
Maura yang tengah bersantai di dalam kamar resort pagi itu terlihat kaget saat ponselnya berdering dan ada panggilan masuk dari Rafa. Awalnya dia ragu untuk mengangkat panggilan itu, namun akhirnya dia angkat juga karena sudah beberapa kali Rafa berusaha menelepon tidak dia angkat diwaktu hampir berdekatan.
"Assalamualaikum." Ucap Maura setelah mengangkat sambungan telepon dari Rafa. Dia terlihat begitu malas berbicara dengan Rafa.
"Walaikumsalam." Balas Rafa. "Kamu bisa turun? Aku ada di lobby Malibu Resort sekarang." Ujar Rafa.
Kaget, jelas saja Maura kaget dengan apa yang Rafa katakan tadi. Dia bahkan sampai merubah posisi yang awalnya duduk menjadi berdiri saat ini. "Ngapain dia kesini." Gumam Maura tanpa mengeluarkan suara.
"Ra!! Masih tersambung kan?" Tegur Rafa karena tidak mendengar sahutan dari Maura. Dia bahkan sampai mengecek ponselnya dan ternyata masih tersambung panggilan keluar dengan Maura.
"Kak Rafa ada di Bali?" Tanya Maura memastikan kalau dirinya tidak salah dengar tadi.
"Iya, aku sekarang di Bali dan ada di lobby Malibu Resort sekarang ini." Jelas Rafa. "Bisa kamu turun sekarang?" Rafa menanyakan kembali kesanggupan Maura untuk turun dan menemui dirinya.
"Tunggu sebentar." Balas Maura dan langsung memutuskan sambungan telepon begitu saja tanpa mengucap salam. "Ngapain Kak Rafa kesini? Mau apa dia?" Gumam Maura bertanya pada dirinya sendiri. Sepertinya ada hal serius, pikir Maura.
Maura menatap sekeliling lantai untuk mencari sandalnya. Setelah ketemu, dia segera memakainya dan berlalu keluar dari dalam kamar untuk segera menuju lobby dimana Rafa tengah menunggunya saat ini. Dia begitu penasaran kenapa Rafa bisa ada disini dan tahu kalau dirinya menginap di Malibu Resort.
"Kak Mila!!" Seru Maura saat dirinya bukannya mendapati keberadaan Rafa, melainkan Kamila yang tengah duduk seorang diri di sofa yang tersedia di lobby.
Kamila yang mendengar seruan dari Maura menoleh dan tersenyum pada Maura. Dia bahkan langsung berdiri dari duduknya. "Hai, Ra. Lama tidak ketemu." Ucap Kamila mengingat dirinya memang sudah lama tidak bertemu dengan Maura.
Maura tersenyum kikuk dan melangkah mendekat ke arah Kamila. Keduanya saling berpelukan dan cipika cipiki. Meski tidak begitu akrab, tapi Maura tahu sopan santun dan menghargai orang. Tidak mungkin dia akan mengacuhkan Kamila mengingat keduanya saling kenal. Dia juga tidak memiliki masalah dengan Kamila, dia hanya memiliki masalah dengan Rafa. Dia masih kesal bahkan malas bertemu maupun berbicara dengan Rafa, selain membahas pekerjaan.
"Kak Mila sendirian datang kesini?" Tanya Maura basa-basi. Jelas saja dia tahu kalau tidak mungkin Kamila pergi seorang diri mengingat saat ini wanita itu tengah hamil. Dan Maura sendiri juga tadi buru-buru menuju lobby juga karena Rafa yang menelepon dan memintanya untuk segera turun. Lalu dimana Rafa sekarang? Kenapa Maura tidak melihat lelaki yang sudah meninggalkan dirinya demi menikah dengan wanita lain yang sekarang ada dihadapannya.
Bukannya Maura belum move on, dia sudah move on. Tapi rasa sakit itu masih ada bekasnya walau hanya sedikit. Tetap saja masih terasa meski tidak sesakit dulu waktu awal-awal dia tahu Rafa lebih memilih wanita lain dan meninggalkan dirinya.
Kamila tersenyum dan menggeleng pelan. "Mana mungkin aku pergi kesini sendirian. Aku kesini sama Mas Rafa, tapi sekarang beliau pergi ke toilet." Ujar Kamila.
Maura menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Ternyata lelaki yang memintanya untuk segera turun ke lobby tengah pergi ke toilet. Dia lantas mengajak Kamila untuk duduk. Dia masih punya hati dan perasaan, tidak mungkin membiarkan seorang wanita hamil berdiri terus.
Tidak berselang lama, Rafa sudah kembali dari toilet dan bergabung bersama Maura dan juga istrinya, Kamila duduk di sofa yang ada di lobby Malibu Resort.
"Kak Rafa tahu darimana Maura nginap disini?" Tanya Maura mengingat dirinya tidak memberi tahu siapapun kecuali Bryan, sang Ayah yang tahu kalau dirinya menginap di Malibu Resort. "Tidak mungkin kan Ayah yang memberi tahu." Gumam Maura dalam hati.
__ADS_1
"Dari Ayah Bryan." Jawab Rafa jujur. "Beliau yang meminta ku datang kesini." Sambung Rafa.
Maura mengerutkan keningnya saat tahu kalau Ayahnya lah yang meminta Rafa datang menyusulnya. Untuk apa, pikirnya. "Kenapa juga harus Kak Rafa? Nggak ada yang lain apa." Gerutu Maura dalam hati.
"Ayah Bryan meminta ku untuk membantu proses pembangunan resort milik Fabian." Ungkap Rafa.
Maura semakin terkejut dibuatnya. Kenapa harus Rafa yang membantu Fabian. Apa jadinya nanti. Pasti Fabian akan menolak bantuan itu, pikir Maura. Meski dia belum begitu mengenal Fabian, tapi dia yakin kalau Fabian pasti akan menolak bantuan dari keluarganya. Apalagi yang turun tangan langsung kelapangan adalah Rafa. "Bisa berpikir macam-macam Fabian nantinya." Batin Maura yang takut sendiri.
"Kenapa Kak Rafa setuju?" Tanya Maura penasaran mengingat sebelumnya Rafa pernah bertemu dengan Fabian dibelakangnya dan mengaku sebagai kakaknya.
"Kalau mendapatkan proyek yang menguntungkan kenapa harus menolak." Jawab Rafa lugas.
"Tapi belum tentu Fabian akan setuju." Timpal Maura mengeluarkan pendapatnya.
"Tapi aku yakin dia akan setuju." Sahut Rafa dengan tersenyum.
Maura yang melihat senyum Rafa bukannya terpesona seperti dulu, melainkan justru berpikir keras. Berpikir apakah Fabian mau menerima bantuan dari keluarganya. Apalagi ini yang akan turun tangan adalah Rafa. Apa Fabian nantinya justru akan berpikir macam-macam pada dirinya dan mengira kalau dirinya belum move on.
"Kami istirahat dulu." Pamit Rafa. "Kamu atur jadwal buat ketemu sama Fabian siang nanti. Aku tunggu kabarnya." Kata Rafa sebelum akhirnya pergi menuju kamar yang sudah dia sewa bersama Kamila juga.
"Apa Bian mau?" Monolog Maura memikirkan kesanggupan Fabian menerima bantuan dari keluarganya.
🌷🌷🌷
"Tumben ajak makan siang duluan." Sindir Fabian saat tadi tiba-tiba Maura datang menemui dirinya untuk diajak makan siang bersama.
"Memangnya nggak boleh apa. Inisiatif duluan memangnya salah." Maura pura-pura ngambek karena dapat sindiran dari Fabian.
Fabian tertawa kecil melihat Maura yang merajuk. "Aku nggak bilang begitu. Aku justru senang kamu berinisiatif lebih dulu. Itu tandanya kamu sudah mau menerima aku." Ujar Fabian dengan penuh percaya diri.
Maura menanggapinya dengan tersenyum kecut. Dia takut kalau Fabian nantinya tahu bahwa tujuannya mengajak makan siang bersama adalah untuk bertemu dengan Rafa juga membahas kelanjutan pembangunan resort.
"Maaf, kami telat."
Fabian menoleh saat ada yang baru saja datang untuk bergabung. Dia mengerutkan keningnya saat melihat siapa yang datang. Dia masih ingat siapa lelaki itu. Dia melihat kearah Maura dimana wanita itu menunduk dengan memainkan jari jemarinya. "Pasti Maura sedih saat ini." Pikir Fabian yang berpikir bahwa Maura sedih karena bertemu dengan Rafa.
__ADS_1
Padahal saat ini Maura takut kalau Fabian akan marah bahkan kecewa sama dirinya karena sudah berbohong. Dia tadi hanya bilang ingin makan berdua saja, tapi kini justru ada Rafa juga istrinya yang ikut bergabung.
"Kalian sudah dari tadi?" Tanya Rafa sambil tersenyum. Dia beserta Kamila sudah ikut bergabung bersama Maura juga Fabian.
Fabian menoleh kearah Rafa dan tersenyum dengan mengangguk pelan. Dia melihat ketiganya bergantian, sepertinya ada sesuatu dibalik Maura mengajaknya makan bersama. Apalagi Maura saat ini sepertinya takut untuk melihat kearahnya. Kalau wanita itu sedih karena Rafa tidak mungkin ekspresinya seperti sekarang ini. Seperti ada yang ditutupi Maura dari dirinya.
Rafa melihat makanan yang ada diatas meja sebagian sudah habis. Sepertinya mereka sudah selesai makan siang, pikir Rafa. Kebetulan dia tadi telat karena memang diminta sama Maura untuk datang terlambat setelah selesai makan siang terlebih dahulu.
"Ra!! Bisa kita bicarakan sekarang?" Tanya Rafa pada Maura meminta ijin terlebih dahulu.
Maura menatap Rafa dengan sesekali melirik ke arah Fabian. Dia bingung harus mengiyakan apa menolak. Dia masih ragu kalau apa yang sudah direncanakan Ayahnya akan disetujui sama Fabian. Ini sudah seperti menjatuhkan harga diri Fabian kalau dirinya tidak pantas bersanding dengan Maura.
"Ada apa sebenarnya?" Tanya Fabian karena merasa ada sesuatu yang sudah disembunyikan sama Maura.
Kamila hanya diam saja, tidak mau ikut campur karena tidak tahu dunia bisnis. Dia tadi hanya diajak sama Rafa daripada sendirian di kamar.
Karena Maura tidak kunjung memberi jawaban, akhirnya Rafa mengeluarkan sebuah map yang tadi dibawa sama Kamila. Dia meletakkannya diatas meja. "Saya mau mengajukan kerjasama. Anda bisa melihat dan membacanya terlebih dahulu." Kata Rafa pada Fabian.
Fabian melihat map tersebut. Dia menatap Rafa dan juga Maura bergantian sebelum akhirnya mengambil map itu dan dia buka lalu dia baca isinya. Yang ternyata isinya tentang kerjasama pembangunan Malibu Resort miliknya. Dimana Rafa sebagai arsiteknya dan Maura sebagai penanggung jawab, juga atas persetujuan Bryan.
"Saya harap Anda tidak menolaknya atau Anda bisa menolaknya langsung pada Tuan Bryan." Ucap Rafa sebelum Fabian mengeluarkan suara setelah membaca isi yang ada di dalam map tersebut.
Fabian meletakkan map itu di meja. Dia menatap Rafa sekilas, lantas beralih menatap Maura yang hanya diam menunduk sedari tadi. "Mana ponsel kamu!" Fabian meminta ponsel milik Maura pada sang pemilik.
Maura dengan patuh memberikan ponsel miliknya kepada Fabian tanpa berani membalas tatapan dokter muda berstatus duda itu.
Setelah mendapatkan ponsel Maura, Fabian beranjak pergi dari sana dan menghubungi Bryan melalui ponsel Maura.
"Assalamualaikum sayang. Ada apa?" Terdengar suara Bryan diseberang sana setelah mengangkat sambungan telepon dari Maura.
"Walaikumsalam. Saya Fabian, Paman." Ucap Fabian memberi tahu kalau dirinya bukan Maura.
"Oh kamu, ada apa?" Tanya Bryan yang sepertinya tidak begitu kaget kalau bukan Maura yang ternyata menghubungi dirinya.
"Maaf sebelumnya kalau saya lancang sudah memakai ponsel Maura untuk berbicara dengan Anda." Ucap Fabian sopan.
__ADS_1
"Tidak apa." Balas Bryan yang sepertinya tidak mempermasalahkan Fabian yang menggunakan ponsel Maura. "Oh ya, kamu sudah membaca proposal yang dibawa Rafa?" Tanya Bryan pada Fabian. Tapi sebelum Fabian memberi jawaban, Bryan sudah kembali mengatakan sesuatu. "Sebelum kamu menjawabnya, ada yang harus saya katakan sama kamu." Fabian diam saja dan mendengar apa yang akan Bryan sampaikan pada dirinya.
"Entah kamu setuju apa tidak dengan bantuan yang saya berikan melalui Rafa, saya tidak tahu. Saya harap kamu menyetujuinya, karena kalau tidak setuju, saya tidak akan mengijinkan mu untuk mendekati putri saya lagi. Bahkan Maura akan saya jodohkan dengan saingan kamu, Raka. Kebetulan Raka juga suka sama Maura." Ujar Bryan panjang lebar memberi Fabian peringatan dia juga baru tahu kalau ternyata selama ini Raka mencintai putrinya dalam diam. "Pikirkan dulu sebelum memberi jawaban. Saya tidak merendahkan mu, saya hanya memberi kamu bantuan juga kerjasama yang saling menguntungkan. Pikirkanlah baik-baik."