
Fabian hampir saja lepas kontrol kalau saja Maura tidak memegang tangannya yang sudah bersarang pada salah satu gunung kembar milik Maura. Hampir saja dia merem mas gunung kembar yang sangat mirip dengan squishy itu. Untung saja Maura dengan cepat menghentikan kegilaan Fabian. Kalaupun tidak, mungkin keduanya akan kembali melakukan kesalahan satu malam lagi.
Fabian yang bibirnya baru saja mencetak tanda kepemilikan di leher Maura langsung menghentikan aktivitasnya. Dia mengangkat kepalanya dengan pandangan mata yang berkabut has rat menatap mata Maura yang sepertinya sama dengan dirinya. Nafasnya terdengar memburu, sama dengan nafas milik Maura. Dia menyatukan keningnya dengan kening milik Maura. Dia juga memeluk pinggang Maura yang masih duduk dipangkuan nya. "Maaf!!" Ucap Fabian yang sepertinya menyesal telah melakukan hal gila dengan Maura meski tidak separah malam saat keduanya mabuk.
Maura mengangguk pelan. Dengan masih posisi yang sama, dia menatap mata Fabian dengan jarak yang begitu dekat. Bahkan keduanya juga terdengar saling berebut udara untuk menetralkan nafas yang memburu juga detak jantung yang berdebar kencang, tidak karuan.
Fabian tersenyum, salah satu tangannya dia gerakkan dan berpindah ke salah satu pipi Maura. Diusapnya dengan lembut pipi Maura juga bibir Maura yang masih basah dan terlihat membengkak karena ulahnya yang begitu brutal saat mencium bibir Maura tadi.
"Kapan Ayah sama Bunda kamu pulang liburan?" Tanya Fabian dengan suara yang terdengar sangat halus di telinga Maura.
Dengan masih menatap Fabian yang pandangan matanya fokus dengan bibirnya, Maura menjawab dengan suara pelan. "Empat hari lagi. Itupun kalau tidak molor."
"Kalau begitu, empat hari lagi aku akan menemui Ayah sama Bunda kamu untuk meminang putri kesayangannya ini." Ujar Fabian dengan mencubit gemas salah satu pipi Maura. Tidak lupa dia juga masih tetap menampilkan senyumannya. Senyum bahagia yang selalu hadir tiap kali melihat Maura.
"Apa?!" Maura yang kaget sontak saja menegakkan kepalanya dan menatap Fabian dengan tatapan mata tidak percaya. "Memangnya aku sudah menerima kamu?" Tanya Maura dengan kening mengkerut. Otaknya berpikir, dia mengingat kejadian sebelumnya apakah dia pernah bilang ke Fabian kalau dia mau menikah dengan lelaki itu apa tidak. Tapi sama sekali dia tidak mengingat pernah mengatakan secara langsung pada Fabian.
Dengan masih tersenyum Fabian menjawab dengan penuh percaya diri. "Belum. Tapi dengan apa yang kamu balas sore tadi sama malam ini sudah menjawab semuanya. Mulut memang belum mengatakan mau, tapi bibir sudah menjawabnya. Bahkan gerakannya begitu agresif."
Maura melototkan kedua bola matanya mendengar apa yang Fabian katakan barusan. Dia buru-buru turun dari pangkuan Fabian karena malu bercampur kesal dengan omongan frontal Fabian. Apa yang Fabian katakan memang benar adanya. Dia membalas ciuman Fabian dengan agresif. Seperti haus akan belaian, padahal bersama Fabian lah Maura baru belajar bagaimana berciuman itu
"Tetap saja aku belum menjawab pertanyaan kamu kalau aku mau menikah dengan mu apa tidak." Sanggah Maura yang kini berdiri di dekat pagar besi, membelakangi Fabian karena masih menyembunyikan rasa malunya. Mungkin saja saat ini kedua pipinya tengah merah merona.
Fabian menggeleng kepala gemas pada Maura. Dia berdiri dari duduknya dan melangkah mendekati dimana Maura berdiri. "Aku tahu. Tapi aku akan tetap melamar dan meminang mu." Fabian memeluk tubuh Maura dari belakang. "Dan aku pastikan kamu tidak akan bisa menolaknya." Bisik Fabian tepat ditelinga Maura.
Maura terdiam, dia tidak memberontak saat Fabian memeluknya. Dia tidak tahu lagi harus menjawab apa pada Fabian. Antara senang, malu, grogi juga gengsi bercampur jadi satu dalam hati Maura.
__ADS_1
"Belum tentu Ayah sama Bunda mau menerima kamu. Kalaupun diterima, pasti Ayah akan menguji kamu terlebih dahulu. Layak apa tidak buat putri kesayangannya ini." Timpal Maura yang sepertinya ingin menakuti Fabian kalau untuk mendapatkan restu dari kedua orang tuanya itu sangat tidak mudah. Harus melalui beberapa rintangan terlebih dahulu.
"Aku akan menerima apapun ujian yang akan Ayah kamu berikan. Entah itu mudah maupun sulit aku tidak perduli, asalkan kamu yang aku dapatkan nantinya." Balas Fabian yang langsung membuat Maura mengulum senyum dengan kedua mata berbinar senang. Baru kali ini dia merasakan begitu diinginkan, diperjuangkan dan diperhatikan sama seorang pria selain Ayahnya tentunya. Biasanya dirinya yang selalu memperjuangkan apa yang dia inginkan, sekarang justru ada lelaki yang ingin memperjuangkan dirinya itu sungguh membuat hati Maura tersentuh.
Fabian, lelaki pertama yang sungguh-sungguh ingin memperjuangkan dirinya. Melalui sebuah kesalahan satu malam, membuat keduanya dekat. Bahkan keduanya yang sama-sama susah dekat sama lawan jenis justru sekarang begitu saling merindu dan mendamba.
Fabian melepaskan pelukannya dan memutar tubuh Maura untuk menghadap dirinya. "Sudah malam, sebaiknya kamu istirahat. Jangan lupa obatnya nanti diminum." Ucap Fabian sambil membenarkan rambut Maura yang tertiup angin malam. Dia juga menatap mata Maura dengan tersenyum manis.
Maura mengangguk dengan tersenyum tipis pada Fabian. "Aku kembali ke kamar dulu." Pamit Maura yang langsung berbalik dan melangkah ke meja makan tadi untuk mengambil obat yang Fabian berikan.
"Maura!!" Maura yang akan melangkahkan kakinya untuk kembali ke kamarnya sendiri menoleh saat Fabian memanggilnya.
"Good Night!" Maura tersenyum malu dan mengangguk. Tanpa membalas ucapan selamat malam dari Fabian, Maura berlalu pergi untuk kembali ke kamarnya sendiri dengan perasaan berbunga.
🌷🌷🌷
"Kamu disini!" Maura menoleh kesamping saat mendengar suara Fabian, dia begitu kaget Fabian ada ditempat yang sama dengan dirinya. "Aku kira tadi kamu masih tidur." Maura hanya tersenyum kecut pada Fabian dengan menggeleng pelan.
Fabian juga tersenyum pada Maura, dia melangkah mendekati Maura. "Sudah dari tadi?" Tanya Fabian yang kini sudah berdiri tepat di samping Maura.
"Hemm!!" Maura berdehem dan mengangguk pelan. Dia kembali berjalan diikuti Fabian disampingnya.
Maura mengambil nafas panjang dan dihembuskan nya perlahan. Jantung nya berdebar kencang saat ini. Kenapa pagi-pagi sekali Fabian sudah muncul dan kini justru tengah berjalan disampingnya. Padahal tujuannya keluar pagi-pagi untuk menghindari Fabian, tapi ternyata lelaki itu justru mencarinya.
"Sudah enakan perutnya?" Tanya Fabian lagi yang mengingat kemarin sore Maura kesakitan karena keram perut.
__ADS_1
"Sudah. Makasih obatnya." Ucap Maura menoleh kesamping sambil tersenyum, walau nyatanya jantung nya masih saja berdetak kencang bila mengingat kejadian tadi malam.
"Sama-sama." Balas Fabian yang juga membalas senyum Maura. "Sudah sarapan pagi?" Tanya Fabian basa-basi. Entah sudah berapa pertanyaan garing yang Fabian tanyakan pada Maura. Pasalnya dia sendiri saat ini juga tengah grogi karena perbuatannya malam tadi yang diluar ekspektasi.
Melihat Maura menggelengkan kepalanya, Fabian langsung mengajak Maura makan. Tentu saja dengan persetujuan Maura terlebih dahulu. Untung saja Maura mau dan kini keduanya tengah menikmati hidangan pagi mereka di sebuah resto dekat pantai, tidak jauh dari resort.
"Ra! Boleh aku tanya sesuatu?" Fabian membuka obrolan di tengah acara sarapan pagi mereka.
"Boleh. Memangnya mau tanya apa?" Balas Maura sambil menikmati Mediterranean Bake Sweet Potatoes yang dipesannya tadi.
"Apa kamu punya Kakak?" Maura mengerutkan keningnya menatap Fabian yang bertanya. Maura menggeleng kepalanya, karena memang dia tidak memiliki seorang kakak.
"Beberapa hari yang lalu ada lelaki bernama Rafa menemui ku. Dia mengaku kalau dia itu Kakak kamu." Ujar Fabian.
Kaget!! Tentu saja Maura kaget. Untuk apa Rafa menemui Fabian, pikirnya. "Apa Kak Rafa sudah tahu kalau Fabian orang yang sudah membuat aku hamil?" Tebak Maura dalam hati.
"Dan aku juga mengingat sesuatu." Lanjut Fabian yang ternyata belum menyelesaikan apa yang akan dia sampaikan, membuat Maura langsung menelan makanan yang belum dia kunyah sepenuhnya. Dia menatap Fabian tanpa berkedip. Menunggu kata selanjutnya yang keluar dari mulut Fabian.
"Malam itu kamu selalu menyebut nama Rafa. Bahkan kamu juga menganggap ku sebagai Rafa." Fabian menatap Maura yang terdiam. "Apa dia lelaki yang sudah membuat kamu patah hati sampai kamu mabuk dan berakhir kita melakukan kesalahan satu malam?" Tanya Fabian menebak apa yang ada dipikirannya beberapa hari terakhir ini.
Maura meletakkan alat makannya dan memejamkan mata sejenak sebelum akhirnya mengangguk pelan. "Dia lelaki yang dulunya aku sukai, tapi sekarang aku sudah tidak suka lagi sama dia. Lagian aku juga sudah ada yang aku suka dan Kak Rafa juga sudah menikah dan istrinya sekarang lagi hamil." Terang Maura tanpa ada yang ditutup-tutupi. Lebih baik jujur, karena memang itu kenyataan yang terjadi. Dia mabuk karena Rafa. Tapi perlu diingat juga, Maura sudah mulai move on dari Rafa dan ingin membuka lembaran baru.
"Terus? Siapa lelaki yang kamu suka sekarang?" Tanya Fabian menatap lekat pada Maura. "Apa itu aku." Tebak Fabian dengan tersenyum penuh percaya diri.
Maura mengangkat kedua bahunya acuh sambil tersenyum tipis. Dia melanjutkan sarapan paginya tanpa menjawab apa yang Fabian tanyakan pada dirinya. Kenapa juga tadi dia bilang kalau sudah ada yang disuka, pikir Maura yang tidak habis pikir dengan mulutnya yang tidak bisa diajak kompromi.
__ADS_1
"Kalau diam, berarti iya benar kalau orang yang kamu suka itu aku." Lanjut Fabian karena melihat Maura diam saja dan hanya tersenyum. "Yes!!! Ternyata Tuan Putri sudah mulai luluh."