
Sudah hampir lima belas menit Maura berdiri di depan pintu gerbang rumah Fabian. Dia juga sudah menekan bel rumah beberapa kali namun tidak ada yang keluar untuk membukakan pintu untuk dirinya. Nomor telepon Fabian juga tidak bisa dia hubungi, selalu operator wanita yang menjawab panggilannya.
"Fabian kemana sih?" Maura terlihat khawatir sambil mencoba terus menghubungi nomor telepon Fabian. Dia tidak perduli yang menjawab panggilannya adalah operator, siapa tahu ponsel Fabian tidak ada signal nya dan nantinya akan tersambung lagi.
Maura berpegangan pada besi pagar dan berjinjit untuk mengintip pos satpam, siapa tahu satpam penjaga rumah Fabian tengah tertidur. Namun sayangnya didalam pos satpam terlihat sepi, tidak ada orang sama sekali. Dia juga tidak melihat ada mobil yang terparkir di dalam.
"Nggak mungkin kan Fabian depresi hanya karena SIP kedokterannya dihentikan sementara waktu." Entah kenapa Maura bisa berpikiran pendek seperti itu tentang Fabian. Dia khawatir sendiri bila nantinya Fabian akan berbuat nekad seperti apa yang ada dipikirannya.
"Fabian!! Kamu ada didalam kan?" Teriak Maura yang tidak memperdulikan area sekitar. Biar saja nanti orang yang mendengar dikiranya dia dan Fabian tengah bertengkar, dia tidak perduli. Biar sekalian dia minta tolong sama warga untuk mendobrak pintu pagar rumah Fabian sekalian, pikir Maura.
"Nona cari siapa?" Maura membalikkan badannya saat ada seorang wanita paruh baya menegurnya. Keningnya mengkerut mengingat siapa wanita itu. Dia seperti pernah melihatnya, tapi dimana, dia lupa.
"Nona ini temannya Den Bian ya?" Tanya Bik Tum, pelayan rumah Fabian. Dia mengingat wajah Maura dengan jelas karena Maura adalah perempuan pertama yang diajak sendiri sama Fabian untuk datang ke rumah. Bahkan dia juga melihat Fabian yang suka rela memanjat pohon demi memetik buah mangga muda untuk Maura.
Maura tersenyum dan mengangguk. "Iya, saya temannya Dokter Fabian." Jawab Maura membenarkan. "Dokter Fabian nya ada, Bik?" Tanya Maura setelah mengingat siapa wanita paruh baya yang ada dihadapannya sekarang. Ternyata ingatannya masih bagus juga.
"Dokter Fabian pagi tadi terbang ke Bali, Non." Jawab Bik Tum jujur.
"Ke Bali." Ulang Maura dengan mengerutkan keningnya. "Dimana nya ya kalau boleh tahu, Bik?" Tanya Maura penasaran.
"Aduh!! Bibik nggak tahu Non." Jawab Bik Tum yang nampak bingung juga karena Fabian tidak mengatakan tujuan kemana nya dia pergi, lebih tepatnya lokasi yang dituju. "Pagi tadi pamitnya mau ke Bali, gitu aja, Non." Kata Bik Tum.
__ADS_1
Maura menghembuskan nafas berat karena tidak tahu dimana lokasi tujuan Fabian pergi ke Bali. "Bibik ada nomor telepon Dokter Fabian yang lain?" Tanya Maura lagi berharap Fabian memiliki nomor lainnya.
"Nggak punya, Non. Bibik cuma punya nomor beliau satu aja, yang sering beliau pakai." Jawab Bik Tum sopan.
Maura mengangguk lesu. Dia lantas berpamitan pada Bik Tum dan pulang dengan tangan kosong. Fabian tidak ada dirumah, nomornya juga tidak aktif. Menyebalkan. Disaat Maura khawatir takut Fabian melakukan tindakan bodoh, lelaki itu justru liburan dan bersenang-senang di Bali.
"Kamu bilang kamu sudah jatuh cinta sama aku, nyatanya sudah beberapa hari ini kamu tidak kirim pesan maupun menghubungi aku. Dan disaat ada masalah justru kamu liburan ke Bali." Gerutu Maura yang entah kenapa tiba-tiba kesal sendiri padahal tadi dia terlihat mengkhawatirkan keadaan Fabian. "Kamu itu sebenarnya suka nggak sih sama aku?" Tanya Maura yang entah ditujukan kepada siapa, pasalnya saat ini dia tengah sendirian didalam mobil dan tidak sedang menghubungi siapapun. "Nyesel banget aku khawatir sama kamu."
🌷🌷🌷
Keesokan paginya Bara terlihat marah-marah tidak jelas setelah membaca pesan masuk dari Maura. Pasalnya subuh tadi Maura mengirim pesan singkat padanya dan mengatakan kalau saat ini tengah berada didalam pesawat untuk pergi ke Bali.
"Yang sabar. Aku bantu nanti." Evan mencoba menghibur Bara yang nampak stres mengurus perusahaan sendirian padahal dia hanya asisten saja.
"Kalau begini ceritanya yang ada aku nggak kawin-kawin." Keluh Bara yang langsung di tertawa kan sama Evan.
"Bukan nggak kawin, tapi belum nikah." Ralat Evan. "Bukannya tiap malam kamu kawin? Awas loh jangan jajan terus, nanti penyakit." Tegur Evan mengingatkan. Bara hanya diam saja dan melanjutkan pekerjaannya.
🌷🌷🌷
Kembali ke Maura, sekitar jam tujuh pagi dia sudah sampai di Bandara I Gusti Ngurah Rai. Setelah berpikir semalam dia memutuskan terbang ke Bali menggunakan jet pribadi milik Ayahnya untuk mencari Fabian yang entah dimana lelaki itu saat ini karena Maura belum tahu dimana titik lokasi keberadaan Fabian sekarang. Maura ingin mempertanyakan kejelasan hubungan mereka, walau kenyataannya memang hubungan mereka tidak jelas. Sepasang kekasih bukan tapi mereka sudah saling berhubungan badan dengan bertukar peluh keringat dan saliva. Bahkan sempat tertanam benih walau harus gugur terlebih dahulu sebelum tumbuh dengan sempurna.
__ADS_1
Maura memutuskan untuk menyewa resort saja daripada menginap di villa milik keluarga. Dan sekarang taksi yang dia tumpangi sudah berhenti di depan sebuah resort yang lumayan besar, meski hanya empat lantai. Maura segera turun dan cek in untuk beberapa hari. Dia belum tahu akan berapa lama tinggal di Bali, karena datang ke Bali tidak ada dalam rencananya.
Setelah mendapat kamar juga kunci kamar, Maura segera menuju kamarnya yang ada di lantai tiga. Kamarnya menghadap ke arah laut. Dia bisa menikmati senja sore nanti.
ARGHHH
Teriak Maura saat berada di balkon kamar. Dia tertawa sendiri saat merasa puas. Sepertinya sudah lama dia tidak melepaskan segala kekhawatiran didalam benaknya. Dia tidak perduli teriakannya didengar sama pengunjung lainnya.
Maura merogoh kantong celananya saat merasakan getaran pada ponselnya. Dia melihat sang Ayah tengah memanggilnya.
"Assalamualaikum, Ayah." Sapa Maura setelah mengangkat telepon dari Bryan. Dia masih tetap berdiri di balkon kamar sambil menikmati udara pagi yang begitu sejuk.
"Walaikumsalam. Kamu lagi di Bali?" Maura memutar bola matanya malas, pasti Bara sudah melapor pada Bryan kalau dirinya pergi ke Bali tanpa pamit.
"Paman Bara memang ember." Gumam Maura dalam hati.
"Iya, Ayah." Maura terpaksa tersenyum walau Bryan tidak bisa melihatnya. "Maura hanya ingin liburan sebentar untuk menghilangkan stress." Ucap Maura asal tanpa berpikir terlebih dahulu.
"Kamu stress karena Fabian pergi ke Bali nggak bilang-bilang dulu sama kamu." Maura melototkan kedua bola matanya mendengar apa yang Bryan baru saja katakan. Darimana Ayahnya tahu, pikir Maura. Maura sendiri sepertinya lupa siapa Ayahnya itu.
"Kalau suka bilang, jangan dipendam. Ungkapkan semuanya meski tidak ada balasan. Tapi ingat, jangan dipaksakan seperti sebelumnya. Cinta tahu dimana rumahnya dan cinta tahu kemana dia harus pulang."
__ADS_1