salah seorang rekan dokter.
Fabian mengangguk, dia menyimpan terlebih dahulu apa yang dia pelajari tadi sebelum akhirnya bergegas menuju ruang direktur berada. "Itu kan Amel, temannya Maura. Ngapain ketemu Dokter Andre?" Fabian penasaran kenapa teman calon istri keluar dari ruang kerja direktur. Apa Amel memiliki hubungan dengan Dokter Andre, pikir Fabian. Masa bodoh dengan apa yang Amelia lakukan dengan Andre, Fabian tidak perduli dan lebih memilih segera menemui Andre.
"Selamat bergabung kembali." Ucap Andre memberi selamat pada Fabian setelah Fabian masuk dan duduk berhadapan dengan dirinya.
"Terima kasih Dokter Andre." Balas Fabian dengan tersenyum pada Andre, dia juga menundukkan kepalanya sebentar sebagai rasa hormat pada Andre.
"Langsung saja. Ini masih soal kesepakatan yang lalu. Apa kamu belum ada niatan untuk menerima tawaran itu?" Andre sepertinya tidak suka basa-basi lagi pada Fabian. Dia langsung mengatakan apa tujuannya memanggil Fabian ke ruang kerjanya.
Fabian mengambil nafas sejenak, ternyata hal yang sama lagi Andre pertanyaan pada dirinya. "Maaf Dokter Andre, saya belum memiliki niat untuk mengambil kesempatan itu." Tolak Fabian lagi dan lagi.
"Kenapa? Apa kamu takut orang-orang menganggap mu sebagai aji mumpung?" Tebak Andre. "Kalaupun iya, tawaran ini sudah aku berikan sebelum kamu memilih hubungan dengan Maura. Jadi tidak ada hubungannya dengan Maura maupun keluarga Abrisam."
"Tapi saya belum pantas berada diposisi itu." Fabian sadar diri akan posisinya. Di rumah sakit dirinya termasuk pegawai yang baru bekerja beberapa tahun dan masih banyak lagi pegawai rumah sakit yang sudah bekerja lebih dari lima tahun. Kenapa bukan mereka saja yang Andre tunjuk sebagai wakil direktur, dan justru dirinya yang harus jadi wakil direktur.
"Bagaimana kalau aku memaksamu?" Tantang Andre karena Fabian selalu menolak jabatan yang dia berikan.
"Anda memaksa pun, saya tetap tidak mau menerima. Lebih baik posisi itu anda berikan pada yang lebih layak." Fabian tetap teguh pada pendiriannya.
"Baiklah kalau kau tetap tidak mau menerima tawaran itu." Fabian bernafas lega karena Andre akhirnya menyerah akan dirinya.
"Kau sebentar lagi akan menikah dengan Maura, itu artinya aku akan menjadi pamanmu juga. Kau tahu kan kalau aku belum menikah?" Fabian mengangguk samar dengan kening mengkerut bingung. "Rumah sakit ini didirikan oleh Tuan Abrisam, Ayahnya Bryan, Opanya Maura. Aku hanya meneruskannya saja karena kebetulan aku juga seorang dokter. Tapi rumah sakit ini harus ada yang meneruskannya. Karena aku belum menikah dan belum memiliki anak, jadi aku harap kamu memikirkannya lagi. Bisa jadi nanti justru Bryan sendiri yang akan meminta mu menjadi direktur di rumah sakit ini setelah kau menikah dengan Maura."
__ADS_1
"Kalau saya menerima tawaran itu, apa anda mau berjanji pada saya untuk tidak adanya gosip tentang saya yang aji mumpung karena menikah dengan Maura?" Fabian justru balik memberi tawaran. "Apalagi saya baru kembali bekerja setelah insiden kemarin yang tersebar di rumah sakit."
"Asalkan kamu mau, gosip itu tidak akan ada."