
"Mas!!" Panggil Kamila pada Rafa yang tengah duduk melamun di sisi tempat tidur. Sejak pulang dari kantor tadi Rafa terus saja melamun. Kamila mengelus pelan bahu Rafa karena suaminya itu tidak menyahuti panggilan darinya.
Rafa yang merasakan bahunya dielus menoleh dan melihat Kamila tengah tersenyum kepadanya. Rafa membalas senyum itu dan menepuk tempat kosong disisi kirinya.
Kamila menurut dan duduk disisi yang Rafa berikan untuknya. "Mas Rafa tadi mikirin apa? Mila panggil dari tadi nggak dengar." Tanya Kamila penasaran apa yang tengah suaminya itu pikirkan hingga membuat Rafa melamun. "Apa ada masalah di kantor?" Tebak Kamila.
Rafa menggeleng kepala pelan, "nggak ada. Di kantor baik-baik saja." Jawab Rafa jujur karena memang di kantor sedang baik-baik saja dan tidak ada masalah.
"Terus kenapa?" Kamila sepertinya merasakan kalau suaminya tengah memikirkan sesuatu, karena sudah beberapa hari ini sikap Rafa berubah. Lebih sering melamun. "Apa Mas Rafa kepikiran Maura?" Tebak Kamila mengingat beberapa hari yang lalu Rafa pernah cerita tentang Maura yang hamil di luar nikah karena kesalahannya. Awalnya Kamila pikir Rafa sudah berbuat dosa pada Maura, ternyata karena Rafa menikah dengan dirinya yang membuat Maura akhirnya melakukan hubungan terlarang dengan lelaki lain.
Rafa menatap istrinya dan memegang kedua tangan Kamila juga mengusapnya lembut. "Maaf!! Aku sudah memikirkan wanita lain." Ucap Rafa jujur karena saat ini dia memang tengah memikirkan kondisi Maura. Atau lebih tepatnya memikirkan kesalahan yang sudah dia buat hingga membuat Maura melakukan hubungan terlarang dengan lelaki lain hingga hamil diluar nikah.
"Nggak apa. Tapi jangan keseringan ya. Nggak bagus buat keharmonisan rumah tangga." Balas Kamila dengan tersenyum meski hatinya sedikit terasa sakit karena suaminya memikirkan perempuan lain. Walau dia tahu Rafa memikirkan Maura karena kesalahan Rafa sendiri yang tidak menepati janji yang mereka buat hingga Maura terjerumus hubungan terlarang dengan lelaki lain hingga hamil diluar nikah.
"Aku tahu. Terima kasih sudah mau mengerti." Rafa mengangkat kedua tangan Kamila dan mencium punggung tangan istrinya itu bergantian. "Aku akan mencari tahu siapa lelaki itu. Takutnya lelaki itu memiliki niat jahat juga hanya ingin memanfaatkan Maura saja." Tekad Rafa yang tidak ingin Maura terjerumus lagi dalam kesalahan. Dia melakukan ini untuk menebus kesalahannya pada Maura yang harus berakhir berbuat zina karena dirinya menikah dengan Kamila.
"Iya, apalagi Maura orangnya terlalu baik sama orang." Timpal Kamila menyetujui apa yang Rafa sampaikan mengingat Maura yang mudah sekali dimanfaatkan orang lain.
"Maura!! Aku memang salah sudah meninggalkan kamu, tapi aku janji akan mencari tahu siapa lelaki yang sudah menodai kamu dan semoga lelaki itu tidak memiliki niat jahat pada kamu." Gumam Rafa dalam hati yang sudah bertekad untuk menebus kesalahannya pada Maura.
🌷🌷🌷
Keesokan harinya di rumah sakit, Fabian seperti biasa tengah sibuk dengan pasien rawat jalannya. Hari ini dia tidak ada jadwal operasi dan tidak ada jadwal praktek sore. Jadi dia memutuskan sepulangnya dari rumah sakit dia akan menemui Maura. Mengingat setelah terakhir berkunjung ke rumahnya untuk makan buah mangga muda, Maura susah sekali dihubungi. Entah ada apa lagi dengan ibu dari anaknya itu sekarang, suka sekali me-reject panggilan telepon darinya. Bahkan chat nya aja cuma di read saja seperti koran.
"Terima kasih kerja sama!" Ucap Fabian pada Danu yang menemaninya praktek siang. Mereka kini sudah selesai dengan tugas mereka.
"Sama-sama Dokter. Terima kasih juga sudah memberi saya arahan." Balas Danu selaku Dokter residen yang banyak sekali belajar dari Fabian mengenai keluhan yang pasien derita serta cara menanganinya.
Fabian tersenyum sambil menepuk pundak Danu pelan. "Aku pulang dulu. Nanti kalau kamu ada yng tidak tahu, telepon aja." Pesan Fabian mengingat Danu hari ini bagian jaga sampai malam.
"Siap!" Danu mengangguk pasti.
__ADS_1
Keduanya keluar dari ruang praktek dan menuju ke ruangan mereka. Fabian segera berkemas untuk pulang sedangkan Danu sendiri melanjutkan kegiatannya.
"Dokter Bian mau pulang?" Tanya Irene saat melihat Fabian berkemas.
"Iya." Jawab Fabian singkat tanpa menatap Irene yang tengah bertanya pada dirinya.
"Hmmm!! Boleh saya numpang mobil dokter nggak? Sampai di pertigaan depan sana, mobil aku masuk bengkel." Dengan ragu dan juga gugup Irene menyampaikan niatnya. Sebenarnya dia tahu, pasti Fabian menolaknya mengingat yang sering dia dengar dari dokter lain juga para perawat kalau Fabian itu susah sekali didekati, apalagi yang mendekati wanita. Pasti di abaikan begitu saja.
"Baiklah!!" Jawaban yang Fabian berikan membuat Irene terdiam sesaat. Apa dia tidak salah dengar, pikirannya. Fabian mengijinkannya ikut menumpang di mobilnya tanpa adanya penolakan.
Tak hanya Irene, bahkan Gerry juga Danu serta Vira pun ikut terheran-heran dengan jawaban dari Fabian. Sepertinya Fabian kerasukan setan baik, pikir mereka karena ini tidak seperti yang mereka bayangkan. Biasanya Fabian akan mencari alasan, kalau tidak dia akan merekomendasikan dengan yang lainnya. Tapi kali ini sungguh diluar perkiraan BMKG.
"Ren!! Itu Dokter Bian udah keluar!" Vira yang gemas melihat Irene melamun mendorong pelan bahu Irene untuk menyadarkan dokter wanita itu.
Irene yang kaget dan sadar Fabian sudah tidak ada didepannya, sontak saja langsung mengejar Fabian yang sudah berjalan terlebih dahulu.
"Apa Dokter Bian suka sama Irene ya?" Tebak Vira yang berpikir Fabian mau memberi tumpangan pada Irene karena memiliki perasaan pada Irene.
"Nggak mungkin." Timpal Gerry yang tahu jelas bagaimana Fabian. "Palingan saat diparkiran nanti Bian meminta Irene ikut sama dokter lainnya." Tebak Gerry mengingat bagaimana Fabian selalu menjaga jarak dengan wanita. Dan Irene bukan orang pertama yang ingin menumpang mobil Fabian.
"Gila!!! Beneran loh!!" Seru Vira dan Danu bersamaan saat melihat apa yang Gerry tebak tepat sasaran. Fabian meminta Irene ikut dengan dokter lainnya yang kebetulan juga akan pulang.
🌷🌷🌷
"Sayang!! Kita ke rumah sakit aja yaa." Sudah berapa kali Freya membujuk Maura untuk pergi ke rumah sakit, namun putrinya itu tetap saja menolak dengan gelengan kepala.
"Tapi wajah kamu sudah pucat begini loh. Kamu juga keringatan." Freya yang duduk disebelah Maura yang tengah berbaring, mengusap kening Maura yang basah karena keringat dengan tisu.
"Sakit banget, Bun!!" Keluh Maura lirih sambil memegang perutnya. Sudah dari semalam dia merasakan sakit pada perutnya. Meski hilang timbul, dia tetap berpikir positif. Mungkin karena terlalu banyak makan mangga muda. Tapi entah kenapa siang ini rasa sakitnya semakin parah.
"Sebentar. Bunda telepon Anggie dulu." Freya yang sudah tidak tega melihat Maura segera menghubungi Anggie selaku dokter kandungan Maura.
__ADS_1
"Hallo Nggie!! Ini Tante. Ini Maura keram di perutnya semakin parah. Dia juga keringatan. Maura juga nggak mau dibawa ke rumah sakit. Apa kamu bisa kesini?" Freya mengatakan dengan jelas bagaimana kondisi Maura saat ini kepada Anggie.
"Langsung bawa ke rumah sakit aja Tante. Anggie khawatir kalau terjadi sesuatu sama janinnya."
"Baiklah. Tante tutup dulu." Freya meletakkan kembali ponselnya dan sekali lagi membujuk Maura untuk dibawa ke rumah sakit, namun lagi-lagi dia tidak mau.
"Sayang!!! Dengerin Bunda. Kalau kamu nggak mau ke rumah sakit. Kita nggak akan tahu baby nya kenapa-kenapa. Apa kamu nggak ingin baby nya baik-baik saja? Ayah tadi juga minta langsung bawa kamu ke rumah sakit." Freya menatap sedih dan khawatir pada Maura. Dia memegang tangan Maura dan diusapnya lembut.
"Tapi Maura takut." Ucap Maura lirih.
"Apa yang kamu takutkan?" Tanya Freya.
"Maura takut baby nya sudah tidak ada. Maura takut kehilangan dia. Maura belum siap." Maura menangis membayangkan hal-hal buruk terjadi pada janinnya. Apalagi pagi tadi sudah ada flek yang keluar, namun tidak dia beri tahu pada siapapun.
Freya memeluk tubuh Maura dan diciumnya ubun-ubun putrinya itu dengan penuh kasih sayang. "Berpikir lah positif. Semuanya akan baik-baik saja."
Tok tok
"Permisi Nyonya!!" Freya melepas pelukannya pada tubuh Maura dan melihat kearah pintu dimana ada Bik Mae disana.
"Ada Dokter Fabian." Bik Mae menggeser sedikit tubuhnya dan memperlihatkan Fabian yang berdiri dibelakangnya.
"Fabian!!" Seru Freya yang langsung berdiri dari duduknya dan menatap Maura yang menyembunyikan isak tangisnya sambil membuang muka ke arah lain.
"Boleh saya masuk." Ijin Fabian untuk melihat kondisi Maura yang dia dengar dari Bik Mae kalau Maura tengah sakit perut dan tidak mau dibawa ke rumah sakit.
Freya mengangguk dan membiarkan Fabian masuk kedalam kamar Maura. Dia melihat kondisi Maura yang wajahnya pucat juga terlihat berkeringat. Dia memegang pergelangan tangan Maura dan dia cek denyut nadinya. Lemah.
"Dari kapan dia begini?" Tanya Fabian yang terus menatap Maura meski wanita itu memalingkan wajahnya tanpa mau melihat kearahnya.
"Dari kemarin malam." Jawab Freya jujur.
__ADS_1
"Kita ke rumah sakit sekarang." Tanpa persetujuan dari Maura maupun Freya, Fabian mengangkat tubuh Maura kedalam gendongannya.
"Darah!!" Freya begitu terkejut melihat ada darah di seprai. "Apa Maura pendarahan?"