One Night Romance

One Night Romance
Bab 58


__ADS_3

Minggu pagi sekitar pukul sembilan pagi, keluarga besar Abrisam juga Nugraha dan keluarga besar Kyai Sodiq juga terlihat menikmati sarapan pagi mereka yang sudah disiapkan secara prasmanan oleh pihak hotel sesuai arahan Freya. Anak-anak juga terlihat ada disana, mereka makan di meja terpisah dari orang dewasa.


Terlihat disana sepasang pengantin baru belum menampakkan batang hidung mereka padahal ini sudah jam sembilan. Mungkin karena kecapekan pesta semalam atau mungkin karena kecapekan bikin adonan. Tidak ada yang tahu kecuali Maura juga Fabian, karena mereka berdua yang belum menampakkan diri.


"Bian!!" Shanti yang tidak sengaja melihat kehadiran putranya, memanggilnya. "Maura mana? Kok sendirian aja?" Tanya Shanti saat Fabian turun sendiri tanpa adanya sosok Maura.


"Maura kenapa? Kenapa dia nggak ikut turun?" Bryan juga ikut mempertanyakan keberadaan Maura yang tidak ikut Fabian turun untuk sarapan pagi.


"Iya, Bi. Maura kemana?" Freya juga ikut menimpali karena penasaran kenapa Maura tidak ikut turun. Apa Maura sakit, pikirnya.


"Kalian nggak paham apa gimana sih. Pengantin baru ya pastinya kecapekan habis tempur lah. Haduh!! Yang belum nikah aja paham, ini yang sudah mau punya cucu malah tanya terus mana pengantinnya." Seloroh Bara yang sepertinya tidak malu berbicara seperti itu padahal disana ada keluarga besar Kyai Sodiq.


Semuanya tertawa mendengar perkataan Bara, mereka sudah dewasa dan sudah berpengalaman. Jadi mereka tidak malu mendengar perkataan Bara, yang terpenting masih dalam tahap pembicaraan wajar. Dan untung juga meja mereka sedikit jauh dari meja anak-anak, jadi anak-anak tidak mendengar pembicaraan mereka.


Fabian hanya tersenyum tipis menanggapi perkataan Bara yang membuat lainnya tertawa. Dia ikut gabung dan duduk di samping Rendy yang kebetulan ada kursi kosong. "Maura masih tidur,_"


"Ya kan benar apa yang aku katakan. Pasti kecapekan itu Maura habis dibobol gawangnya." Bara langsung saja menyela perkataan Fabian yang belum selesai berbicara. 


"Nak Bara sepertinya juga kepengen. Apa mau Abah nikahkan sekalian? Abah ada anak didik yang cari suami, tapi dia bukan perawan dan punya anak dua. Kalau mau bisa kita bicarakan setelah selesai sarapan." Ujar Kyai Sodiq pada Bara. Dia dari dulu gemas pada duda lapuk satu ini, ingin sekali meminta Bara untuk menikah lagi daripada hidup seorang diri.


"Wahh!!! Benar itu." Seru alex dengan suara lantang. "Nikahkan saja dia Pak Kyai, daripada suka jajan diluar."  


Bara menatap tajam pada Alex yang bisa-bisanya membongkar rahasianya didepan Kyai dan keluarga besar Kyai. Mau ditaruh mana muka dia karena dirinya memang suka jajan diluar.


"Kalau nak Bara mau dan belum terlambat, pintu pesantren terbuka lebar untuk menyambut nak Bara." Kyai Sodiq tersenyum teduh pada Bara. 


Bara melihat kearah Kyai Sodiq, dia paham apa yang dimaksud belum terlambat sama Kyai Sodiq. Apalagi kalau bukan bertaubat, bertaubat dari perbuatan dosanya yang suka jajan diluar.


Yang lainnya akhirnya diam dan fokus pada sarapan pagi mereka. Fabian sendiri hanya mengambil minum untuk menyegarkan tenggorokannya.


"Kamu nggak makan, Bi?" Tanya Freya saat Fabian tidak kunjung mengambil makan dan hanya minum segelas air.


"Makan, Bun. Tapi mau Bian bawa ke kamar, sekalian bawa buat Maura." Jawab Fabian.


Freya mengangguk dan meminta Fabian mengambil sendiri makanan yang dia mau.


Fabian berdiri dan meminta lunch box pada pelayan. Dia mengambil menu yang simpel untuk dibuat sarapan, yang banyak mengandung protein dan serat tentunya, untuk karbohidrat dia hanya mengambil dua potong jagung rebus.


"Bian kembali ke kamar dulu." Pamit Fabian pada yang lainnya dengan membawa tiga lunch box juga dua minum.


Di kamar, terlihat Maura mengerjapkan matanya. Dia menyipitkan matanya karena silau sinar matahari yang masuk kedalam kamar. Tangannya meraba kesamping dan tidak mendapati sosok suaminya disana. Matanya otomatis terbuka lebar dan melihat ke sekeliling kamar. "Bi!! Kamu dimana?" Panggil Maura karena tidak menemukan sosok suaminya. 


Dengan malas Maura membuka selimut yang membalut tubuhnya, memperlihatkan kulitnya yang putih bersih yang terbalut lingerie berwarna peach. Dengan posisi masih berbaring, dia meraih ponselnya yang ada diatas nakas untuk menghubungi sang suami yang pagi-pagi sudah tidak ada di kamar.


Belum juga panggilan keluar tersambung, Maura mendengar pintu kamar terbuka dari luar. Dia melihat ke arah pintu dan terlihat Fabian masuk membawa tentengan.


"Kamu darimana?"


"Kamu sudah bangun." 


Keduanya tertawa kecil karena mereka sama-sama bertanya.


Fabian meletakkan apa yang dia bawa di atas meja, sebelum akhirnya menghampiri sang istri yang masih duduk di atas kasur dengan muka bantal dan rambut yang masih berantakan, namun tetap terlihat cantik dimata Fabian.


"Masih ngantuk?" Tanya Fabian yang sudah duduk di tepi ranjang. Tangannya mengusap lembut pipi Maura.


Maura mengangguk dan menguap, dia memindahkan posisi kepalanya dari atas bantal ke pangkuan Fabian. Tangannya dia lingkaran pada pinggang sang suami dengan wajah dia sembunyikan didepan perut Fabian yang terasa begitu padat. "Capek." keluh Maura.


Fabian terkekeh kecil mendengar keluhan sang istri. Tangannya terulur mengusap kepala Maura dnegan lembut. "Capek kenapa? Bukannya semalam kita langsung tidur, belum sempat unboxing." Ujar Fabian. Dia lantas tertawa karena mendapat pukulan pada punggungnya hadiah dari sang istri.


"Laper!!" Keluh Maura. Dia melonggarkan pelukannya pada pinggang sang suami dan menjauhkan wajahnya dari perut Fabian. Dia mendongak melihat Fabian dari bawah dengan wajah memelas.


Fabian menunduk dan mencium kening Maura sebentar. "Ayo. Tapi kamu harus mandi dulu." Fabian membantu Maura untuk bangun dan duduk.

__ADS_1


"Tapi aku malas mandi." Tolak Maura yang tidak mau mandi.


Fabian melihat tampilan istrinya itu, lingerie seksih berwarna peach yang Maura kenakan itu sedari tadi sungguh menggoda imannya untuk segera menyerang sang kelinci kecil yang masih terlihat malas untuk bangun dan mandi.


Fabian mengambil nafas panjang dan dihembuskan nya perlahan, dia meraih cardigan pasangan lingerie itu untuk menutupi tubuh Maura sebelum dirinya lepas kontrol nantinya.


Maura nurut saja saat Fabian memakaikan dirinya cardigan untuk menutupi kemolekan tubuhnya.


"Ya sudah nggak usah mandi. Cuci muka sama gosok gigi aja." Maura mengangguk dan turun dari kasur sebelum akhirnya menghilang dibalik pintu kamar mandi.


Tak berapa lama, Maura keluar dari dalam kamar mandi dengan tersenyum, wajahnya sudah terlihat segar meski belum mandi, rambut panjangnya juga sudah di cepol asal tidak seperti tadi yang berantakan seperti singa.


"Apa sarapan pagi kita?" Maura mendudukkan pantatnya di samping sang suami. Keduanya duduk di sofa.


"Ada salad sayur mix udang, pancake, omelette, jagung rebus. Minumnya coffe latte." Fabian menarik meja untuk lebih dekat pada mereka. Semua makanan yang Fabian sebutkan sudah dia tata rapi diatas meja.


Maura mengambil dan meminum segelas coffe latte yang sudah hangat, tidak panas lagi sebelum akhirnya memakan sarapan yang sudah Fabian siapkan. Keduanya makan bersama dengan satu sendok karena Fabian hanya membawa satu sendok saja.


"Alhamdulillah kenyang." Maura menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa, dia mengusap perutnya yang sudah terisi penuh dengan makanan padahal dia hanya memakan omelette sama salad saja. Itupun omelette dibagi dua sama Fabian.


"Nggak mau nambah lagi?" Tanya Fabian yang hanya dijawab gelengan kepala sama Maura.


Fabian mendorong meja kembali ke asalnya. Dia juga sudah menyudahi makannya meski disana pancake nya masih utuh belum tersentuh, juga jagung rebus nya yang tinggal satu potong lagi.


"Kenyang banget ya?" 


Maura mengangkat kepalanya melihat Fabian yang sudah begitu dekat pada dirinya, memposisikan tubuhnya miring, mengungkung dirinya dengan tangan satunya bertumpu pada sandaran sofa dan tangan satunya tepat berada di samping pahanya.


"Kenapa? Apa kamu belum kenyang?" Tanya Maura dengan tersenyum. Dia melihat tatapan Fabian yang berbeda dari biasanya. Seperti saat menginap di Bandung malam itu.


"Hmm!! Sepertinya aku memang belum kenyang." Suara Fabian terdengar begitu berat di telinga Maura. 


Maura memejamkan kedua matanya saat tiba-tiba Fabian mencium bibirnya. Ciuman itu tidak hanya lembut, tapi juga menuntut dirinya untuk membalas. Tengkuknya ditahan sama Fabian. 


Mmphh


Agghhh


Maura membuka kedua matanya saat tangan Fabian berada di intinya, meski dirinya masih memakai kain pembungkus, tapi itu sangat terasa, bahkan menyengat sampai ke ubun-ubun.


Maura tidak menolak sentuhan Fabian, dia menerimanya dengan senang hati. Dia tidak merasa takut sama sekali, dia juga tidak merasakan trauma. Mungkin karena dirinya sudah siap untuk disentuh sama Fabian, apalagi sekarang keduanya sudah halal.


Maura kembali memejamkan matanya dan kedua tangannya dia lingkarkan pada leher Fabian. Dia menikmati sentuhan jari tangan Fabian pada intinya.


Fabian yang merasakan Maura menerima sentuhannya lantas semakin rakus bibirnya melum mat habis bibir sang istri. Bahkan kecupan itu semakin turun pada dagu dan leher membuat Maura kembali melenguh.


Tangan yang sedari tadi berada di inti sang istri sekarang berpindah pada gunung kembar. Direm masnya salah satu gunung yang lembut dan kenyal seperti squishy itu dengan gemas


Maura semakin mende sah, dia mendongak keatas dengan mata terpejam, mulut terbuka saat merasakan sensasi yang belum pernah dia rasakan. Kedua squishy nya direm mas dan dimainkan sama Fabian dari luar mengingat dirinya masih mengenakan lingerie.


Nafas keduanya tersengal, Fabian melihat wajah Maura yang merah padam dengan pandangan mata sayu. "Apa boleh kita melakukannya sekarang?" Tanya Fabian dengan suara serak.


"Apa kemarin seperti ini rasanya?" Bukannya menjawab pertanyaan Fabian, Maura justru bertanya pada suaminya itu.


Fabian mengerutkan keningnya bingung, kemarin yang mana pikirnya. Setelah seperkian detik mengingat apa yang dimaksud Maura, dia tersenyum. "Apa kamu tidak mengingatnya?" 


Maura menggeleng kepala pelan, dia tidak mengingat bagaimana rasanya bercinta sama Fabian beberapa bulan lalu. Yang dia rasakan hanya sakit pada intinya setelah dia sadar di pagi hari. Untuk sentuhan dan lainnya yang Fabian lakukan pada dirinya malam itu dia tidak ingat. Mungkin karena dia terlalu mabuk malam itu.


"Kalau begitu, mulai hari ini dan seterusnya kamu akan selalu mengingatnya."


Fabian kembali menyerang bibir Maura dengan ciuman lembut. Dia merebahkan tubuh Maura di sofa dengan perlahan setelah melepas cardigan yang Maura kenakan.


Dia memperlakukan Maura dengan lembut tanpa menyakiti wanita itu. Dia ingin Maura menikmatinya dan selalu memintanya untuk disentuh lagi dan lagi.

__ADS_1


"Ehh Bi!! Jangan keras-keras." Lenguh Maura saat tangan Fabian merem mas squishy nya dengan kencang.


"Sorry, Amor." Fabian kembali bermain dengan tangannya pada gunung kembar Maura secara lembut dan tidak sekencang tadi. 


Dengan perlahan Fabian menarik lingerie seksih yang Maura kenakan, dia tidak merobek nya, dia membantu Maura melepaskan lingerie itu. Fabian menelan saliva nya susah payah saat melihat tubuh sang istri yang sudah setengah telanjang. Dia menatap lapar akan pemandangan yang disajikan didepan matanya itu.


"Jangan dilihat terus, Bi. Aku malu." Maura berusaha menutupi tubuhnya dengan kedua tangannya. Dia begitu malu ditatap Fabian seperti itu. Dia seperti kelinci kecil yang akan diterkam sama serigala.


Fabian menyeringai, dia melepaskan kaos yang dia kenakan dan dia lempar asal hingga terjatuh diatas lantai. "Pemandangan indah tidak boleh ditutupi." Fabian menyingkirkan kedua tangan Maura yang menutupi kedua aset atas bawah. "Pemandangan indah harus dinikmati."


Maura memejamkan matanya saat Fabian kembali melahap bibirnya. Maura sudah rileks, dia sudah siap bila Fabian akan memasukinya sekarang juga. Dia sendiri juga sudah tidak bisa menahan diri. Apalagi dari tadi malam dia sudah begitu tergoda saat melihat badan sixpack milik sang suami. Dan sekarang dirinya bisa menikmatinya.


Maura terus melenguh saat Fabian mengakses setiap inci tubuhnya. Apalagi tangan sang suami tidak tinggal diam, terus merem mas squishy nya juga bermain di intinya.


Dengan cekatan Fabian sudah melepas penyangga gunung kembar layaknya pemain profesional. Dia menghisap dan merem mas bergantian gunung kembar mirip squishy itu. Tangan satunya lagi menerobos masuk pada inti sang istri dan mengobok-obok nya.


Maura mende sah, jari-jari kukunya menancap dan melukai punggung Fabian membuat lelaki itu menggeram menahan rasa sakit pada punggungnya.


"Bi!! Ini sungguh eghh!!!" Maura tidak bisa melanjutkan ucapannya saat dirinya tiba-tiba mengejang hebat merasakan sesuatu dalam inti tubuhnya keluar.


Fabian mengangkat kepalanya melihat sang istri yang memejamkan matanya menikmati sisa-sisa kenikmatan. Dia tersenyum puas melihat Maura yang sudah keluar walau hanya bermain dengan jari-jari tangannya. 


Fabian menunduk dan berbisik, "Amor!! Tadi itu yang masuk hanya jari aku, bagaimana kalau belalai panjang ku yang memasuki mu."


"Kalau begitu, biarkan belalai kamu yang masuki ku. Aku ingin menikmatinya." timpal Maura dengan suara pelan dan sen sual, kedua tangannya terulur memegang rahang tegas sang suami. Tatapan matanya terlihat sayu dengan tersenyum manis terlukis dibibir nya.


Fabian menyeringai, dia begitu senang justru Maura yang menginginkannya. "Sesuai keinginan kamu, Amor." Fabian mengangkat tubuh Maura dan melangkah menuju tempat tidur. Di rebahkan nya tubuh sang istri secara perlahan.


Maura menelan saliva nya saat melihat Fabian menurunkan celana pendek selutut yang sedari tadi suaminya itu kenakan dan menyisakan segitiga berwarna hitam. Sesuatu yang menonjol terlihat jelas dimata Maura. Itu adalah belalai panjang milik Fabian yang sebelumnya pernah menerobos paksa dan memasuki intinya dan menghasilkan Fatih.


Fabian tersenyum tipis melihat Maura yang tidak berkedip saat melihatnya. Dia kembali menurunkan sisa kain pembungkus yang masih melekat pada tubuhnya hingga belalai itu menyembul keluar. Fabian naik keatas ranjang dan menarik pelan pembungkus segitiga yang masih menutupi inti sang istri.


Maura diam saja, dia melihat sang suami yang tengah memandangi intinya. Jujur saja, sebenarnya saat ini jantungnya tengah berdetak cepat. Dia membayangkan belalai sebesar itu akan memasuki lobang intinya yang sempit. Apakah muat, pikirnya.


"Apa kau siap, Amor?" tanya Fabian yang sekarang sudah menindih tubuh sang istri.


Maura menelan ludah susah payah saat pahanya merasakan kedutan dari sang belalai yang membuat intinya juga ikut berkedut.


"Amor!!" bisik Fabian yang mencium dan menjilati kuping Maura.


"Hmm!! Lakukanlah, aku milikmu sekarang." ucap Maura membuat Fabian semangat empat lima menyerang dan menggagahi tubuh sang istri.


Fabian masih melakukan pemanasan kembali sebelum masuk ke inti permainan. Dia terus memuja setiap jengkal tubuh sang istri dan hanya dibalas lenguhan sama sang wanita.


"Kenapa?" tanya Maura saat Fabian tiba-tiba menyingkir dari atas tubuhnya. Dia bahkan sampai bangun dan duduk, menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang polos.


"Tunggu sebentar." Fabian berdiri dan berjalan menuju sofa, mengambil ponselnya yang berdering.


Maura melihat suaminya yang berdiri dengan keadaan polos itu, dia menelan saliva berulang kali melihat postur tubuh yang sempurna milik suami. Dia sungguh beruntung memiliki suami yang begitu gagah. Maura membasahi bibirnya yang tiba-tiba kering saat membayangkan belalai itu memasuki intinya.


"Baik!! Satu jam lagi aku sampai."


Maura langsung turun dari atas ranjang saat mendengar percakapan terakhir Fabian dengan orang yang meneleponnya. "Kamu mau kemana?"


Fabian menoleh ke arah Maura yang berdiri dalam keadaan polos seperti dirinya. Dia meletakkannya ponselnya dan melangkah pelan mendekati sang istri dengan pandangan mata fokus pada tubuh polos sang istri.


"Aku sungguh benci suasana seperti ini." Maura mengerutkan keningnya bingung dengan apa yang Fabian katakan.


"Aku harus pergi ke rumah sakit. Ada pasien kritis yang harus segera di operasi." ungkap Fabian dengan lesu. Dia begitu kesal karena kesenangannya telah diganggu.


Maura mengangguk mengerti. "Kalau begitu cepat bersiap dan pergi ke rumah sakit." Maura sepertinya tidak merasa keberatan jika Fabian harus pergi saat kesenangan keduanya terganggu. Dia paham resikonya menjadi dokter maupun istri dokter. Jadi dia tidak mempermasalahkan Fabian pergi saat diluar jam kerja. Apalagi Fabian tidak mengambil cuti nikah, jadi Maura memakluminya.


"Kamu tidak marah?" Maura tersenyum dan menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Kenapa aku harus marah. Kita bisa melakukannya lagi nanti dan kapanpun kamu mau." hibur Maura dengan mengusap rahang tegas sang suami. "Kamu adalah dokter, jadi lakukan tugas kamu dengan baik. Istri kamu disini mendukung mu."


Fabian memeluk tubuh sang istri dengan erat. Dia begitu senang Maura mengerti akan pekerjaannya. Dia sangat bersyukur memiliki istri seperti Maura saat ini. Dia berjanji akan selalu menjaga dan mencintai Maura sepenuh hati, jiwa dan raganya. "Terima kasih, Amor."


__ADS_2