
Maura memekik tertahan dibalik bantal setelah beberapa menit yang lalu Fabian keluar dari kamarnya. Dia senyum-senyum sendiri mengingat saat tadi berciuman dengan Fabian. Sungguh sesuatu yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya. Bukan tidak pernah, melainkan sesuatu yang belum pernah dia rasakan selama dua puluh tiga tahun ini.
Maura menurunkan perlahan bantal yang dia gunakan untuk menutupi wajahnya. Dia melihat kearah pintu balkon kamar yang masih terbuka padahal adzan magrib sudah berkumandang. Dia segera turun dari atas kasur dan mengintip sebentar ke arah balkon kamar Fabian sebelum akhirnya menutup pintu balkon kamarnya.
Maura berbalik badan dan bersandar pada pintu. Dengan menggunakan tangan kanannya, Maura memegang bibirnya yang tadi dicium sama Fabian. Dia tersenyum lagi dengan wajah yang memancarkan semburat merah. "Seperti inikah yang dinamakan ciuman?" Gumam Maura yang merasa aneh, seperti ada yang menggelitik dalam perutnya. Ini adalah ciuman pertama bagi Maura, walau sebenarnya dia pernah berciuman juga, tapi waktu itu dalam keadaan mabuk saat bersama Fabian, jadi dia tidak begitu tahu bagaimana rasanya dan itu tidak termasuk dalam hitungannya. Ternyata berciuman dalam keadaan sadar sungguh membuat hatinya berbunga-bunga. Apalagi lelaki yang menciumnya adalah Fabian, lelaki yang entah sejak kapan menggeser posisi Rafa dalam hatinya.
"Sepertinya aku benar-benar sudah membuka hati untuknya." gumam Maura yang masih tersenyum malu. "Fabian!!" lirih Maura berucap.
ARGHHH
Maura memekik tertahan sambil berlari kecil menuju kasur. Ciuman tadi sungguh membuatnya tidak waras. "Auwhh!!" keluh Maura saat perutnya kembali terasa sakit. Dia kembali duduk bersandar diatas kasur dan kembali mengompres perutnya meski air yang ada didalam botol kaca itu sudah tidak panas lagi.
"Kenapa rasanya beda banget ya saat dikompres sama Fabian tadi?"
🌷🌷🌷
Malam harinya.
Fabian membuka pintu kamarnya saat ada yang mengetuk pintu dari luar. Seorang petugas resort datang menemui dirinya memberikan sesuatu pada Fabian.
"Apa sudah kalian siapkan?" Tanya Fabian pada petugas resort.
__ADS_1
"Sudah, Pak. Sesuai yang Bapak minta." Jawab petugas resort. "Apa bisa kami siapkan sekarang" Tanya petugas resort.
"Bawa kesini saja, nanti biar saya yang mengaturnya." Perintah Fabian yang langsung diangguki petugas resort.
"Kalau begitu, pesanan Bapak akan saya antar sekarang." Petugas resort pamit undur diri untuk mengambil apa yang Fabian pesan.
Fabian menutup pintu dan memasukkan apa yang diberikan petugas resort dalam saku celananya. Dia tersenyum tipis sambil menggeleng kepala pelan mengingat apa yang dia lakukan tadi sore pada Maura. "Ternyata seperti ini rasanya? Pantas saja Gerry suka melakukan itu pada setiap wanita yang dia temui di Bar." Fabian mengingat Gerry yang selalu mencari hiburan di Bar setiap kali merasakan suntuk dengan pekerjaan atau hanya saat ingin mencari kesenangan saja. Gerry juga selalu mengajak Fabian, namun sayangnya ditolak mentah-mentah sama Fabian yang memang tidak menyukai melakukan itu bila bukan sama wanita yang dia cintai.
"Maura!!" Gumam Fabian dengan tertawa kecil sambil memegang dadanya yang bergemuruh. Entah sejak kapan Fabian merasakan getaran itu, yang pasti sebelumnya dia tidak pernah merasakan getaran cinta itu selama dua puluh sembilan tahun ini, padahal banyak sekali wanita yang mendekatinya saat sekolah, kuliah maupun kerja. Namun tidak ada satupun yang bisa memikat mata dan hati Fabian. Bahkan Aurel saja yang menjadi istrinya selama kurang lebih tiga tahun, sama sekali Fabian tidak terpikat sama Aurel. Dan kini di usianya yang hampir menginjak kepala tiga dia baru merasakan getaran cinta itu, dan itu dia rasakan pada Maura, wanita yang dia renggut kesuciannya.
Tak berselang lama, dua orang petugas resort datang menemui Fabian. Mereka membawa masing-masing satu troli makanan sesuai apa yang Fabian pesan tadi. Fabian meminta mereka masuk dan langsung membawa troli makanan itu ke balkon kamarnya.
"Apa perlu kami bantu, Pak?" Tanya petugas resort.
Fabian lantas menata semua makanan diatas meja yang sudah dia alasi sebelumnya dengan sebuah taplak. Sesekali dia melihat kearah pintu balkon kamar Maura, berharap Maura tidak melihat apa yang tengah dia lakukan. Karena semua ini dia siapkan untuk Maura.
"Aduh!!" Keluh Fabian saat sebuah sendok jatuh ke lantai. Dia buru-buru mengambil sambil melihat ke arah balkon kamar Maura.
Fabian tersenyum kecut saat melihat Maura ternyata tengah melihat aksinya. Gagal sudah, pikir Fabian yang merasa suprise yang dia siapkan untuk Maura sudah ketahuan.
"Lagi ngapain kamu? Mau dinner ya?" Tebak Maura karena melihat meja yang ada lilin juga makanan dan gelas berisi minuman. Dia tadi berniat ingin menikmati pemandangan malam hari di balkon, tidak tahunya dia justru melihat Fabian yang tengah sibuk menata hidangan makan malam. Bahkan dia juga menahan diri untuk tidak tertawa saat Fabian panik ketika tidak sengaja menjatuhkan sendok.
__ADS_1
Fabian hanya berdehem, membuat Maura langsung tersenyum dalam hati. "Pasti Bian menyiapkan ini buat aku." Batin Maura yang penuh percaya diri. "Sama siapa?" Tanya Maura pura-pura tidak tahu. Walau sebenarnya dia memang tidak tahu. Hanya berharap saja kalau dinner yang Fabian siapakah itu memang untuk dirinya.
"Sendiri." Jawab Fabian singkat sambil mengusap sendok yang tadi jatuh dengan tisu. "Kalau kamu mau, bisa kesini buat bantu menghabiskan makanannya." Sambung Fabian sambil menatap Maura.
Maura menahan diri untuk tidak tersenyum. "Bilang saja kalau mau mengundangku juga." Ucap Maura dalam hati. "Baiklah kalau kamu memaksa." Timpal Maura yang langsung bergegas menuju kamar Fabian. Dia tersenyum sendiri padahal jelas-jelas Fabian tidak memaksa dirinya.
Maura melangkah menuju kamar Fabian dengan beberapa kali menghembuskan nafas untuk mengatur detak jantungnya yang tidak bersahabat. Apalagi mengingat ciuman petang tadi. Ingin rasanya Maura sembunyi karena malu.
Kini Maura sama Fabian tengah menikmati hidangan makan malam di balkon kamar Fabian. Mereka terlihat santai seolah petang tadi tidak terjadi apapun diantara keduanya. Tidak tahu saja kalau saat ini keduanya sebenarnya tengah menahan rasa malu mereka bila mengingat kejadian petang tadi. Apalagi keduanya melakukannya dengan keadaan sadar.
"Apa perut kamu masih sakit?" Tanya Fabian disela makan mereka. Karena sedari tadi mereka hanya diam saja.
Maura mengangguk pelan. "Iya, tapi sudah tidak sesakit tadi. Keram nya juga hilang timbul tidak sesering tadi." Jawab Maura jujur.
Fabian mengangguk paham, dia merogoh saku celananya dan mengambil apa yang dia simpan tadi. "Ini!! Minumlah setelah selesai makan." Fabian memberikan beberapa keping obat didalam kemasan disamping gelas minum Maura. "Aku tadi telpon Anggie dan menanyakan keadaan kamu. Anggie sudah melarang kamu pergi, tapi kamu tetap memaksa." Ungkap Fabian yang sepertinya sedikit kesal karena ulah Maura yang memilih nekad pergi ke Bali untuk menemui dirinya. Bukannya Fabian tidak senang Maura datang menemui dirinya, tapi saat ini kondisi Maura baru saja menjalani kuretase abortus. Pasti akan ada kondisi yang tidak diinginkan seperti tadi yang dimana Maura merasakan sakit pada perutnya karena keram perut.
Maura diam saja dan memakan makanannya dengan pelan. Dia tahu apa yang dia lakukan salah dan pasti membuat semua orang khawatir bila tahu keadaannya sekarang. Padahal tadi dia juga sudah memberi tahu pada Anggie untuk tutup mulut, tapi kenapa Anggie justru menceritakan pada Fabian. Bahkan Fabian membelikan dirinya obat, pasti itu resep obat dari Anggie yang sudah di tukar sama Fabian untuk dirinya.
"Ini!! Makan yang banyak biar tenaganya cepat pulih kembali." Fabian memberikan potongan steak daging ke atas piring Maura.
Maura melihat potongan daging yang Fabian berikan untuk dirinya, lantas dia mengangkat wajahnya untuk melihat kearah Fabian. "Aku maunya disuapin." Ucap Maura dengan nada manja dan tampang memelas.
__ADS_1
Fabian tertawa kecil melihat Maura yang lagi mode manja. "Baiklah!! Sini!!" Fabian menegakkan duduknya dan menepuk pahanya sendiri membuat Maura gagal paham apa yang dimaksud Fabian. Kenapa otaknya tiba-tiba ngeleg, pikirnya. Kenapa juga harus duduk dipangkuan Fabian, pikirnya yang tidak masuk akal.
"Katanya minta disuapi. Sini!! Duduk dipangkuan ku, biar aku mudah menyuapi kamu."