
Matahari sudah naik ke sepenggalah, namun Maura masih terlihat enggan untuk membuka kedua matanya. Dia membalikkan tubuhnya menjadi tengkurap dengan kepala miring menghadap ke arah jendela kaca yang masih tertutup.
Maura membuka matanya yang masih begitu lengket. Dia menatap sedih jendela kaca yang ada dikamar resort yang dia sewa. Matanya memerah karena pedih, menahan diri untuk tidak menangis mengingat Fabian yang mengacuhkan dirinya setelah selesai berbicara dengan Bryan melalui sambungan telepon.
Sejak siang kemarin Fabian mengacuhkannya, tidak mau bertegur sapa dengan dirinya. Apa yang dia takutkan akhirnya terjadi juga. Pasti Fabian berpikir kalau dirinya dan keluarganya memandang rendah lelaki itu. Memanfaatkan Fabian demi keuntungan pribadi juga perusahaan. Sudah dibangunkan secara gratis namun saham Malibu Resort harus berpindah tangan kepada ABA Corp sebesar dua pertiga dari saham yang Fabian miliki. Jelas saja Fabian tidak mau dan menolak kerjasama itu. Malibu Resort adalah usaha pertama yang dia bangun dari nol lima tahun yang lalu dan sekarang dengan mudahnya orang lain mau mengambil alih.
Maura tidak habis pikir, kenapa Ayahnya meminta Rafa membuat proposal seperti itu untuk diberikan kepada Fabian. Padahal jelas-jelas kemarin Ayahnya mendukung dirinya dekat sama Fabian tapi kini justru mengajukan proposal yang membuat dirinya semakin jauh dari Fabian.
"Apa maksud Ayah? Apa Ayah nggak suka melihat Maura senang, melihat Maura bahagia dengan pilihan Maura sendiri? Kenapa Ayah selalu ikut campur urusan Maura?" Air mata Maura akhirnya jatuh juga. Dia menangis dan menyembunyikan tangisnya dengan menutupi wajahnya dengan bantal.
Maura mengangkat wajahnya saat mendengar ponsel miliknya berbunyi. Dia hanya melihat saja ponselnya yang dia letakkan di atas nakas tanpa dia sentuh dan ambil untuk mengangkat panggilan yang masuk. Hingga akhirnya bunyi kedua kembali terdengar, dengan malas Maura mengambil ponselnya.
"Nomor siapa ini?" Gumam Maura saat melihat nomor baru yang menghubunginya. Dia tidak mengenal nomor itu, lantas dia abaikan saja dan dia letakkan kembali ponselnya di atas nakas.
Maura mengusap ujung matanya dan berpindah posisi menjadi duduk dengan sebuah bantal dipangkuan nya saat ponselnya kembali berdering. Dilihatnya nomor yang tadi menghubunginya kembali. "Assalamualaikum. Siapa ya?" Tanya Maura setelah mengangkat sambungan telepon dari orang asing itu.
"Walaikumsalam. Ini aku Mila, Ra. Kamu dimana sekarang?" Tanya Kamila dengan nada suara yang sepertinya tengah khawatir.
"Ohhh Kak Mila." Ucap Maura lirih. "Maura baru bangun. Ini masih di kamar." Jawab Maura apa adanya, tapi dia tidak bilang kalau habis menangis.
"Cepat turun! Tadi Dokter Bian mencari Mas Rafa dan sekarang mereka pergi berdua. Aku nggak tahu mereka mau pergi kemana. Yang pasti auranya Dokter Bian sangat menakutkan. Sepertinya mereka mau berdebat deh." Ungkap Kamila panjang lebar dengan nada khawatir takut kalau Fabian sama Rafa bertengkar.
"Kak Mila sekarang dimana?" Tanya Maura yang langsung beranjak turun dari tempat tidur dan menuju kamar mandi.
"Aku di dekat kolam. Tadi mereka menuju kearah sini, tapi mereka sudah hilang." Jawab Kamila.
"Baiklah. Sebentar lagi aku kesana." Ucap Maura yang langsung memutuskan sambungan telepon dan membasuh muka tanpa menggosok gigi terlebih dahulu. Bahkan dia mencepol rambutnya asal. Maura bergegas keluar dari kamar dan menuju tempat dimana Kamila berada saat ini.
"Kak Mila!!" Panggil Maura saat melihat Kamila. "Kemana mereka pergi?" Tanya Maura sambil pandangan matanya menatap sekeliling tempat.
"Aku nggak tahu. Mereka tadi kearah sini dan tiba-tiba hilang saat aku mengikuti kesini." Jawab Kamila apa adanya.
__ADS_1
"Apa mereka ke bangunan sebelah." Batin Maura berpikir kalau saat ini pasti Fabian sama Rafa ada disana.
"Aku pergi dulu, Kak." Ucap Maura yang berlalu pergi.
Namun baru beberapa langkah Maura sudah menghentikan langkah kakinya saat melihat Fabian bersama Rafa serta Nanda dan Billy berjalan menuju kearahnya. Mereka berempat terlihat seperti baru saja mendapatkan kesepakatan yang menguntungkan, tidak ada dari mereka terlihat raut wajah ketegangan.
"Bian!!" Seru Maura memanggil Fabian.
Fabian mengalihkan pandangannya ke arah Maura, perempuan yang tadi memanggilnya. Keningnya mengkerut saat melihat penampilan Maura yang sepertinya baru saja bangun tidur. Bibirnya bergetar, tertarik keatas menampilkan senyum tipis hampir tidak kentara.
"Terima kasih. Saya pergi dulu." Ucap Fabian pada Rafa dan berlalu pergi kelain arah.
Maura membelalakkan matanya saat melihat Fabian yang pergi begitu saja. Sepertinya lelaki itu memang tidak mau bertemu dengan dirinya dan mengabaikannya begitu saja.
"FABIAN!!" Teriak Maura dengan keras. Dia lantas berlari mengejar sang duda itu mengabaikan semua orang yang melihat kearahnya.
Nanda juga Billy terlihat pergi juga. Kamila melangkah mendekati suaminya. "Kenapa Mas Rafa senyum-senyum sendiri?" Tegur Kamila saat melihat Rafa tersenyum sambil menatap Maura yang berlari mengejar Fabian.
🌷🌷🌷
"Bian berhenti!!" Teriak Maura.
Kini keduanya tengah berlari di dekat pantai, lain di tepi pantai. Maura sampai menanggalkan sandal jepit yang dia pakai karena tidak bisa berlari mengejar Fabian diatas pasir. Dengan sandal yang ada di kedua tangannya, Maura melemparkan sandal yang ada di tangan kanannya kearah Fabian.
Bughh
Maura tersenyum senang karena lemparannya tepat sasaran. Dia berlari cepat saat melihat Fabian yang berhenti karena punggungnya terkena lemparan sandal dari Maura.
Grepp
Maura langsung memeluk tubuh Fabian sebelum lelaki itu kembali menghindar darinya. "Kenapa kamu cuekin aku dari kemarin? Kenapa juga tadi kamu menghindar dari ku? Aku minta maaf atas proposal itu. Aku akan membatalkannya. Aku tidak peduli Ayah akan marah nantinya. Tapi aku nggak mau kamu marah bahkan cuek pada ku." Ujar Maura dengan suara yang bergetar, seperti dia menahan diri untuk tidak menangis lagi saat ini.
__ADS_1
Fabian diam saja, tidak membalas pelukan dari Maura. Dia justru melepaskan paksa pelukan Maura. "Kamu tidak perlu melakukan apapun. Lagian aku sudah tidak ingin melanjutkan pembangunan resort itu." Ucap Fabian dengan dingin. Dia bahkan menatap Maura dengan tatapan datar. "Aku akan kembali ke Jakarta hari ini dan aku harap kamu tidak mencari ku lagi." Setelah mengatakan itu, Fabian membalikkan badannya dan berlalu pergi meninggalkan Maura yang berdiri mematung dengan air mata yang jatuh membasahi kedua pipinya.
"Secepat ini kah kamu berubah, Bi." Gumam Maura lirih. Dia lantas melangkah pergi dan kembali ke resort tanpa mengambil kembali sandalnya. Dengan telanjang kaki, Maura kembali menuju kamarnya.
"Siapkan penerbangan sekarang." Ucap Maura dengan nada perintah tegas pada seseorang di balik telepon.
"Maaf, Nona. Private jet nya sekitar satu jam lalu baru take off menuju Surabaya." Jawab seorang lelaki dari balik telepon. "Kalau Nona mau menunggu, siang nanti sudah kembali dan bisa terbang lagi sore." Sambungnya.
Maura memejamkan matanya mendengar jawaban yang diberikan sama bodyguard yang Ayahnya kirim untuk dirinya. "Baiklah, atur saja." Maura segera memutus sambungan telepon.
🌷🌷🌷
Sore harinya Maura sudah sampai Jakarta, dia tidak langsung pulang melainkan menuju rumah sakit untuk bertemu dengan Anggie. Dia ingin memeriksakan rahimnya mengingat masih sering terasa keram perut. Bahkan sudah hampir seminggu, darah haid/nifas paska abortus kuretase masih keluar deras.
Sesampainya di rumah sakit, Maura langsung menuju tempat praktek dokter kandungan dimana Anggie sudah menunggunya disana karena sebelumnya Maura sudah janjian terlebih dahulu.
"Kenapa itu pakai kacamata hitam segala? Mentang-mentang baru pulang dari Bali." Ejek Anggie saat melihat Maura yang masuk ke ruang praktek nya dengan memakai kacamata hitam.
Maura hanya mengangkat bahu acuh. "Langsung periksa aja." Kata Maura yang sepertinya tidak mau membahas tentang dirinya saat di Bali.
Anggie menurut saja dan dia melakukan USG transvaginal pada Maura untuk mengecek lebih dalam dan akurat. Ternyata tidak ada apapun dan mungkin karena Maura tidak mau berdiam dan istirahat dirumah. Makanya sering keram perut juga darah yang keluar banyak.
"Bukannya Dokter Bian sudah membelikan mu obat? Apa tidak kamu minum?" Tanya Anggie setelah pemeriksaan.
"Aku minum. Mungkin karena efek kecapean aja." Jawab Maura dengan malas. Dia duduk bersandar dengan memejamkan kedua matanya.
"Makanya kalau disuruh istirahat tuh ya istirahat, bukannya pergi liburan." Omel Anggie. "Kamu pulang sendiri atau sama Dokter Bian?" Tanya Anggie penasaran.
"Sendiri." Jawab Maura dengan bergumam.
"Ra!!" Panggil Anggie dengan suara lirih. Dia menatap Maura dengan ragu. Beberapa kali terlihat Anggie mengambil nafas dan dikeluarkan perlahan. "Ada sesuatu yang ingin aku ceritakan sama kamu."
__ADS_1