
Malam ini Bryan terlihat berdiri di balkon kamar, meninggalkan istrinya yang sudah tertidur pulas setelah kembali dari acara lamaran yang dibuat Fabian untuk Maura, putri kesayangannya. Dia juga terlihat menggenggam sebuah ponsel, sepertinya Bryan tengah menelepon seseorang.
"Apa yang dilakukan mereka sekarang?" Tanya Bryan pada orang yang ada dibalik telepon.
"Mereka sedang ngobrol aja Tuan." Jawab bodyguard yang mengikuti Maura. "Ada temannya Non Maura juga, dokter Amel sama dokter Anggie. Juga ada temannya dokter Bian, seorang lelaki." Bodyguard itu menjelaskan keadaan yang terjadi di lokasi.
"Awasi terus mereka, jangan sampai kesalahan waktu itu terulang kembali." Perintah Bryan yang tidak ingin putrinya kembali melakukan kesalahan setelah resmi menjadi sepasang calon pengantin.
Pandangan mata Bryan terlihat sendu setelah mengakhiri panggilan telepon, raut wajahnya pun juga sama. Sepertinya dia tengah menahan rasa sedihnya akan putri kesayangannya yang sebentar lagi akan dimiliki seutuhnya sama lelaki lain. Bukannya Bryan tidak mengijinkan Maura menikah, tapi dia belum siap bila harus melepas Maura yang selalu manja pada dirinya.
Bryan takut cinta Maura untuk dirinya pasti akan terbagi untuk Fabian juga. Atau mungkin cinta Maura untuk dirinya sudah habis dan sudah diserahkan semua pada Fabian. Buktinya setelah acara lamaran tadi, Maura langsung pergi bersama Fabian dan berkumpul dengan teman-temannya.
"Belum menikah saja kamu sudah melupakan Ayah, bagaimana kalau kamu sudah menikah nantinya? Kamu pasti tidak akan membutuhkan Ayah lagi." Entah kenapa Bryan sampai berpikiran sejauh itu. Mungkin karena Maura yang saat ini lebih memilih menghabiskan waktu bersama kekasih juga teman-temannya.
"Dulu saat kamu jatuh cinta sama Rafa, Ayah tidak memiliki kekhawatiran yang lebih seperti ini. Ayah tidak takut cinta kamu terbagi. Tapi kenapa saat kamu bersama Fabian, Ayah sangat takut kamu sudah tidak memerlukan Ayah lagi. Tidak menginginkan Ayah lagi." Bryan menengadahkan kepalanya ke atas. Dia terus membuka matanya meski mata itu sudah memerah dan perih juga berkaca-kaca. Dia sungguh takut kehilangan cinta Maura untuk dirinya.
"Sayang!! Kamu kok belum tidur."
Bryan menunduk dan buru-buru menghapus air mata yang ada diujung kelopak matanya. Dia masih memunggungi Freya. "Iya, tadi ada telepon dari klien." Jawab Bryan dengan membalikkan badannya menghadap Freya, dia juga tersenyum pada istrinya itu.
Freya memicingkan matanya, dia tidak percaya dengan apa yang dikatakan sama Bryan. "Nggak usah berbohong kamu, Mas. Kamu pasti lagi mikirin Maura." Tebak Freya saat melihat raut wajah Bryan yang terlihat sangat berbeda dari biasanya. Meski suaminya itu tersenyum, tapi dia melihat ada kesedihan yang dipancarkan pada kedua matanya.
Bryan tersenyum kecut saat Freya menyadari dirinya tengah berbohong. Dia memilih untuk duduk di kursi santai. "Putri ku sekarang lebih memilih merayakan kebahagiaannya dengan lelaki lain daripada Ayahnya sendiri. Akhir-akhir ini dia lebih banyak menghabiskan waktu bersama Bian daripada aku, Ayahnya juga cinta pertamanya." Kata Bryan dengan suara bergetar menahan air mata yang kembali menggenang di kelopak mata.
Freya yang mendengar itupun ikut sedih. Se-cinta itu Bryan pada Maura, sampai begitu sedih saat Maura lebih memilih menghabiskan waktu bersama Fabian. Freya tidak cemburu, karena dia sudah tahu dari dulu. Dia hanya tidak menyangka Bryan akan sesedih ini saat Maura akan menikah dengan lelaki pilihannya sendiri.
Freya mendekat dan duduk disamping Bryan, dia memeluk tubuh suaminya itu. "Mas!! Anak itu titipan dari Allah SWT. Kita harus siapa bila suatu saat nanti Maura akan diambil lagi sama Allah, atau mungkin diambil lelaki yang sangat mencintainya, seperti Fabian saat ini. Tidak hanya Maura, Mas Bryan juga masih ada Nadia sama Shaqila. Suatu saat nanti mereka pasti akan diambil juga sama lelaki yang mencintai mereka."
Bryan diam saja, hatinya semakin terasa sakit mengingat dua putrinya yang lain. Itu artinya dia harus merelakan cinta ketiga putrinya harus terbagi dengan lelaki lain.
"Tapi percayalah, Mas. Cinta anak kepada orang tua sama kepada pasangan itu berbeda. Maura tidak mungkin melupakan Ayahnya. Dia sekarang hanya ingin berbagi kebahagiaan bersama pasangannya. Nanti dia juga akan pulang dan akan menceritakan semuanya pada kita. Kamu tahu sendiri Maura seperti apa. Dia akan cerita apapun itu, entah sama kamu atau sama aku. Pasti dia akan tetap cerita meski nanti dia sudah memiliki pasangan."
Bryan melihat Freya yang tengah memeluknya dari samping. "Sepertinya aku harus belajar ikhlas dari kamu." Freya tertawa kecil mendengarnya.
"Mas Bryan kan sudah merestui mereka, itu sama saja Mas Bryan sudah mengikhlaskan Maura dimiliki sama Fabian." Kata Freya dengan membalas menatap Bryan.
"Memang kamu nggak sedih apa Maura nantinya ikut sama suaminya?" Tanya Bryan sepertinya memang tidak rela melepas Maura begitu saja.
__ADS_1
"Sedih itu pasti, tapi aku akan jauh lebih sedih kalau tidak merestui mereka. Putri kita pasti akan terluka untuk kedua kalinya." Freya tidak ingin Maura mengalami luka yang sama soal percintaan. "Aku bersyukur Maura bertemu dengan Fabian meski berawal dari sebuah kesalahan. Aku lihat Fabian begitu tulus sayang dan cinta sama Maura. Bertanggung jawab dan pekerja keras. Dia juga sopan, berpendidikan tinggi di usianya yang masih sangat muda dan satu lagi, dia juga sangat tampan." Freya tersenyum mengingat calon menantunya yang sangat tampan itu.
"Jauh lebih tampan suami kamu daripada dia." Sahut Bryan yang sepertinya tidak suka Freya mengangumi lelaki lain selain dirinya.
"Iya iya jauh lebih tampan kamu suamiku." Timpal Freya dengan tertawa kecil. "Sudah yuk tidur!! Sudah malam banget ini." Ajak Freya mengingat ini sudah tengah malam. "Kamu tenang saja, Maura akan aman malam ini."
🌷🌷🌷
Pagi harinya di sebuah hotel yang sama tempat dimana Fabian melamar Maura juga tempat dimana Maura menginap bersama Fabian juga tiga teman lainnya. Mereka tidak satu kamar, mereka menginap di kamar yang terpisah. Maura bersama dua temannya, Anggie juga Amelia, sedangkan Fabian bersama Gerry.
"Kamu ada masalah?" Tanya Maura pada Anggie. Sejak semalam dia begitu penasaran dengan sikap Anggie yang tidak seperti biasanya. Anggie yang sedikit cerewet dan sering berbeda pendapat dengan Amelia, tadi malam terlihat diam saja, seperti ada sesuatu yang tengah dipikirkan.
Anggie yang duduk di sofa, mengangkat kepalanya melihat Maura. Dia menggeleng kepalanya pelan. Dia juga terlihat memaksakan diri untuk tersenyum.
"Yakin nggak ada masalah?" Tanya Maura memastikan. Dia duduk di depan meja rias sambil mengeringkan rambutnya yang basah karena baru saja selesai mandi. "Tapi dari semalam kamu kelihatan beda banget loh. Seperti ada sesuatu yang kamu pikirkan. Kamu juga tidak seceria biasanya. Kalau ada masalah kan bisa sharing. Jangan dipendam sendiri, nanti jadi penyakit." Ujar Maura yang sudah seperti berpengalaman saja. Padahal dia kalau ada masalah selalu menangis.
Maura melempar handuk yang dia gunakan untuk mengeringkan rambutnya ke kasur, dimana disana ada Amelia yang masih tertidur pulas. Namun sayang, teman satunya itu tidak terusik sama sekali.
"Nggak ada kok, Ra. Aku hanya bingung saja, mau ambil rumah lewat developer atau beli tanah terus dibangun rumah sesuai impian ku."
"Kalau itu sih terserah kamu saja. Dihitung dulu berapa kira-kira uang yang harus dikeluarkan bila harus beli rumah sekian uangnya, kalau beli tanah dan bangun sendiri total yang harus dikeluarkan sekian. Kalau sudah tahu biaya yang harus dikeluarkan ya tinggal pilih yang sekiranya sesuai dengan pemasukkan kamu." Maura memberikan saran.
"Makasih sarannya, Ra." Ucap Anggie dengan tersenyum.
"Sama-sama." Jawab Maura dengan tersenyum juga, dia lantas mengambil hair dryer untuk mengeringkan rambutnya yang masih basah.
"Ra, aku balik dulu. Pagi ini aku ada jadwal praktek." Pamit Anggie. Mengingat ini hari senin, Maura memaklumi kondisi saat ini. Senin adalah hari yang sibuk.
Melihat Anggie yang sudah pergi, Maura membangunkan Amelia yang masih tidur. "Bangun, Mel. Kerja!! Aku potong gaji kamu nanti kalau telat." Maura sampai mengancam memotong gaji Amelia karena temannya itu tidak kunjung bangun.
"Lima menit lagi." Gumam Amelia dengan mata yang masih tertutup.
"Lima menit aja terus." Sungut Maura yang kesal sendiri karena sangat susah membangunkan Amelia.
Maura memutuskan untuk pergi menuju restoran yang ada di hotel, dimana Fabian sudah menunggunya disana. Kali ini bukan restoran yang semalam mereka gunakan untuk acara lamaran, melainkan restoran yang ada di lantai bawah dekat dengan kolam renang.
"Sayang!! Maaf ya nunggu lama." Maura memeluk bahu Fabian dari belakang.
__ADS_1
Fabian terdiam, dia melihat Maura yang kini sudah melepas pelukannya dan duduk disebelahnya. "Sepertinya aku harus pergi ke dokter THT deh."
Maura mengerutkan keningnya menatap Fabian dengan bingung. "Memang kenapa dengan telinga kamu?" Tanya Maura penasaran. Apa telinga nya sakit, pikir Maura.
"Aku nggak tahu, tiba-tiba telinga ku berdengung saat ada yang memanggil ku dengan panggilan sayang. Sepertinya dia kaget bercampur senang." Ucap Fabian dengan tampang yang serius.
Maura mencebikkan bibirnya, dia tahu Fabian saat ini tengah menyindirnya. Maura merutuki mulutnya yang seenaknya sendiri memanggil Fabian dengan panggilan sayang. "Jaga mulut kamu, Maura. Belum saatnya kamu memanggil Bian dengan panggilan sayang."
"Amor!! Nanti antar aku ke dokter THT ya." Pinta Fabian dengan memohon.
"Malas. Pergi aja sendiri." Tolak Maura dengan menyeruput secangkir teh yang dia ambil tepat didepan Fabian.
Fabian tertawa, dia mencubit gemas pipi Maura.
"Bi!! Untung nggak kesedak aku." Keluh Maura karena diganggu Fabian, dirinya hampir tersedak saat minum.
"Sorry. Gemes banget aku sama kamu." Fabian mengusap dagu Maura yang basah karena terkena air teh. "Sorry, ya. Nanti kamu harus pulang bareng bodyguard kamu."
"Kenapa?" Tanya Maura cepat. "Memang kamu mau kemana?" Tanyanya lagi.
"Aku lupa kalau hari ini aku dipanggil kembali ke rumah sakit. Aku sudah mulai bekerja kembali." Terang Fabian dengan tersenyum senang.
"Yang benar?!" Maura tidak kalah senang, dia bahkan sampai memeluk Fabian saat lelaki itu mengiyakan.
Maura langsung melepaskan pelukannya saat mengingat sesuatu. "Kalau kamu baru kembali bekerja, terus nikahnya gimana? Tidak mungkin kan kamu langsung minta cuti padahal baru dipekerjakan kembali." Maura terlihat bingung sendiri mengingat keduanya akan menikah weekend ini. Hari sabtu nanti.
"Kita akan tetap menikah sesuai keinginan kamu. Tapi untuk bulan madunya kita tunda dulu. Kita bisa bulan madu kapan saja dan dimana saja. Yang terpenting setelah sah kita bisa bertukar peluh dikamar sendiri, tidak perlu pergi jauh-jauh."
Plakk!! Maura menepuk paha Fabian. "Itu saja yang kamu pikirkan. Mesum!!" Maura begitu kesal pada Fabian karena sejak semalam bulan madu saja yang terus dibahas sama lelaki itu, tidak ada yang lainnya hingga semalam dirinya begitu malu karena jadi bulanan Amelia juga Gerry.
"Yaa, karena laki-laki dewasa kalau sudah mau nikah apalagi sudah nikah hanya ************ wanita yang ada di pikirannya. Sama gunung kembar juga yang pas banget dengan genggamanku." Dengan entengnya Fabian mengatakan itu semua. Dia bahkan mengangkat tangannya mempraktekkan saat bagaimana cara merem mas squishy kembar itu.
Maura menutup dadanya dengan kedua tangannya, badannya juga dia jauhkan dari Fabian. Dia menatap calon suaminya itu dengan tatapan curiga. "Jangan bilang kamu sering membayangkannya." Tuduh Maura.
"Menurut Mu." Fabian tersenyum mesum dengan mengangkat sebelah alisnya.
Maura yang ketakutan langsung berdiri dari duduknya. "PAK BENG!! KITA PULANG SEKARANG!!!"
__ADS_1