
Fabian saat ini tengah berada di rumah orang tuanya. Dia berniat ingin menceritakan kepada kedua orang tuanya kalau dirinya sudah melamar Maura. Mengingat kemarin saat melamar Maura, dirinya tidak mendiskusikan terlebih dahulu dengan kedua orang tuanya.
"Tumben Papa belum pulang, Ma? Biasanya sebelum maghrib sudah di rumah." Tanya Fabian saat menemani Shanti masak untuk makan malam mereka. Dia tidak ikut membantu Shanti masak, melainkan hanya duduk saja sambil bertukar pesan pada Maura melalui aplikasi chat.
"Mama nggak tahu, katanya sore tadi ada rapat." Jawab Shanti yang saat ini tengah memanggang daging ayam fillet bagian dada.
Fabian mengangguk saja sambil terkekeh pelan saat melihat foto yang baru saja dikirim Maura. Foto yang bergambar dimana Maura menampilkan ugly face.
Shanti menoleh ke belakang saat mendengar suara tawa Fabian, dia ikut tersenyum. "Apa itu pesan dari Maura? Senang banget kelihatanya." Tanya Shanti yang langsung dijawab deheman sama Fabian. "Bian!" Panggil Shanti lirih, dia sepertinya ragu untuk mengatakan sesuatu.
Fabian mengalihkan pandangannya matanya dari ponsel yang dia pegang dan beralih menatap Shanti yang membelakanginya karena tengah memasak. "Ada apa, Ma?" Tanya Fabian karena merasa aneh dengan suara Mamanya itu.
"Hmmmm..... Apa kamu masih berhubungan dengan Aurel?" Akhirnya Shanti menanyakannya juga karena dia begitu penasaran dengan Fabian yang masih berhubungan dengan Aurel atau tidak.
"Masih." Jawab Fabian dengan cepat dan santai. Dia kembali melihat ponselnya. "Setiap minggu aku menghubunginya untuk menanyakan keadaan Kasih. Kasih sekarang lebih cerewet dari sebelumnya." Ujar Fabian dengan tersenyum kecil mengingat beberapa hari yang lalu saat melakukan video call dengan Kasih, anak kecil itu banyak sekali berbicara, menceritakan semuanya kepada Fabian.
Shanti tersenyum tipis mendengarnya, dia yang sudah hampir selesai menyiapkan makan malam menoleh ke belakang. "Apa Maura tahu soal kamu yang masih berhubungan dengan Aurel karena Kasih?" Tanya Shanti menatap Fabian.
Fabian kembali mengangkat kepalanya dan menatap Shanti. Dia diam beberapa saat sebelum akhirnya menggeleng kepala pelan. "Dia belum tahu. Mungkin nanti akan aku beri tahu." Kata Fabian dengan ragu. Dia takut kalau Maura tahu, kekasihnya itu akan melarangnya untuk berhubungan lagi dengan Aurel maupun Kasih. Sebenarnya sudah lama dia berniat ingin memberi tahu Maura, tapi dia masih ragu. Bukan karena Fabian masih memiliki perasaan pada mantan istrinya, dia hanya ingin menepati janjinya untuk tidak melupakan Kasih, mengingat Kasih adalah keponakannya yang sudah dia anggap seperti anaknya sendiri.
"Mama harap kamu segera memberi tahu dia. Apalagi Mama lihat kalian sekarang sudah semakin dekat. Jangan buat Maura kecewa, dia gadis yang baik." Shanti memberi nasihat pada Bryan. Dia tidak ingin putranya itu kembali membuat kecewa untuk kedua kalinya terhadap perempuan. Cukup Aurel saja, tidak untuk Maura.
Fabian mengangguk dan tersenyum. "Makasih, Ma." Ucapnya yang sepertinya senang mendapat nasihat juga perhatian dari Shanti. Meski Mamanya itu sering memarahi nya, tapi dia tahu Shanti seperti itu karena sayang pada dirinya.
"Ini bawa ke meja makan." Shanti memberikan dua piring yang sudah berisi steak daging ayam kepada Fabian.
"Mana sayurannya?" Tanya Fabian saat tidak melihat adanya sayuran yang biasanya jadi pendamping steak.
"Sayurnya masih Mama tiriskan. Itu juga belum Mama kasih saus nya. Sudah bawa saja dulu ke meja makan. Keburu Papa kamu pulang." Fabian mengangguk saja sambil memasukkan ponselnya kedalam saku celana. Dia mengambil dua piring itu dan dia letakkan di atas meja makan.
Tidak berselang lama, Sandi terlihat sudah pulang. Dia segera gabung untuk makan malam setelah membersihkan diri.
"Tumben pulang ke rumah. Terakhir pulang bawa masalah buat keluarga." Sindir Sandi disela mereka makan.
"Pa!!" Tegur Shanti dengan gelengan kepala. Dia tidak mau ada pertengkaran di meja makan. Boleh saja mengobrol saja makan, tapi kalau bertengkar dan selisih pendapat, Shanti tidak suka. Lebih baik diselesaikan dulu acara makannya baru mengobrol.
Fabian hanya diam saja, dia tengah menikmati hidangan makan malam buatan sang Mama. Apalagi chicken steak buatan Mamanya paling enak, menurutnya. Buktinya sekarang makanan diatas piringnya sudah tinggal seperempatnya saja, hampir habis.
"Bian sudah selesai makannya. Bian tunggu di ruang keluarga. Ada yang ingin Bian bicarakan sama Papa Mama." Ucap Fabian sambil berdiri dari duduknya. Dia melenggang pergi setelah mengatakan itu kepada kedua orang tuanya.
"Itu anak lagaknya sudah seperti tuan rumah saja." Ujar Sandi yang sepertinya tidak suka dengan sikap Fabian barusan. "Memang apa yang ingin dia bicarakan? Apa Bian sudah cerita sama Mama?" Tanya Sandi yang penasaran sendiri. Dia takut saja kalau Fabian membuat masalah lagi.
Shanti menggeleng kepala tidak tahu. "Bian belum cerita apa-apa." Jawab Shanti karena memang Fabian belum cerita apapun pada dirinya.
Kini Sandi juga Shanti sudah selesai makan dan bergabung bersama Fabian di ruang keluarga. Keduanya sudah siap mendengarkan apa yang ingin Fabian bicarakan pada keduanya. Entah itu kabar baik maupun kabar buruk, Sandi juga Shanti siap menerimanya.
"Bagaimana resort kamu? Kata Billy kontraktor nya kabur." Tanya Sandi karena Fabian tidak kunjung mengatakan apapun.
"Resort aman, Pa. Sudah proses pembangunan kembali." Jawab Fabian.
"Dari PT mana kontraktor nya? Kamu harus hati-hati, jangan sampai tertipu lagi." Ujar Sandi memperingati putranya untuk tidak ceroboh dalam mengambil keputusan.
__ADS_1
"ABA Corp." Jawab Fabian cepat membuat Sandi juga Shanti nampak kaget karena dia tahu siapa pemilik dari ABA Corp tersebut. "Tuan Bryan langsung yang menawarkan bantuan itu melalui karyawannya." Ungkap Fabian karena bingung harus menyebut Rafa sebagai apa. Karyawan mungkin itu cocok mengingat Rafa memang bekerja disana sebagai manajer, bukan pemilik perusahaan.
"Secara cuma-cuma?" Tanya Shanti memastikan.
Fabian mengangguk membenarkan. Sebelumnya itu hanya proposal palsu, karena aslinya Rafa hanya dikirim Bryan ke Bali untuk memimpin dan menjadi mandor dalam proses pembangunan Malibu Resort. "Tapi resort itu bakal Bian berikan untuk Maura sebagai hadiah pernikahan kami nantinya." Ungkap Fabian.
"Nikah? Memang kamu sudah melamar Maura?" Tanya Sandi dan juga Shanti bersamaan.
"Bian sudah melamar Maura langsung kepada kedua orang tuanya dan Bian diterima sama mereka." Kata Fabian langsung tanpa basa-basi. Tidak ada yang harus dia tutupi lagi, orang tuanya juga harus tahu kalau dirinya kini sudah melamar Maura dan sudah diterima.
"Bagus kalau mereka menerima lamaran kamu. Papa juga setuju. Kamu harus tanggung jawab atas perbuatan mu sendiri." Timpal Sandi yang senang karena akhirnya Fabian bisa mempertanggung jawabkan perbuatannya. Dia berpikir tadi Fabian sudah membuat gara-gara makanya pulang ke rumah, ternyata putranya itu membawa kabar gembira.
"Mama senang sekali mendengar kabar ini." Sahut Shanti yang tidak kalah senangnya. "Kita harus melamarnya secara resmi. Kita harus siapkan semuanya dengan baik." Sambung Shanti dengan antusias. Sandi mengangguk setuju dengan apa yang Shanti katakan.
"Tapi... Ada satu hal yang harus kalian ketahui." Fabian menatap Shanti juga Sandi bergantian. Dia ragu untuk mengatakannya, tapi dia juga tidak mungkin akan membohongi kedua orang tuanya. Dia yakin kedua orang tuanya pasti akan kaget, seperti dirinya waktu itu yang terkejut mengetahui kenyataan yang keluar dari mulut Bryan.
"Tapi apa? Apa kamu dipecat dari rumah sakit? Bukannya hanya dihentikan sementara waktu." Tanya Sandi merasa penasaran. Tidak mungkin putranya itu dipecat hanya berita yang tersebar di rumah sakit tentang Fabian juga Maura. Walau kenyataannya memang benar, tapi semua itu hanya sebuah kecelakaan tanpa kesengajaan.
Melihat Fabian menggelengkan kepalanya membuat Sandi maupun Shanti bingung. Lantas satu hal apa yang harus mereka ketahui. Keduanya begitu penasaran akan satu hal itu.
"Terus apa, Bi?" Tanya Shanti penasaran.
"Maura ternyata anak yang lahir di luar nikah." Ungkap Fabian dengan menundukkan kepalanya juga memejamkan kedua matanya. Dia tidak tahu bagaimana reaksi kedua orang tuanya setelah tahu kebenaran ini. Apa Mama juga Papanya akan menerima Maura atau justru memintanya meninggalkan Maura.
Tapi yang jelas, Fabian akan tetap berjuang untuk bersatu dengan Maura bagaimana pun latar belakang Maura sebenarnya. Maura tidak salah, yang salah hanya keadaan yang membuat gadis itu hadir di luar pernikahan kedua orang tuanya.
"Oh masalah itu. Papa kira kamu dipecat dari rumah sakit." Sandi menanggapinya dengan santai.
"Papa sama Mama sudah tahu lama. Kamu lupa Papa kerja dimana? Papa sudah hampir dua puluh tahun mengajar di kampus milik Tuan Bryan sebelum akhirnya jadi rektor. Berita itu dulu menggemparkan tanah air, tapi tidak berlangsung lama sudah lenyap begitu saja karena Tuan Bryan tidak ingin Maura di-bully saat di sekolah. Makanya sampai saat ini Maura belum dipublish lagi." Terang Sandi mengungkapkan kebenaran yang dia ketahui dimasa lalu. Dia masih ingat betul karena berita itu tersebar di seluruh media.
"Apa Papa sama Mama akan tetap memberi restu untuk kami?" Tanya Fabian yang berharap penuh sama kedua orang tuanya untuk merestui hubungannya dengan Maura.
"Mama sama Papa merestui kalian." Fabian tersenyum senang saat kedua orang tuanya memberi restu hubungannya dengan Maura. "Tapi tidak tahu sama Oma kamu. Oma orangnya terlalu detail untuk menilai orang dari bibit bebet juga bobotnya." Sambung Shanti yang langsung membuat senyum di bibir Fabian lenyap.
Fabian sepertinya melupakan Omanya yang masih hidup dan sekarang tinggal di Bandung bersama Bibinya, adik dari Sandi. "Bian sendiri nantinya yang akan memberi pengertian pada Oma. Yang terpenting sekarang Mama sama Papa sudah menyetujuinya dan merestui kami."
🌷🌷🌷
Maura terlihat beberapa kali membuka tutup aplikasi chat. Dia juga terlihat kesal dan sepertinya tengah menunggu balasan dari seseorang. Siapa lagi kalau bukan balasan pesan dari Fabian, karena sejak isya tadi sekitar pukul setengah delapan malam Fabian tidak kunjung membalas pesan darinya setelah pesan terakhir yang Fabian kirim.
"Apa belum selesai juga dia mengobrol dengan orang tuanya?" Gerutu Maura mengingat ini sudah jam sepuluh lebih, padahal Fabian tadi pamitnya sekitar jam setengah delapan.
"Atau jangan-jangan dia sekarang lagi berdebat sama orang tuanya karena mereka tidak merestui kami." Tebak Maura sambil menggigit jempol kuku kanannya. Dia justru berpikir yang bukan-bukan. Dia takut tidak dapat restu dari orang tua Fabian mengingat dirinya kemarin tidak bisa menjaga anak yang ada didalam kandungannya.
"Tenang Maura!! Tenang!!!" Maura mencoba mengambil nafas melalui hidung dan dia keluarkan melalui mulut untuk menghilangkan pikirannya yang buruk itu.
"Astaghfirullah!!" Maura kaget saat ponselnya tiba-tiba berdering ada panggilan masuk. Dia buru-buru melihat siapa tahu itu panggilan masuk dari Fabian.
Maura tersenyum saat Fabian yang ternyata menghubunginya. Dia berdehem beberapa kali sebelum akhirnya menjawab panggilan masuk itu.
"Masih ingat kamu untuk menghubungi ku." Ucap Maura yang pura-pura kesal, padahal bibirnya menampilkan senyum tipis karena begitu senang akhirnya Fabian menghubungi dirinya. Untung saja Fabian tidak melakukan panggilan video call, jadi lelaki itu tidak tahu kalau Maura hanya pura-pura marah saja saat ini.
__ADS_1
"Maaf yaa!! Setelah berbicara sama Mama Papa aku tadi langsung kesini. Jadi tidak sempat mengecek ponsel dan menghubungi kamu."
"Kesini kemana maksud kamu? Kamu lagi main keluar malam-malam begini? Ini juga ada suara musik. Kamu pergi ke celab?" Maura terlihat marah saat mendengar musik disko dari balik ponselnya. Dia menebak pasti Fabian saat ini tengah berada di celab malam.
"Iya aku ada diluar, tapi bukan di celab."
"Terus dimana?" Sahut Maura begitu saja.
"Kamu keluar lah, aku ada di depan gerbang rumah kamu. Aku tunggu kamu disini."
Maura melihat ponselnya saat panggilan telepon dari Fabian diputus sepihak sama Fabian, pelaku yang meneleponnya. Tanpa menunggu lama lagi, Maura bergegas keluar dan menuju pintu gerbang rumahnya. Meski jauh, Maura tetap melakukan apa yang diminta sama Fabian.
Maura berhenti sambil mengatur nafasnya yang memburu setelah lari dari rumah menuju gerbang utama. Dia melihat Fabian yang berdiri bersandar di mobil yang terparkir diseberang jalan. Dengan masih nafas yang tersengal-sengal, Maura melangkah mendekat ke arah Fabian berada saat ini.
"Kenapa nggak langsung masuk aja sih? Capek tahu!!" Fabian tertawa kecil mendengar keluhan Maura. Dia membuka pintu mobil bagian depan sisi kemudi dan meminta Maura untuk duduk disana.
"Bi!! Kamu apa-apaan sih. Berdiri nggak!!" Maura merasa tidak enak saat Fabian tiba-tiba berjongkok dan memijat kakinya.
"Diamlah dan nikmati saja." Maura menurut saja dan diam sambil melihat Fabian dari atas. Dia tersenyum tipis melihat perlakuan Fabian yang terlihat begitu romantis dimatanya.
"I love you, Fabian." Ucap Maura dalam hati.
"Nggak usah seperti itu lihatnya, aku tahu aku ganteng." Ucap Fabian sambil melihat kearah Maura. Dia juga menggoda Maura dengan gerakan mata juga alisnya.
"Ih apaan sih, PD banget." Cibir Maura sambil membuang arah untuk menyembunyikan senyumnya karena ketahuan menatap Fabian.
Fabian tertawa kecil dan berdiri. "Kamu weekend nanti mau kemana?"
Maura menoleh ke arah Fabian saat lelaki itu bertanya pada dirinya. "Nggak tahu. Kelihatannya nggak ada jadwal apapun." Jawab Maura. "Kenapa memangnya? Kamu mau ajak aku jalan ya?" Tanya Maura dengan tersenyum.
Fabian mengangguk pelan. "Iya. Aku ingin ajak kamu ke Bandung."
"Oke!! Aku akan kosongkan jadwal untuk weekend nanti." Sahut Maura cepat karena senang diajak ke Bandung. Sudah lama sekali dia tidak pergi berlibur ke Bandung.
"Syukurlah kalau kamu mau." Fabian juga senang karena Maura mau diajak ke Bandung weekend nanti. "Aku cuma mau tanya itu saja tadi. Ini sudah malam, aku mau pulang."
Maura terdiam, bengong ditempat sambil menatap Fabian. Dia tidak salah dengarkan. Cuma bertanya itu saja kenapa harus meminta turun dan ketemuan di pinggir jalan. Kenapa tidak melalui telepon atau pesan singkat saja, pikir Maura yang tidak habis pikir dengan Fabian.
"Kenapa diam saja? Aku mau pulang, Ra."
Maura menyipitkan matanya menatap Fabian. Dia menghembuskan nafas kasar dan berdiri dari duduknya. "Kamu menyebalkan, tahu nggak!!" Sungut Maura yang kesal dengan Fabian. Dia berjalan cepat menuju gerbang rumahnya yang masih terbuka.
Fabian tertawa kecil, dia menutup pintu mobil dan melangkah lebar mengikuti Maura.
AHHHH
Pekik Maura saat tubuhnya tiba-tiba melayang. Dia juga refleks melingkar kedua tangannya pada leher Fabian. Dia menatap kesal pada Fabian yang tiba-tiba menggendongnya.
"Kenapa buru-buru? Padahal aku tadi mau mengantar mu masuk kedalam." Ucap Fabian tanpa merasa bersalah sedikitpun. Dia melangkah perlahan masuk ke dalam gerbang sambil menggendong Maura.
"Menyebalkan!" Gumam Maura dengan kepalanya dia letakkan di bahu kanan Fabian. Dia tersenyum senang karena Fabian tiba-tiba menggendongnya. Itu artinya Fabian tidak ingin membuatnya lelah. "Kenapa dia romantis banget sih?" Jerit Maura dalam hati.
__ADS_1
"Aku tahu aku menyebalkan. Karena ini caraku untuk membuat mu tergila-gila pada ku."