
Maura senyum-senyum sendiri setelah mendapat dukungan dari sang Ayah. Meski dia tidak mengatakan tujuan sebenarnya datang ke Bali, tapi sepertinya Ayahnya itu tahu apa yang ada dipikiran dia saat ini. Sungguh, Ayahnya itu orang yang sangat tahu apa yang dia mau.
"Huffttt!!" Maura menghembuskan nafas perlahan. Dia saat ini ada di restoran yang ada di resort tempatnya menginap. Tepatnya restoran itu ada di roof top. Meskipun ini sekitar jam sebelas siang, tapi tidak terlalu panas karena setiap meja ada payungnya juga ada pepohonan yang ditanam di pot besar. Jadi terasa sejuk, meski sinar matahari begitu terik
Maura meminum jus jeruk yang dia pesan tadi. Dia memegang gelas itu sambil menyedot jusnya itu dengan bantuan sedotan. Matanya menatap sekeliling yang dimana mereka yang datang pasti berpasangan kalau tidak pasti berkelompok. Dia melihat dirinya sendiri yang datang sendiri dan tidak ada teman untuk diajak berbincang.
"Kasihan banget sih kamu, Maura." Gumam Maura dengan wajah dibuat sesedih mungkin meratapi nasibnya sekarang ini.
Maura menatap ke arah samping kanan, dia memicingkan matanya saat melihat sesuatu. Dia semakin menajamkan penglihatannya saat mengenali siapa yang dia lihat saat ini.
"Fabian!!" Gumam Maura tanpa mengeluarkan suara dan hanya gerak bibir saja. Matanya melotot saat melihat orang yang dia yakini mirip dengan Fabian akan menaiki pagar pembatas.
Maura lantas meletakkan gelas yang masih berisi setengah jus jeruk keatas meja dengan kasar. Dia segera berlari kearah Fabian berada saat ini.
"Kamu gila!" Seru Maura setelah berhasil menarik baju belakang yang Fabian kenakan.
Maura menarik kuat sehingga Fabian mengurungkan niatnya untuk naik keatas pagar pembatas, untung saja lelaki itu tidak terjatuh. Dia memicingkan sebelah matanya saat melihat Maura ada ditempat yang sama dengan dirinya. Apalagi wanita itu berseru teriak menyebut dirinya gila. Apa maksud Maura, pikir Fabian yang tidak paham.
"Hanya karena SIP kamu dihentikan sementara waktu, kamu mau bunuh diri, begitu!!" Fabian akhirnya paham, Maura berpikir kalau dirinya akan bunuh diri. Fabian mencoba menahan diri untuk tidak tertawa. "Kamu pikir dengan bunuh diri semua masalah akan selesai." Fabian terdiam saat melihat mata Maura yang mulai berkaca-kaca seperti mau menangis.
__ADS_1
"Katanya kamu cinta sama aku, mau bertanggung jawab atas aku. Kenapa kamu lakukan itu? Kenapa kamu mau bunuh diri hanya karena masalah pekerjaan? Apa semua yang kamu katakan padaku malam itu semuanya hanya kebohongan?" Fabian menatap mata Maura yang sudah tidak berkaca-kaca lagi, melainkan sudah menjatuhkan air mata karena menangis. Fabian masih terdiam dan belum mengatakan apapun, tatapannya terus fokus pada mata Maura.
"Kamu jahat Bi." Ucap Maura lirih dengan derai air mata. "Kamu nggak pernah mikirin bagaimana perasaan aku." Maura begitu kecewa pada Fabian yang dengan mudahnya melupakan perkataannya malam itu. Atau memang benar apa yang Fabian katakan malam itu hanya sebuah kebohongan semata untuk menghibur dirinya.
Fabian menghembuskan nafas perlahan, dia maju mendekat pada Maura dengan masih menatap mata Maura yang air matanya masih tetap mengalir meski tidak sederas tadi. "Kamu salah paham, Ra. Aku tadi mau,_"
"Pak!! Anda jadi turunkan?" Seruan dari balik pagar pembatas membuat Fabian tidak melanjutkan perkataannya.
Fabian bergeser kearah pagar pembatas dan menatap Maura sekilas sebelum akhirnya tubuhnya dia condong kan kearah pagar. "Aku ada urusan. Kalian kerjakan saja sesuai apa yang aku minta tadi." Ujar Fabian pada beberapa orang yang ada dibalik pagar pembatas.
Maura, tentu saja di bengong dengan pikirannya yang melayang entah kemana. Air matanya tiba-tiba menghilang begitu saja saat mendengar percakapan Fabian dengan orang dibalik pagar. Ternyata dia salah paham. Fabian bukannya mau melompat dan bunuh diri, melainkan ada sesuatu yang akan dikerjakan dibalik pagar. Entah apa yang akan Fabian kerjakan, Maura tidak tahu. Yang pasti saat ini dirinya begitu malu mengingat apa yang dia katakan tadi saat dia pikir Fabian akan mengakhiri hidupnya.
"Kamu mau kemana?" Tanya Fabian dengan suara yang terdengar begitu dingin di telinga Maura.
Maura membuka kedua matanya dan melepas paksa tangannya yang Fabian pegang. "Bukan urusanmu." Jawab Maura dengan nada kesal. Entah dia kesal pada siapa. Yang pasti saat ini dia begitu malu untuk bertatap muka dengan Fabian, mengingat apa yang sudah dia katakan tadi.
Maura berlalu pergi begitu saja, dia terus berjalan dan melupakan tas juga ponselnya yang masih ada di meja. Untung saja Fabian melihat dan mengambil tas juga ponsel milik Maura. Dia juga meninggalkan selembar uang seratus ribuan diatas meja. Dia mengikuti langkah Maura dengan santai, sesekali dia tersenyum samar mengingat apa yang Maura katakan tadi. Ingin rasanya dia mencubit gemas kedua pipi Maura.
"Tas aku!!" Maura yang sudah berada didepan pintu kamarnya baru sadar kalau tas miliknya ketinggalan di restoran. Dia menggeram kesal karena Fabian dia melupakan tas juga ponselnya.
__ADS_1
"Ya kali aku kembali lagi kesana. Bagaimana nanti kalau ketemu sama Fabian?" Maura bingung sendiri. Dia mondar mandir di depan pintu kamar memikirkan cara bagaimana dirinya bisa masuk. Padahal bisa saja Maura meminta kunci lagi pada petugas resort, tapi Maura sama sekali tidak kepikiran untuk itu. Yang ada dipikirannya saat ini hanya ingin segera masuk kamar karena malu bila harus bertemu lagi dengan Fabian.
"Ini tas kamu!"
Maura menghentikan aksi mondar mandir nya dan melihat tas miliknya ada di tangan seseorang. Fabian, siapa lagi kalau bukan dia karena Maura kenal dengan suara itu. Tanpa melihat wajah Fabian, Maura mengambil dengan kasar tas miliknya yang ada di tangan Fabian.
"Thanks!" Ucap Maura lirih dan mengambil kunci didalam tasnya dan segera membuka kunci pintu kamar. Dia buru-buru masuk kedalam kamar setelah pintu terbuka sempurna.
Fabian tertawa kecil sambil menggelengkan kepalanya pelan melihat tingkah Maura. Dia yakin pasti saat ini Maura tengah malu pada dirinya. Pengakuan cinta secara tidak langsung Maura ungkapkan pada dirinya diwaktu dan tempat yang tidak dia duga sama sekali, bahkan karena kesalahpahaman yang sungguh tidak masuk akal pikir Fabian.
"Ternyata kamar kita juga berjodoh." Ujar Fabian saat melihat pintu kamar Maura yang tertutup ternyata bersebelahan dengan kamar miliknya. Dia tadi sebenarnya mau kembali ke kamar dulu sebelum mengembalikan tas milik Maura, tidak dia duga ternyata dia melihat Maura tengah mondar mandir di depan pintu kamar. Dia pikir Maura tadi sudah tahu kamar yang dia tempati, ternyata salah. Maura hanya bingung karena tidak bisa masuk kedalam kamarnya sendiri.
"Bodoh kamu Maura!! Bodoh!! Bodoh!! Bodoh!!!" Maura memukul bantal yang tidak memiliki salah apapun. Dia juga menggigit kuat ujung bantal dengan giginya yang rapi.
Maura begitu malu dengan apa yang dia katakan tadi pada Fabian. Bisa-bisanya dia asal bicara tanpa melihat sedang apa sebenarnya Fabian ada disana. Kalaupun Fabian mau melompat pagar dan bunuh diri tidak mungkin di siang bolong seperti ini, apalagi ditempat keramaian seperti itu. Kemana perginya otak Maura tadi? Kenapa dia bisa berpikiran pendek seperti itu?
"Semoga saja Fabian tadi tidak dengar, telinganya mendadak tuli begitu tadi. Kan enak jadinya dia tidak dengar apa yang aku katakan. Aamiin!! Aamiin!! Aamiin!!" Harap Maura yang sepertinya dia lupa kalau tadi dia berbicara dengan lantang karena takut Fabian sungguh mengakhiri hidupnya begitu saja dan pergi tanpa mempertanggung jawabkan perkataan yang sudah membuat Maura berharap banyak.
"Tapi kelihatannya nggak mungkin deh." HWAAA!!!! Maura berteriak kencang didalam kamar. Dia begitu malu dengan apa yang sudah dia sampaikan tadi.
__ADS_1
Fabian yang berdiri di balkon kamarnya terkekeh geli mendengar Maura berteriak. Dia yakin, pasti Maura saat ini begitu malu dengan apa yang sudah dikatakannya tadi. "Ternyata kamu sudah mulai membuka hatimu untuk ku." gumam Fabian yang merasa senang karena Maura sudah mau menerimanya meski masih gengsi untuk mengakuinya. "Ada hikmahnya juga aku pergi kesini tanpa kabar." Fabian tersenyum senang sambil menatap kamar Maura dari balkon kamarnya.