One Night Romance

One Night Romance
Bab 46


__ADS_3

Maura segera turun dari dalam mobil setelah mobil terparkir dengan sempurna dan juga pintu mobil sudah terbuka. Dia berlari masuk kedalam rumah tanpa mengucapkan salam.


"Ayah!!" Teriak Maura dengan suara keras layaknya ada di hutan. Siapa tahu Ayahnya tidak mendengar panggilan darinya. Kebetulan Ayah juga Bunda serta ketiga adiknya sudah kembali dari Amerika.


"Ayah dimana?" Maura berteriak lagi di ruang keluarga sambil melihat ke penjuru arah mencari keberadaan sang Ayah.


Maura melihat ke lantai atas, siapa tahu Ayahnya ada disana. Baru saja dia melangkah naik ke anak tangga, sang Bunda sudah menegurnya.


"Kamu kenapa sih, sayang? Teriak-teriak macam di hutan saja." Tegur Freya setengah menyindir putri bungsunya yang suka sekali berteriak kencang.


Maura menoleh ke arah Freya yang sepertinya baru keluar dari arah dapur. Dia melangkah cepat ke arah Bundanya itu. "Ayah dimana, Bun? Ayah ikut pulang kan?" Tanya Maura dengan menggebu. Nafasnya juga terdengar memburu.


"Kenapa Ayah saja yang ditanyai? Kamu nggak kangen sama Bunda?" Sungut Freya yang pura-pura marah karena Maura hanya menanyakan keberadaan Bryan saja.


"Bunda apa-apaan sih. Maura juga kangen sama Bunda." Timpal Maura yang langsung memeluk tubuh Freya dengan erat. "Tapi sekarang Ayah dimana? Maura ada perlu sama Ayah." Tanya Maura setelah melepaskan pelukannya dari tubuh Freya.


"Ayah ada di ruang baca." Jawab Freya memberi tahu keberadaan Bryan.


"Thanks, Bun." Ucap Maura yang langsung bergegas menuju ruang baca dimana sang Ayah berada saat ini.


"Sayang, ruang bacanya di kanan tangga!" Seru Freya saat melihat Maura menuju ruang kerja yang ada di kiri tangga bukannya menuju ruang baca yang ada di kanan tangga. Dia bahkan sampai geleng kepala melihat tingkah Maura. Apa yang dipikirkan putrinya itu sampai lupa dimana ruang baca berada, batin Freya.


"Ayah!!" Seru Maura tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu dan langsung membukanya. Dia masuk ke dalam ruang baca mencari sosok Ayahnya yang katanya ada di dalam sini. Dia menatap sekeliling sambil berucap, "Ayah, ada yang ingin Maura sampaikan pada Ayah." Ucap Maura lirih diakhir kalimat saat dirinya tidak hanya menemukan sosok Ayahnya saja, melainkan ada sosok lelaki yang pagi tadi memintanya menjauh darinya.


Maura terdiam menatap lelaki yang duduk berseberangan meja dengan Ayahnya itu. Dia Fabian, lelaki itu bahkan tidak menoleh ke arahnya sama sekali. "Untuk apa dia ada disini." Batin Maura bertanya-tanya.


"Maaf, Ayah. Maura sudah mengganggu." Ucap Maura menunduk dan berniat keluar dari ruang baca. Dia malas, tidak mau bertemu dengan Fabian yang seenaknya saja pagi tadi pergi dan tidak mengijinkannya untuk mencarinya lagi.


"Mau kemana?" Tegur Bryan saat Maura hendak melangkah keluar. "Masuk dan duduk sini!" Dengan tegas Bryan meminta Maura untuk duduk dan bergabung bersama dirinya juga Fabian.


"Maura!!" Seru Bryan tegas saat melihat Maura yang hanya diam saja dan tidak kunjung menurut apa yang dia minta.


Maura memejamkan matanya, mengambil nafas panjang dan dihembuskan nya perlahan sebelum akhirnya ikut bergabung duduk bersama dua lelaki berbeda generasi itu. Dia duduk di sebelah Bryan, yang dimana otomatis dia juga duduk berseberangan meja dengan Fabian.


"Ada apa? Katanya ada yang ingin kamu katakan." Tanya Bryan pada Maura yang ada disebelahnya.


Dengan menundukkan kepalanya Maura menjawab. "Nanti saja, Ayah selesaikan saja dulu urusan Ayah sama dia." Dia sepertinya enggan untuk mengangkat kepalanya hanya sekedar beradu pandang dengan Fabian. Dia masih sakit hati dengan ucapan Fabian pagi tadi.


"Urusan Ayah sama Bian sudah selesai." Ujar Bryan.


"Terus kenapa dia masih disini?" Timpal Maura dengan sinis. "Bukannya pergi dari sini." Gerutu Maura dengan suara pelan.


"Ayah yang meminta dia tetap tinggal disini." Sahut Bryan. Dia menatap Fabian sekilas sambil tersenyum miring, sedangkan Fabian hanya mengulum senyum saja.

__ADS_1


Maura menghembuskan nafas kasar. Percuma saja menunggu Fabian pergi, lebih baik dia katakan saja informasi apa yang disampaikan Anggie padanya tadi. Biar Fabian dengar sekalian, pikir Maura.


"Ayah!!" Panggil Maura yang kini sudah berani mengangkat kepalanya. Tapi tetap saja dia tidak mau menatap Fabian. Dia bahkan sampai duduk menyamping ke arah Bryan.


Bryan menolehkan kepalanya ke arah Maura dengan sebelah alis terangkat keatas. Menunggu apa yang akan Maura sampaikan pada dirinya.


"Dokter Raka suka sama Maura." Kata Maura dengan cepat. Dia juga sempat melirik Fabian untuk melihat ekspresi lelaki itu, tapi sayangnya dokter muda berstatus duda itu terlihat biasa saja. Sepertinya tidak kaget atau marah saat mengetahui Raka suka pada dirinya.


"Menyebalkan! Dia tidak cemburu apa." Umpat Maura dalam hati yang kesal sendiri karena Fabian sepertinya tidak terprovokasi dengan perkataannya.


"Terus? Kamu mau menikah sama dia?" Tanya Bryan dengan ekspresi biasa saja. Bahkan Bryan juga terlihat tersenyum walau sangat tipis.


Maura mengerutkan keningnya saat Ayahnya seperti juga tidak terkejut sama sekali. Apa Ayah sama Bian sudah tahu, pikir Maura. Bahkan Ayahnya sampai bertanya seperti itu saat disana masih ada Fabian.


Maura membuang nafas kasar, "kalau Dokter Raka mau menerima Maura yang sudah tidak perawan lagi, Maura tidak masalah menikah dengan dia." Jawab Maura dengan tersenyum. "Lagian dia juga tidak kalah ganteng dari Ayah." Sambung Maura yang masih tersenyum dengan kepura-puraan nya.


Maura melirik tajam ke arah Fabian, yang dimana lelaki itu menunduk sambil menahan diri untuk tidak kelepasan saat tertawa. Pasti lelaki itu tengah menertawakan dirinya, pikir Maura. "Menyebalkan!! Fabian sungguh menyebalkan!!" Ingin rasanya Maura berteriak seperti itu saat ini juga.


"Kamu yakin mau menikah sama Raka?" Tanya Bryan memastikan keseriusan ucapan Maura.


Dengan cepat Maura menggerakkan kepalanya menatap Bryan. Dia ragu untuk mengatakan iya maupun tidak, karena dirinya tidak memiliki perasaan apapun pada Raka yang sudah dia kenal sebagai lelaki jahat setelah mengetahui apa yang sudah Raka lakukan terhadap Fabian. Tapi disisi lain dia ingin melihat Fabian menyesal karena melepaskan dirinya. Apalagi kalau dirinya lebih memilih bersama Raka daripada Fabian, yang jelas dimana keduanya saling bermusuhan.


"Sayang, gimana? Kamu yakin mau menikah dengan Raka?" Bryan kembali bertanya karena Maura hanya diam sambil menatapnya.


Maura senang sekali karena sepertinya berhasil membuat Fabian cemburu. "Salah sendiri main-main sama Maura Hanin Az-Zahra." Gumam Maura dalam hati.


"Tapi Ayah tidak setuju." Timpal Bryan memberi tanggapan atas jawaban dari Maura.


Senyum Maura hilang seketika, lenyap bagai ditelan bumi. Pandangan matanya yang masih menatap Fabian terlihat kesal saat lelaki itu justru terang-terangan mengejeknya dengan tersenyum miring.


"Karena Ayah sudah ada calon sendiri untuk kamu." Sambung Bryan yang langsung membuat Maura menoleh ke arah lelaki paruh baya itu.


"Siapa? Ayah mau menjodohkan Maura begitu? Maura nggak mau Ayah di jodohkan seperti itu." Sungut Maura yang tiba-tiba marah bercampur kesal karena Ayahnya sudah memiliki calon untuk dirinya. Sudah pasti ini akhirnya perjodohan dan Maura tidak suka dengan yang namanya perjodohan.


"Ayah tidak ada niatan untuk menjodohkan kamu dengan siapapun. Ayah hanya bilang kalau Ayah sudah ada calon buat kamu." Bryan terlihat santai menanggapi Maura yang sudah mulai emosi hanya karena berpikir akan dijodohkan. "Dia tadi baru melamar kamu pada Ayah sama Bunda dan kami setuju dan menerima pinangan dia untukmu."


"Siapa?" Tanya Maura penasaran. Dia menatap Bryan juga Fabian bergantian. Dia dibuat bingung karena melihat Bryan yang tersenyum, tidak langsung menjawab apa yang dia tanyakan. Fabian juga sama, lelaki itu sekarang justru diam dan tanpa ekspresi lagi. "Siapa sebenarnya yang sudah melamar aku?" Batin Maura menebak siapa gerangan lelaki yang sudah menemui kedua orang tuanya untuk melamar dirinya.


"Siapa dia, Ayah?" Maura bertanya lagi karena penasaran.


Dengan masih tersenyum, Bryan menunjuk ke arah Fabian dengan dagu juga gerakan mata dan alis juga.


Maura mengikuti arah yang ditunjukkan Bryan pada dirinya. "Fabian." Gumamnya lirih saat mengetahui kalau Fabian lah lelaki yang sudah melamar dirinya langsung kepada kedua orang tuanya tanpa sepengetahuannya.

__ADS_1


"Maura nggak mau." tolak Maura mentah-mentah dengan suara yang terdengar dingin. Bahkan tatapan matanya pada Fabian terlihat begitu tajam. Terlihat ada kemarahan di tatapan Maura.


"Kenapa?" tanya Bryan yang bingung sendiri karena sebelumnya Maura mencari dukungan darinya dan sekarang setelah direstui, putrinya itu justru menolak lamaran dari Fabian.


"Dia sendiri yang pagi tadi bilang ke Maura untuk tidak mencarinya lagi. Dia bahkan meninggalkan Maura sendiri di Bali tanpa mengajak pulang. Padahal dia tahu jelas kalau Maura ke Bali untuk mencarinya." ujar Maura panjang lebar dengan kemarahan yang ada dihatinya. Dia masih menatap tajam pada Fabian.


"Ohhh!!" Bryan berseru sambil mengangguk pelan. Dia berdiri dari duduk. "Ayah tidak tahu, itu bukan urusan rumah tangga Ayah." kata Bryan dan berlalu pergi keluar dari ruang baca meninggalkan dua sejoli yang sepertinya tengah berperang dingin.


"Apa kamu marah soal pagi tadi?" tanya Fabian setelah Bryan sudah menghilang di balik pintu. Dia menatap Maura dengan perasaan bersalah.


"Menurut mu?" Maura justru bertanya balik dengan bersedekap tangan sambil menatap Fabian marah.


"Aku minta maaf." ucap Fabian menyesal telah membuat Maura marah. "Aku tadi hanya mengerjai kamu saja. Aku ingin menyiapkan kejutan buat kamu setelah kamu kembali ke Jakarta." jelas Fabian yang memang sebenarnya pagi tadi saat masih di Bali dia hanya ingin mengerjai Maura, tidak ada niatan untuk meninggalkan Maura.


"Kamu nge-prank aku?! Sorry, nggak lucu." Maura berdiri dari duduknya dan melangkah pergi keluar dari ruang baca.


"Amor!!"


Maura menghentikan langkah kakinya saat tangannya dipegang sama Fabian dan secara bersamaan juga Fabian memanggilnya 'Amor' . "Apa itu panggilan sayang untuk ku." batin Maura menebak kalau Fabian tadi memanggilnya dengan panggilan sayang.


Grepp


Fabian memeluk Maura dari belakang. "Jangan marah lagi. Aku nggak mau melihat kamu marah. Apalagi kamu marah karena aku. Aku minta maaf. Janji itu untuk yang terakhir kalinya."


"Tapi aku nggak suka dengan caramu itu." timpal Maura dengan suara bergetar. Dia menangis, entah dia menangis karena apa. Dia sendiri juga tidak tahu kenapa air matanya tiba-tiba jatuh menetes. Hatinya juga terasa sesak.


Fabian melepaskan pelukannya dari tubuh Maura, dia memutar tubuh Maura untuk menghadap ke arahnya. Dia menangkup wajah Maura dengan kedua tangannya. Diusapnya air mata Maura dengan kedua ibu jarinya di kedua sisi pipi.


"Apa kamu benar menolak aku?" tanya Fabian menatap mata Maura.


"Menurut kamu?" Maura balik bertanya dengan suara lirih. Dia juga membalas tatapan mata Fabian.


"Kamu tidak bisa menolak pesona dari ku. Jadi kamu pasti menerimanya." ucap Fabian dengan tersenyum.


Dengan kedua tangannya yang masih menangkup wajah Maura, Fabian menahan wajah Maura saat bibirnya mendekat pada bibir Maura. Dengan perlahan kedua matanya terpejam juga kepalanya sedikit miring ke kiri sebelum akhirnya bibirnya kembali bersilaturahmi dengan bibir Maura.


Maura ikut memejamkan kedua matanya saat bibir Fabian mengetuk bibirnya untuk terbuka. Keduanya saling bertukar saliva. Sepertinya Maura lupa akan kekesalan juga kemarahannya kepada Fabian yang sudah berani mengerjainya. Buktinya dia membalas ciuman dari Fabian dengan begitu dalam. Bahkan kedua tangannya memegang lengan Fabian dengan kuat.


KLEKKK


Pintu terbuka dari luar, seorang remaja lelaki berdiri mematung saat melihat adegan dewasa didalam ruang baca.


"Astaghfirullahaladzim!! Bunda!! Anak bujang kamu matanya ternodai!!"

__ADS_1


__ADS_2