
Pagi hari setelah sholat subuh, sekitar jam setengah enam pagi Maura bersama Bryan terlihat keluar rumah berdua dengan bersepeda. Keduanya bersepeda menuju taman komplek dekat rumah mereka.
Hari ini Bryan memenuhi keinginan Maura yang ingin menghabiskan waktu seharian bersama dirinya. Meski tidak sehari full, Bryan tetap menyempatkan diri untuk memenuhi keinginan putri kesayangannya yang sebentar lagi akan menikah.
Ini quality time pertama kali bagi keduanya, karena sebelumnya mereka selalu quality time bersama keluarga lainnya setiap minggunya.
"Ayo kita balapan!! Siapa yang terakhir sampai taman harus bayar buat makan siang nanti." Tantang Bryan yang memperlambat mengayuh sepedanya.
"Siapa takut. Ayo!!" Maura yang sejak kecil sudah suka bersepeda tidak sulit baginya saat sang Ayah mengajaknya untuk balap sepeda. Dia langsung mengiyakan karena sudah lama sekali dirinya tidak bersepeda. Itung-itung pemanasan dulu, cari keringat dipagi hari biar sehat.
Setelah keduanya bersiap diposisi masing-masing. Maura menghitung mundur. "3, 2, 1....!!"
Baik Bryan maupun Maura tidak ada yang saling mengalah. Keduanya saling mengalip satu sama lain. Hingga akhirnya Bryan mengalah saat hampir sampai di taman, batas finish lomba mereka.
"Yeeahhh!!! Kakak menang!!!" Maura bersorak kegirangan setelah turun dari sepeda. Dia begitu senang bisa menang dari Bryan. Biasanya dirinya pasti kalah satu skor dari Ayahnya itu tiap kali ikut lomba dan ini pertama kalinya dirinya menang dari Bryan. Wajar saja kalau Maura begitu senang.
"Senang sekali. Memang mau minta makan siang apa kalau sudah menang?" Tanya Bryan yang baru sampai. Dia tidak turun dari sepeda dan masih berada diatas sepeda.
"Mau makan di restoran Li Xin Teochew Fishball Noodles." Jawab Maura dengan cepat.
"Lin Xin Teochew." Ulang Bryan. "Dimana itu? Sepertinya Ayah pernah dengar." Bryan mencoba mengingat tempat makan itu berada.
"Ayah tak hanya dengar, tapi Ayah juga pernah datang dan makan juga disana." Ujar Maura mengingatkan sang Ayah.
Bryan mengerutkan keningnya sambil menatap Maura yang tetap saja tersenyum. Dia merasa curiga dengan putrinya itu. Pasti restoran itu tidak ada di Jakarta, pasti ditempat lain. Tapi dimana? Bryan masih mencoba mengingatnya hingga akhirnya tahu dimana restoran itu berada. "Itu restoran ada di Singapore." Ucap Bryan.
"Iya. Kita ke Singapore setelah pulang dari sini." Sahut Maura dengan tersenyum. "Maura semalam juga sudah pesan sama Paman Bara untuk menyiapkan private jet PP Jakarta Singapore." Dengan entengnya Maura mengatakan itu secara lancar tanpa adanya rintangan.
Bryan geleng kepala, dirinya sepertinya salah telah mengajari Maura yang dengan mudahnya menggunakan fasilitas yang keluarga Abrisam miliki. Dia menghembuskan nafas perlahan, "oke. Kalau gitu kita keliling taman dulu dua putaran, habis itu pulang."
Maura yang senang karena Ayahnya menyetujuinya, akhirnya dia mengikuti Bryan yang sudah lebih dulu mengayuh sepedanya keliling taman.
🌷🌷🌷
Setelah tadi sebelum berangkat sempat main kucing-kucingan dari Nadia juga Shaqila, akhirnya Maura dan Bryan sampai Singapore juga. Hanya berdua dan satu lagi bodyguard yang memang sengaja Bryan bawa. Meski awalnya Maura menolak ada yang ikut mereka, akhirnya dia setuju karena Bryan mengancam akan membatalkan penerbangan ke Singapore.
Kini mereka ada di restoran yang disebutkan Maura tadi. Mereka tengah menikmati hidangan yang sudah dipesan sama Maura.
"Ini nggak apa Ayah makan beginian?" Tanya Bryan pada Maura saat melihat hidangan yang dipesan Maura itu adalah mie juga bakso ikan yang terkenal di restoran Li Xin Teochew Fishball Noodles. Pasalnya sudah sekitar lima tahun ini dirinya menerapkan pola makan sehat sesuai yang dianjurkan sama Maura. Mengingat dirinya ada riwayat kolesterol juga jantung. Maklum, sekarang Bryan sudah berumur, jadi harus menjaga kesehatan.
"Nggak apa Ayah. Cuma sekali aja tidak masalah. Yang penting jangan banyak-banyak makannya." Jawab Maura sambil mengaduk-aduk mie nya dengan sumpit sebelum akhirnya dia suapkan kedalam mulutnya sendiri. Dia memakannya dengan lahap. Sudah lama dia tidak makan makanan itu.
Selesai dengan aktivitas makan, Bryan mengajak Maura pergi ke sebuah mall untuk menghabiskan waktu yang tersisa karena ini masih jam satu siang. Kebetulan masih ada tiga jam lagi sebelum mereka terbang kembali ke Jakarta.
Maura dengan senang hati mengiyakan, apalagi Bryan bilang akan membelikan apapun yang dia mau asal barang yang dia inginkan ada di mall tersebut. Dengan antusias Maura masuk ke dalam toko tas, sepatu, bahkan baju serta aksesoris. Tidak lupa dia juga membelikan ketiga adiknya serta sang Bunda tercinta. Meski Bryan membebaskan dirinya untuk membeli apapun yang dia inginkan, tetap saja Maura tidak mau serakah. Dia juga harus berbagi dengan Bunda juga ketiga adiknya.
"Ayah nggak ingin belikan Bunda hadiah?" Tanya Maura karena tidak melihat sang Ayah memilih sesuatu untuk Freya dan hanya membantunya memilihkan untuk dirinya.
__ADS_1
"Buat apa, kan sudah kamu belikan." Bryan menunjuk dengan dagunya barang-barang belanjaan yang dibawa sama bodyguard. Untung saja Bryan tadi memilih membawa satu bodyguard, kalau tidak barang belanjaan sebanyak itu dirinya nanti yang akan membawanya. "Lagian ulang tahun Bunda masih lama."
"Beli hadiah itu tidak perlu nunggu ulang tahun dulu, Ayah. Hadiah bisa diberikan kapan saja sebagai bentuk apresiasi kita pada orang yang kita sayang." Ujar Maura yang menceramahi Ayahnya. Padahal tanpa diceramahi pun, Bryan juga sudah tahu kalau memberi hadiah itu bisa kapan saja tanpa harus menunggu ulang tahun. Hanya saja Bryan bingung harus membelikan apa untuk Freya sebagai hadiah karena Maura sendiri sudah membelikan beberapa barang untuk Freya juga.
"Ayah nggak mau apa membelikan Bunda itu." Maura menunjuk dengan gerakan ujung matanya menunjuk sebuah toko underwear. "Biar makin romantis. Siapa tahu nanti Maura bakal punya adik lagi." Maura mengulum senyum menggoda Bryan.
Bryan melihat toko yang ditunjukkan sama Maura dia mengerutkan keningnya sambil menatap putrinya itu. "Sepertinya ide yang bagus. Ayah akan bersaing sama Fabian, siapa yang duluan menghasilkan benih itu. Kamu atau Bunda kamu." Sahut Bryan yang dengan semangat masuk ke toko underwear.
Maura melongo saja, dia tidak percaya Ayahnya justru mengajak dirinya dan Fabian bersaing. Yang benar saja. Setelah pulang dari sini Ayahnya bisa langsung memprosesnya dengan Bundanya, sedangkan dirinya harus menunggu sampai hari sabtu besok.
"Non!! Non Maura nggak beli juga? Lumayan Non buat stok nanti setelah menikah."
Maura menatap bodyguard nya itu sengit. Beraninya bodyguard nya mengatakan itu pada dirinya. Tapi kalau dipikir-pikir benar juga. Dia harus tampil menawan, menggoda dan seksih dihadapan Fabian nantinya. Dia harus membeli beberapa stok underwear yang banyak. Siapa tahu nanti Fabian akan beraksi brutal saat mencumbunya dan mengoyak apa yang dia kenakan. "Aku akan berikan tips buat mu." Ujar Maura dengan tersenyum manis karena ide bodyguard nya itu sungguh brilian.
Maura masuk ke dalam toko underwear dan memilih lingerie seksih dan beberapa underwear lainnya yang belum pernah dia miliki. Kebanyakan yang dia pilih warna merah sama hitam. Karena menurutnya warna itulah yang pas di kulitnya dan terlihat seksih.
Bryan sendiri juga memilih dan membeli buat istrinya. Dia tidak malu sama sekali saat memegang dan memilih bahkan saat bertanya pada pegawai toko.
"Kau juga beli?" Tanya Bryan saat melihat putrinya juga ikut antri membayar. "Sini!! Biar sekalian Ayah yang bayar."
Maura meringis, memperlihatkan deretan giginya yang putih dan rapi. "Nggak perlu Ayah." Tolak Maura. "Khusus yang ini Maura sendiri yang bayar."
Bryan mengangguk saja dan membiarkan bayar masing-masing. Keduanya segera keluar setelah selesai membayar, sebelum akhirnya mereka menuju bandara dan kembali ke Jakarta.
"Pintar, kau harus rayu suami kamu biar tidak jajan diluar." Ujar Bryan. "Kalau perlu kamu bisa belajar dari Bunda kamu." Sambung Bryan. "Jadilah pela cur buat suami mu sendiri." Bisik Bryan.
🌷🌷🌷
Tidak begitu jauh dari tempatnya saat ini, Maura melihat Anggie yang menangis sambil menelepon seseorang. Maura tidak mendengar percakapan Anggie dengan orang di telepon, tapi sepertinya tengah bertengkar. Maura yang penasaran memutuskan segera turun dari atas kap mobil dan menghampiri Anggie. Namun, belum sempat Maura memanggil Anggie, temannya itu sudah berlalu pergi dengan mobilnya.
"Anggie kenapa sih? Pasti dia memiliki masalah. Tapi kenapa dia tidak mau cerita? Amel juga tidak tahu soal itu." Gumam Maura melihat mobil Anggie yang sudah berlalu pergi.
"Amor!!"
Maura membalikkan badannya saat suara lelaki yang sangat dia kenal menegurnya. Maura tersenyum dan melangkah cepat sambil merentangkan kedua tangannya.
Hap
Fabian menangkap tubuh Maura dalam dekapannya dan diangkatnya tubuh itu hingga membuat kedua kaki Maura otomatis melingkar di pinggang Fabian.
"Aku kangen banget sama kamu." Ucap Maura dengan memeluk leher Fabian dan menyembunyikan wajahnya di leher calon suaminya. Menghirup aroma maskulin dari keringat Fabian yang baunya masih sangat wangi, tidak kecut maupun asam.
"Salah siapa sejak pagi menonaktifkan ponsel." Kata Fabian yang sepertinya menyalahkan Maura sendiri.
Maura menjauhkan kepalanya dari leher Fabian dan menatap lelaki itu dengan kedua tangan masih melingkar di leher Fabian. "Kan kamu yang minta." Maura sepertinya tidak mau disalahkan. "Semalam kamu bilang agar aku bisa lebih fokus untuk quality time bersama Ayah. Ya udah aku nurut sama kamu. Ponselnya aku ubah mode pesawat."
Melihat Maura yang mengerucutkan bibirnya, Fabian langsung mencuri kecupan pada bibir manis itu. Fabian tersenyum, "iya, aku lupa. Aku juga kangen sama kamu." Fabian kembali mencium bibir Maura, hanya mencium, tidak ada pagutan diantara bibir keduanya.
__ADS_1
"Aku lapar, kita pergi cari makan dulu." Maura mengangguk setuju. "Kita pakai mobil ku saja, mobil kamu ditinggal disini." Lagi-lagi Maura mengangguk mengiyakan.
Dengan masih menggendong Maura ala koala, Fabian melangkah menuju tempat mobilnya di parkir. Tepat sebelah dimana mobil Maura berada. Fabian membuka pintu mobil dan menurunkan Maura secara hati-hati langsung di jok depan samping kemudi. Tidak lupa dia juga memakaikan sling belt pada Maura dan dia sendiri segera masuk kedalam mobil.
Mobil itu segera melesat keluar area rumah sakit dan membelah jalan malam yang ramai lancar.
"Bi!! Aku ingin makan di angkringan dekat kampus Ayah. Please!!" Pinta Maura dengan memohon, dia menatap Fabian dengan mengedipkan matanya beberapa kali.
"Siap tuan putri." Maura yang senang karena Fabian menyanggupinya langsung tersenyum dan memeluk lengan kiri Fabian. Kepalanya dia sandarkan pada bahu kiri calon suaminya itu.
Fabian menoleh dan mencium puncak kepala Maura sekilas dan kembali fokus pada laju mobil. Keduanya sampai ditempat yang mereka tuju. Fabian masih bingung harus parkir dimana karena area parkir sudah begitu penuh. Bahkan sampai ada yang parkir di bahu jalan membuat macet pengguna jalan lainnya.
"Kamu yakin makan disini?" Tanya Fabian. "Ramai banget ini. Kalaupun mau parkir kita harus jalan jauh." Saat ini Fabian berhenti di bahu jalan.
"Maju lagi. Dekat taman setelah pintu gerbang kampus." Pinta Maura.
Fabian melajukan mobilnya kembali, kurang lebih dua ratus meter tempat yang dimaksud Maura itu berada.
"Ihh kok rame semua sih." Keluh Maura saat lagi-lagi parkiran penuh dan macet.
"Sabar, kita cari yang lain saja." Fabian melaku pelan. "Kamu mau roti bakar sandwich nggak? Didekat sini ada yang jual roti bakar sandwich." Tawar Fabian karena perutnya sudah begitu lapar.
"Boleh deh." Maura setuju meski suaranya terdengar lesu karena keinginannya yang ingin makan di angkringan batal.
Fabian segera memarkirkan mobilnya saat sudah sampai di tempat penjual roti bakar. Dia memarkirkan mobilnya sedikit agak masuk kedalam gang yang sedikit gelap. Dia dan Maura segera turun dan memesan roti bakar sandwich.
"Aku kesana dulu mau beli smoothies." Ijin Maura. "Kamu mau apa?" Tanyanya menawarkan Fabian.
"Sama seperti yang kamu pesan." Maura mengangguk dan pergi ke kedai minuman yang ada disamping penjual roti bakar.
Keduanya sudah mendapatkan apa yang mereka beli. Mereka memakannya di dalam mobil sambil menyalakan musik.
"Enak juga ya makan dipinggir jalan seperti ini." Seru Maura yang sepertinya sangat menikmati suasana malam dipinggir jalan.
"Iya, apalagi ditemani sang dewi yang baru turun dari langit." Sahut Fabian dengan menggoda Maura. Dia mengedipkan sebelah matanya menggoda Maura.
Maura tersenyum melihat Fabian yang menggodanya. Dia menghembuskan nafas perlahan. "Setelah ini kita tidak boleh bertemu sampai hari sabtu nanti." Maura terlihat lesu saat mengatakannya.
Fabian mengambil tangan kanan Maura dan dia pegangnya dengan lembut. "Tapi setelah itu kita akan bertemu setiap hari. Sabar ya, hanya empat hari saja." Ucap Fabian dengan lembut sambil menatap Maura.
"Bagaimana kalau aku kangen sama kamu?" Fabian tertawa kecil melihat Maura yang merajuk takut kalau merasa rindu pada dirinya.
"Kalau begitu, aku akan memberimu amunisi sekarang. Aku harap cukup untuk empat hari kedepan." Maura mengerutkan keningnya bingung dengan apa yang Fabian katakan.
Tanpa aba-aba Fabian menarik tangannya dan menahan tengkuknya. Fabian mencium bibir Maura dengan sangat lembut, tidak ada kekasaran dan hasrat yang menggebu. Hanya sebuah ciuman lembut yang sangat panjang. Saling memagut satu sama lain dalam kelembutan.
"WOEE!!! Mobil aja bagus tapi tidak bisa sewa kamar."
__ADS_1
Maura langsung sembunyi dibalik dada bidang Fabian saat ada yang mengetuk kaca mobil juga meneriaki keduanya dari luar.
"Aku malu!!" Pekik Maura tertahan dengan wajah memerah menahan malu.