
Fabian sampai hotel sudah malam, sekitar pukul sembilan. Dia melangkah cepat menuju kamar tempatnya menginap menghabiskan malam pengantin bersama Maura. Dia melihat ada dua bodyguard yang masih setia berdiri didepan pintu kamarnya untuk menjaga Maura.
"Kalian bisa istirahat." Perintah Fabian pada bodyguard keluarga Abrisam. Dia kasihan melihat dua manusia yang kerjaannya selalu stand by disekitar Maura terlihat begitu lelah.
Kedua bodyguard itu saling pandang sebelum akhirnya menganggukkan kepala mereka. Mereka juga perlu istirahat karena sudah dari siang mereka berjaga dan belum ada yang menggantikan posisi mereka. "Terima kasih, Tuan Bian." Ucap mereka bersamaan dan berlalu pergi untuk istirahat dikamar yang memang sudah disiapkan untuk mereka.
Fabian bergidik geli mendengar dirinya dipanggil 'Tuan'. Rasanya begitu aneh dihormati seperti itu. Maklum, dirinya dari keluarga sederhana yang bisa dibilang keluarga berada. Tapi kalau dibandingkan dengan keluarga Abrisam sangatlah jauh, jadi saat dirinya dipanggil 'Tuan' rasanya telinganya mendadak geli dan gatal.
Fabian memutuskan masuk kedalam kamar hotel dimana Maura pasti sudah menunggunya didalam. Dengan semangat yang membara Fabian membuka pintu kamar perlahan, semangatnya tiba-tiba redup saat melihat didalam kamar dalam keadaan gelap, dan hanya cahaya lampu dari luar serta sinar rembulan yang menerangi kamar itu.
Fabian menutup pintu perlahan dan menekan saklar untuk menyalakan lampu. Dia melihat kearah tempat tidur sesaat setelah lampu menyala, rasa bersalah tiba-tiba menyeruak masuk kedalam hatinya. Dia meletakkan tas kerjanya diatas meja secara perlahan dan melangkah menuju tempat tidur tanpa bersuara.
Fabian duduk di tepi ranjang dengan memandang wajah sang istri yang tertidur pulas tanpa memakai selimut juga tengah memegang ponsel yang masih menyala, masih memperlihatkan sebuah video yang diputar berulang dengan volume lirih. Sepertinya Maura ketiduran saat menunggu dirinya.
"Maaf, Amor!! Kamu pasti lelah menunggu ku pulang sampai ketiduran." Ucap Fabian lirih. Dia mengusap pipi Maura, keningnya mengkerut saat merasakan lembab dan basah pada pipi sang istri. Rasa bersalah semakin menjadi dalam benak Fabian.
Ini hari pertama dirinya dan Maura menjadi sepasang suami istri, tapi dirinya justru pergi untuk bekerja dan sama sekali tidak memberi kabar pada istrinya itu. "Suami macam apa kamu, Bian. Meninggalkan istri sendirian disaat kalian baru saja melangsungkan pernikahan." Fabian menyalahkan dirinya sendiri.
Fabian lantas mengambil ponsel yang berada dalam genggaman tangan Maura secara perlahan supaya istrinya itu tidak terganggu dan terbangun dari tidurnya. Dia berniat mengeluarkan video dalam aplikasi, namun dia urungkan saat matanya tidak sengaja melihat dan membaca keterangan dalam video itu. Dia spontan melihat ke arah Maura yang tertidur, dia mengamati kembali wajah sang istri. Pantas saja wajahnya terlihat sedih dan sepertinya habis menangis. Pasti karena video yang tersebar di internet.
Fabian berdiri dan menyelimuti tubuh Maura dengan selimut, dia sendiri melangkah menuju sofa dan duduk disana. Dia membuka kembali video tadi dan menambah sedikit volume untuk mendengar lebih jelas berita seperti apa yang tersebar itu.
Salah satu tangannya mengepal kuat, rahang kokohnya mengeras hingga otot di sekitar leher menonjol keluar, tatapan matanya juga terlihat tajam, sepertinya Fabian tengah menahan amarah saat membaca beberapa komentar dari detergent.
Dimana beberapa komentar menyudutkan Maura, menyalahkan Maura juga menghina Maura. Ada juga yang menyalahkan Fabian, tapi tidak banyak. Tidak sebanding dengan komentar negatif dari detergent yang diterima Maura karena menikah dengan Fabian.
Mereka tahu Fabian adalah seorang dokter yang sudah berkeluarga dan memiliki seorang anak. Mereka tahu karena dulunya Fabian sempat membawakan sebuah program kesehatan disalah satu stasiun televisi. Makanya mereka menyerang Maura dan menyebut Maura pelakor, perempuan hina, perempuan tidak tahu diri, memanfaatkan kekayaan orang tua untuk mendapatkan apa yang dia mau.
Sungguh komentar itu berbanding terbalik dengan komentar saat konferensi pers yang Bryan lakukan sebelum pernikahan Maura dilaksanakan. Mereka memuji Maura bahkan mereka juga penasaran lelaki seperti apa yang bisa mendapatkan putri dari keluarga Abrisam.
Tapi kini, Maura justru diserang komentar negatif. Fabian sungguh tidak terima akan komentar yang detergent berikan untuk mereka. Maura tidak merebut Fabian dari siapapun, dia berpisah dengan Aurel karena memang sudah takdirnya. Pernikahan sebelumnya dengan Aurel tidak dilandasi cinta dan karena paksaan juga memenuhi keinginan kakaknya.
Mau dirinya disebut mendzolimi istrinya pun, Fabian tidak mempermasalahkan itu. Karena sejatinya dirinya tidak memiliki perasaan apapun pada Aurel. Jika terus dipaksakan pernikahan itu bertahan, yang ada Fabian akan semakin mendzolimi istrinya seumur hidup. Jadi perpisahan adalah jalan satu-satunya yang baik untuk mereka berdua. Tidak ada hubungannya dengan Maura.
"Bi!! Kamu sudah pulang?" Suara serak yang keluar dari mulut Maura membuat Fabian mengalihkan pandangannya dari ponsel dan melihat kearah tempat tidur. Dia melihat Maura yang terbangun dari tidurnya, mungkin terusik karena cahaya lampu.
Fabian tersenyum dan meletakkan ponsel miliknya juga milik Maura keatas meja sebelum akhirnya dia melangkah menuju tempat tidur. "Kok bangun? Apa aku mengganggu tidurmu?" Tanya Fabian naik ke atas ranjang dan duduk disamping sang istri yang masih terbaring. Dia mengusap lembut kepala Maura.
Maura menggeleng kepala pelan. Dia bangkit dan duduk sambil memeluk tubuh sang suami. "Maaf, aku ketiduran. Nggak menyambut kamu saat pulang." Ucap Maura yang menyesal karena tidak menyambut kedatangan sang suami setelah kembali dari pekerjaan. Padahal ini hari pertamanya menjadi seorang istri dari Fabian, tapi dirinya justru tertidur disaat Fabian kembali dari pekerjaan.
Fabian tersenyum, tangannya mengusap rambut kepala Maura juga punggung Maura dengan pelan. Dia juga mengecup puncak kepala sang istri lama. "Nggak perlu minta maaf, aku nggak marah sama kamu. Lagian kalau kamu sudah mengantuk, langsung tidur saja nggak usah nunggu aku sampai ketiduran seperti tadi." Balas Fabian sekalian memberi pesan pada sang istri untuk tidak menunggunya pulang kerja.
Maura menganggukkan kepalanya dengan berdehem sebagai responnya. Dia memejamkan matanya dengan semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Fabian. Rasa sakit yang dia rasakan tadi saat melihat dan membaca komentar dari detergent membuatnya ingin menangis sekarang.
Fabian yang merasakan pelukan Maura semakin erat hanya bisa diam dan membalasnya dengan mengusap lembut punggung sang istri untuk memberinya ketenangan dan kenyamanan. Jujur saja, dia tidak suka melihat Maura yang bersedih seperti ini hanya karena omongan orang yang tidak tahu kenyataannya seperti apa. Ingin rasanya Fabian membuat klarifikasi, tapi untuk apa? Berita itu hanya sebuah gosip hoax, semakin ditanggapi akan semakin merembet kemana-mana.
__ADS_1
"Aku tadi belum isya." Maura melepaskan pelukannya dari tubuh Fabian. "Aku mau sholat dulu. Kamu sudah isya?" Tanya Maura menatap sang suami dengan matanya yang terlihat sayu karena lelah.
"Aku sudah isya tadi sebelum pulang. Kamu ambil wudhu, aku siapkan alat sholat kamu." Maura menurut apa yang Fabian katakan. Dia segera turun dari tempat tidur. "Kamu tadi sudah makan?" Tanya Fabian sebelum Maura melangkah menuju kamar mandi.
Maura menggeleng kepala, "belum. Hanya makan buah saja tadi sore." Jawab Maura dengan ekor matanya menunjuk potongan buah yang ada di atas nakas.
"Ya sudah. Kamu sholat dulu. Aku pesan makan buat kita." Maura mengangguk dan berlalu untuk mengambil air wudhu, sedangkan Fabian melakukan tugasnya.
Kini kedua tengah makan malam di dalam kamar hotel. Tidak banyak yang mereka makan, hanya steak daging wagyu juga jus honey lemon. Mereka juga terlihat terlibat obrolan ringan, saling menanyakan apa saja kegiatan yang mereka lakukan tadi. Maura juga menanyakan kenapa Fabian lama sekali berada di ruang operasi. Ternyata sempat terjadi masalah saat menjalani tindakan operasi dan untungnya operasinya berhasil meski pasien masih dalam keadaan koma, belum sadarkan diri.
"Besok kita pulang ke rumah Ayah aja ya." ajak Fabian mengingat rumahnya masih dalam tahap renovasi dan kalau pulang ke rumah orang tuanya, Maura pasti akan kesepian karena orang tuanya ada kerjaan di luar kota. Sebenarnya Fabian juga memiliki sebuah apartemen mewah, tapi sayangnya apartemen miliknya tengah disewa orang.
"Okay!! Memangnya kamu nggak apa kita pulang ke rumah Ayah?" tanya Maura.
"Kenapa memangnya? Aku ingin merasakan juga menikmati kemewahan yang ada di rumah keluarga Abrisam." jawab Fabian membuat Maura tertawa. Suaminya itu tidak memiliki rasa malu sedikitpun saat mengatakan itu.
"Aku tadi ketemu Dokter Raka." Fabian yang akan memasukkan potongan daging kedalam mulutnya mengurungkan niatnya, dia menoleh kesamping dimana istrinya itu duduk, menatap tajam istrinya yang katanya baru saja bertemu dengan Raka.
"Ngapain Raka menemui mu?" Tanya Fabian yang terdengar dingin di telinga Maura. Sepertinya lelaki yang sekarang sudah tidak menyandang status duda lagi itu tengah marah atau mungkin cemburu karena istrinya bertemu dengan saingannya.
"Ngucapin selamat untuk pernikahan kita." Jawab Maura santai tanpa mengalihkan pandangannya pada makanan yang ada dihadapannya. Dia sungguh lapar sampai tidak memperhatikan Fabian yang menatapnya dengan tatapan mata tajam juga raut wajahnya yang kesal.
"Apa cuma itu saja, tidak ada tujuan lain?" Maura mengerutkan keningnya, dia mengalihkan pandangannya pada Fabian. Dia menyipitkan matanya melihat tatapan mata Fabian yang sepertinya marah pada dirinya.
"Kamu kenapa sih? Cemburu ya aku ketemu sama Dokter Raka?" Tebak Maura dengan menahan senyum. Lucu sekali ternyata melihat Fabian dalam keadaan cemburu. Ini pertama kalinya dia melihat seseorang yang cemburu untuk dirinya. Apalagi ini yang cemburu adalah Fabian, suaminya yang katanya sangat mencintainya itu. Sungguh, Maura semakin dibuat jatuh hati karenanya.
Maura mengangkat sebelah alisnya dengan senyum tertahan. "Lucu sekali." Batinnya. "Kalau cemburu bilang aja, nggak usah mengelak." Ucap Maura lirih dengan senyum mengejek.
Fabian diam saja tanpa menanggapi ucapan sang istri, dia kembali menyantap hidangan makan malamnya dengan perasaan dongkol. Bisa-bisanya istrinya itu mengejek dirinya. Tapi dalam hatinya dia merasa senang karena melihat Maura yang tersenyum dan seperti lupa kalau tadi sedih dan habis menangis.
"Cepat habiskan makan malammu, habis ini kita olahraga." Ujar Fabian dengan nada perintah juga tegas, tidak mau diganggu gugat.
"Ya kali habis makan langsung olahraga, yang ada nanti justru keluar semua apa yang dimakan." Timpal Maura yang sepertinya tidak setuju dengan perintah yang Fabian berikan. Olahraga itu dilakukan sebelum makan atau dua jam setelah makan. Bukannya selesai makan langsung olahraga.
"Olahraga ini beda, justru akan membuat kamu ketagihan dan akan minta lagi dan lagi." Sahut Fabian tanpa melihat kearah Maura dan fokus menghabiskan makanannya.
Maura tersenyum sambil menggigit sendok garpu yang ada ditangan kanannya. Dia tahu apa yang dimaksud olahraga sama Fabian. Apalagi kalau buka olahraga diatas ranjang. Maura menggeleng kepala cepat saat ingatannya tentang kejadian pagi tadi sebelum Fabian berangkat ke rumah sakit terlintas dalam bayangannya. Mereka sempat melanjutkan aktivitas bercinta meski harus dilakukan dengan cepat. Mengingat itu membuat Maura merasakan sesuatu yang aneh dalam tubuhnya.
"Bagaimana kalau kita lakukan sekarang?" Maura langsung berpindah duduk kepangkuan Fabian dengan kedua tangan langsung bertengger sempurna pada kedua bahu sang suami dan saling bertautan dibelakang leher suaminya itu. Tidak lupa Maura juga tersenyum genit pada suaminya.
Fabian hanya diam menatap mata biru Maura. Dia tidak menyangka istrinya itu akan meresponnya secepat ini dan langsung duduk dipangkuannya tanpa permisi. Dia lantas tersenyum dan salah satu tangannya merangkul sempurna pada pinggang ramping sang istri. Tangan lainnya dia gunakan untuk mengusap lembut wajah wanita yang dulu pernah dia renggut kesuciannya dan sekarang sudah menjadi istri sahnya. Matanya bergerak melihat seksama wajah juga tatapan sang istri yang sudah tidak se-sendu seperti tadi saat bangun tidur, sekarang wajah juga tatapan itu memancarkan kecerahan juga keceriaan.
"Aku senang kamu sudah tidak sedih lagi seperti tadi." Maura mengerutkan keningnya bingung dengan ucapan Fabian. "Lain kali aku nggak ingin melihat kamu sedih karena komentar detergent. Aku nggak ingin kamu menanggapinya. Biarkan saja mereka berkomentar sesuka hati mereka. Yang perlu kita lakukan adalah menjalani kehidupan kita dengan baik, selalu dijalan yang benar juga saling menghormati dan menghargai sesama. Biarkan mereka berkomentar tentang kita. Anggap saja itu sebagai motivasi buat kita untuk jadi pribadi yang jauh lebih baik lagi. Mereka hanya tahu dari beberapa detik hidup kita, mereka tidak tahu sepenuhnya keseharian kita seperti apa. Jangan sedih apalagi menangis karena komentar mereka, karena aku tidak akan memaafkan mereka yang sudah membuat istri aku sedih dan menangis."
"Kamu tahu aku tadi menangis?" Tanya Maura lirih yang tidak menyangka kalau suaminya tahu dirinya sedih dan menangis karena komentar detergent.
Fabian menganggukkan kepalanya. "Jangan sedih lagi,_" Fabian memeluk tubuh sang istri. "_mereka tidak tahu cerita sebenarnya hidup kita seperti apa. Biarkan anjing menggonggong kafilah berlalu."
__ADS_1
Maura menganggukkan kepalanya dalam pelukan sang suami. Dia biasanya juga tidak termakan cuitan komentar dari detergent, tapi entah kenapa dia tadi termakan komentar mereka dan membuatnya menangis. Mungkin karena dia sendirian, tidak ada kerjaan juga tidak ada teman mengobrol, jadi saat berselancar di dunia internet dia termakan komentar-komentar negatif tentang dirinya juga Fabian.
🌷🌷🌷
Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, terlihat Anggie masih dalam kondisi yang sama, begitu menyedihkan dengan kamar apartemen yang sudah tidak rapi lagi, banyak barang juga benda yang berserakan di lantai. Bahkan tempat tidur juga sudah porak poranda. Tidak hanya di dalam kamar, diluar kamar juga terlihat porak poranda dengan benda juga barang yang jatuh dan sengaja dilempar maupun dibuang. Dokter muda nan cantik itu kini terlihat duduk menyedihkan, menangis di tepi tembok dengan memeluk lututnya.
"Kenapa dia harus kembali? Kenapa kau juga harus tumbuh disini?" Anggie memukul berulang kali perutnya dengan air mata membasahi kedua pipinya.
Ingatannya kembali sekitar sebulan lalu dimana lelaki yang dulu pernah merenggut kesuciannya muncul dihadapannya. Dia begitu kaget dan terkejut. Setahu dia, lelaki itu masih mendekam di penjara, tapi kenapa sekarang ada dihadapannya.
FLASHBACK ON
"Ka-kamu!! Bukannya kamu ada dipenjara?" Dengan suara terbata-bata, Anggie menatap takut pada lelaki yang ada di hadapannya saat ini. Tubuhnya bergetar hebat.
Lelaki itu menyeringai. "Kenapa adikku sayang? Apa kamu rindu sentuhan dari kakakmu ini?"
Anggie melangkah mundur dengan tubuh bergetar saat lelaki yang merupakan kakak kandungnya itu mendekat ke arahnya. Dia berusaha meraih pintu dan segera menutup pintu apartemennya supaya kakaknya itu tidak masuk. Namun sayang, tenaganya tidak cukup kuat untuk melawan tenaga lelaki itu.
"Pergi!!! Pergi dari sini!!" Teriak Anggie saat Mike, kakaknya berhasil masuk ke dalam apartemennya.
"Tidak akan. Karena aku sangat merindukanmu, adik sayang." Anggie mencoba menghindar saat tangan Mike menyentuh wajahnya. "Dua belas tahun kita tidak bertemu. Apa kamu tidak merindukan sentuhan dari kakakmu ini?" Anggie menggeleng kepalanya dengan air mata yang jatuh membasahi pipinya saat tiba-tiba tubuhnya dihimpit sama Mike.
"Kak!! Lepaskan Anggie!! Kita adik kakak, kita saudara, kita satu Ayah. Kakak nggak bisa lakuin ini lagi pada Anggie." Anggie memohon pada Mike untuk tidak melakukan kesalahan dua belas tahun yang lalu yang membuatnya hampir trauma dan bunuh diri.
"Aku tidak perduli. Karena yang aku inginkan hanyalah menikmati tubuh kamu." Anggie memberontak saat Mike tiba-tiba menciumnya dan mencumbunya secara kasar. Anggie tidak bisa melawan, bukan karena dia ingin sentuhan itu, tapi karena kedua tangannya yang sudah diikat terlebih dahulu sama Mike.
FLASHBACK OFF
Anggie masih menangis tersedu-sedu, dirinya merasa jijik mengingat kejadian sebulan yang lalu dan sekarang justru menghasilkan benih di rahimnya.
"Raka!! Kenapa kamu tidak mau menolongku?" Lirih Anggie saat mengingat penolakan dari Raka sore tadi saat dia memberi tahu kalau dirinya hamil. Dia berharap Raka mau bertanggung jawab dan menikahi dirinya, sayangnya penolakan yang Anggie terima.
Meski Anggie tahu dirinya bukan hamil anak Raka, tapi hanya lelaki itu satu-satunya yang dia anggap bisa menolongnya dan tempat berlindungnya. Karena keluarganya, kedua orang tuanya sekarang justru pergi entah kemana setelah Mike keluar dari penjara. Anggie tidak bisa menghubungi mereka lagi. Tidak ada tempat untuk Anggie berlindung lagi. Ingin rasanya dia mengakhiri hidupnya sekarang juga.
Anggie berdiri dengan sempoyongan, dia melangkah menuju dapur dan mengambil sebuah pisau. Dia tersenyum patah melihat pisau yang sangat tajam itu. Dia lantas melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, dia masuk kedalam bathtub dan dia isi air saat dirinya sudah berada didalam bathtub.
Anggie mengangkat tangan kanannya yang memegang pisau, dia arahkan pada pergelangan tangan kirinya. "Selamat tinggal dunia tipu-tipu, terima kasih sudah memberiku pengalaman yang sangat menyakitkan ini. Aku tidak akan pernah melupakannya. Raka!! Terima kasih kamu sudah mau bersamaku walau hanya satu malam. Maura, Amel, maafkan aku. Selamat tinggal." Dengan air mata yang jatuh berlinang membasahi kedua pipinya, Anggie mencoba mengiris nadi pada pergelangan tangannya.
"Bodoh!! Untuk apa kau bunuh diri." Anggie tersentak saat tiba-tiba pisau dalam genggamannya dilempar begitu saja sama Mike yang datang tanpa suara.
Anggie berdiri dengan pakaian basah kuyup, dia menatap tajam pada Mike yang menatapnya bengis. "Bukan urusanmu." Ucap Anggie
"Itu akan menjadi urusanku karena aku belum puas menikmati tubuh kamu." Balas Mike dengan seringai.
"Keluar kamu!!" Mike menarik paksa tangan Anggie untuk keluar dari bathtub.
Anggie memberontak sampai akhirnya membuat Mike memukul leher belakang Anggie hingga pingsan. "Semakin kau memberontak, semakin aku membuat mu sakit sama seperti rasa sakit yang ibuku rasakan karena ulah Mama kamu."
__ADS_1